Sport Girl

Sport Girl
part 49



Gapapa deh. Gue rela raga ini sakit asal bisa menemani bidadari strong di pagi hari. Semangat kuat Bidadari gue.


Sesuai janji Reni pada hari Senin, ia akan berolahraga bersama teman barunya yang baru ia kenal. Sebenarnya bukan baru, Reni telah mengetahui dan mengenal wajah Alfa namun belum tahu namanya. Sejak insiden dimana Alfa kecelakaan barulah ia mengetahui bahwa cowok itu bernama Alfa.


Disinilah Reni sekarang. Gedung olahraga kota. Ia datang sejak 1 jam yang lalu. Alfa belum datang juga sampai saat ini. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Reni lagi-lagi mengintip jam tangannya.


"Alfa mana sih?" Gumamnya mengamati sekeliling. Namun tak kunjung juga menemukan batang Alfa.


Lalu gadis itu lanjut berlari sambil menunggu kehadiran Alfa. Putaran demi putaran Reni lalui. Keringatnya sudah lumayan banyak, namun..


Yang membuat kesal adalah Alfa. Sebenarnya lelaki itu jadi datang atau tidak?


"Hei! maaf ya telat." Reni menoleh kesamping. Itulah Alfa, memakai Jersey dan celana training sepaha. Perasaan Reni menjadi dilema, antara kesal dan terpukau.


Alfa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu langkahnya mendekati Reni.


"Sorry ya. Tapi ada hambatan kecil dirumah. Hehe."


Reni menatap Alfa dengan kesal. "Au ah. Udah satu jam gue nunggu. Capek tau."


"Hahahaha sekali lagi sorry. Yaudah yuk lanjut."


"Pemanasan dulu dong. Biar gak tegang ototnya." Kata Reni pada Alfa.


Lalu cewek itu memperagakan macam-macam pemanasan ringan. Sekitar 15 menit pemanasan, keringat Alfa sudah mengucur banyak. Itu baru permulaan apalagi nanti.


Reni memperhatikan Alfa agak sedikit khawatir. Pasalnya, cowok itu seperti tak biasa olahraga.


"Al. Lo banyak banget keringatnya. Gapapa emang? kita baru pemanasan lho." Ujar Reni dengan raut iba.


Alfa mengusap keringatnya menggunakan handuk. "Hahahaha gapapa kali. Mungkin karena gue jarang olahraga, makanya langsung gerojosan gini."


"Mm...iya kali ya. Yaudah lari yuk." Dibalas anggukan oleh Alfa.


Kemudian mereka berdua beriringan berlari kecil mengitari lapangan stadion. Lapangan tersebut cukup besar, sehingga memerlukan waktu yang lumayan lama. Untung saja ini bukan weekend, sehingga lapangannya sepi. Jadi bisa leluasa dan tak jaim-jaim.


Disana hanya ada perkumpulan tentara yang juga sama ikut berlari. Kalau weekend, aduh tamat sudah. Lapangan langsung dibanjiri manusia-manusia berjiwa sporty dan anak-anak remaja gila take a picture. Ketahuilah, anak remaja sekarang suka berfoto-foto ria dengan latar belakang lapangan olahraga dan memakai setelan olahraga. Gunanya agar dipandang bahwa ia jiwanya sporty abis, padahal big no!


Baik, kembali ke Reni dan Alfa. Satu putaran terlewatkan. Iseng-iseng Reni melirik ke Alfa, nampaknya cowok itu kesulitan bernapas. Terlihat ngos-ngosan dan tak beraturan.


"Al. Lo kalo mau lari maraton, mulut dibuka, tapi jangan lebar-lebar ya. Terus ambil napasnya lewat mulut dan hidung. Begitupun juga kalo buang napas. Coba deh." Kata Reni memberi saran. Alfa segera melakukan apa yang Reni katakan tadi.


"Begini?" Jari Alfa menunjuk mulutnya.


Reni mengangguk. "Iya gitu. Terus tangan lo diayun. Biar enteng."


Alfa melakukannya, ia mengayunkan tangannya sambil mengepal.


"Iya gitu, lari nya pelan aja."


Dua putaran...


Tiga putaran....


'Aduh gue gak kuat banget. Sumpah ini rasanya mau mati.' batin Alfa. Sekarang dirinya kehabisan energi. Seketika tulangnya ingin ambruk tak mau menopang.


