
Usai sudah hari libur selama 24 jam. Kembali ke hari Senin, aktivitas mulai dilakukan seperti biasa. Sejak jam 6 pagi, jalanan sudah mulai ramai oleh pengendara motor dan mobil yang seakan-akan dikejar-kejar oleh waktu.
Disamping itu, para pelajar sekolah pun sama sibuknya seperti pekerja kantoran. Apalagi hari Senin, jam masuknya dipercepat menjadi setengah tujuh. Upacara wajib setiap seminggu sekali ini rutin dijalankan.
Seorang perempuan berjalan santai didepan gerbang. Suasana masih pagi, sekitar jam 6 seperempat. Reni memasuki sekolahnya yang luas, didepan sana sudah ada guru yang standby mengawasi murid-murid untuk tetap melakukan aksi kebersihan.
Reni tersenyum ramah pada guru perempuan itu lalu menyaliminya. Menurut orang tua, banyak-banyaklah bersalim dengan guru agar ilmunya menurun kepada kita.
"Jangan lupa ambil sampah didepan itu mba." Reni hanya mengangguk paham. Kemudian berlalu menuju tumpukan sampah dedaunan didekat pot besar.
Setelah itu sampah organik dimasukkan kedalam wadah yang tertera label organik. Reni cepat-cepat pergi dari tempat itu dan langsung menuju koridor kelas.
Kalau pagi-pagi begini, sekolah sekilas tampak angker dan mencekam. Bagaimana tidak, suasananya begitu sunyi dan sepi. Belum ada orang yang berseliweran dijalan koridor. Apalagi saat melongok kondisi kelas, gelap dan lagi lagi sepi.
Beda lagi kalau sudah waktu-waktu nya istirahat, suasana berubah 180 derajat. Puluhan siswa mondar-mandir memenuhi petak jalanan koridor. Jeritan, teriakan dan canda tawa menggema mengisi ruangan. Benar benar ramai dan mengasikkan.
"Kenapa sepi banget sih? Padahal udah mau setengah tujuh." Gerutunya. Bisa dibilang Reni ini takut akan hal-hal mistis. Namun kalau didepan orang-orang ia berusaha sok kuat dan gengsi lah jika jerit-jeritan melihat sosok hantu.
BRAAKK
"Astaga!" Reni terkejut bukan main. Pasalnya ia mendengar ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Sepertinya itu kursi. Perlahan langkahnya menuju kelas yang menjadi sumber bunyi tadi.
Saat membuka pintu kelas itu, sebelumnya Reni berkali-kali mengambil napas lalu membuangnya. Dalam hati ia berkomat-kamit berdoa semoga gak ada hantu atau apapun yang menakutkan.
Pintu terbuka. Reni melongok kedalam. Betapa kagetnya saat melihat sosok berpakaian seragam sekolah.
"AAAAAKKHHHHH." Reni menjerit seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dari yang ia lihat, ada sosok berseragam SMA macam seperti dirinya dengan rambut yang acak-acakan. Dalam hati, mungkin itu hantu.
"Heh!" Ada yang mencolek bahu Reni. Kedua tangan cewek itu setia menutupi wajah dan enggan membukanya.
"Kenap teriak? Gak ada apa-apa kok." Kata orang itu. Hati Reni sedikit tenang. Tak ada apa-apa maksud nya bagaimana.
Sedikit demi sedikit jari-jari tangan membuka sehingga menciptakan celah Dimata guna mengintip.
Saat membuka mata, lagi lagi Reni terkejut dengan seseorang yang didepannya. "Hah?! astaga." Reflek tangannya berpindah tempat. Semula berada depan mata kini berada di mulut untuk menutupinya. Matanya Reni membulat sempurna saat mengetahui itu adalah Alfa.
"Jangan bilang kalo lo ngiranya gue itu hantu gitu?" Kata Alfa curiga.
"Ya... Salah lo juga kenapa penampilannya kaya hantu. Matanya juga kek panda gitu, kan gue takut." Jawab Reni.
Sontak Alfa meraba matanya, benar selain hitam bengkak juga. Mungkin ini efek dari semalam karna tak tidur.
"Tadi ada bangku jatuh. Lo apain?" Tanya Reni membuat Alfa kikuk menggaruk-garuk kepala bagian belakang.
"Emm ke tendang tadi. Hehe, sorry bikin lo takut." Alfa menyengir kuda yang menampilkan deretan gigi.
