Sport Girl

Sport Girl
part 8



“Passing yang bener ****!” Teriak Ryan pada Bagas.


Bagas salah saat melakukan passing, bolanya meleset ke luar arena. Ia terus disalahkan oleh Ryan dari tadi.


Tim voli sedang latihan rutin seperti biasa jam 3 sore.


Entah kenapa hari ini Bagas kurang fokus, membuat Ryan geram dan greget untuk memakinya. Awalnya Bagas biasa saja di marahi oleh Ryan. Namun semakin lama, wajahnya berubah. Aura kesal dan emosi karena dimaki.


“Ambil sana! Lo yang salah, masa gue yang ambil.” Ujar Ryan lagi kesal.


“Yang pas *****!”


“Bego! Lo bisa gak si?”


“AH ANJING!!!.” Bagas menghempas bolanya kasar tak tentu arah. Emosinya meluap. Wajahnya merah, matanya melotot. Dari awal masuk Bagas biasa saja, tak menunjukan bahwa dirinya bermasalah. Namun saat turun di area voli, tiba-tiba saja tingkahnya menjadi aneh.


Yang lainnya semua terbengong, baru pertama kali melihat Bagas naik pitam. Cowok itu meninggalkan lapang voli, langkahnya dipercepat.


“Lo apa-apaan sih Yan?” Tanya Riko tak terima pada Ryan.


“Lo gak usah nyolot tadi, kan Bagas nya gak terima lo maki-maki.” Dewa ikut menyalahkan Ryan.


“IYA GUE SALAH. SORRY.” Bentak Ryan yang tak kalah marah dari mereka. Ryan ikut-ikutan meninggalkan lapangan voli juga.


“Kok jadi gini sih?” Gumam Reni melihatnya. Perasaan tadi baik-baik saja.


Ia segera mengejar Ryan, “Lo jangan gitu dong Yan. Chilldish banget tau gak.” Tangannya sambil menahan lengan besar cowok itu.


“Gue capek. Mau pulang. Lepasin Ren.” Ucapnya dengan nada putus asa. Dari wajahnya kelihatan bahwa ia lelah.


“Yah kok gitu. Jangan dong. Lo disini aja dulu, tapi gak usah ikut main kok gapapa.”


Ryan menggeleng, menurunkan cekalan tangan Reni. “Plis. Gue mau pulang.” Tangan Reni terlepas, ia langsung melenggang pergi tak mempedulikan reni yang masih disitu.


“REN! UDAH REN SINI AJA.”


Reni menoleh ke lapangan mendengar teriakan dari Aria. Diantara berempat, Aria lah yang hidupnya gak drama, jarang banget ngambek apalagi marah.


Cewek itu menghela napasnya berat. Kemudian kembali ke lapangan. Ada apa dengan sahabat-sahabatnya ini.


“Tadi gimana? Ryan bilang apa?” Tanya Dewa.


Dewa menanggapi nya dengan berguna oh.


“UDAH LANJUT LANJUT WOI. SEMANGAT.!!” Teriak Aria menyemangati. Sekilas ada konflik tadi.


Mereka kembali melanjutkan permainan bola voli. Reni nampak lihai dan cekatan saat bola menghampirinya. Keringat tak henti-hentinya mengucur membuat wajahnya menjadi kusam. Tapi cewek itu tak mempedulikannya.


Teringat kembali tadi ketika di bersama Gibran, Reni hendak di antar olehnya ke sekolah. Namun ia menolak. Dari awal niatnya ingin marathon. Lalu Gibran membiarkan Reni untuk ber marathon. Sebenarnya tak tega membiarkan perempuan kelelahan. Yah apa boleh buat, Reni memang keras kepala. Keinginannya tak mau dibantah.


Untuk masalah kekepoan nya pada Alfa, ia urungkan. Melihat kondisi cowok itu membuatnya tak tega untuk menanyakan hal privasi. Mungkin jika Alfa sudah baikan. Mereka satu sekolah juga.


Latihan ini berakhir hingga jam 5 sore seperti biasa. Mereka masih dilapangan, namun guna beristirahat sejenak menghilangkan peluh.


Reni berselonjoran di tanah, tangannya mengipasi wajah. Gerah.


“Oi sobat! Gue pulang cabut dulu yaa.” Ujar Riko pada mereka.


“Yoi ati-ati.”


Reni melirik ke Aria, cowok itu sedang bermain ponsel. Nampak serius dari wajahnya. Reni mengalihkan pandangannya, ia kemudian berdiri meraih tas.


Langkahnya melenggang menghampiri Aria.


“Ar, gue pulangnya nebeng lo lagi ya.”


Aria mendongak, “Mmm... Maaf Ren, gua gak bisa. Nyokap gue dibawa ke rumah sakit tadi. Sorry banget. Nih gua juga buru-buru,”


Reni membelalak. “Serius lo? Yaudah gih sana cepetan. Nyokap lo kasihan tau, cepetan sana.”


“Lo gapapa gue tinggal?”


Reni mengangguk pasti.


“Sekali lagi gue minta maaf ya Ren,” Ujar Aria tak enak hati.


“Iya tenang aja, gue mah santuy.”


Gue marathon lagi neh ceritanya?