
Disinilah Reni dan Alfa berada. Di lobi sembari bercakap-cakap satu sama lain.
Alfa yang sibuk membenahi luka Reni yang tampak parah sekali sedangkan cewek itu mengoceh terus.
Reni sengaja berbicara tersebut agar suasana tak menjadi canggung ataupun kikuk. Sesekali Alfa menyahuti omongan Reni yang panjang lebar.
"Gegara ke injek lawan makanya jadi gini deh. Sakit sih lumayan cuma ya mau gimana lagi, gue lebih mentingin terjun di area daripada ngurusin luka gue."
"Eh btw, baru kemarin deh lo di bawa ke rumah sakit masa sekarang udah oke oke aja? Lo maksain diri pengen nonton ya?" Reni sedikit percaya bertanya seperti itu.
Alfa terus melanjutkan kegiatan nya tanpa menoleh sedikitpun. "Gak kok. Gue emang udah sembuh."
"Lo itu kecapekan, kata dokter jangan kemana-mana dulu selama 3 hari, eh ini malah...." Reni menggelengkan kepalanya heran.
Reni menjadi salah fokus sekarang. Lama-lama dirinya terbuai akan pesona cowok itu dari dekat. Ia menelan ludah dengan susah payah.
'Anj*m gilaa parah sumpah. Ngapa ganteng banget sih?!!!' batin Reni terkagum-kagum.
"Udah selesai nih." Kata Alfa sambil menunjukkan balutan luka Reni sudah rapi terpasang perban. Tak ada bercak darah sekarang.
Reni tersadar. Ia mengerjapkan matanya sambil mengalihkan pandangannya, bisa gawat kalau tadi Reni habis memerhatikan wajah Alfa.
"U–udah ya. Eummm gimana kalo lo ikut gue aja, kita ke restoran nya mas Gibran." Ajak Reni memasang tampang memelas.
"Gak deh. Gue masih ada urusan." Tolak Alfa.
"Yaahh urusan apasih emang nya?" Reni sedikit merajuk, bibirnya di agak monyonkan ke depan.
"Ya u–urusan rumah. Gue di suruh Abang gue buat–" Alfa sedikit gugup harus melanjutkan apa lagi. Pasalnya ia sedang berbohong.
Reni mengernyitkan dahi heran.
"Bu–buat nganterin dia. Iya nganterin dia."
"Nganterin kemana emang?" Kepo jadinya Reni sekarang.
"Ke makam ortu Ren." Kata Alfa.
Reni terdiam sejenak. Lalu ia kembali bersuara. "Ya udah deh, kalau masalah itu gue gak bisa larang." Reni memaksakan untuk tersenyum.
"Yuk keluar." Ajak Alfa pada Reni. Ia bangkit dari duduknya. Reni pun sama, tasnya di cangklong kan pada bahu kanan saja.
Mereka berdua beriringan menuju keluar. Saling diam-diam tak ada pembicaraan. Sampai akhirnya mereka sudah tiba di parkiran.
"Alfa." Panggil Reni masih ragu-ragu.
"Kenapa?"
"Gue–"
"Gue?"
"Gu–gue pengen foto bareng lho."
Jdeeeerrr.
Jantung Alfa serasa di sambar petir hingga menimbulkan gejolak berupa getaran yang hebat. Jantungnya menjadi lebih cepat dalam berpacu. Seumur hidup Alfa tidak pernah berfoto dengan siapapun. Bahkan dengan keluarga nya saja ia tidak pernah.
Dan yang lebih menggetarkan, ada seorang perempuan yang mengajaknya foto bersama. Keberuntungan memang sedang berpihak kepadanya sekarang.
"Boleh gak Al?" Tanya Reni sekali lagi.
"Bo–boleh kok. Ayo." Alfa mau juga diajak fotbar.
Reni tersenyum senang. Ia segera mengeluarkan ponselnya. Disana ia meminta seseorang untuk memfoto kan mereka berdua.
Reni dan Alfa berjajar beriringan. Cowok itu diam tanpa ekspresi, sedangkan Reni tersenyum lebar menampilkan giginya yang rapi.
Sesi kedua, tangan Alfa dimasukkan ke kantong celana kiri dan sedikit tersenyum. Sedangkan Reni membentuk jarinya menjadi V dan tak lupa dengan senyuman.