Sport Girl

Sport Girl
part 27



...Sini gua kasih tau, gua paling benci banget sama  orang yang suka menilai sesuatu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Paham?...


Di dalam kelas, teman-teman Reni menerka apa yang terjadi dan apa diobrolkan antara Reni dan Alfa. Cowok berambut urakan atau yang kerap disapa Riko melongok mengintip lewat jendela. Ia sangat penasaran apa yang terjadi atas sejoli itu.


"Udah ngap Rik. Kepo amat si kaya emak-emak." Ujar Ryan di bangkunya sembari menyeruput es teh.


"Ya kepo dong. Siapa tau mereka itu ada something atau apa. Kan lumayan buat gosip." Riko gendeng emang. Sempat-sempatnya memikirkan hal gosip.


"Gak mungkin lah Reni ada something sama cowok udik macem dia. Cupu begitu kok." Kata Jeje tak suka dengan Alfa.


"Kok lo ngomong gitu Je? Jahat bener mulut lo itu." Kata Damar yang sedikit tersinggung atas perkataan Jeje tadi. Wajar saja, siapa sih yang gak terima kalau ada orang yang dijelekkin tanpa melihat apa sebenarnya dia.


"Bukannya jahat atau apa ya Mar, gue tuh kurang suka sama Alfa karna ya..


Cupu gitu, lembek banget jadi cowok. Dan gue gak mau aja nanti kalau Reni ada hubungan apa-apa sama Alfa." Ucapan Jeje sangat menohok ke hati bila Alfa mendengarnya. Untungnya si cowok itu tidak ada.


"Ya lo jangan menilai dia dari fisik dong. Asal nyeplak aja itu mulut, Lo belum dia secara keseluruhan, eh ini udah main nilai aja." Jeje langsung terdiam. Ia merasa di serang oleh perkataan Damar ini.


Yang lainnya hanya diam. Tak berani ikut campur, mereka tau ini bukan soal bercandaan makanya tak asal bicara. Dari Damar yang sangat berani menentang pendapat Jeje yang sangat menyinggung perasaan. Sebagai sesama laki-laki, Damar harus membela! Apapun demi kebaikan.


"Eh kok jadi diem-diem gini." Reni datang juga akhirnya setelah berbincang-bincang dengan Alfa.


"Ada apa sih?" Reni bingung akan suasan yang mendadak menjadi dingin akan aura-aura mistis! Eh bukan lah, aura-aura marah terutama Damar.


"Ar, ada apa?" Tanya Reni pada Aria. Sedari tadi cowok itu hanya diam tak bersuara. Bahkan dari mereka awal masuk kelas, cowok itu tak banyak bicara. Memang Aria itu cowok irit bicara.


Reni mengikuti intruksi dari Aria suapay duduk. Aneh, baru aja ditinggal sebentar, masa langsung berubah suasana.


"Gua keluar bentar." Damar pergi melenggang meninggalkan semuanya.


"Mar ikut Mar." Riko menyusul mendekati Damar yang sudah melangkah jauh.


"Gua juga cabut dah." Setelah itu Bagas pun ikut berdiri keluar kelas. Lalu dari mereka satu persatu pergi meninggalkan kelas kecuali Aria, Reni dan Jeje.


Aria sengaja tak ikut-ikutan pergi, ia bukan anak kecil yang gampang mudah emosi. Sedangkan Jeje kembali ke bangkunya.


Reni cengo, 'apa ini siihhh' teriak dalam hatinya.


"ADA APA SIH SEBENARNYA?MAIN DIEM-DIEM AJA." Ujar Reni ikut marah. Ia marah karena tak ada kejelasan dari ini. Sebel lama-lama.


"Lo kenapa Je? Cerita sama gue." Reni ikut menghampiri ke meja Jeje.


Berharap agar Jeje mau memberitahunya.


Saat hendak Jeje membuka suara, bel selesai istirahat berbunyi.


Teeeeeettttt


Ah sial. Sial sial.