Bentar. Ada yang berbeda dengan penampilan cowok itu. Ia sekarang tak memakai kacamata, walaupun dalam kondisi bengkak matanya entah kenapa lekukan wajahnya terlihat sekali. Apalagi hidung mancungnya.
'baru sadar kalo ternyata Alfa ganteng juga.' Batin Reni takjub dalam diam.
"Ya takut lah. Siapa sih yang gak takut disaat sekolah lagi sepi gini." Mata Reni terus mengawasi seisi kelas Alfa yang berdebu.
"Iya sorry." Kata Alfa seadanya.
"Eh lo udah makan belum? Ikut gue yuk ke kantin. Gue belum makan soalnya." Ajak Reni. Tiba-tiba tangan cewek itu langsung menarik paksa tangan Alfa tanpa menunggu aba-aba atau respon dari Alfa.
Sesampainya dikantin, Reni lebih memilih duduk di meja tengah. Bebas akhirnya bisa memilih tempat duduk. Masih sepi, belum ada siswa lain yang datang.
"Bu, nasi lengko dua ya. Sama teh anget dua." Reni memesan pada ibu penjual makanan di kantin.
Ibu itu mengacungkan jempolnya pertanda siap akan dibuatkan segera.
Kantin ini buka dari jam 5 subuh, dan tutup sekitar jam 4 sore. Penjualnya pun ramah-tamah dan murah senyum. Semua siswa diakrabi agar betah jajan di kantin.
"Ternyata kantin itu kaya gini ya." Alfa bergumam kecil sambil matanya melihat-lihat kesetiap sudut ruangan.
Lantas gumaman itu dapat didengar oleh Reni.
"Maksud lo?"
Alfa menoleh ke Reni. "Gue gak pernah ke kantin semenjak SMA. Selalu bawa bekal sendiri."
"SUMPAAHHH?!!" Gebrakan meja lolos dari tangan Reni.
"Kenapa sih?" Tanya Alfa heran.
"Berarti selama 2 tahun ini lo sama sekali gak ngantin gitu?" Alfa mengangguk polos.
"Pantes aja. Lo jarang keliatan kalo disekolah. Ngedekem mulu sih di perpus." Ucap gadis itu sedikit menyindir.
Alfa terkekeh dibuatnya. "Gue gak suka keramaian soalnya."
"Iya gue tau. Jeje juga bilang gitu." Tiba-tiba kecemburuan menyelimuti hatinya saat membicarakan Jeje didepan Alfa. Ia tak mau kalau Alfa berbalikan lagi sama Jeje.
"Nana bilang gitu?"
'What!!! Nana? Jeje dapet panggilan tersayang dari Alfa. Ish!' Batinnya kesal. Bibirnya dimanyunkan kesal.
"Lo sama Jeje pacaran waktu kelas berapa sih? Gue kayanya gak pernah dengar berita kalian pacaran." Giliran Reni bertanya. Rasa penasarannya memuncak.
5 menit kemudian, pesanan datang. Asap nasinya masih kentara sekali karena baru saja diambil dari rice cooker. Apalagi teh nya, masih panas.
"Makan Al." Alfa mengangguk. Ia meraih piring berisi nasi lengko dan satu gelas teh anget.
Selama makan tak ada pembicaraan apapun. Hanya ada suara dentingan sendok yang menemani mereka.
Lalu Reni membuka suara. "Gue ada lomba sekitar 5 hari lagi. Gue harap lo dateng. Ikut nonton sama yang lain. Nanti gue kasih tiketnya deh."
Alfa berhenti sejenak. Menaruh sendok yang ia pegang ke sisi kanan piring. "Lo ngundang gue buat dateng?"
"Iya." Reni mengangguk.
"Kenapa?" Satu pertanyaan yang Alfa ingin tahu kejelasannya. Pasalnya, kenapa Reni mengundangnya padahal mereka baru saja akrab setelah kejadian hilangnya wristband.
"Kenapa?" Reni membeo. "Karena ya kita temen kan? Masa lo gak diundang sih, niat gue cuma mau buat kenangan kalo temen-temen gue udah dukung gue secara langsung di bangku tribun nanti."
Alfa jadi tertegun. Terdiam sejenak. "Oke gue bakal dateng."
Reflek membuat Reni tersenyum gembira. Entah apa yang membuatnya sangat bahagia kalau Alfa mau mengunjungi dan menonton pertandingan basket.
"Gue mau nanya deh. Lo itu sering banget ya lari-lari di GOR sana?"
Reni mengangguk sambil mulutnya mengunyah nasi.
