Sport Girl

Sport Girl
part 40



🍁Disetiap perjalanan, aku selalu berharap semoga diri ini tetap kuat, hati ini tetap tegar, apapun yang terjadi aku jangan pernah berhenti, jangan pernah menyerah pada keadaan. Aku harus jadi sosok yang kuat untuk orang lain, termasuk diriku sendiri. 🍁


"Bye Ren!!"


Bagas melambaikan tangannya didepan kostan yang ditinggali Reni. Teman-temannya seperti Riko, Damar, Bagas, Ryan dan Aria telah pergi kembali ke rumahnya masing-masing. Walaupun itu sudah pukul 1 malam lewat, keadaan jalanan disekitar komplek itu masih ramai. Banyak abang-abang menongkrong di setiap pos atau warung.


Kostannya pun tumben masih berisik, terutama dikamar Gina. Kalau sudah seperti itu pasti mereka sedang menonton drakor. Bukan hanya Gina yang disitu, melainkan ada Lia, dan Wila. Wila oke. Cewek yang terkenal akan kejudesannya menonton drakor.


Reni geleng-geleng kepala sendiri. Sebenarnya itu orang berhati apa. Jika ngomong dengannya selalu saja keluar nada-nada sinis. Tapi kalau sudah berhubungan dengan drakor, tiba-tiba hatinya jadi lembut, luluh dan suka baper liat adegan roman di drama.


Karena sudah larut malam, Reni memutuskan untuk pergi kamar saja. Rasa kantuknya menerjang sejak 1 jam yang lalu. Keinginan untuk menonton drakor bersama Wila dan teman-teman ditolak keras oleh otaknya.


Sebelum tidur, sengaja ia membuka ponsel untuk mengecek Aplikasi chat apakah ada pesan penting atau tidak.


Dahi Reni mengerut saat melihat nama Alfa tertera diurutan pertama kolom chat. Karena penasaran, ia membuka pesan tersebut.


Alfa


Maaf ya Ren, gara-gara gw lo jadi kena masalah.


Panas. Wajah Reni memanas seperti dipanggang rasanya. Entah kenapa mata yang tadinya mengantuk lalu tak jadi mengantuk. Rasa senang dibagi yang menggebu-gebu.


^^^Renita F.^^^


^^^Masalah apa ya?πŸ˜‚^^^


Alfa


Yg tdi siang booming bgt. Trnyta sumbernya dr gw.


^^^Renita F^^^


^^^Oh itu. Brt selama^^^


^^^ini gw famous bat ya. ^^^


^^^Wkwk^^^


Alfa


-_-


^^^Renita F.^^^


^^^Idih. Dah lah gw mo tdr.^^^


Akhirnya Reni mematikan ponselnya dan meletakan di atas meja belajar. Semoga saja dirinya bisa mimpi indah.


πŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“Œ


Rutinitas hari libur tepatnya pada Minggu pagi yang sering orang-orang lakukan adalah joging. Berlari-lari mengitari CFD atau gedung olahraga. Banyak lah tempat yang mereka digunakan.


Pesepeda gunung beramai-ramai memenuhi sepanjang jalanan sejak pukul 5 pagi. Biasanya, mereka membentuk komunitas sepeda dan selalu memiliki jadwal tujuan beda-beda setiap Minggu.


Reni dan Wila biasa berlari-lari di gedung olahraga yang luasnya kira-kira sebesar GBK. Sampainya jam 7 pagi, orang-orang semakin banyak memenuhi gedung itu.


"Ren, satu putaran lagi udah ya. Capek gue." Ucap Wila disamping Reni. Gadis judes itu kelelahan, napasnya sudah ngos-ngosan.


"Iya. Ntar lo udahan aja. Gue masih tetep lanjut. 5 putaran lagi kek nya." Kata Reni. Ia sudah menghabiskan waktu selama 30 menit untuk mengitari 10 kali putaran lapangan besar.


"Sumpah deh gue heran bat sama lo. Itu kaki atau apa? Gak pegel emang?"


Wila bergidik ngeri. "Udah ah. Gue ke bangku tribun dulu."


Wila mulai berlalu meninggalkan Reni.


Tak lupa mengambil tas didekat pagar. Kemudian membawanya keatas.


Lain halnya dengan Reni, ia tetap lanjut memutari lapangan bersama orang-orang lain. Targetnya lagi harus bisa lari 5 kali putaran. Wajarlah, sejak Reni SMP sudah sering di didik fisiknya oleh kakaknya yang seorang binaragawan. Makanya, lari 10 putaran, kecil.


"Lo?"


Ha? Reni bingung. Ada suara laki-laki didekatnya.


"Lo yg waktu itu di supermarket kan?" Tanya lelaki disamping Reni.


"Eh, supermarket mana ya?"


"Lupa pasti. Kejadiannya udah lama banget." Gumam lelaki itu. "Gue Fian." Lanjutnya.


Reni langsung teringat. Ah astaga ternyata cowok itu toh. Yang bertanya akan sabun anti iritasi.


"Ouh ya gue inget."


Dilihat-lihat Fian sepertinya seumuran denga Gibran, anak kuliahan itu. Namun Fian lebih berotot tubuhnya.


"Btw nama lo siapa?"


'apa sih nih orang tanya-tanya. Ih jadi ngeri gue.' Batin Reni.


"Sorry-sorry udah bikin lo gak nyaman. Gue bukan buaya, tenang aja." Ucap Fian sedikit membuat Reni lebih tenang.


"Kalo gak mau ngasih tau juga gapapa kok."


Reni tetap diam. Melanjutkan larinya tanpa menggubris ucapan Fian. Daripada lama-lama dengan Fian, ia memutuskan berhenti saja menghampiri Wila. Dilihat dari bawah, Wila seperti orang bloon. Plonga-plongo, ingin rasanya tertawa keras.


"Gue cabut dulu." Pamit Reni pada Fian.


Fian hanya mengangguk saja.


Sampainya diatas sana, Wila menatap kedatangan Reni. Tangannya terulur memberikan Tumblr milik gadis yang baru datang itu.


"Cepet amat. Katanya mau 5 putaran lagi." Sindir Wila.


Reni menatap kesal. "Diem lo."


Wila tertawa kencang. Tangannya memukul punggung Reni karena sangkin ngakaknya. Namun Reni menggeser tubuhnya menjauhi Wila.


"Gara-gara orang itu ya?" Tanya Wila. Sepertinya ia dari atas memerhatikan Reni bersama cowok bernama Fian itu.


"Iya lah. Risih tau gak." Mukanya bete abis.


Lalu Wila menyodorkan roti hangat pada Reni. "Nih makan."


"Pegangin dulu. Gue mau ke toilet bentar." Reni berlari karena sudah kebelet.Β  Langkah nya tergesa-gesa menuju toilet wanita. Untung saja, disana sepi sehingga tak perlu mengantri panjang.


5 menit sudah, ia keluar dan ingin kembali ke Willa. Namun baru saja keluar dari toilet, ia tak sengaja menabrak seseorang hingga orang itu jatuh.


"Eh sorry gue gak seβ€”" kata Reni.


"ALFA?!!"