Sport Girl

Sport Girl
part 10



Play's song: Unstoppable


Hari Sabtu adalah hari surganya pelajar. Materi-materi sekolah hanya disampaikan dari Senin hingga Jum'at, hari setelahnya adalah free.


Bukan hanya pelajar saja yang libur di hari Sabtu melainkan banyak sekali. Diantaranya adalah PNS, pekerja kantoran, butuh PT dan masih banyak lagi.


Orang nya saja beragam apalagi aktivitas nya. Macam-macam lah. Entah itu liburan, hangout, main atau rebahan.


Pagi-pagi buta, seorang gadis menggunakan Jersey hitam dan training hitam. Rambutnya dikuncir kuda. Rutinitas jika weekend gini, apalagi pas pagi-pagi adalah berlari.


Heran ya sama cewek ini. Kerjaannya lari-larian Mulu. Siapa lagi kalau bukan Renita Faradila.


Olahragawan versi perempuan. Dirinya hampir menjabat atlet multi talent. Dibidang atletik, permainan, pencak silat bahkan parkour ia jabanin. Jangan ditanya untuk masalah olahraga. Dia jagonya.


“Uh! Seger banget udaranya.” Reni menarik napas sedalam-dalamnya. Kendaraan belum banyak yang berlalu lalang. Hanya segelintir orang saja.


Tadi malam, Reni habis-habisan di omelin oleh Wila. Jam 8 malam Reni baru sampai kos-kosan dengan keadaan basah kuyup. Kenapa Reni tak menaiki angkot atau taksi?


Simple saja jawabannya, dia kata harus irit.


Irit sampai segitunya banget. Hampir mempertaruhkan nyawa demi uang. Astagaa


“Semangat banget larinya.”


Reni menoleh. Mendapati sosok lelaki yang baru ia kenal akhir-akhir ini. Dia adalah Gibran.


“Eh,” Reni menyengir menampilkan gigi rapi nya. “Mas Gibran rumahnya sekitar sini ya?” Lanjutnya.


Gibran mengangguk. “Iya, tuh di perumahan mawar. Btw kamu dari jam berapa joging nya?”


“Dari jam 5 pagi, hehe.”


Sontak mata Gibran membulat. “Apa?! Jam 5? Serius?” Ucapnya tak percaya.


“Yeah. Kenapa emang?"


“Sumpah gak nyangka. pagi banget larinya. Kamu hobi lari-larian gitu ya?” Tanya Gibran.


“Iya. Lha mas sendiri sih?”


“Aku mah tergantung niat aja kalo joging. Sebagian besar waktu saya habis untuk kuliah.” Jawab lelaki itu.


“Whoa. Kalau boleh tau Mas kuliah dimana?” Ujar Reni.


“Saya kuliah di ITB. Tapi ini lagi free 2 bulan. Makanya balik ke jakarta.”


Reni bergumam oh.


“15 ada mungkin.”


Langkah Gibran tiba-tiba berhenti. Mencekal lengan Reni kuat. Menatapnya dalam. “Pantesan.”


“Hah? Pantesan gimana?”


“Kamu Pucet banget. Istirahat dulu aja.”


Reni menggeleng pelan. “Gak deh. Aku gak lemah-lemah amat kok.” Ujarnya sambil tersenyum.


“Jangan maksain deh. Kamu Pucet banget beneran.” Kata Gibran. Tangannya kemudian beralih menyentuh dahi cewek itu.


“Astaga, panas Ren. Udah duduk dulu aja.” Usul Gibran.


Reni menepis tangan Gibran pelan, “Apaan sih. Kan aku abis lari. Otomatis suhu badan aku naik dong. Gimana sih.”


“Tapi serius deh muka kamu Pucet banget. Saya khawatir jadinya.”


Reni tertawa, “Apaan dah. Aku kuat yaa.”


****


“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” Tanya suster pada pasien yang sedang berbaring.


“Apakah ada keluarga saya yang menjenguk kemari?" Tanya Alfa.


Suster itu menggelengkan kepalanya, “Tidak ada tuan. Ada yang ingin ditanyakan lagi?”


“Gak ada.”


Suster itu keluar dari kamar pasien.


Alfa mendengus pasrah. Salah satu keluarga tak ada yang menjenguknya sama sekali. Mungkin mereka terlalu sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.


Mama dan papa nya merantau ke Amerika untuk memperoleh rezeki. Sedangkan kakaknya disini bersamanya. Alfa dan sang kakak sudah lama tidak akur. Kakaknya seperti mengibar bendera permusuhan diantaranya.


Tapi bagi alfa, itu bukan sesuatu yang menderita amat. Tak peduli apa yang kakak nya lakukan padanya.


Hidup Alfa benar-benar kesepian. Tak ada teman, tak ada keluarga bahkan saudaranya. Dirinya itu asing.


Didukung dengan sifat pendiam dan lemah.


Batinnya mudah rapuh. Apalagi fisik nya.