
Setelah upacara selesai, Ketua guru olahraga mengadakan latihan lagi. Namun kali ini tempatnya berbeda, guru itu telah menyewa tempat gedung yang fasilitas nya sangat lengkap. Para peserta lomba tidak mengikuti pelajaran pada Senin ini.
"Yuk cepetan GC. Ambil tas terus ke lapangan. Absen dulu." Reni berteriak didalam kelas. Teman-temannya yang mengikuti lomba lumayan banyak. Siswa-siswi dikelasnya ini sebagian besar pecinta olahraga makanya tak heran, disetiap bidang ada saja anak dari kelas Reni.
"Aria! Ayo jangan diem aja." Reni melihat Aria yang sedang menatap ponselnya dengan tatapan serius.
Tiba-tiba saja cowok itu langsung menyangking tas nya dan buru-buru keluar.
"EH ARIA MAU KEMANA??!!AR! ARIA!!" Teriak Reni kencang memanggil Aria. Namun cowok itu tak menggubris sama sekali. Hingga hilanglah punggung Aria dari koridor.
"Aria kenapa sih?" Tanya Reni pada Riko teman sebangku Aria.
"Lah mana gua tau. Tiba-tiba aja gitu sikapnya." Jawab Riko enteng.
Pluuukkkkk
Riko mengaduh kesakitan saat Reni memukulnya menggunakan buku yang digulung-gulung. "Lo gimana sih?! Teman sebangku nya aja masa gak tau."
Riko bersungut kesal. Mengelus kepalanya yang pening gegara digaplok. "Ganas ye lo kek singa. Kalem dikit napa Ren, dikit-dikit mukul dikit nendang. Lama-lama Ancur dah badan gua."
"Ya abisnya lo ngeselin banget. Lo itu temen terdekatnya Aria lho."
"Aria nya aja gak cerita-cerita sama gua. Ya kali gua paksa-paksa buat cerita."
"Ish." Lalu Reni pergi dari hadapan Riko.
Teriakan dari mulutnya keluar lagi. "Weh ayo cepetan kumpul di lapangan. Dah ditunggu pak guru nih."
Satu per satu dari peserta lomba keluar menuju lapangan. Reni berjalan disamping Bagas dan Damar.
"Kenapa Aria jadi aneh banget sih sekarang." Tanya Reni pada teman-teman nya.
"Aneh gimana? Perasaan lo aja kali." Sanggah Damar disebelahnya. Cowok itu tampak tenang dan cool.
Reni berujar. "Kalian pada ngerasa gak sih kalo Aria tambah pendiem banget. Gak kaya dulu lho."
"Perasaan lo aja kali." Celetuk Bagas seenaknya. Ia sedang mengupil santuy.
Baru saja Reni ingin melayangkan tinju ke lengan Bagas, keburu lelaki itu bergeser posisi agar tidak kena amukan cewek strong itu.
"Eitss tidak kenaaaaa." Mata Bagas menggoyangkan jari telunjuknya. Ia tertawa puas meledeki Reni.
"Awas aja lo Gas!" Ancam Reni kesal.
Tak lama kemudian mereka sampai di lapangan. Disana banyak sekali siswa. Dari peserta badminton, voli dan futsal. Baik perempuan maupun laki-laki semuanya kumpul.
Disana Reni langsung bergabung dengan tim nya. Ada Tiana, Liana, Rish, dan Adinda. Penampilan Tiana sekarang agak berubah. Unsur-unsur ketomboyan nya keluar, seperti memakai headband memotong rambutnya menjadi cepak layaknya laki-laki. Sekarang ada dua orang berpenampilan seperti itu, Rish dan Tiana.
"Glow up nih kak?" Tanya Reni basa-basi. Senyam-senyum memandangi penampilan Tiana.
Tiana membalasnya dengan kekehan. "Yailah glow up apaan. Emang gue skin care an apa sampe glow up gitu."
"Ya bukan gitu juga konsepnya, glow up dalam penampilan loh maksud gue." Perjelas Reni. Cewek berambut cepak itu manggut-manggut.
"Biar musuhnya takut liat gue. Ahahaha." Tawanya menggelegar hingga menarik perhatian.
"Bjirr ketawanya. Ahahahha." Reni pun ikut tertawa.
Tiba-tiba Pak Jaya datang membawa buku absensi dan tak lupa dengan peluit khasnya. Lelaki itu berdiri tegap dihadapan siswanya. Aura wibawanya sangat kental hingga anak-anak pada tunduk dan tidak berani macam-macam dengan beliau.
Semuanya berbaris rapi membentuk 3 shaf. Setelah itu sebelum pergi ke tempat pelatihan untuk yang terakhir kalinya pak jaya sedikit memberikan wejangan dan brifing sejenak. Menjelaskan hal-hal yang harus dipatuhi dalam tempat itu karena disana banyak alat-alat olahraga berat.
10 menit sudah, 4 bis datang menjemput siswa-siswi ke tempat gedung yang dimaksud pak Jaya tadi.
"Whoaaa piknik cuy!!!" Bagas heboh sekali. Memutar-mutar headband nya sambil bersorak seperti anak kecil.
Tiana melengos pergi tak menghiraukan teriakan kencang dari Damar. Cewek itu masuk kedalam bus sesuai bidang.
Entah sejak kapan lelaki itu menyukai Tiana sang mantan ketua basket. Bila dilihat-lihat Tiana masih enggan memberikan respon apapun pada Damar. Cuek abis sifatnya, jika ditanya dia hanya mengalihkan topik atau tak menjawab pertanyaan nya.
