
Pemakaman ibu Aria berlangsung secara khidmat. Kerabat keluarga hadir disana. Anak laki-laki yang ditinggalkannya itu terdiam. Takdir menampar keras kenyataan yang ada.
Aria tak percaya seandainya ibu tercinta telah diambil nyawa nya oleh Sang Maha Kuasa. Air mata nya kering, ingin menangis pun rasanya tak bisa. Bukan hanya keluarga, teman dan sahabat Aria pun ikut serta hadir ke pemakaman.
Gundukan tanah bertabur bunga mawar dan melati. Foto mendiang ibu Aria terpampang disamping nisan. Ibu nya kini hanya akan menemani melalui mimpi-mimpi Aria.
Reni menepuk punggung Aria pelan. "Pulang yuk Ar." Ajak Reni secara halus. Cewek itu pun ikut sedih melihat Aria seperti itu. Sahabatnya yang paling perhatian dalam hidupnya.
Aria menggeleng tidak mau. Dirinya masih ingin berdiri di peristirahatan terakhir sang ibu.
"Gue ke mobil dulu ya." Bisik Reni. Ia menuju mobil didepan TPU sana. Sengaja membiarkan Aria, agar cowok itu merasa agak baikkan.
Disusul oleh Riko, Bagas, Ryan dan Damar. Cowok-cowok itu mengikuti kode yang Reni berikan. Pakaian mereka hitam-hitam, kecuali Aria.
Sesampainya di mobil, mereka terdiam harus bilang apa. Raut raut sedih terpasang jelas di wajah mereka.
"Gua bingung. Harus sedih atau senang." Celetuk Damar di jok belakang. Pandangannya kosong ke depan.
Ryan menoleh. "Kenapa seneng?"
"Kita abis menang futsal, tapi Aria lagi berduka. Gak enak kalo pesta-pesta diatas kesedihan sahabat."
Reni ikut menoleh, tubuhnya di balikan ke belakang. "Nah tuh tau. Sebaiknya kita jangan bahas tanding dulu. Kasian Aria."
"Iya dah. Kita semangatin besprend satu ini. Biar kembali lagi warna idup nya." Riko bermonolog yang langsung di angguki oleh mereka semua.
"Riko ganteng deh." Ujar Reni tiba-tiba. Senyuman manis telah terbit dari wajah cewek itu.
Riko mendadak kaget. "Kesambet apaan lo? Gua tau gua itu ganteng. Jangan berlebihan dah." Percaya diri sekali Riko itu.
"Iya ganteng karena pake kacamata mahal. Itu pasti pake duit undian ye?" Ucapan Reni nyelekit sampai kerelung hati Riko.
Damar langsung tertawa terbahak-bahak. "Nah kacamata mahal. Berarti ini sumber nya, coba lepas dah kacamatanya. Pasti burik."
"Dijamin apa?" Tanya Reni dengan wajah polos.
"Dijamin tambah burik. Hahahaha." Damar memang gila. Asal bicara saja dia. Ia memegangi perutnya sakit gegara gelak tawanya.
Riko menggeplak paha Damar keras. "Ketawa mulu. Gua sumpahin mencret dah perut lo."
"Ngapa mencret ege?"
"Ya apa kek. Serah gua dong." Riko mengalihkan wajahnya dari hadapan Damar.
"Ada Aria oiyy!! Jangan ketawa setan!!" Bagas greget karena Damar terkekeh-kekeh. Ia akhirnya mencubit lengan Damar hingga sang empunya mendesis sakit.
Aria masuk ke dalam mobil, cowok itu duduk di jok depan menyetiri kendaraannya. "Ke rumah gua dulu ya." Kata Aria datar.
"Iya Mar. Gua mah oke oke aja." Sahut Bagas santai. Suasananya tegang sekali tadi setelah Aria masuk.
Mobil melaju meninggalkan pemakaman. Kendaraan itu melesat ke jalanan bertujuan ke rumah Aria. Selama perjalanan tak ada percakapan. Aria sibuk menyetir, Reni menatap ke jalanan memerhatikan pedagang dan orang jalan kaki.
Damar, Riko bermain game online saling mabar. Sedangkan Bagas dan Ryan mencamili jajanan yang ada di mobil Aria.
"Kemarin menang nggak tim basket lo Ren?" Tanya Aria membuka pembicaraan.
Reni langsung tersadar dan menoleh. Ia hanya tersenyum kikuk. "Menang kok. Nanti ikut final juga."
"Kalo Futsal?"
"Itu sih menang dong. Wisanggeni nggak menang, nggak afdol. Ciri khas SMA kita kan dari futsalan." Sahut Damar. Walaupun berbicara, pandangannya fokus ke ponsel. Musuh dalam rank berseliweran dimana-mana.
"Nanti gua dateng dah kalo final. Sorry kalo sebelum-sebelumnya gua gak bisa hadir." Aria tersenyum simpul.
"Yailah tenang Ar. Kaya siapa aja, Selo kali. Tapi nanti pas final lo kudu ada. Wajib hadir." Ryan sangat antusias menjawabnya. Gunanya agar Aria merasa di penting kan agar tidak merasa sendiri atau berpikiran bahwa kehadiran nya ini tak penting.