Sport Girl

Sport Girl
part 32



...Kamu itu siapa? Aku gak tau apa-apa tentang kamu. Beri aku celah untuk menelusuri kehidupan mu yang tertutup baja itu. ...


Taman kota yang indah penuh beragam bunga dan tatanan hiasan yang teratur. Lengkap dengan anak-anak tertawa riang, berlari kesana kemari meneriaki nama mereka. Tangan seorang anak berambut ikal membawa benang layang besar. Sedangkan anak satunya lagi memegangi layangan besar. Kemudian layangan tersebut perlahan terbawa oleh angin. Benda pipih nan ringan membumbung tinggi di awan.


Seusia mereka adalah seusia dimana bersenang-senang menikmati masa kecil. Bermain dengan teman sebaya menghabiskan senja di lapangan, jalanan maupun taman.


Dari jarak yang terpaut jauh ada dua orang remaja mengamati anak-anak kecil tersebut. Tak sadar dari mereka berdua tersenyum senang.


Mereka adalah Reni dan Alfa. Setelah acara makan-makan bakso cuangki tadi, mereka memutuskan untuk menepi ketempat yang lebih teduh dan tentunya dekat anak-anak tadi.


"Seneng banget mukanya liat anak kecil gitu." Kata Alfa sembari melirik Reni yang sedang tersenyum.


Reni menoleh, "Emangnya lo sendiri gak seneng apa?"


"Gak tuh."


"Ih kok gitu. Mereka tuh lucu tau. Lari-lari Kya gak ada beban hidup. Seneng gitu bawaannya." Reni menghela napas. Kalau ada alat time travel untuk menuju suatu masa, ia akan memilih masa-masa kecil dulu.


"Masa kecil lo kurang bahagia apa. Sampai se excited itu kalau liat mereka."


"Enak aja. Masa kecil gue tuh bahagia banget. Sangkin bahagianya, gue jadi kangen ke masa-masa itu." Reni memandang lurus tanpa menatap Alfa.


"Apa jangan-jangan lo ya yang masa kecilnya kurang bahagia?iya kan? Kan? Iya lah pasti." Ucap Reni sambil tertawa meledek.


Alfa pun ikut tertawa. "Masa kecil gue mah enak terus. Hidup damai tentram sentosa."


Reni semakin ngakak seraya menyenggol lengan Alfa. "Bisa aja lo alfabet."


"Alfabet apaan. Alfa Edison nihh. Hahaha..."


"Jiaah pala lo. Alfa Edison mah pinter cerdas. Rajin gak kaya lo." Tukas Reni tak percaya.


"Lo kira gue bodoh?" Tanya Alfa membuat Reni berhenti tertawa.


Ia sedikit mendekatkan wajah nya ke wajah Alfa. "Emm. Kalau dilihat-lihat tampang lo itu gak nunjukin kalo lo pinter sih." Lalu ia menjauhkan wajahnya dari hadapan Alfa.


"Oke. Secara tidak langsung lo bilang kalau gue o'on, Gak pinter. Gitu ya?" Skak sudah. Reni mengerjapkan matanya.


"Ya gak juga. Ah udahlah drop it." Reni memutuskan pembicaraan. Makin kesel juga bicara sama Alfa.


Baru tau Reni, kalau mengobrol sama Alfa bisa kesal juga. Setau ia, Alfa adalah sosok yang pengalah, penyabar dan gak banyak bicara. 


"Nanti lo ikut gue deh." Ucapan Alfa tadi membuat reni menoleh cepat.


"Kemana?"


"Keruang guru. Liat raport gue." Reni melotot. Ah apa-apaan ini. Is Kira Alan diajak kemana kek, apa kek. Ih sebel.


Cewek itu melipat kedua tangannya di dada.


"Kok kesel gitu mukanya." Tanya Alfa.


"Serah gue lah. Maksud lo apa sih ngajak gue ke ruang guru. Kurang kerjaan banget."


Fyi, Alfa adalah anak pindahan. Ia pindah ke sekolah itu ketika kelas XI. Masih Baru-baru banget lah. Belum ada setahun.


