
Syukurlah. Sang Dewi Fortuna telah berpihak pada mereka. Entah darimana, tiba-tiba ada seseorang yang baik hati menawarkan tumpangan secara percuma. Orangnya ramah, baik dan welcome. Apalagi bisa nebeng dimobil mahal. Surgaaaa
"Udah lama ya gak ketemu Ren." Kata Gibran sambil menyetir, namun matanya melirik kaca depan.
Reni hanya tersenyum. "Gak lama-lama amat kok. Baru sebulan doang. Hehe."
"Sebulan juga ikutnya lama."
Reni tertawa. "Hahaha, bisa aja nih mas Gibran."
'oh jadi Gibran. Tapi bukan anaknya pak presiden ya tolong. Gibran ini masih mahasiswa.'
"Btw, Jam segini kok baru berangkat. Udah jam 8 loh, apa nanti gak dihukum?" Tanya Gibran.
Lagi-lagi Reni yang menjawabnya. Yaiyalah Reni, yakali Willa. Willa aja gak kenal sama Gibran. Udah jadi pengamat aja.
"Soal hukuman mah tenang. Kan aku bisa atasi. Terus juga kayanya gak mungkin deh gurunya ngasih hukuman ke aku."
"Kenapa?"
"Secara aku keponakannya Albert. Makanya gak berani ngasih hukuman."
Lalu Gibran tertawa dibuatnya. "Ada-ada aja kamu."
Stop. Willa tak kuat melihatnya. Ia macam kambing cengo tak tahu apa-apa. Dikacangin cuy, ya ampun Reni!
"Itu temannya kamu jangan diem-diem aja. Ikut ngobrol lah, gak usah malu-malu." Kata Gibran melirik Willa. Gadis yang dimaksud itu hanya tersenyum kaku. Sial!
"Gak usah malu-malu gitu deh. Jeleh gue liatnya. Jangan gegayaan jadi anak kalem." Bisik Reni bercanda.
Willa melotot tajam, "Apasih lo! Jangan cari gara-gara deh."
Reni tertawa tanpa suara. Lucu baginya saat melihat Willa sudah marah-marah. Rona merah di pipi Willa bukan seolah-olah karena tersipu malu, melainkan itu efek dari marah-marah.
"Asik banget ketawanya."
"Hehe iya. Lagian ini teman aku ngupil terus diemut pake jari, makanya aku ketawa." Reni bohong. Sekali-kali mengerjai Willa tak apalah. Hiburan sebelum pelajaran dimulai.
Willa hanya memendam emosi yang menggebu-gebu. Kemudian menangkup mukanya dengan kedua tangan.
Lain saat mendengar ucapan Reni, Gibran hanya tersenyum geli.
"Lo jangan ngibul deh! Ngeselin banget sih." Willa merajuk.
"Ampun dah. Ahahahha."
"Bodoamat."
"Aahahahaha."
๐๐๐
Surganya para pelajar selain waktu pulang adalah jam kosong. Mereka sangat berhura-hura kesenangan layaknya mendapat uang 100 juta. Ditambah dengan jam masuk berubah, khusus untuk hari ini adalah jam 7 lewat. Guru-guru membiarkan anak didiknya berangkat melebihi jam pada biasanya.
Dikarenakan pada saat pagi hari hujan deras, mungkin para pelajar berangkatnya menunggu hujan reda, alhasil mereka datang melewati jam 7.
Jam pertama pelajaran dikosongkan. Sekip hingga istirahat nanti. Enak bukan, kenikmatan mana yang engkau dustakan wahai umat. Para lelaki memanfaatkan jam-jam seperti ini untuk bermain Uno dipojokkan sambil ngopi. Untung saja mereka masih mematuhi peraturan sekolah, yaitu dilarang merokok sembarangan. Laki-laki yang tidak ikut serta bermain Uno, mereka menonton film menggunakan laptop milik ketua kelas. Kalian tahu apa yang mereka tonton? Tontonan mereka memang miris sekali. Film macam itu bukan untuk usia-usia mereka lagi. UPIN-IPIN! Halo?!! Kalian sehat? Film itu harusnya untuk anak-anak usia TK dan SD. Setres bukan.
Kemudian Lain lagi dengan perempuan. Mereka bermacam-macam kegiatannya. Dari yang bergosip ria membentuk lingkaran di salah satu meja. Adapula ber-selfie didekat jendela, agar wajahnya terlihat glowing dan berseri. Dan satu lagi, ini yang membuat geleng-geleng kepala. 4ย perempuan bergoyang-goyang didepan bak seorang penyanyi dangdut. Mereka berempat melakukan itu demi konten pada aplikasi yang sedang viral ini.
Ajaib. Benar-benar ajaib. Segala macam aksi rusuh dan berisik menggema di kelas itu. Lagi-lagi kelas itu memiliki keberuntungan karena tidak ada guru yang menegur. Entah mengapa kelas itu dipenuhi keberuntungan padahal siswa-siswanya semua begajulan.
