
Siang hari...
Rumah sakit tampak ramai. Banyak bapak ibu dan anak kecil di setiap lorong rumah sakit. Reni menjadi bingung harus ke lorong yang mana. Ia mengingat-ingat ketika membesuk ibunya Aria. Alhasil ia ingat sedikit jalan menuju kamar inap ibu paruh baya itu.
Sesampainya disana Reni melihat ada banyak suster. Tampaknya mereka habis melakukan operasi. Reni segera mendekat ke kamar tersebut.
Betapa terkejutnya melihat Aria yang menangis sejadi-jadinya. Memeluk ibunya yang sudah berbaring diam dengan muka pucat.
Reni menyentuh punggung Aria pelan. "Ar...." Tatapan Reni menuju ibu Aria yang sudah meninggal.
"Ibu Ren... Ibu gue udah gak ada." Suara Aria sangat lemah. Tangis dan sesenggukan mengiringi ucapannya.
"Sssttt..." Reni memeluk Aria untuk memenangkannya. Mengelus punggung cowok itu. Reni tahu apa yang Aria sarankan saat ini. Dirinya tak tega melihat cowok itu. Sedih rasanya, baru kemarin-kemarin mengobrol dengan ibunya Aria, saling bercanda dan tiba-tiba pergi meninggalkan dunia.
Mata Reni perlahan ikut memanas. Genangan air mata menumpuk di pelupuk mata. Berusaha mengkin ia menahan air mata agar tidak meluncur bebas.
"Sabar Ar. Masih ada kita-kita yang bakal selalu nemenin lo. Selalu semangatin lo. Jangan ngrasa sendiri, apapun masalah lo nanti jangan sungkan limpahin itu ke gue." Kata Reni menyemangati Aria agar rasa sedihnya berkurang.
Mereka kemudian saling melepas pelukan. Wajah Aria sudah banjir oleh air mata.
"Makasih udah mau nenangin gue." Kata Aria sembari tersenyum manis.
"Yeaayy menang c*k!!! Kita menang woiyyy!!!" Riko melepas Jersey nya dan memutar-mutar di atas kepala.
Lain lagi dengan Bagas dan Damar. Ia guyur-guyuran air soda sambil loncat. Senang sekali mereka kayaknya.
"Gua mau ke Jeje ah. Fotbar dong broo." Riko langsung ngacir menuju Jeje, cewek itu berada di stand minuman.
"Jeje."
Langkah nya mendekat ke Jeje.
"Ada apa?" Tanya Jeje polos.
"Lo gak ngasih selamat gitu sama gua? Tega bener. Beli minum sendiri-sendiri. Minta dong." Riko nyelonong saja menyeruput minuman yang ada ditangan Jeje.
"Ih beli sendiri dong. Kaaannn sedotannya bekas lo." Jeje merengut kesal.
Riko malah cengengesan tak jelas. "Yailaah. Bekas gua wangi itu. Sedotannya dijual lagi juga banyak yang beli."
"Monyong lo beli!!" Ketus Jeje. Tatapannya menjadi tajam.
"Hahahaha. Maap dah. Fotbar yuk. Gua pengen poto sama lo." Ajak Riko sesantai mungkin. Padahal jantungnya jedag-jedug tak karuan.
"Kenapa sama gue? Gak mau ah." Jeje menolak ajakan itu. Ia berencana pergi dari hadapan Riko namun di tahan oleh tangan Riko.
"Sekali aja Je. Buat kenang-kenangan. Tega sih liat gua sedih gegara gak jadi poto sama lo."
Jeje menghela napas pasrah. Ia menaruh minumannya di tangan kiri. "Yaudah ayo."
Mata Riko seketika berbinar-binar. Ia mulai menyalakan camera SLR Canon nya. "Bang! Potoin gua bang!" Teriak Riko pada salah satu abang-abang yang sedang melintas.
"Ouh ya mana sini." Kata Abang itu pada Riko. Kemudian Riko memberikan cameranya.
Riko dan Jeje saling berjajaran. Tangan kiri Jeje membawa minuman cup. Sedangkan Riko mengacungkan jempol kanannya. Senyuman indah tercetak dikedua wajah itu.
"Makasih Ke udah mau Poto ama gua."