Sport Girl

Sport Girl
part 14



Aria menepuk punggung Ryan. Membuat sang empunya terlonjak kaget. Menoleh kebelakang ternyata Aria lah dan teman-teman nya.


“Sialan lo Ar!” Umpat Ryan pada Aria. Bisa-bisanya membuat orang jantungan.


“Lagi apa Yan?” Tanya Reni basa-basi.


“Lagi boker sambil dugem.” Jawab cowok itu santai.


“Lawak Mulu lo.” Aria menjitak kepala Ryan. Sang pemilik kepalanya mengaduh kesakitan.


“Bagaimana Baginda? Tuanku sehat selalu?” Tanya Riko bergaya ala-ala prajurit kerajaan. Kepalanya diturunkan sebahu.


Ryan tertawa. “Ouh gue sehat dong. Beliin nasi gih. Raja laper.”


“Yeee di alusin malah ngelunjak. Sini lo gue piting sampe isdet.” Ujar Riko sewot.


Ryan tertawa. Sahabat-sahabatnya tahu saja kalau ia lagi kesepian.


“Yan. Gue minta maap dah pas kejadian di lapangan voli. Gue keselnya reflek elaah.” Ujar Damar tiba-tiba.


Ryan berdeham. Wajahnya kembali datar. Ia terdiam setelah mendengar kata-kata damar.


“Gue juga Yan. Sumpah gua khilap.” Kata Riko.


“Khilap? Aduh ambigu banget kata-kata nya.” Ujar Reni menahan tawa.


“Apa Lo Ren?mulai mesum nih pikiran nya. Positif thinking reennn. Negatif Mulu otak lo.” Ujar Riko sambil mengelus dada.


“Iya-iya sorry. Oke serius.” Reni mengembalikan gesturnya yang tadinya ingin terkikik.


“Serius mau kemana? Sabar Ren tunggu gua lulus dulu. Jangan cepet-cepet kali, santai aja.” Riko mengedipkan matanya satu pada Reni.


Reni bergidik jijik. “Wah! Otak lo tuh. Saraf motorik nya pedot.”


“Ahahahaha. Apaan dah pedot. Pedot apaan emang?” Ujar Damar tertawa.


“Pedot is putus. Gak tau putus? Putus is gak nyambung. Masih belum paham? Gak nyambung is berpisah.” Ujar Riko ala-ala guru biologi nya. Gaya bicara nya menirukan pak Ahya.


“Gue paham NYET! Udah ah ayo ini maap nya gimana? Di maapin gak Yan?” Kata Damar mengalihkan topik.


“Gimana?” Tanya Aria sekali lagi.


Mereka memandangi Ryan serius. Menunggu apa yang akan dikatakan Ryan. Wajah cowok tersebut masih datar.


“Maapin dah ya? Maapin lah. Kita-kita kan sahabat lo.” Ujar Riko.


“Serius amat mukanya. Santai broo.” ujar Ryan tertawa melihat raut wajah mereka.


Riko berdecak. “Yailah. Lagi-lagi serius-serius nya juga.”


“Oke oke. Gue maapin deh.” Ujar Ryan final.


Reflek mereka memeluk Ryan kesenangan. Riko paling erat memeluknya. Tercetak raut bahagia dan senang di wajah mereka.


Reni tersenyum bahagia, akhirnya sahabat-sahabatnya kembali akur. Tinggal satu orang lagi. Bagas


“Lepasin bodoh. Gue sesek HAAAAHHH.” Ryan kesulitan bicara. Badannya digempit oleh Riko dan damar.


“Woi! Lepasin aelaah.” Teriak Ryan sudah tak betah dipeluk mereka.


Akhirnya Damar dan Riko melepaskan pelukannya.


“Anjir jijik gue! Lo semua pada homo ya? Meluk gue lama banget.” Ryan bergidik jijik.


Riko tertawa terbahak-bahak. “Niatnya sih bikin lo pingsan. Ahahaha.”


“Makasih ya Yan. Udah mau maafin mereka.” Ujar Reni senang.


Ryan menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari tangan. “Yoi.”


“Udah GC! Kita ke Bagas sekarang.” Ujar Aria tak sabaran.


Aria sedari tadi hanya mengamati candaan mereka. Tak ikut menimbrung. Males katanya. Ouhya jangan lupa sifat andalan Aria, 'jangan buang-buang waktu'.


“Sabar dikit ngapa Ar.” Ujar Damar.


“Mabar dulu sini rame-rame.”


Aria berdecak. “Gua balik ke kelas.”


Reni menahan lengan Aria agar tak melangkah dulu. “ Tunggu dulu Ar. Bentar doang. Semenit aja oke.”


“Ayo dong kalian! Jangan buang-buang waktu. Kita ke Bagas sekarang. Baru setelah itu mau Mabar kek terserah.” Ucap Reni lebih dewasa.


“Mabar nya entar aja dah. Yok cabut ke Bagas. Gua malah takutnya nanti Aria yang ngambek.” Ryan menarik lengan Riko dan Damar.


“Gue denger,”


“Eh,ehehe.” Ryan menyengir tak berdosa.