
Play's song:
Ryan, Aria, Damar, Riko dan Reni menuju lokasi dimana Keberadaan Bagas. Kata anak-anak di berada di auditorium.
“Bagas ngapain sih ke auditorium?” Ujar Riko.
“Meeting kali.” Celetuk Reni ngasal.
“Yakali meeting. Guru aja bukan.” Sanggah Riko kembali.
Mereka sudah berada didepan auditorium. Gedungnya megah menjulang tinggi. Berlantai dua.
Guru-guru dan staf TU berlalu lalang didalamnya.
“Kok gua gak yakin yah kalo Bagas di dalem?” Ujar Ryan sedikit ragu.
“Kenapa?”
“Setau gua Bagas orangnya anti ribet. Lo tau kan kalo didalam sibuk-sibuk semua orangnya.” Jawab Ryan kembali.
Riko tertawa geli. “ Lo kok meragukan Bagas banget Yan. Siapa tau dia lagi jadi pembicara rapat guru-guru kan?”
Ryan membalangi bungkus permen karetnya pada Riko. “Sat! Bukan gitu maksudnya.”
“Udah yuk mas—”
Ting Ting ting. Saatnya masuk kelas. Jam pelajaran akan segera dimulai.
“Ah sial udah bel! Yuk balik ke kelas.” Ajak Reni.
“Lah terus Bagas gimana?” Tanya Ryan.
“Kan nanti bisa ketemu dikelas. UDAH AYO CABUT.” Reni menekankan kata-kata nya karena sudah melihat guru mapel Inggris keluar dari ruang guru.
“Oiy Ren! jangan mentang-mentang Lo atlet. Ke kelas aja pake lari segala. Gua depak nih.” Teriak Riko dibelakangan.
Reni menoleh dan mendelik ke Riko
“Cepetan! Guru Inggris nya udah OTW ke kelas!”
Riko menoleh ke arah ruang guru. Benar saja, guru itu hampir memasuki koridor kelas IPA. “ Lari *******! Itu Bu indah OTW ke kelas cuy!”
Mereka lari terbirit-birit. Reni terdepan.
****
“Good afternoon mis.”
“Good afternoon. How r you?”
“I'm fine. And—”
“I'M FEELING GOOD. LIKE I SHOULD...” Riko malah menyanyi ketika ada perkataan 'how are you' dari Bu Indah.
Bu indah hanya geleng-geleng kepala. Lagi-lagi Riko memancing untuk tertawa. Guru itu tak marah ataupun kesal, malah membuat kelas menjadi enjoy dan gak tegang.
“Mis Faradila, what's wrong with your friend?” Tanya Bu Indah pada Reni.
Nama lengkap gadis itu ialah Renita Faradila.
Reni mengerjap. “I don't know mis. Perhaps he is He lacks medicine.”
Teman-teman nya tertawa. Mendengar penuturan Reni.
“Wah! Tega lo Ren ngatain gua kurang obat. WAH PARAH!!” Ujar Riko mendramatisir.
“Hei You! You're crazy. Iewh.” Reni meringis jijik pada pada Riko.
“Enough. Let's start the lesson.” Bu indah melerai gegaduhan kelas. Jika dibiarkan malah tidak pelajaran.
Pelajaran dimulai. Bu Indah mulai membacakan KD pembelajaran. Karakter siswa-siswi dikelas ini bervariasi dalam mengikuti pelajaran bahasa Inggris. Ada yang antusias, malas-malasan, gak peduli dan banyak lagi.
Dibangku ketiga, Ryan dan Bagas duduk dalam satu meja. Satu sama lainnya masih diam-diaman. Ryan melirik ke Bagas.
Gue bicara sekarang apa nanti yah? Batin Ryan.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya kedepan lagi. Cowok itu menghela napasnya berat. 'oke sekarang aja udah.' Batinnya lagi.
“Gas,” bisik Ryan.
Bagas hanya melirik sinis. Sekedar melirik tak menoleh.
“Gua minta maaf ya Gas. Gua pas itu lagi naik banget emosi gua. Makanya nge gas ke lu. Sekali lagi sorry.”
Bagas terdiam. Tak mengatakan sepatah duapatah kata. Ryan tak tahu apakah Bagas mendengarkannya atau tidak. Soalnya ketika Ryan berkata, ia dibarengi ngomong dengan Bu indah menjelaskan materi.
“Gas,?”
Berasa ngomong Ama pacar yg lagi ngambek dah. Batin Ryan.
Bagas membuka halaman terakhir bukunya. Menuliskan sesuatu disana.
Setelah itu ia memberikannya pada Ryan.
Cowok itu mengernyit bingung. Lalu Bagas mengkode agar membacanya.
Pulsek traktir gue mie ayam mas Agus dua bungkus plus es teh jeruk nipis dua. Gak ada penolakan.
Ryan membacanya ingin sekali berteriak kesenangan. Akhirnya Bagas mau juga berinteraksi juga dengannya.
Ryan kemudian menuliskan sesuatu juga disana.
Beres kalo gitu. Lo siap kenyang aja.
Cowok itu mengembalikan buku itu ke Bagas.