
"HAH APA?!!" Teriak Damar setelah melihat kertas ulangan milik Riko. Sang pemilik kertas tersebut tersenyum angkuh bak seorang raja.
Hasil ulangan matematika dibagikan setelah bel pulang. Nilainya tak ada variasi apapun. Menunjukan angka sembilan terbalik dan nilai dibawahnya. Yang hanya mendapat nilai diatas rata-rata hanya tiga orang. Aria, Sinta dan RIKO!
Riko si anak pemalas dan IQ nya yang geser mendapat nilai 85! Gila gak tuh. Padahal dia mengerjakan asal-asalan. Memang keberuntungan seseorang tidak ada yang tau. Lebih gilanya lagi Bu Eka sampai mengintrogasi hampir 1 jam atas nilai Riko yang diatas rata-rata. Bagaimana tidak curiga, nilai hariannya saja pas-pasan, absen nya pun banyak.
Ah sudahlah. Kali ini Riko mendapat keberuntungan yang membuat teman sekelas nya tak terima! Mereka tak percaya, udah mengerjakan ulangannya dalam 5 menit terus mendapat nilai 85. Hello! Apakah otak Riko udah kembali makanya bisa mikir? Apakah otaknya tidak miring lagi? Tak bisa ditebak itu anak.
"Udah si terima aja nilai lo. Kali ini ada kemajuan loh Mar nilai MTK lo. Pas ulangan kemarin kan dapet 40, sekarang nambah kan jadi 40,5?" Ujar Riko meledek Damar yang mukanya ditekuk.
"Yailah naik 0,5 juga." Bagas tertawa keras diikuti yang lain.
"Eh jangan gitu dong Gas. Biarpun 0,5 kan tetep aja ada perkembangan." Ini lagi Ryan membuat Damar semakin dongkol. Diantara mereka Damar lah yang mendapat nilai paling rendah.
Seperti biasa nilai tertinggi jatuh kepada Aria, 90. Waw hampir sempurna.
"Udah si ngeledek nya. Kasian tuh Damar mukanya asem banget. Sabar Mar, gue juga nilainya dibawah rata-rata." Reni berujar sembari menepuk punggung cowok itu.
"Gue cabut dulu ya,ada urusan." Reni pamit hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Aria.
"Mau kemana? Gua anter." Ujar Aria.
"JIAAHHH perhatian amat Ar!" Cerocos Riko membuat Aria menjitak kepala itu orang.
"Eh gak usah Ar. Gue bisa sendiri. Tenang aja. Bye." Ucap Reni lalu ia pergi meninggalkan kumpulan cowok-cowok itu.
Selaku atlet marathon Reni seketika menjadi incaran guru-guru olahraga. Dibilang basket, voli maupun bulu tangkis. Namun guru-guru itu juga harus meminta pendapat dan mendengar kemauan Reni untuk memilih yang mana. Akhirnya ia memilih basket. Tentu saja guru pembina olahraga senang sekali. Pak Jaya namanya. Beliau langsung memutuskan Reni untuk menjadi kapten basket putri.
Awalnya kapten basket akan diberikan kepada Tiana. Namun karena Reni memilih basket, pak Jaya lebih memberikan gelar kapten kepadanya. Kekuatan dan skill Tiana dan Reni sama-sama seimbang. Tiana hanya mendalami olahraga basket saja sedangkan Reni mendalami berbagai bidang olahraga sehingga daya tarik skill berlipat-lipat.
Tangan gadis itu merogoh saku rok untuk mengambil ponsel. Ia berencana mengechat Wila untuk mengantarkannya ke mall membeli seragam basket.
'Apasihh Ren!!'
"Jemput gue Wil. Anterin ke mall."
"Ahhhh sibuk gue! Gak bisa."
"Pliss Wil. Temenin gue Napa. Lo mah gitu sukanya nyolot. Baru aja kita baikan kemarin masa sekarang lo mulai deh tanduknya keluar. Ah gak asik."
"Huzss ah bawel. Iya iya otw."
"Yeeesss. Uuuu thank you baby."
Reni terkikik geli. Ia memutuskan sambungan telepon. Lalu memasukannya kedalam saku rok. Kaki nya melanjutkan melangkah menuju gerbang. Gerakannya sedikit tergesa-gesa hingga ada sesuatu yang terjatuh saat tadi mengambil ponsel.
Seseorang berdiri terpaku tepat dimana Reni berbincang dengan seseorang di ponsel. Cowok itu membungkuk mengambil sesuatu berwarna merah.
"Kapten putri basket." Cowok itu menyinggung senyuman tipis. Tangannya memasukan benda merah tadi kedalam saku celana.