Sport Girl

Sport Girl
Episode 13



Play's song:


 


 


Hari ini Alfa senang sekali. Gara-gara perhatian secuil dari kakanya yang tak lain adalah Fian. Walaupun sifatnya keras dan bengis, diam-diam ia peduli. Ya,.. walaupun rasa kepedulian nya tak ditunjukkan secara terang-terangan namun sikap nya telah memberi kode. Alfa seberusaha mungkin untuk tetap biasa saja, agar kakaknya tak ke ge'eran.


 


 


Hari ini Alfa akan pulang ke rumahnya. Senang bukan main. Sayangnya, Fian tak kunjung menjemputnya. Ia meminta agar Alfa pulang sendirian. Fian telah menyewa taksi untuk datang ke RS.


 


 


Fian sibuk kali ini dengan kuliah plus bisnis jam tangan internasional. Enggan untuk menjemput dan menemani adiknya pulang dari rumah sakit.


 


 


“Ayo den.” Titah Supir taksi menuntun Alfa memasuki mobil. Pelan-pelan langkahnya.


 


 


Alfa duduk di jok depan.  Kkemudian sophia tersebut memasuki jok depan untuk menyetir selama perjalanan tak ada perbincangan.


Alfa menatap kearah jalanan luar, dua hari dirumah sakit membuatnya kangen hiruk pikuk jalanan macet.


Tak terasa 20 menit sudah sampai dikediaman Alfa.


 


 


Rumahnya cukup besar, berlantai 3.  Halaman depan rumahnya cukup untuk menampung 3 mobil. Luas betul. Sopirnya menuruni Alfa tepat didepan gerbang. Sopir taksi membantu Alfa turun. “Makasih pak.” Ucap Alfa pada sopir taksi.


 


 


“Sama-sama den.”


 


 


 


 


 


 


 


 


****


 


 


 


 


 


 


“Ren, lo waktu itu kenapa gak ngabarin gue kalau lo jalan kaki. Sumpah gue ngerasa bersalah banget.” Ujar Aria. Ia tahu kalau Reni ternyata pulang jalan kaki, lebih tepatnya berlari dengan kondisi hujan.


 


 


“Apa?!! Bener itu Ren? WHAH TEGA LO AR! BEUH SIKAT AJA UDAH.” Ujar Damar memanas-manasi suasana.


 


 


“Lo cowok gak ada tanggung jawabnya banget Ar. Cewek loh dia.” Riko menggelengkan kepala sambil berdecak.


 


 


“Udah sih. Selo aja. Gapapa kali gue maklumin. Lo kan harus mengutamakan ibu lo daripada gue.” Ujar Reni melerai.


 


 


“Maaf ya Ren. Gue salah.” Ucap Aria lagi.


 


 


“Ck. Yailah gampang banget maapinnya. Kali-kali bikin Aria tekor kek. Lo harusnya bilang ditraktir gitu ren.” Usul Riko.


 


 


“Enak aja. Traktir Mulu. Gantian kek.”


 


 


Riko hanya cengengesan menanggapinya. “Dah gua mah apa atuh. Kagak ada uang leh.”


 


 


 


 


Reni terdiam.  Benar apa yang dikatakan Aldi tadi. Dari semalam badannya pun mulai merasa sakit karena over. Ditambah lagi kehujanan. Beuh lengkap sudah.


 


 


“Makasih udah ngingetin gue.” Reni tersenyum ke Aldi.


 


 


“Bagas sama Ryan gimana?” Tanya Reni mengalihkan topik pembicaraan.


 


 


“Gak tau tuh. Pas pagi-pagi mah masih diem-dieman. Sekarang gak tau deh kemana duo human itu.” Ujar Damar serius.


 


 


“Bikin mereka baikan Ayuk. Gak enak gue liatnya. Masa kalo mau latihan anaknya gak lengkap. Berasa kehilangan gitu.” Ujar Reni.


 


 


“Ya ayo lah. Gua mah ngikut aja.” Kata Aldi.


 


 


“Kayanya Ryan lagi di basecamp futsal deh. Coba kuy samperin. Bicara baik-baik sama dia. Suruh baikan kek Bagas.” Ajak Riko.


 


 


“Ayo lah gas.”


 


 


Mereka mulai meninggalkan kantin serempak. Berbondong-bondong menuju basecamp futsal. Riko tau tempat favorit nya Ryan. Mereka berdua suka nongkrong dihari weekend.


 


 


Mereka melihat Ryan tengah bermain ponsel. Gaya ala memegangnya dimiringkan, pasti dia sedang bermain game online.


 


 


“Lo duluan Ren yang jalan.” Riko mendorong tubuh Reni.


 


 


“Ih apaan. Lo lah. Gue belakangan aja.” Reni menolak.


 


 


“Lo kan tau terakhir kali ketemu Ryan, tuh orang juga sewot sama gue.” Ujar Riko.


 


 


“Ck. Lo aja mar yang duluan.” Tmbah Riko.


 


 


Damar melotot pada Riko. “Apa Lo!!!”


 


 


Riko cengengesan mendengarnya. “Iya dah iya.”


 


 


Aria berdecak sebal. “Lama lo semua.” Cowok itu melenggang mendahului Reni, Damar dan Riko.


 


 


“Untung ada Aria.” Gumam Reni.