
* Mathematics, hmm I did it in five minutes. How smart I am.*
"Gue dong gantian." Pinta seseorang pada temannya memperebutkan benda pipih. Bergiliran melihat Vidio humor dari beranda Instagram.
"Sabar dong Sin. Satu-satu ye liatnya. Awas kalo berebut terus hp gue jatoh. Gue gebukin Lo semua." Ucap sang singa garang jawara kelas. Renita Faradila. Ia duduk santai sembari menikmati ice coffie. Ponsel miliknya berada ditangan teman sebangkunya, Sinta Liona. Sifatnya yang tak jauh beda darinya, garang. Sedangkan teman-teman perempuan nya mengerubungi Sinta bak semut.
Reni menyeruput es nya, matanya melihat sosok lelaki yang dikenalnya cukup perhatian. "Aria!"
Aria menoleh menatap Reni sejenak. Lalu ia pergi ke bangkunya begitu saja. Tak menghampirinya ataupun menyapa balik.
"Aria kenapa si? Tumben banget murung." Gumam Reni kebingungan.
Tiba-tiba Xiao Na alias Jeje menepuk pundak Reni dengan keras. "Reeennn!!! Ka itu follow Lo?!! Ko bisa sihhhh. Huaaaaa gue yang udah follow sejak kelas X dan sampe sekarang belum di follback. Ish jahat banget." Jeje menjerit tak terima. Heboh sekali tuh anak. Xiao Na ini anak keturunan Cina. Identik dengan matanya yang sipit dan kulit putih. Teman-temannya kesusahan dalam berkata Xiao Na, makanya mereka mencetus nama Jeje untuk Xiao Na. Jadi terdengar simpel dan gak ribet.
"Kak siapa tadi?" Tanya Reni sekali lagi.
"Kak Rio. Ananda Rio. Dia atlet basket tau. Lo gak kenal?" Jeje membelalak.
Reni menggeleng polos. "Gak lah. Lo kan atlet basket makanya tau."
"Nih gue kasih tau ya, ka Fian itu emang atlet basket plus mahasiswa. Dan ternyata kakak Fian itu kakaknya Alfa. ALFA si cupu itu loh." Kok hati Reni tidak terima ya ketika Jeje menyebut Alfa dengan sebutan si cupu.
Reni terdiam. Ingatannya kembali ke masa-masa dimana ia menolong Alfa saat kecelakaan. Apa kabar orang itu sekarang? Kepribadian nya yang pendiam dan jarang bergaul membuat Reni penasaran akan hidupnya.
"Hei! Malah nglamun nih anak." Jeje mengagetkan Reni hingga ia tersentak.
"Siapa juga yang nglamun. Udah sini hp gue balikin." Tangan Reni merebut hpnya yang berada digenggaman Jeje.
"Hii sinis banget si." Ujar Jeje kesal.
Reni memilih pergi meninggalkan bangkunya dan menuju tempat duduk Aria. Sepertinya pemuda itu sedang ada masalah namun enggan bercerita dengan siapapun. Sebagai sahabat yang baik Reni berencana menghibur agar suasana hatinya agak membaik.
"Aria."
Pemuda yang disapa nya tak menoleh ataupun bergeming. Fokusnya kini pada sebuah buku catatan matematika.
'hoiya! Bentar lagi ulangan matematika. Gue belum blajar pula. Mati laah.'
Gadis itu menepuk jidatnya, lalu beralih haluan menuju bangkunya kembali. Rencana untuk menghibur Aria tertunda gegara blajar matematika.
Aria sadar. Ia mendongak memperhatikan tingkah aneh sahabatnya. "Kenapa dia si? Udah kesini malah balik lagi. Ck." Gumamnya.
"Eh lo lo pada udah blajar MTK belom? Ulangan ini. Aduuuhhh." Heboh Reni. Tangannya mengobrak-abrik tas mencari buku catatan.
"Sin lo gak blajar?" Tanya Reni pada seseorang disampingnya. Sinta tampak santai sembari menscroll layar hp.
"Enggak tuh."
"Ah tau lah. Ntar nilai lo jelek lah baru tau rasa."
"Kan ada lo."
"Apaan ihh. Gak bisa nyontek tau kalo urusannya sama Bu Eka."
Sinta malah menaikan kedua bahunya acuh tak acuh. Kegiatan menscroll nya tetap berlanjut.
***
Jam 14.00
Jam penuh kekelaman. Kelam bagi murid-murid kelas Reni. Auranya yang mencekam bak menonton film horor.
Sebagian dari mereka bertampang was-was dan penuh penekanan.
Ulangan matematika telah tiba. Bu Eka selaku guru matematika mulai menulis soal-soal dipapan tulis. Angka-angka dan beberapa simbol matematika terpampang indah. Guru itu memiliki tatapan tajam setajam pisau jika ada murid yang mencurigakan, misal saja gerak-gerik orang menyontek.
Bagas, siswa itu dengan santainya mengipas wajahnya dengan kertas. Gerahdan panas menyelimuti tubuhnya. Apalagi ditambah berjumpa dengan guru itu. Tambah kacau suasana hati Bagas.
"Gas. Tulis soalnya. Ini malah kipas-kipas santuy. Gila bener." Bisik Ryan teman sebangkunya. Bagas yang tampaknya lebih santuy, lain lagi dengan Ryan yang wajahnya berpeluh keringat. Tangan gemetaran.
"Yailah. Santee aja ngapa Yan." Ujar Bagas tetap tak mengikuti kata-kata Ryan tadi.
"Mati lo." Umpat Ryan greget dengan temannya ini. Susah diberitahu. Entah apa yang ia pikirkan kenapa bisa sesantuy itu.
15 menit kemudian. Siswa-siswi berpikir keras menemukan jawaban soal ulangan. Reni yang baru saja belajar tiba-tiba blank otaknya. Semua rumus yang sudah hafal, lalu hilang di memori otak entah pergi kemana itu. Sedangkan jawara kelas yang pintar, Aria. Cowok itu biasa-biasa saja. Tak menunjukan ekspresi kesulitan menjawab soal. Datar saja mukanya.
'Au lah ngarang aja. Kalo nyontek juga paling ujung-ujungnya remidi. Bomad dah bomad.' Batin Riko, si bad boy.
Riko lalu menjawab soal-soal dengan lincah. Entah ia tak tahu apa yang ditulis. Hanya asal-asalan. Lima menit terlewati, ia bangkit menuju ke depan. Menaruh kertas ulangannya.
"Bu saya sudah." Ujar Riko.
Seketika seluruh kelas menatap Riko dengan tatapan heran. Aktivitas terhenti semua gegara Riko adalah orang pertama yang sudah menyelesaikan ulangan. Ha?