Sport Girl

Sport Girl
part 53



Selesai pertandingan, para penonton berhamburan menebarkan kertas sebagai perayaan kemenangan SMA Wisanggeni.


Para sahabat Reni langsung meluncur menarik gadis itu lalu di angkat dan di terbangkan layaknya memantulkan bola ke langit.


"Menang juga lo Mak garang." Ujar Bagas heboh.


"Biasa nya juga menang nyet. Hahahahhaha." Riko tertawa.


"Udah oiyy turunin. Gila gak usah lebay deh." Reni meminta agar diturunkan.


Mereka pun menurunkan Reni namun sedikit kasar. Membiarkan pantatnya mencium lantai.


"Sakit b*go!!!!aduhhhh." Reni meringis ke sakitan.


"Ye maap. Intinya kita makan-makan yaa, harus itu." Seru Damar paling semangat.


"Gue gak ada duit nyet. Sono minta sama kepala sekolah."


"Eh fotbar dulu dong." Ajak Ryan sembari membawa kamera SLR.


"Eh ayo-ayo."


Akhirnya mereka membentuk 2 shaf potonya. Diantara mereka, Riko lah yang gaya nya paling absurd. Ia melotot dan menampilkan gigi-gigi nya.


Lalu ganti gaya, serempak mereka mengepalkan tangannya seolah-olah menyemangati.


Dan ini yang terakhir gaya nya. Ketika hendak menjepret bidikan tiba-tiba Riko rusuh hingga barisan bubar. Dan yang lebih kaku nya lagi hasil bidikannya menangkap saat kerusuhan Riko tadi.


Sial itu anak.


"Saya juga mau Poto dong sama Reni. Tapi berdua aja, ayo Riko potoin saya." Kata Gibran pada Riko.


Reni tertawa. "Riko yang di bawa-bawa."


"Udah sini kamera nya. GC!" Riko merampas kamera itu secara kasar.


Gibran terkekeh akan aksi Riko. Kemudian cowok itu berdiri disamping Reni. Senyuman lebar terpasang di muka keduanya.


"Dah." Kata Riko.


"Makasih Ko." Ucap Reni seraya menyengir.


"Sekarang kita ke restoran mama saya ayo. Saya traktir deh." Kata Gibran membuat semuanya menoleh saat mendengar kata-kata traktir.


"Ayo Ren! Jangan sia-siakan gratisan." Ujar Bagas.


"Duluan deh. Gue mau ambil tas."


"Yaudah kita duluan. Ayo bang Gib. Lets go!!" Damar merangkul Gibran agar mau mengikuti langkahnya. Diikuti yang lain juga mengekor di belakang Damar.


Reni membalikkan tubuhnya bertujuan mengambil tas di loker, namun ada sesuatu panggilan dari seseorang pula di belakangnya.


"Reni!"


Reni menghentikan langkahnya. Jantungnya tiba-tiba tak bisa diajak kompromi. Suaranya sangat khas sekali. Ia menoleh perlahan.


"Selamat ya, gue seneng akhirnya bisa hadir di pertandingan lo." Kata Alfa menyelamati. Ia mendekat ke Reni.


Entah kenapa Reni merasa kikuk dibuatnya. "Makasih. Eh btw sakit lo udah sembuh emang?"


Alfa mengangguk seraya tersenyum.


"Syukurlah. Lo ikut gue yuk ke restoran nya Mas Gibran. Seru-seruan deh disana. " Ajak Reni antusias. Namun Alfa menggeleng pelan.


"Kenapa?" Nada suara reni terdengar seperti kecewa.


"Luka di kaki Lo udah di obatin lagi belum? Nanti infeksi lho jadinya." Alfa malah mengalihkan topik lain.


Reni bungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata. 'kenapa Alfa bisa se peduli itu sama gue?'


"Hehe. Ntar deh." Reni malah menyengir.


Alfa berdecak kesal. "Jangan anggap remeh Ren. Gue obatin ya."


Deg.


'apa tadi kata Alfa? Obatin dia? Ya ampun mimpi apa gue.' batin Reni jingkrak-jingkrak seperti anak kecil.


"Eh gue bisa obatin sendiri kali." Tolak Reni. Sebenarnya ia pengen sekali di obatin Alfa namun gengsi.


"Kalo lo obatin sendiri yang ada malah gak beres. Ayo biar gue obatin." Alfa menarik tangan Reni entah menuju kemana.


'tuh kan pake megang tangan gueeeee.'