Sport Girl

Sport Girl
part 38



"Reni, bisa jelaskan ke ibu kenapa kamu memukul Sisi sampai pingsan?" Tanya Bu BK dengan nada tenang.


30 menit setelah kejadian di toilet cewek, Reni dipanggil ke ruang BK atas kasus penganiyaan. Penganiyaan? Apakah tidak ada kata lain selain penganiayaan. Itu terdengar agak buruk.


Pelapor mungkin sengaja membesar-besarkan kejadian agar Reni sembilan persen menjadi tersangka. Oh, Reni tahu. Loly lah yang ternyata melaporkan kejadian itu. Sekarang lihat saja, disitu tidak ada Sisi karena ia harus dibawa ke rumah sakit.


Secara bersamaan, berita nya pun langsung gempar ke penjuru sekolah. Siapa lagi kalau bukan Loly. Pasalnya, pada saat itu hanya ada mereka bertiga. Tidak mungkin sekali orang lain, toh disekitar toilet hanya di kelilingi gudang-gudang. Mana mungkin ada orang lain disana.


Uh. Perasaan Reni gundah dan greget. Ingin rasanya memberi pelajaran pada dua orang itu. Hanya saja satunya sedang dibawa ke RS. Untung saja Bu BK tak langsung menuduh Reni tanpa kejelasan kedua belah pihak. Salut sama Bu guru itu.


"Dia benci banget Bu Sama Sisi. Padahal Sisi gak ngapa-ngapain." Bohong. Loly berkata bohong. Pembohongan publik namanya itu. Loly terus saja memasang tampang memelas.


"Kamu diam dulu Ly. Ibu lagi ngomong sama Reni." Loly langsung cemberut. Bibirnya memanyun sebal.


Ibu BK kembali menatap Reni. "Ayo jelaskan Ren."


Reni menghela napas berat. Detik itu juga ia mulai berbicara. "Saya melakukan tindakan itu karena ada alasan. Penyebab utamanya adalah Sisi menjambak rambut saya hingga rontok. Rontoknya pun banyak Bu. Jelas saya gak terima, makanya saya lawan balik."


"Sisi menjambak kamu?" Bu BK terheran. Menurutnya, selama 1 tahun, Reni tak punya masalah dengan yang lain.


"Iya Bu."


"Kok bisa?"


"Mereka udah menjelek-jelekkan teman saya. Apa yang mereka bilang membuat saya sakit hati, wajar dong Bu kalau saya gak terima. Teman saya di hina, masa saya harus diam aja." Reni bercerita. Rasa sesak diadanya mulai tak karuan. Matanya mulai memanas, batu kali ini ia se emosional gegara teman.


Bu BK masih mendengarkan tanpa menyela.


"Awalnya saya tegur, saya marahi. Kalau yang mereka bilang itu gak bener. Misal aja saya diam nih, mereka bisa makin ngelunjak, Semena-mena. Nanti ujung-ujungnya ada kasus pembullyan lagi. Lebih baik saya omongi sebelum makin parah."


Loly perlahan pucat mukanya. Kebohongan yang ia cipta menjadi senjata bunuh diri baginya. Bu BK menatap tajam pada Loly.


"Ck ck ck. Bisa-bisanya kamu bohong sama ibu Ly. Ibu ini guru kamu, mulai berani ya sekarang." Wanita paruh baya itu menggeleng-geleng tak menyangka.


"Saya lebih percaya sama Reni. Karna dia gak pernah macem-macem. Berprestasi sekaligus berkarakter. Sedangkan kamu, jangankan karakter, prestasi saja masih ketinggalan jauh dari Reni."


Loly menunduk takut dan bersalah. Tak ada pembelaan dari siapapun. Betul sama apa yang dikatakan Bu BK, Loly tak ada prestasi yang setara dengan Reni. Urutan rangking dikelasnya pun no.5 dari belakang. Bicara soal karakter, lihatlah barusan ia membuat kebohongan publik yang membesar-besarkan masalah. Menjadikan Reni sebagai objek tersangka, padahal bukan.


Sebenarnya merekalah sama-sama bersalah.


"Besok panggil orang tua mu Ly." Kata Bu BK.


"Untuk kasus nya Sisi, biar ibu yang urus. Kamu tenang aja Ren." Reni barusan dibela dan dilindungi olehnya. Guru itu sangat sayang pada murid penyumbang piala terbanyak disekolah.


"Makasih banyak Bu. Saya minta maaf udah bikin ibu kecewa sama kelakuan saya tadi." Kata Reni menunduk hormat.


"Iya. Kamu silakan ke kelas." Perintah guru itu. "Oh ya. Panggilan Alfa kesini juga ya." Lanjutnya.


"Iya Bu."


๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ


Sepanjang perjalanan menuju kelas Alfa, Reni tak henti-hentinya senyum karena masalah ini bisa terselesaikan. Ya, menurut pepatah ini rejeki anak solehah.


Serumit apapun kasus itu, pasti ada jalan keluar terbaik. Dan u know inilah yang terbaik bagi Reni.


Sesampainya dikelas Alfa, ternyata kelas tersebut sedang melaksanakan KBM. Ia maju mundur, masuk atau balik lagi ke dalam kelas. Ah dilema.


"Masuk dong berarti."


Reni menghembuskan napas, menstabilkan kegrogiannya.


"ALLAHU AKBAR IBU!!" Teriak Reni kaget saat guru itu tiba-tiba keluar kelas. Tangannya mengelus dada bersabar.


"Kamu yang malah ngagetin saya." Guru itu berbicara sambil membenarkan kacamatanya yang melorot.


"Ada apa kemari?"


"Saya disuruh Bu BK buat manggil Alfa bu." Kata Reni.


"Yasudah saya panggilkan dulu anaknya." Guru itu masuk memanggil Alfa.


Tak berapa lama munculah sosok Alfa dari dalam kelas.


"Ada apa Ren?" Tanya Alfa pada Reni.


"Lo di panggil Bu BK."


"Oh ya udah." Jawab Alfa. Kemudian langkahnya melenggang mendahului Reni.


Sampai di koridor dekat ruang BK, Alfa menghentikan langkah tersadar akan sesuatu.


"Bentar. Kenapa lo ngikutin gue?" Tanya Alfa menoleh.


Reni mendongak. "Siapa yang ngikutin. Orang gue mau balik ke kelas kok."


Mata Alfa memicing, alisnya saling beradu. Tak lupa dengan dahinya yang berkerut. "Lo...." Ucapnya yang menggantung. Ia menaruh wajah mencurigakan.


Aduh. Reni jadi salah tingkah. Sebisa mungkin ia menetralkan gerak-gerik agar Alfa tak curiga.


"Lo kenapa?" Tanya Alfa penuh kecurigaan.


"Ha?"


"Kenapa berantem sama Sisi dan Loly?"


"Ya biโ€“biasa lah. Urusan cewek." Reni tertawa garing.


Namun Alfa tetap pada ekspresi awal. Datar. "Hm?"


"Hah apa?"


"Gara-gara gue ya?"


"Hahahaha apaan dah. Kenapa gara-gara lo, ya gak mungkin lah." Tangan gadis itu menyenggol Alfa.


"Yaudah."


Alfa langsung melanjutkan langkahnya menuju ruang BK. Cowok itu tahu bahwa dia lah sumber masalah ini.


'Aduh Alfaaa.'