30 menitย yang lalu Reni baru saja sampai di kelasnya. Bukannya terkejut akan teman-temannya yang sudah menggila, melainkan respon nya yang biasa-biasa seolah-olah tak terjadi apa-apa. Sudah biasa sih ia melihat tingkah manusia disini yang abnormal.
Cewek maniak olahraga itu menaruh tas nya di bangku no. 4 bersama Sinta, teman sebangku.
"Ta, gak ada tugas apa-apa nih?" Tanya Reni.ย Siapa tahu sebelum ia masuk kelas ada guru yang memberikan tugas.
"Oke deh. Gue ke belakang dulu."
"Yoi."
Kemudian Reni menuju bangku paling pojok akhir mentok dekat jendela menghampiri sekumpulan pemuda bermain Uno. Disana ada Bagas, Riko, Ryan, Damar dan Aria. Dilihat-lihat Aria tumben sekali mau bermain mainan macam begituan.
"Hei Yo!!!"
Semua menoleh ke sumber suara yang berasal dari Reni.
"Sini Jon gabung. Asik nih." Ajak Ryan di sebelah Bagas. Cowok itu dari hari ke hari tampak lebih fresh saja kelihatannya.
"Ikutan dong. Ulang deh mainnya." Reni menimbrung diantara Aria dan Damar.
Raga boleh perempuan tapi jiwa laki-laki.
Mainannya pun bersama laki-laki kampret penyebar vibes negatif yang dapat memengaruhi otak. Mengapa Reni bisa-bisanya berkecimpung dengan buaya-buaya darat macam ini. Oh gosh!
"Sini kartunya kumpulin. Ulang lagi dah." Riko mengutik kartu-kartu yang berserakan kemudian menyatukan lalu di kocok.
"Tiga atau empat an?" Tanya Riko.
"Empatan aja udah GC. Gue pen bantai Damar nih dari tadi cuma gak kesampaian terus." Kata Ryan.
Damar hanya terkekeh kecil. "Udah takdirnya kalah ya syukuri aja lah. Pake sok Sokan bales dendam."
"Diem lo Jang!" Sewot Ryan membalasnya.
"Ahahahha Jang? Maksud lo bujang?" Tanya Riko sambil tertawa ngakak.
"Ujang kali. Dia kan nama lengkapnya Liezang, makanya dipanggil Jang." Kata Bagas sok tau.
"Berasa bener aja lo keong." Ketus Ryan.
"Udah-udah gak usah bacot mulu. Jadi main gak sih?" Reni jengah atas adu bicara antara master bacot beserta anak buahnya.
"GC bagiin!" Perintah Aria.
Riko membagikan 4 kartu pada masing-masing orang yang ikut bermain. Reni membuka 4 kartunya. Yes! 2 kartu kuning berangka 3 dan 4 sedangkan dua nya lagi kartu plus 2 dan kartu blok.
"Gue dulu ya." Kata Bagas. Didalam arena sudah ada kartu merah bertuliskan angka 5. Lalu Bagas mengeluarkan 2 kartu merah berangka urut.
Kemudian dilanjut oleh Aria. Cowok itu mengeluarkan kartu hijau bertuliskan angka 6. Karna sebelumnya Bagas mengeluarkan kartu merah berangka 6.
"Gue nih ya. Siap-siap lo setelah gue." Ryan tersenyum jahat pada Damar yang disampingnya. Kemudian tangannya mengeluarkan kartu plus 2.
"Haaaaakhhh! Rasain lo Ry." Damar malah tertawa lebih mengejek dari Ryan. Cowok itu mengeluarkan kartu +4.
"Ahahahha Lol!" Riko tertawa keras sambil memukul bangku dengan kencang. Bukan hanya Riko, yang lain pun sama ngakak nya saat melihat bahwa Ryan kalah lagi dari Damar.
"Haalah! Sial Mulu nasib gua." Ryan menggerutu seraya mengambil 6 kartu dari arena. Jadilah kartu Ryan menjadi 7 buah.
"******! Makanya jangan berlagak songong dulu dah." Bagas mengejek Ryan hingga kalah telak.
"Ahahaha banyak-banyak belajar dari gua nih. Mau tutor Ry?" Kata Bagas lagi diiringi tawa.
Ryan menoleh sewot. "Besok bangku pindah Sono. Jangan deket-deket gua lagi. Muak gua sama lo."
"Ahahaha Selo bro. Ini cuma permainan. Jan baper lah." Damar menenangkan Ryan yang panas sudah.
"Sekip. Next." Lanjut Aria.
Permainan pun dilanjutkan. Hingga 10 menit berlalu. Pertama kali yang menghabiskan kartu adalah Riko kemudian Reni dan seterusnya. Hingga yang terakhir adalah Ryan. Maklum Ryan masih noob, amatiran.