Sport Girl

Sport Girl
part 11



Play's song: Starving


Derita anak kos adalah ketika tanggal tua alias hari-hari akhir bulan.


Mereka dilanda kekeringan ekonomi dan persediaan menipis. Apalagi jika mereka itu masih duduk dibangku SMA. Pasalnya, uang yang para orang tua kirim jika awal bulan.


Permasalahan tersebut sekarang dialami oleh Reni sendiri. Persediaan nya habis, seperti sabun mandi, sabun muka, lemon, dan buah lainnya. Didorong hobi berolahraga, Reni juga menyukai mengonsumsi buah-buahan. Seperti lemon contohnya.


Hari Minggu, hari terpadat baginya. Saat setiap orang bilang bahwa hari Minggu adalah hari free, namun lain halnya dengan cewek itu.


Dari jam setengah 5 pagi sudah memulai aktivitas nya dengan berjoging hingga 7 kilometer dalam 2 jam setengah.


Setelah itu kembali ke kosan untuk mencuci pakaian dan beres-beres hingga jam 9. Lalu pergi ke GOR untuk renang hingga siang jam 12.


Jadwalnya padat demi apapun. Memang ia sibuk terus setiap hari, namun beda saja dengan hari Minggu. Tak ada celah untuk istirahat. Itupun jika istirahat ketika malam hari ingin tidur.


“Yailah, perasaan waktu itu gue liat sabun nya disini kok. Masa gak ada? Ya kali stok abis. Supermarket komplit gini!” Gumamnya memilah-milah dirak sabun mandi.


Stok bahan sehari-hari nya habis, untung saja Reni masih menyimpan uang sisa hasil lomba.


“Sat! Ngapa gak ada si?” Aura kekesalannya meningkat. Sabun yang ia impikan ternyata tidak ada. Padahal kemarin-kemarin ia ingat betul jejeran sabun tersebut masih banyak.


“Maaf, permisi.”


Eh. Reni menoleh. Seseorang itu menegurnya untuk tak menghalangi. Reni auto menyingkir sembari tersenyum kikuk.


Ia bergeser sedikit, mengambil sabun asal-asalan. Tak peduli lah, ia malu sekali karena mendumel tak jelas tadi masalah sabun. Semoga saja lelaki itu tak mendengarnya.


“Maaf, bisa bantu gue?” seseorang tersebut menahan lengan Reni agar tak jadi melangkah. Cewek itu menoleh.


“Bantu apa?”


“Sabun yang gak bikin iritasi tuh yang mana?”


Reni bengong. Otaknya melambat menangkap kalimat yang di lontarkan seorang lelaki itu.


Sabun anti iritasi? Lha di cowok.... Jangan-jangan.. astaga gue. Batin Reni nethink.


“Lo mikirnya yang enggak-enggak ya?” lelaki itu menyeringai


Lelaki itu terkekeh kecil, “Ouh gitu.”


Ih malu. Reni malu. Ia mengalihkan pandangannya ke rak sabun. Mencari sabun anti iritasi. Ia pernah membeli rupa sabun itu untuk sepupunya yang masih bayi, makanya tahu.


“Nih.” Reni menyerahkan sabun tersebut.


“Beneran yang ini?”


“Bener lah. Lo maunya yang kaya gimana?”


Lagi-lagi ia terkekeh, “Ya udah deh. Thanks ya.”


“Hmm”


“Jutek banget sih,” Lelaki itu tertawa.


Apaan sih? Orang gue humoris gini disangka jutek. Batin Reni kesal.


“Errrrrr gue Fian.” Lelaki itu menyodorkan tangannya seperti ingin bersalaman dengan Reni.


Reni masih terdiam. Menatapnya datar. Tiba-tiba sekali.


Fian menaikan alisnya satu, pertanda untuk menyalami tangannya.


Reni menjabat tangan Fian. "ouhh."


Masing-masing melepaskan tautan tangannya.


“Yaudah lah yah, lo mau ke kasir kan? Bareng gue ayok.” Ajak Fian.


“Gak deh, gue mau beli buah dulu. Bye!” Reni langsung ngacir tak menunggu respon dari Fian.


Lelaki itu hanya menggidikkan bahu.


Disisi lain Reni sudah sampai di tempat buah-buahan. Mengambil lemon dan apel. This favorite fruit.