
Play's song: Nervous- Shawn Mendes
“Ren! Udah dulu larinya. Sini!” Teriak pelatih olahraga yang akan membimbing ke ajang perlombaan sprint.
Reni melambatkan ritme larinya. Menuju dimana pelatih itu berdiri. Jersey nya yang ia pakai sedikit basah namun tak menimbulkan bau keringat. Wajahnya basah oleh cairan keringat. Celana sport yang pas dipahanya. Kali ini ia tak mengenakan training panjang.
Sepatunya pun simple. Berwarna hitam dan sedikit garis di tepian.
“Nanti besok kita latihan lagi. Ini udah sore, kamu juga butuh istirahat.” Pelatih itu melirik jam tangan yang menunjukan pukul 5 sore. Ia biasa disapa pak Jack.
Guru olahraga di sekolahnya sekaligus pembimbing disetiap ajang perlombaan atletik.
Beliau orangnya ramah dan pengertian. Tak selalu memaksa Reni untuk selalu latihan latihan dan latihan. Lomba olahraga yang paling utama adalah kesehatan jasmani. Percuma saja jika terus menerus latihan namun setelah hari H nya malah si dia sakit karena kelelahan latihan.
“Iya pak.”
“Kamu pulangnya sama siapa? Atau mau bareng sama saya?” Tanya pak Jack.
“Gak pak. Makasih sebelumnya. Saya pulangnya dijemput Aria.”
Pak Jack bergumam oh. Ia membereskan alat-alat yang baru saja digunakan untuk latihan. Memasukannya kedalam box besar. “Ya sudah. Saya kedepan dulu. Kamu hati-hati.” Pamitnya.
“Iya pak.” Reni menyalami tangan pak Jack sebagai murid yang berbakti.
Cewek menuju bangku Tribune, tas nya berada disana. Beberapa anak tangga ia daki hingga sampailah di saf ke empat.
Tas besar ala ABRI loreng-loreng, diatasnya terdapat cardigan hitam miliknya. Reni membuka tasnya mencari minuman yang baru ia beli. Minuman didalam Tumblr habis karena baru saja dipakai untuk membasuh luka Alfa.
Reni menenggak air itu penuh nikmat dan menyegarkan. Menghilangkan dahaga yang ia rasakan selama latihan. Kemudian ia menaruh kembali botol itu ke saku tas. Tangannya merogoh saku cardigan mencari benda pipih.
Jari jemari nya mencari kontak Aria di kolom WhatsApp. Segera menekan tombol telepon. Ponsel nya didekatkan ditelinga. Status teleponnya berdering. Berarti ponsel milik Aria sedang on. Tak berapa lama deringan itu berganti suara serak khas laki-laki.
'Halo. Ada apa Ren?'
'Lagi dirumah nih. Kenapa?'
“Lo bisa jemput gue gak? Hehe...” Reni menyengir kuda. Tak enak jika harus merepotkan seseorang.
'Bisalah. Oke gua otw yah.'
“Maap banget yah udah ngrepotin.”
'Relaks. Kaya siapa aja.'
“Oke deh.” Reni menutup sambungan telepon. Kemudian mematikan ponselnya.
Reni mendudukkan tubuhnya di bangku. Meregangkan otot kakinya agar tak varises. Keringatnya mulai kering. Suhu tubuhnya sekarang telah menyesuaikan udara yang lumayan dingin. Ia langsung mengenakan cardigan hitam. Setelah itu mengenakan tasnya yang berat.
Cewek itu menuju ke luar GOR. Didalam lapangan sudah kosong tak ada orang. Lagian suasananya sudah sore, takut terjadi sesuatu. Lebih baik ke depan yang banyak orang.
Jarak antara rumah Aria dan GOR lumayan jauh. Jam menunjukan 5.20 setelah Aria mengantarkan 'otw'. Perkiraan nya mungkin cowok itu sebentar lagi datang.
Sampainya diluar, Reni memilih ke halte bus dekat supermarket. Disana tak ada orang. Ia duduk sambil menunggu Aria. Cardigan seluruhnya ia rapatkan untuk menutupi pahanya yang hanya menggunakan training ketat pendek. Menghindari orang-orang dari pahanya.
15 menit kemudian datanglah Aria menggunakan motor gede. Motor jupulnya sedang bermasalah pada mesinnya. Aria menggunakan jaket denim, membuat ketampanan nya meningkat drastis.
“Masih mau duduk-duduk aja?” Tanya Aria.
Reni hanya menyengir, kemudian bangkit menghampiri berdirinya Aria. “Yok lah.”
Aria menyerahkan helm Bogo khas cewek untuk dikenakan Reni.
****