Sport Girl

Sport Girl
Part 26



Play song: just my type - The Vamps


Aku  suka kamu bukan karena prestasi besar yang kamu miliki, aku suka kamu itu simple saja. Bahwa kamu itu orang pertama yang membuat aku lebih excited untuk menjalani hidup.


Ratusan siswa berhamburan memenuhi setiap sudut sekolah tak terkecuali. Berlalu lalang layaknya orang sibuk. Suasana istirahat pada umumnya memang ramai, mustahil sepi.


Istirahat pertama memiliki jangka waktu yang singkat. Namun pelajar yang terutama siswa menghabiskan waktu itu untuk memakan makanan berat. Padahal ini masih jam 10 pagi. Bisa saja itu mungkin pengaruh saat belajar, apalagi matematika yang sangat menguras energi otak maupun tenaga.


Alfa sedang duduk di bangkunya. Dalam hati ia menghitung perkiraan apakah Renita ada dikelas atau tidak. Jika ada, ia malu harus jumpa dengan kawan-kawannya. Namun jika tidak ada, ia sangat rindu dengan gadis itu.


Aaaakhhhhh bingung!


'huft! Oke lebih baik gue cek dulu dikelasnya. Gak usah peduli malu.' batin cowok itu.


Ia mulai melangkah menuju kelas Reni di MIPA 2. Jaraknya terpaut jauh membuat dirinya semakin enggan bertemu orang-orang. Alfa males bertemu orang-orang.


Tak apa lah, demi gadis yang ia rindukan.


Sedangkan di sisi lain Reni bersama teman-teman se bidangnya sedang menggerombol di meja belakang. Ceweknya tidak hanya Reni, Jeje alias Xiao Na juga ikut menimbrung membahas hal hal kecil. Cewek itu sedikit demi sedikit mulai bergaul dengan seluruh anggota kelas, biasanya ia hanya mengobrol dan akrab kepada teman sebangku dan Reni.


"Je! Jidat lo jenong banget. Sini buat main futsal enak kali." Riko meledek Jeje yang jidatnya emang lebar dan mulus licin. Secara dia keturunan Cina.


Jeje yang diledeknya pun merengut kesal. "Enak aja! Sembarangan lo ngomong."


"Ahahaha Selo Napa Je. Kan gua cuma bercanda. Jan dimasukin ke ati lah. Maap ye." Kata Riko santai.


"Dodol lu Rik. Die kan baru pertama kali nimbrung ama kite-kite." Tukas Ryan.


Jeje masih pada ekspresi yang sama, merengut. Lalu ia sembarangan mengambil kuaci milik seseorang dimeja. Memakannya dengan asal.


Yang lain hanya terkekeh akan aksi dari Jeje yang random banget. Fyi, mereka ini seandainya bercanda tidak ada jaim-jaim nya. Sekali bergurau langsung kena. Apalagi soal untuk menggoda cewek, beuh!1! Udah master itu mah.


Lain hal nya jika menggoda Reni si atlet. Sebenarnya mereka ini tak sepenuhnya menganggap bahwa dia itu cewek. Kentara banget dari sifat nya yang macem laki-laki alias tomboy, gak ada kalem kalem nya apalagi soal penampilan. Yaudah, mereka menganggap Reni ini cowok. Tapi bagaimanapun pula takdir Reni adalah seorang cewek.


"Permisi,.."


Semua menoleh ke sumber suara uang berasal dari pintu kelas. Pandangan mereka tertuju pada seseorang bertubuh jangkung dan berkacamata. Wajah cowok itu datar tak ada ekspresi.


"Eh Alfa, nyari siapa bro?" Tanya Damar pada Alfa. Pandangan Alfa tertuju pada satu gadis berambut bak seorang kowad.


"Ouh Reni. Alfa nyariin lo Ren. Sono gih." Kata Damar sambil menyeringai menyebalkan.


Reni melotot ke Damar agar cowok itu takut. "Apalo?!!"


"Ampun Ren." Damar menunduk ampun. Tak berani melawan. Kelar sudah jika di pelototi singa kelas.


"Gua ada perlu sama Reni. Boleh bicara?" Alfa bersuara. Membuat teman-teman gadis itu tak percaya dibuatnya. Mereka terkejut bahwa Reni sedang berurusan dengan si pintar kutu buku macem Alfa. Patut dicurigakan. Pasalnya, Reni sama sekali tidak punya urusan dengan orang lain selain teman-temannya maupun guru. Ia males nantinya jika di cap sebagai gadis sok dekat sok kenal.


Reni mulai menghampiri Alfa yang berada di ambang pintu. "Ada apa?" Tanya Reni to the point.


Alfa rasa tempat nya kurang enak jika dilihat teman-teman Reni. Lalu ia sedikit keluar kelas agar mereka tak melihat.


Tangan Alfa merogoh saku meraih benda elastis berwarna merah. Kemudian mengeluarkannya, betapa terkejutnya Reni melihat benda itu bisa berada ditangan cowok itu.


"Punya lo kan?" Tanya Alfa.


Reni masih tak percaya, "Kenapa bisa di lo?"


"Waktu pas pulang sekolah gua liat ini udah jatuh di koridor. Yaudah gua ambil, setelah liat ada namanya gua langsung kepikiran kalo ini punya lo."


Reni tersenyum senang. "Makasih yah udah mau nyimpen ini. Untung ini yang nemu lo, coba kalo orang orang lain. Aduhh makasih banget nih." Ucap Reni panjang lebar sangkin senangnya.


Alfa ikut tersenyum senang, "Iya sama-sama."


"Eh btw, berarti yang tadi malem chat gue itu lo? Iyakan?" Tanya Reni membuat Alfa salah tingkah. Cowok itu menggaruk pipinya yang tak gatal.


"I–iya."


"Ouh.. gue save ya nomer nya." Reni mengeluarkan ponselnya dan menyimpan nomer Alfa di daftar kontaknya.


"Yaudah gua ke kelas dulu. Bye." Alfa cabut berbalik menuju kelasnya. Demi apapun ia senang sekali hari ini.


"Sekali lagi makasih Alfa." Teriak Reni penuh kegembiraan. Alfa menoleh menunjukan senyum padanya.


Dalam kehidupan Alfa, baru kali ini ia dapat merasakan sensasi bagaimana senangnya bertemu seorang perempuan. Sebelum-sebelumnya ia sama sekali tidak merasakan se excited pada perempuan lain. Memang Reni ini gadis luar biasa, Alfa semakin penasaran untuk mengetahui gadis itu secara lebih dalam.