Ia dari kecil sudah diberi kelebihan daya ingat yang sangat tajam. Sehingga membuat Alfa menjadi seorang yang genius, berprestasi di sekolah-sekolah sebelumnya. Namun sayang, kesenangan itu tak terus datang setiap hari. Justru ia sering mengalami penindasan. Kasus penindasan terhadap nya ia alami dari kelas X dan sampai sekarang. Miris bukan, apalagi kondisi keluarga nya yang tak lengkap.


"Ouh iya. Gue mau tanya, kok lo bisa-bisa nya sih di keroyok waktu itu sama temen kelas lo yang kek preman gitu. Lo buat masalah sama mereka?" Tanya Reni penasaran.


Alfa menoleh namun terdiam dulu. Baru ia menghela napasnya. "Gue,..gue cari gara-gara sama mereka. Hehe tenang aja." Alfa berbohong. Bukan itu kenyataannya. Sengaja, cowok itu tak mau membuat Reni berpikiran macam-macam dan menganggap bahwa ia cowok lemah.


"Orang kaya lo cari masalah? Impossible banget."


Alfa mengangguk. "Iya. Lo gak percaya lagi?"


"Gak." Jawab Reni polos. Seorang Alfa yang berpenampilan kalem-kalem saja, memancing keributan pada preman sekolah? Alfa ini terkenal sebagai cowok  pendiam, cupu. Gak mungkin ia mencari gara-gara pada orang lain.


"Hufth. Gak percayaan amat si lo. Gue harus apa bi——–"


Tiba-tiba ada layangan putus mengenai wajah Reni. Sang empunya begitu terkejut bukan main. Apalagi Alfa yang disamping nya, dia segera mendekat dan mengencek wajah Reni.


"Aw——" Reni memegangi matanya yang sepertinya tercolok sudut layangan.


"Mata lo kenapa? Sini gue biar gue liat. Madep gue." Alfa meminta Reni agar wajahnya menghadap ke wajah cowok itu.


"Mata gue perih banget nih." Reni meringis kesakitan. Mata kirinya ditutupi oleh tangan, sedangkan mata kanan baik-baik saja.


"Liat gue sini. Mata nya buka. Biar gue tiup." Perintah Alfa.


Reni akhirnya menurut mengikuti perintah Alfa supaya menatap nya dan membuka mata kiri secara perlahan. Terlihat sudah merah mata itu, berair pula. Alfa merasakan kalau gadis itu keperihan matanya.


"Gue tiup ya." Kata Alfa.


Reni mengangguk. "Pelan-pelan Al."


Wajah Alfa mendekat. Sangat dekat, lalu ia perlahan meniup mata kiri Reni. Dengan jarak yang tipis, Reni bisa melihat Alfa secara gamblang, lekuk wajahnya, matanya, hidungnya maupun bibirnya. Pahatan itu sangat sempurna, hanya saja ditutupi oleh benda kacamata sehingga lekukan wajahnya samar-samar.


Ah astaga, tiba-tiba saja jantung Reni berpacu lebih cepat dari biasanya. Udara disekitarnya pun seolah-olah habis sehingga ia seperti kehilangan napas.


Bisa bahaya nanti jika terlalu lama dalam jarak sedekat ini.


Reni mendorong tubuh Alfa pelan. "Udah udah. Makasih yah."


"Beneran udah mendingan?" Tanya Alfa memastikan.


"U–udah kok." Katanya terbata-bata. Menunjukan kalau ia sangat gugup gegara jantung marathon ini. Ia mengalihkan dari tatapan Alfa.


"Ke apotek yuk. Beli obat tetes mata." Ajak Alfa akhirnya.


"Eh gak usah. Udah baikan kok."


"Gapapa ayo beli. Mata lo sampe merah gitu. Gue gak terima penolakan." Alfa menarik tangan Reni secara paksa.


Gadis itu meronta-ronta sebelumnya kemudian akhirnya ia pasrah menurut saja.