
"Boleh gak Al?" Tanya Reni sekali lagi.
"Bo–boleh kok. Ayo." Alfa mau juga diajak fotbar.
Reni tersenyum senang. Ia segera mengeluarkan ponselnya. Disana ia meminta seseorang untuk memfoto kan mereka berdua.
Reni dan Alfa berjajar beriringan. Cowok itu diam tanpa ekspresi, sedangkan Reni tersenyum lebar menampilkan giginya yang rapi.
Sesi kedua, tangan Alfa dimasukkan ke kantong celana kiri dan sedikit tersenyum. Sedangkan Reni membentuk jarinya menjadi V dan tak lupa dengan senyuman.
"Udah mba. Cakep-cakep dah fotonya. Pacarnya juga ganteng gitu." Kata orang yang tadi ngefoto kan mereka berdua.
Reni dan Alfa saling berpandangan saat mendengar kata pacar tadi.
Pacar?
Ganteng?
'Ya jelas gue mau dong, semoga aja ucapan mba-mba tadi jadi kenyataan aamiin.' Ucapa Reni dalam batin.
"Makasih ya mba." Ucap Reni sangat ramah.
"Iya sama-sama. Saya pergi dulu." Mba itu cabut dari hadapan Alfa dan Reni.
"Udah sana Ren. Pergi, katanya mau ke restoran." Ucap Alfa sedikit bercanda.
"Lo ngusir gue? Ishh nyebelin banget." Reni mencebikkan bibirnya cemberut.
Ia menaiki motor matic nya, tak lupa juga memakai helm.
"Gue anterin yuk." Ajak Reni membuat Alfa melotot tak percaya. Ia sontak menggeleng.
"Gak mau lah. Masa cewek nganterin cowok. Udah deh mending lo cepet-cepet dah kesana. Ditungguin pasti." Ucap Alfa sedikit tak rela hatinya. Berlama-lama dengan gadis itu sekarang menjadi kesenangan tersendiri.
"Iya iya. Gue cabut ya. Bye!!" Reni menyalakan motornya hingga detik itu juga melesat juga kendaraan yang ditumpangi.
Alfa terus menatap punggung Reni yang semakin menghilang. Ada rasa tak ingin Reni pergi. Kali ini Alfa benar-benar senang sekali, moment satu detik saja dengan Reni sudah membuatnya bahagia. Dan efeknya berhari-hari tak usai-usai.
Cowok itu segera pergi dari halaman GOR, ia menuju halte bus. Tujuannya sekarang akan pergi ke makam. Dirinya sangat rindu akan kehadiran kedua orangtuanya.
Disisi lain, Reni sudah sampai dalam waktu 10 menit saja. restoran berlogo burung elang warna coklat.
Dalam hati Reni bertanya, apa hubungannya burung elang dengan restoran coba.
Saat masuk kedalam, puluhan umat manusia memenuhi ruangan. Dan Reni lebih terkejutnya adalah mereka semua teman satu bidang dan kelas.
Apalagi saat Reni melihat bestienya di pojokan sana. Sudah seperti kera yang kelaparan tingkat dewa. Terutama Riko, kakinya dinaikkan, makannya menggunakan tangan. Dan ritme melahapnya pun sangat cepat.
'Rikoo, Lo malu-malu in aja sihhhh.' Reni geram sekali jadinya.
"Eh Ren!!!! Sini sini. Disebelah gue." Teriak Gibran dari jarak yang terpaut jauh.
Ia tersenyum. Reni jadi kikuk rasanya. Akhirnya ia melangkah juga untuk duduk di sebelah Gibran.
Damar, Riko, Ryan dan Bagas serentak menatap ke arah Reni.
"Eh roman-romannya ada cinta segiempat dah." Kata Bagas sok tahu.
"Ah yang bener lo?" Ujar Ryan tertawa.
"Iye. Alfa, Aria sama noh satu nya lagi." Bagas menunjuk Gibran menggunakan dagunya.
Damar tertawa kencang. "Lha iya yah. Banyak banget dah yang demen sama Reni. Cewek bentukan kaya Reni juga pada suka."
"Emang Reni bentukan nya gimane?" Tanya Riko.
"Ya gitu. Gak ada feminim-feminimnya. Keker banget badannya nyet!! Gue pernah nonjok lengennya aja padet gitu, malah tangan gue yang jadi sakit." Ucap Damar meyakinkan agar mereka percaya.
"Itu namanya cewek strong. Definisi strong yang sesungguhnya." Kata Ryan membela Reni.
"Kita taruhan aja yok. Siapa nanti yang bakal pacaran sama Reni. Alfa, Gibran atau temen kita si sengek itu." Damar memang gila. Bercanda nya tak kira-kira.
"Aria sengek? Julukan baru dah. Hahahaha." Riko tertawa lebar gegara perkataan Damar.
"Gue pilih Gibran dah. Kan kaya dia. Udah mahasiswa, dewasa. Cewek jaman sekarang tuh sukanya yang udah tua." Ujar Bagas. Namun ucapan itu ujung-ujungnya nylekit juga.
"Aria dah. Walupun gue gak yakin." Ucapan Riko yang terakhir membuat teman-teman nya tertawa.
"Kalo gue Alfa. Gue ada feeling kalo diem-diem Reni suka juga sama Alfa. Ya walaupun die pendiem, sering dibully tapi baik kok." Kini Damar yang berujar.
"Lo siapa milih siapa Yan?" Tanya Bagas pada Ryan.
"Gue gak ikut-ikut dah. Taruhan macem apa.. dosa brayyy." Ryan menolak keras.
"Lagak lo. Kemarin-kemarin lo main poker sama gua terus pake aturan kalo menang traktir mie ayam. Itu juga namanya dosa kampreto!!!" Kesel Damar akhirnya.
"Ya itu kan beda." Ryan mengelak gugup.
"Alaah alesan!! Bilang aje kagak ada duit." Sindiran Damar memang nylekit.