Namun saat minat Reni, semangat untuk melanjutkan lari membara lagi. Ia tak mau terlihat lemah. Walaupun napasnya sudah diujung tanduk.


Baru 10 menit, jantung Alfa rasanya menghimpit. Pasokan oksigen di paru-paru nya tak bisa menstabilkan dirinya.


'gue gak kuat Tuhan. Ini...rasanya seperti mau mati.' Lagi-lagi batin Alfa mengatakan seperti itu.


"Al gue seneng banget deh hari ini bisa joging bareng lo. Nanti..."


Ucapan Reni semakin terdengar samar ditelinga Alfa. Tiba-tiba langkah lari nya melambat dan saat itu juga tubuh Alfa ambruk  di rerumputan.


Brukkk


"ALFA!!" Pekik Reni sangkin kagetnya. Ia mengangkat tubuh Alfa, menggoyangkan agar bangun.


"Aduh bangun dong Al," Reni semakin panik. Alfa belum juga sadar-sadar.


"Alfa... Bangun Al..."


Nihil. Tak ada pergerakan dari diri Alfa.


Ia mengamati sekeliling, disana ada bapak-bapak TNI di sekitar stadion.


Para TNI segera menghampiri Reni. Langkahnya tergesa-gesa.


"Kenapa itu dek kawannya?" Tanya bapak TNI berusia 30 tahun.


"Gak tau bang.hiks.. tiba-tiba aja pingsan.. tolongin saya bang, bawa kawan saya kerumah sakit." Reni sesenggukan menangis. Rasa bersalahnya menyelimuti hati nya.


"Ehh ayo ayo bantu. Bopong dia ke mobil. Cepat ayo!" Para bapak TNI memboyong tubuh Alfa yang pingsan tanpa ekspresi. Pucat sekali muka Alfa.


Reni khawatir kalau ada apa-apa dengan cowok itu. Seharusnya Reni tak mengajak Alfa joging bersama. Seharusnya Reni membiarkan Alfa duduk saja di pinggiran.


Seharusnya Reni menghentikan larinya sampai satu putaran.


Seharusnya..


Seharusnya...


Reni menangis sesenggukan. Ia segera memberesi perlengkapannya seperti botol mineral, hp dan handuk kecil.


Digendonglah tas merah itu. Langkahnya mengikuti bapak TNI itu masuk ke dalam mobil.


📌📌📌


Drtttt drttttt drtttttt


Damar, Riko, Bagas dan Ryan sedangkan kumpul bersama. Bersenang-senang sebelum terjun ke lapangan futsal besok. Tiba-tiba ada telepon Damar bergetar.


"Eh bentar. Gua angkat telpon dulu." Ujar Damar sembari menggeser tombol hijau di layar.


"Dari siapa Mar?" Tanya Ryan kepo.


"Reni." Ryan ber-oh menyahuti ucapan Damar.


"Ada apa Ren?"


"...."


"Lha kok bisa?"


"...."


"Dimana sekarang lo?"


"...."


"Gua kesana. Otw." Damar menutup sambungan telepon.


Ia bergegas merapikan pakaiannya yang berantakan.


"Eh Mar. Mau kemane lo?" Tanya Ryan yang kebingungan.


"Mau ke RS."


"Siapa yang sakit?" Ryan terkejut.


"Reni." Semua menoleh serentak terkejut.


"Reni kenapa?" Tanya Riko agak kaget.


"Si Alfa yang sakit. Dah lah gua mau kesana disuruh Reni." Damar berjalan melenggang menuju motornya.


"Gua ikut Mar." Ryan melompat langsung duduk di motor jok belakang milik Damar.


"Etdaah. Main loncat aje lo kek tupai." Damar tertawa dibuatnya.


"Gua juga ikut ah. Main berdua sama Riko gak asik." Bagas ikut beranjak dari duduknya.


"Setan lo Gas!! Bilang aje takut kalah sama gua. Sok-sokan males." Tukas Riko tak mau kalah.


"Ahahahahahaa. Iye takut kalah. Ntar kalo lo menang, minta bayaran traktir lagi. Kagak ada duit gua hari ini. Bokek dah." Kata Bagas jujur. Namun sedikit jaim mengatakannya.


"Kantong cekak Mulu dah lo. Dah lah ikut juga gua." Riko ikutan berdiri. Dirinya berboncengan dengan Bagas. Sedangkan Damar dan Ryan.


Mereka berempat langsung menuju rumah sakit yang dimaksud Reni.