Sport Girl

Sport Girl
part 48



Adzan isya berkumandang ditengah hiruk pikuk jalanan kota. Alun-alun masih saja ramai dipenuhi remaja-remaja pejalan kaki. Masjid besar berdiri kokoh didepan alun-alun. Anak-anak, orang tua dan pemuda berbondong bondong mengikuti solat berjamaah.


Gerombolan anak remaja memakai motor bersinggah sejenak di parkiran masjid untuk menunaikan ibadah shalat. Mereka sangat banyak, 40 orang ada. Ada yang berboncengan menggunakan motor, ada pula yang menggunakan mobil. Mereka semua adalah kawan-kawan Aria.


Sesuai janji tadi sore, Reni dan kawan-kawan berencana menjenguk ibu Aria yang dirawat di rumah sakit lantaran kanker paru-paru. Sedih bukan, usianya yang terbilang masih muda sudah sakit-sakitan. Masih bersyukur kita yang dikarunia kesehatan jasmani hingga saat ini.


"Solat woiy! Jan ngopi mulu." Teriak Reni pada teman-teman nya ditepian alun-alun.


"Lo juga ngapa kagak solat?" Tanya Mario. Teman satu futsal dengan Aria.


"Ya..gue lagi...emm... Ya ada deh urusan cewek!!!" Reni sedikit malu mengatakannya. "Udah sana solat!!" Tangan cewek itu mendorong Mario agar berdiri.


"Udah yuk solat. Keburu komat dah. GC napa!" Tukas Ryan selaku cowok paling waras, paling pengertian.


Mereka akhirnya bangkit mengikuti jejak langkah Ryan dari belakang. Jumlahnya yang banyak, membuat sang ibu-ibu disamping mengelus dada takjub.


"Subhanallah. Anak muda itu rajin yah, meramaikan masjid. Aduhhh saya jadi terharu." Ibu-ibu menatap penuh pukauan dan berbinar-binar.


Karena tak ada seorang pun yang mengajak ngobrol, Reni lebih baik duduk di kios seblak sebelah Utara masjid. Lumayan buat mengisi perut yang keroncongan. Selain mie ayam, nasi lengko adalah makanan favorit kedua bagi cewek itu. Rasanya pedes manis nyoi.


"Bu, nasi lengko satu." Ibu-ibu itu menunjukkan jempolnya pertanda siap dihidangkan.


Reni duduk di single cair berwarna hijau. Suasan kota mengingatkan kedaerah Semarang tempat tinggal aslinya. Rindu ayah dan bunda serta adik. Seandainya orang tuanya tak sibuk, dengan semangat Reni mengirim surat undangan wali murid agar berkenan hadir di ajang pertandingan lusa. Rasanya mendapat support dari orang tua memang beda.


"Neng ini lengko nya." Ucap ibu itu membuat lamunan Reni buyar ditelan waktu. Ia meraih piring itu.


Sesuap seblak memasuki mulutnya. Rasanya enak-enak saja dikala perut sedang lapar. Menguyah kerupuk dan sayur-sayuran yang ada di wadah datar itu. Jadi teringat saat makan bersama Alfa dikantin untuk pertama kalinya.


'Alfa lagi apa ya sekarang?' Batinnya bertanya seperti itu. Setelah Reni mengenal Alfa, dipikir-pikir ternyata cowok itu asik juga diajak berkawan. Isu-isu mengenai cowok itu bahwa ia adalah cupu, culun, dingin,dan lain-lain tidaklah benar.


Sejauh ini, Reni lebih menjadi penasaran akan hidup Alfa. Entah kenapa Alfa selalu saja terngiang-ngiang dikala gabut.


Tak terasa nasi lengko nya sudah habis tak tersisa. Cepat sekali perasaan. Padahal baru dua suapan. Hehe, namanya juga orang laper.


"Heh!!malah makan lagi lo." Ujar Bagas dari masjid. Rambutnya masih basah di bagian depan. Entah kenapa laki-laki kalau habis berwudhu tingkat ketampanannya meningkat drastis.


"Laper gue. Udah yuk cabut." Reni menarik lengan Bagas. Namun lelaki itu tak bergerak.


"Gua kan juga laper. Bentar dah makan dulu."


"Ih nanti kemaleman Bagason. Udah deh jangan aneh-aneh."


