Sport Girl

Sport Girl
Part 20



Play song:  Sahabat sejati-shiela on 7


 


Sekantong kresek hitam mengembang besar digenggaman tangan seorang gadis. Jemari tangan kiri meremas berkeringat. Helaan napas lolos dari mulutnya. "Bismillah, semoga Reni jangan marah lagi sama gue." Ucap Willa berdoa.


 


 


 


 


Tok tok


 


 


 


 


Tak ada jawaban. Sekali lagi tangannya terangkat untuk mengetuk pintu. Namun tetep juga tak ada sahutan dari sang pemilik kamar. "Masih molor nih anak keknya. Masuk aja ah."


Wila menarik kenop pintu kamar Reni. Pintu kamarnya tumben tak dikunci, biasanya jika abis olahraga pintunya dikunci. Benar dugaan Willa, gadis itu masih diatas kasur dengan acak-acakan dan masih mendengkur. Sudah siang juga, ia tak sadar jika cahaya matahari nya menyorot kamarnya dengan terang.


"Dasar kebo. Ampun dahh." Wila menggeleng kepalanya sabar. Ia mengguncang kaki Reni secara kasar sampai tubuhnya terguncang.


"BANGUN OIYY! NIH GUE BAWA BUBUR AYAM PLUS MARTABAK. MAU GAK LO?!"


 


Masih seperti awal. Reni belum saja bangun. Harus diapakan ini bocah. Anteng sekali tidurnya. Namun tiba-tiba ide cemerlang melintas di otaknya.


Willa menyeringai. " Gue yakin kali ini cara gue bisa bikin lo bangun."


Ia meletakan bungkusan kresek itu ke nakas. Langkahnya kemudian mendekat ke wajah Reni. Tatapan lalu beralih ke hidung. Wila perlahan mengambil napas untuk menstabilkan dirinya.


"Sorry Ren, gue ngelakuin ini karena terpaksa." Ucapnya lirih.Tangan kanan nya terangkat, jari telunjuk dan ibu jari masuk kedalam hidung Reni guna mencabut bulu hidung tuh bocah.


 


 


Srett


 


 


 


"Aaaaaakhhhh sakit!!!!!!" Teriak Reni kesakitan. Sontak membuat Willa langsung memundurkan wajahnya.


"Apa-apaan si lo! Jahil banget. Pergi sana!" Usir Reni dengan kekesalan memuncak.


"Ampun Ren. Niat gue kesini tuh baik tau. Jangan usir-usir dulu napa." Kata Willa. Ia mengambil kantong kresek lalu mengeluarkan isinya. "Nih gue bawa bubur ayam and martabak kesukaan lo."


"Kenapa diem?nih buruan ambil." Willa menyodorkan kedua makanan itu.


"Lo gak naruh macem-macem kan kedalam wadahnya?" Tuduh Reni membuat Willa melotot tak terima.


"Astagaa!! Maksud lo gue ngasih racun gitu kedalam buburnya? Gilla aja. Udah deh kalo gak mau gue bawa pulang aja." Willa beranjak dari tempat tidur Reni.


Reni langsung menarik kencang tangan Willa supaya tak langsung kabur. "Eh jangan dong. Iya gue mau nih, sini buburnya."


"Alaaaahh tadi aja su'uzon sama gue. Sekarang aja minta buburnya balik. Sialan lo."


Reni menyengir tak berdosa," Sorry dah. Lo kan tau kalo lo itu sukanya jahil. Takut aja nanti didalem bubur ada kecoa atau apa kek."


"Cuih. Negatip Mulu otak lo."


"Iya iya sorry. Buburnya gue makan sekarang ya." Willa hanya mengangguk saja.


Selama Reni menikmati bubur nya, Willa hanya memperhatikan secara diam. Ia sebenarnya ingin meminta maaf namun rasanya masih enggan. Nanti saja jika Reni selesai sarapan.


"Ren,"


"Bentar-bentar, gue mau minum dulu."


"Ren,"


"Bentar. Gue buang dulu wadahnya."


"Ishh Ren! Dengerin dulu napa." Willa kesal. Sedari tadi ucapannya terpotong terus.


"Ada paan si?" Tanya Reni.


Willa menarik napas kemudian membuangnya. "Gue minta maaf ya soal kemarin. Gue gak tau diri banget dah sampe-sampe Lo marah. Maaf yah." Ia memohon agar Reni memaafkannya.


Gadis itu tertawa "AHAHAHAHAHAHA. Kirain apaan coba."


Willa cengo. Barusan Reni tertawa? Apa ada yang lucu dengannya. Respon macem apa itu.


"Kok ketawa sih?" Tanya willa kesal.


Reni mengganti posisinya dengan duduk di sebelah Willa. "Aduhh gini ya, gue itu kemarin cuma lagi capek aja. Makanya kebawa emosi."


"Ya tetep aja gue itu kurang ngajar, pake kamar Lo sembarangan. Maafin gue ya."


"Hmm."


"Jawabnya jangan gitu dong."


"Huft. Iya Willa anaknya pak Trisno."


"Yeeeee." Willa langsung memeluk tubuh Reni sangat erat.