Sport Girl

Sport Girl
part 30



...She just my type....


"Alfa!"


Seseorang memanggil Alfa yang sedang berjalan pulang menyusuri trotoar menuju bis halte. Dia itu adalah Jeje. Seseorang yang pernah mengisi hatinya sekitar 2 tahun yang lalu.


Gadis itu berlari kecil agar bisa berhadapan dengan cowok itu.


"Fa, aku mau ngomong."


Alfa hanya diam. Menunggu kelanjutan ucapan dari Jeje.


"Aku minta maaf karena udah benci sama kamu. Harusnya waktu itu aku gak langsung pergi gitu aja. Nunggu alesan dari kamu. Aku bener-bener minta maaf Fa." Ucap Jeje dengan tulus.


Jeje tidak peduli akan gengsi dan malu yang melanda dirinya. Ini demi kejelasan dan itung-itung perintah dari Damar.


"Kamu gak salah. Gak harus minta maaf. Justru aku yang harus minta maaf sama kamu karena udah meninggalkan kamu. Maaf.." diluar dugaan Jeje. Dia kira Alfa akan marah dan mencak-mencak nya. Jeje jadi terharu.


"Jangan nangis Na,.." ucap Alfa lirih.


Alfa masih sama seperti yang dulu. Tetap memanggilnya Nana, berbeda dari yang lain.


"Aku minta maaf ya." Lagi lagi Jeje mengatakan maaf lagi.


Alfa mengangguk seraya tersenyum.


"Jeje?"


Sontak mereka berdua menoleh ke sumber suaranya. Astaga sialnya, kenapa harus Reni yang melihatnya. Batin Alfa merutuki dirinya sendiri. Gadis yang ia suka saat ini. Jeje pun sama responnya seperti Alfa. Kaget. Kenapa bisa ada disini Reni? Ah sudahlah.


"Lo belum pulang Je?" Tanya Reni sambil membawa botol air mineral. Jersey basket bekas latihan masih belum diganti. Sepertinya ia habis latihan dan haus kemudian membeli minum disekitar sini.


Jeje menyengir. "Hehe. Belum nih. Ini juga mau pulang kok. Emm duluan ya bye!!" Ia segera cabut dari hadapan Reni dan Alfa.


'dia pasti abis maapan nih sama alfa.' batin Jeje.


"Lo kenapa masih disini?gak pulang?" Tanya Jeje pada Alfa.


"Ini mau pulang kok."


Disisi lain, semua ekstrakurikuler olahraga telah selesai latihan rutin. Pulang bersamaan secara serentak. Seperti biasa, Reni menebeng dengan Aria kawan karib.


"Yuk pulang." Ajak Aria saat melihat Reni menghampirinya.


"Yuk." Reni mengangguk setuju.


Akhirnya Reni menaiki motor Aria dibelakang. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol. Lebih tepatnya Reni menyerocos sendirian, sesekali Aria menyahuti ucapan Reni.


"Ar. Gue tadi gak sengaja liat Jeje sama Alfa tadi. Kayaknya Jeje nurutin perintahnya Damar deh buat minta maaf." Kata Reni.


"Liat dimana?"


"Disekitaran halte. Gue abis beli minum, terus liat mereka."


Aria bergumam oh. Lalu kembali fokus ke jalanan untuk menyetir.


📌📌📌


Minggu ke 2 telah datang jika dihitung dari awal pelatihan. Beberapa teknik dan strategi basket telah diajarkan oleh pak Jaya selaku pelatih basket yang profesional. Reni semakin giat berlatih memperdalam teknik-teknik nya. Ia tak mau mengecewakan sekolah, guru-guru, orang tua dan teman-temannya.


Liana, selaku pemain PF yang paling tinggi ini selalu menyemangati saat latihan agar latihan mereka maksimal.


Liana dikenal dengan sosok paling dewasa. Pengertian saat menerima karakter orang lain.


Sedangkan Tiana, mantan ketua regu itu ternyata cukup sabar. Ia mampu bersikap profesional dan bersaing secara sehat. Walaupun awalnya ia sedih saat posisinya digantikan oleh Reni. Seiring berjalannya waktu, ia menerima bahwa Reni yang terbaik untuk di posisi sebagai ketua regu.


"Ren. Lo selalu center harus bisa mutusin kalo oper bolanya. Intinya Lo harus pinter-pinter oper deh." Kata Liana. Rambut panjangnya terkuncir kencang. Beberapa helaian rambut disekitar pelipis jatuh.


"Iya sip! Gue semoga bisa."


Rish, gadis berambut cepak bak seorang laki-laki itu angkat bicara. "Nanti gue gambar cadangan strategi nya. Nanti malem kita bahas di grup."


"Iya tuh betul. Kalo udah kita ajukan ke pak jaya. Nanti gimana komentarnya biar bisa direvisi lagi." Ujar Adinda sebagai point guard.


Reni tertegun. Mereka juga semangatnya ingin meraih kejuaraan. Ia tak tega nanti jika membayangkan kalau tim nya gagal menjadi juara. Sedih pasti.


Ia harus bisa! Harus membanggakan bagi semua orang.