"Apanya yang aneh coba. Orang mau makan di bilang aneh."


"Gue gaplok congor lo Gas. Udah dibilangin nanti kemaleman elaaah." Lama-lama ngomong dengan Bagas bawaanya emosi terus.


"Lha lo tadi aja makan." Ujar Bagas tak mau kalah.


Reni menghela napas panjang. "Oke fine. Mau makan dah Sono. Gue tinggal." Reni membalikkan badan dan melenggang pergi meninggalkan Bagas.


"Eh Reni! Ren tungguin dah. Becanda gua.heeiii!" Bagas teriak-teriak memanggil Reni. Langkahnya menyusul gadis itu ke parkiran.


Selesai solat, mereka semua langsung menaiki kendaraan masing-masing. Ada 4 mobil yang diisi masing-masing 6 anak. Sisanya menggunakan sepeda motor dengan saling berboncengan.


Karena menurut Reni, mulut recok Bagas dapat menemani selama perjalanan menuju rumah sakit. Jelas saja Bagas menerima dengan senang hati ajakan Reni.


"Gas!gue yang nyetir. Sini kunci nya." Tangan Reni menengadah ke Bagas.


"Gak mau lah. Entar srantal sruntul dah nyetirnya. Ogah!"


"Cepetan deh. Gue udah apal kali. Buruan sini."


"Gak. Gak mau. Jangan ngade-ngade dah." Bagas segera menduduki bangku motornya dibagian depan.


Reni merengut kesal. Lagi-lagi Bagas membuatnya naik darah yang tak mau mengalah sifatnya.mau tak mau Reni membonceng dibelakang.


"Wehh ayo Weh. Mobil mobil didepan aje." Ujar Mario meneriaki bak seorang instruktur.


"Cepetan woiy banyak kendaraan lain."


"Eh Damar, mlongo aje lo. Jalanin tuh motor."


"Mobil merah depan cuy! Ikuti dah mobilnya."


Teriakan demi teriakan saling menyahuti satu sama lain. Kesannya kalau seperti ini seperti pawai atau trek-trekan geng motor. Padahal sebenarnya agenda mereka hendak menjenguk orang sakit. Mungkin karena jumlah mereka banyak, dan mayoritas laki-laki.


Tumben sekali hari itu malam sangat cerah. Purnama terlihat menerangi kegelapan malam. Cahaya orange kekuningan memenuhi lingkaran bulan saat itu.


Alangkah senang nya suasana malam hari itu. Mulai satu persatu kendaraan melaju meninggalkan alun-alun. Reni dan Bagas berada ditengah-tengah antara teman-temannya. Bagas teriak-teriak disamping motor Damar. Campuran teriakan dan deruan motor beradu menjadi satu.


"Ahahahahahahah." Bagas tertawa. Entah apa yang lucu hingga membuatnya tertawa.


"Rem dadakan woiyy Gas! Auto gaplok pala lu." Riko teriak sambil terkekeh.


"Ahahaha setres lo Ko. Sayang pala gua lah. Macan garang itu mah." Sahut Bagas tak kalah gilanya.


"Hahahahahahahahha." Damar dan Riko teriak secara bersamaan. Emang gila mereka.


Reni hanya memerhatikan saja. Tak ikut campur dengan apa yang di candakan.


Motor dan mobil terus melaju hingga sampailah didepan gedung rumah sakit. Motor-motor diparkir secara rapi.


Mario menenteng beberapa buah tangan yang tadi dibeli.


"Ren bawa nih."  Mario menyodorkan kresek-kresek yang ada di tangannya.


"Ih gak mau. Lo kan cowok. Tega banget biarin cewek bawa begitu." Reni melengos setelah mengatakan itu.


Dibelakang Bagas dan yang lain tertawa pada Mario.


"****** lo Yo!! Emang enak. Hahahaha." Riko tertawa meledek. Ngakak sejadi-jadinya saat melihat muka Mario yang lucu abis saat di tolak Reni saat membawa barang.


"Bawa ye Mar. Ati-ati, mahal nih." Tambah Bagas tak kalah meledek. Ia beserta akrabnya melalui Mario.


Cowok itu kesel bukan main. "Hufth nasib dah." Tangan Mario mengelus dada sabar. Begini amat jadinya. Sekarang ia ditinggal pula oleh yang lain.