
...aku seperti besi Malang yang selalu di tarik-tarik mengikuti kemana magnet itu berada. Alfa....
Selesai latihan rutin di GOR, anak-anak pergi ke tujuan masing masing. Saat itu jam menunjukan pukul 3 sore. Masih agak siang belum terlalu sore. Ia berencana ingin jalan-jalan ke taman kota sendirian. Itung-itung refresh otak sebelum pertandingan. Jiaaah!pertandingan nya aja masih lama. Kembali ke Reni, sebelum jalan-jalan, ia terlebih dahulu mengganti pakaiannya.
Celana jeans dan kaos telah terpasang ditubuh cewek itu.
Setelah sekian lama akhirnya Reni bisa refreshing tanpa gangguan. Waktu -waktu seperti ini sangat cocok, apalagi jika di temani pacar. Bisa bermanja-manja an, tertawa bersama, makan bersama. Romantis memang. Ah sudahlah Reni! Stop mengkhayal.
Ngomong-ngomong soal pacar, sebenarnya Reni pun mau juga punya pacar. Seperti anak remaja kebanyakan, memiliki pacar adalah suatu hal yang dianggap wajib. Bukan wajib juga, maksudnya jika kita di rumah, orangtua pasti menanyakan hal soal pacar, bukan orang tua saja, tetangga,nenek kakek, Tante om pun sama pertanyaannya.
Dulu Reni pernah berpikir untuk pacaran. Namun saat itu ia urungkan setelah membayangkan beberapa kasus putus dari teman perempuannya.
Berhenti sudah! Reni tak mau mengkhayal soal pacar. Biar waktu saja yang menjalaninya nanti.
Tak terasa dirinya sudah sampai di taman kota. Disana banyak anak kecil bermain layangan. Teringat masa dulu, Reni yang suka nya bermain layang hingga petang tiba, sampai sang ibu marah-marah. Ah jadi kangen.
Lalu ia celingukan mencari orang berjualan. Lapar rasanya setelah olahraga.
Ada abang-abang menjual bakso cuangki. Reni segera menghampiri gerobak Abang itu.
"Bang. Baksonya 10.000." Pesen Reni pada abangnya.
"Siap neng. Pedes gak nih?"
"Pedes dong bang. Kalo bisa pedesnya kek mulut tetangga ya."
Abang itu hanya tertawa kecil mendengarnya. Ada-ada saja Reni.
Dan abangnya pun kembali membuat satu porsi bakso cuangki.
Reni duduk di bangku taman sendirian sembari menunggu pesanannya datang. Tubuhnya sedikit tenang saat menghirup udara segar khas taman yang banyak pepohonan. Didekatnya ada sejoli sedang bermesraan lagi, panas Reni jadinya. Ia langsung mengalihkan pandangannya menjauhi manusia sial itu.
"Reni?"
"Alfa. Lo ngapain disini?" Tanya Reni asal. Bodoh, pertanyaan bodoh.
"Ngapain kek. Ini kan tempat umum."
Skak. Reni hanya menyengir tak berdosa. Malu kan jadinya. "Hehehe. Sini deh duduk. Mau bakso gak?" Tawar Reni.
Alfa hanya menggeleng. Ia sembari mengangkat roti yang ia bawa. "Makasih tawarannya. Gue makan ini aja."
"Kok roti doang. Mana kenyang Alfa."
"Kenyang kok. Tadi udah abis dua bungkus di mall tadi. Nih tinggal satu lagi, Lo mau?" Alfa menawarkan rotinya balik ke Reni.
Cewek itu menggeleng. "Hehe gak deh. Gue bakso aja. Lagi pengen yang pedas-pedas."
Alfa terkekeh mendengarnya. "Kaya ngidam aja." Gumamnya lirih.
"Hah? Apa kata lo? Ngidam? Lo kira gue bumil apa! Enak aja kalo ngomong." Sewot Reni dikatain ngidam oleh Alfa.
Alfa malah tertawa lebih jelas dari yang tadi. "Emang ngidam harus buat ibu hamil ya?"
"Yakan itu identiknya buat ibu hamil. Gimana si!" Reni merengut bibirnya.
"Yaudah maaf. Jangan marah dong. Muka lo jadi jelek kan kalo merengut gitu." Ucap Alfa.
Entah kenapa Reni senang saja mendengar kata-kata Alfa Barusan. Tak tahu alasannya. Apakah ini?
"Maaf.."
"Iya gue maafin." Ucap Reni akhirnya sembari tersenyum.