Setelah menelannya, ia kembali bersuara. "Mau nyoba lari-lari disana? Gue rencananya mau lari lagi nanti Rabu. Kan hari itu libur."
Alfa terbatuk-batuk mendengarnya. "Uhuk-uhuk.." segera ia mengambil minumannya dan menyeruput.
"Rabu ya? O–oke deh." Akhirnya Alfa mau juga ikut bersamanya.
"Nanti ketemu disana aja biar gampang." Kata Reni.
Lalu mereka melanjutkan makannya. Tak terasa pukul sudah menunjukkan setengah tujuh. Sekolah agak ramai tentunya. Banyak anak laki-laki yang menongkrong di kantin sembari menunggu waktu upacara.
"Udah yuk." Ajak Reni untuk meninggalkan kantin.
"Yuk." Alfa berdiri disusul oleh Reni. Mereka pun pergi dari kantin. Sepanjang perjalanan menuju kelas Reni, tak ada pembicaraan apapun.
"Lo kok mau berteman sih sama gue yang notabennya gue itu cowok cupu. Biasanya kan mereka ogah berteman sama orang kaya gue. Jangankan berteman ngomong aja jijik kali." Ujar Alfa membuat hati Reni sedikit iba dan tersentuh akan kata-katanya.
"Lo jangan rendah diri gitu. Mau lo cupu kek apa kek, itu gak masalah. Selagi lo orangnya baik, gak macem-macem.. ya why not?" Kata Reni.
Alfa sangat takjub pada pemikiran luas gadis itu. Ternyata di dunia ini masih ada orang yang menerima apa adanya. Dia seorang perempuan lagi. Selain berhati baik, dia perempuan kuat dan tangguh.
"Makasih ya udah mau jadi temen gue."
Reni tersenyum seraya mengangguk. Tangannya menyentuh pundak Alfa yang terlampau tinggi. Padahal cowok itu tak pernah olahraga, tapi kok tinggi herannya.
"Selo bro. Kalo Lo malu temenan sama gue karna gue cewek. Lo boleh anggep gue cowok kok. Asal lo bahagia aja." Reni mengangkat salah satu alisnya.
Alfa tertawa melihatnya. Logat Reni tadi bak abang-abang yang sok kenal. "Bisa aja lo."
Sesampainya didepan kelas Reni, ia berhenti sejenak hendak mengatakan sesuatu.
"Jangan lupa dateng. Awas kalo gak." Ancam Reni sambil tersenyum malu-malu.
Alfa mengangguk. "Iya bawel lo." Kekehan dari mulut Alfa lolos keluar.
"Nanti Rabu jangan lupa juga."
"Iya."
Sedang senang-senangnya bercengkrama didepan kelas tiba-tiba rombongan Bagas datang hendak keluar dari kelas untuk menuju lapangan.
"HEIYO WASAP GESS!!" Bagas tiba-tiba merangkul kedua pundak orang sekaligus. Pundak tersebut adalah pundaknya Reni dan Alfa.
"Ih Bagas lepas gak lo!" Reni berusaha melepas tangan berotot Bagas yang nangkring seenak jidat dipundaknya.
"Enak ye berduaan mejeng didepan kelas. Upacara nih woiy! Sana taroh tas." Perintah Riko bak seorang ibu yang menyuruh anaknya.
"Ini juga mau naroh." Ujar Reni pada Riko.
"Gue duluan Ren. Permisi." Alfa berpamitan pada Reni. Tak lupa pula ia tersenyum pada teman-teman Reni.
Gadis berambut Bob itu melambaikan tangannya say goodbye.
"Udah sana taroh tas. Kita tungguin nih." Riko lagi-lagi memerintah seenaknya. Tangan besar cowok itu mendorong Reni agar masuk ke dalam tas.
"Reni ternyata udah akrab aja sama Alfa. Perasaan baru kemarin-kemarin dah mereka ketemuan. Inget gak lo semua waktu Alfa ke kelas kita Minggu yang lalu?" Kata Ryan penuh heran. Diam-diam cowok itu kepo juga.
"Oh yang waktu itu. Iya inget gua. Mungkin ada something. Ya gak bro?" Salah satu alis Damar terangkat. Sengaja dari nada terkesan menyindir. Ia menyeringai membuat teman-teman nya peka.
"EKHEM! ADA YANG PANAS NIH. ADUH HASANAH DEH." Ucap Riko dengan nada keras. Sengaja menyindir Aria disampingnya.
Orang yang disindir nya pun melirik tajam ke Riko. "Hehehe ampun Ar. Canda dah." Dua jari Riko membentuk V.