"Udah ngapa Mar. Dia nya aja ogah sama lo, masih aja dideketin. Didunia cewek nya tuh bukan cuma Tiana. Banyak bro." Ryan menepuk punggung Damar.
"Bukan gitu bro. Cewek emang banyak tapi yang sifatnya kaya Tiana tuh susah dicari. Dan emang cuma dia yang punya." Damar merasa tersinggung akan ucapan Ryan mengenai cewek di dunia banyak.
"Oh gitu. Oke dah gua dukung supaya Tiana mau ama cowok modelan kek lo yang begajulan gini."
Damar memiting leher Ryan seraya cengar-cengir. "Ancat lo Ry."
"Ampun bang jago. Sorry bang jago." Ryan kemudian tertawa lepas disusul Damar yang tak kalah kerasnya.
4 bus sudah terpenuhi oleh siswa-siswi. Diantara 4 bus itu, bus 1 adalah bus yang paling heboh dengan anak-anaknya. Bagaimana tidak, siswa dari tim futsal yang kebanyakan anak-anak bobrok dan begajulan. Apalagi Bagas, jangan tanya lelaki itu bagaimana rusuhnya. Ia bergoyang-goyang kesana kemari memegangi mic sambil bernyanyi dangdut koplo. Dikursi belakang ikut bergoyang mengikuti alunan musik. Menganggap bus tersebut seperti klub-klub malam.
Ternyata, diam-diam dari bus no.3, nya dimana yang terisi oleh anak-anak basket, ada seorang siswi yang tengah memerhatikan anak-anak futsal bergoyang heboh. Lalu tangannya terangkat memukul kepalanya, pusing. Ia menggeleng-geleng heran.
Tiana duduk bersama Reni. Adinda dan Liana lalu Rish bersama seseorang pemain cadangan. Ia adalah Gaby. Anaknya Pendiam, tidak menye-menye dan paling anteng.
Kalau di bus 1 yang paling heboh adalah Bagas lain lagi kalau di bus 3 ini. Liana dan Adinda sibuk berkaraoke di kursi depan layaknya penyanyi bersuara emas. Anak-anak yang dibelakang, sudah muak mendengarnya. Nada yang tak beraturan, apalagi suaranya serak-serak tak karuan. Intinya telinga serasa ingin copot.
"Aduuuhhh udah deh Li. Suara Lo gak enak banget. Budeg telinga gue lama-lama." Cerocos Rish dibelakang sana. Ternyata dari tadi cewek itu sudah tak betah.
"Suka-suka gue lah. Kenapa lo jadi yang sewot."
Rish berdiri. Matanya melototi Liana tajam. "EH ORANG GILA! BUKAN CUMA GUE YANG KE GANGGU, YANG LAIN JUGA SAMA. SEENAK JIDAT LO BILANG SUKA-SUKA LO. MIKIR DONG!"
Dengan cepat Liana menunduk ampun dengan tangan yang dijadikan satu. "Ampun ampun Mbaahh. Saya salah, saya khilaf. Ampun dah."
Adinda yang disebelah Liana tertawa tertahan. Andai saja ia tertawa lepas, siap-siap mukanya Jontor terkena lemparan sepatunya Rish.
"Ampun Rish. Gue tadi bilangnya becanda elaah. Sorry dah." Kata Liana.
"Sorry-sorry. Ini bukan lebaran." Sahut Rish masih sewot. Ketenangannya hancur gegara suara perusak milik Liana. Hancur dah hancur.
Rish kembali duduk, lalu mengobrak-abrik isi tas nya mencari headset yang ia bawa. Siapa tahu nanti Liana menyenyi lagi, ia sudah aman dari suara gadis itu.
"Rish galak juga ya." Reni terkekeh akan kegalakan Rish. Gadis itu jadi teringat Willa teman satu kost.
"Iya galak. Apalagi kalo PMS, beuhh macem singa betina." Sahut Tiana sama-sama terkekeh-kekeh. Untung Rish tak mendengarnya.
"Asik-asik juga ya anak basket. Bikin betah. Coba aja kalo dari dulu aku masuk klub nya langsung, udah akrab banget pasti sama lainnya."
"Iya. Kalo udah Tanding nanti, sering-sering main kalo ekskul. Jan sibuk lari mulu." Tiana tersenyum menyindir.
"AHAHAHAHAHAHA iya dah. Nanti gue ikut latihannya juga." Reni mengacungkan jempol tangan keatas.
"Eh btw, gue baru tau kalo Damar suka sama lo ya." Celetuk Reni mengalihkan topik. Yang bersangkutan hanya terdiam tak merespon. Tiana mendengarnya, namun enggan menyahut.
"Terima aja lah teman gue yang satu itu. Kasian liatnya ngejar-ngejar lo terus." Reni melirik ke Tiana yang masih terdiam.
"Tian?"
Tiana menoleh. Tatapannya seakan-akan bertanya apa.
"Kenapa diem aja? Lo gak suka sama Damar ya?" Tanya Reni.
Lalu Tiana menghela napas berat. Tatapannya menunduk. "Gue lagi gak mau dekat sama siapapun." Ucapnya penuh keseriusan. Entah kenapa mata Tiana memanas. Berusaha mungkin agar air matanya tak keluar.
"Oh gitu. Nanti gue bilang sama Damar kalo lo lagi gak pengen Deket sama siapa pun." Gumam Reni.