Sport Girl

Sport Girl
part 16



Sesuai ucapan Ryan tadi ketik pelajaran bahasa Inggris berlangsung. Ia akan mentraktir Bagas mie ayam mas Agus.


“GC ngapa dah gas. Lemot amat kek siput.”


Bagas yang sedang menata sepatu futsalnya mendongak. “Sabar elaah. Lagak lo Yan, ntraktir mie ayam aja sombong.”


“CIE CIE YANG UDAH BALIKAN.”


“EKHEEMM ROMAN-ROMANNYA ADA TRAKTIRAN NEEH.”


“IKUT DONGSSS”


Bagas menjitak kepala Damar gemas. “Balikan balikan pala lu dua! Emangnya gua ama Ryan pacaran apa?!!”


Damar cengengesan gak jelas. “Baikan maksud gua.”


“Gue ikut dong. Belum makan nih soalnya.” Ujar Riko.


“Gua juga dah. Sekalian. Gak baik loh ntraktir orang setengah-setengah.” Celetuk Damar.


“Yang ada tekor gua.” Ucap Ryan jutek.


Semuanya terdiam tak berkutik. Memandangi Ryan seksama.


Merasa diperhatikan, Ryan mendongak. Alisnya bertautan. “Apa?”


Ia menghela napas beratnya. “Iye iye. Lo lo semua gua traktir. Cepetan!”


“HOREEEEEE!” Teriak mereka serempak. Seneng nya seperti anak SD yang mendapat nilai 100.


“Ryan baik banget yah. Tersunjang gua dengernya.” Riko terkekeh.


“Pliss deh. Kalo ngomong jangan typo. Gak enak dengernya.” Ucap Reni datar.


“Ngetik kali ah.”


“Yaudah gas keun ke mas Agus!1!1!” Kata Riko semangat 45.


“Eh gue gak ikut deh. Mau sprint di GOR. Buat lomba Minggu depan.” Ujar Reni tiba-tiba.


“Lo mah sibuk mulu. Kali kali kek ikut kita kumpul. Jarang-jarang tau Ryan traktir orang.” Kata Damar bercanda.


Reni terkekeh. “ Sorry nih. Entar deh kapan-kapan. Maap ya.”


“Mau gua Anter gak?” Tawar Aria baik hati.


Reni menggeleng. “Ehgak usah. Lo ikut kumpul bareng mereka aja. Lagian gue biasa sendiri kali.”


“Bener?”


Reni mengangguk pasti. Meyakinkan agar Aria tak mengkhawatirkan nya.


“Kalo ada apa-apa kabarin gua. Jangan malah diem aja. Gua gak suka.”


“Iya Aria. Bawel ah.”


“Hati-hati.”


“Ekhemmm....” Damar berdeham.


“Kenapa Lo?” Tanya Bagas pada Damar.


Damar hanya menyengir kuda. “Hehe gapapa.”


“Yaudah gue cabut dulu. Bye!” Reni melambaikan tangannya kemudian melenggang pergi.


“Bye RENI!!!!” Seru Riko yang ikut melambaikan tangannya.


“HATI-HATI RENN JALANNYA.”


“KALO MAU NYEBRANG TENGOK KANAN KIRI. INTINYA WARNING WARNING AJA!!”


“Udah ngapa Ko. Cus lah ke mas Agus.” Ajak Damar penuh semangat. Demi makan gratis apa sih yang gak bisa damar lakuin.


“CAP CUSSS!!!!” Ujar mereka serempak kecuali Ryan. Cowok itu mengelus dadanya sabar.


“Ya Allah, semoga rejeki hamba tambah berlipat-lipat. Aamiin.” Gumam Ryan.


*****


bughhhh


Perkelahian antara satu siswa dan tiga orang siswa. Seorang siswa tersebut tak berdaya. Satu tonjokan melayang ke perutnya. Ia meringis kesakitan.


Bughhh


Pukulan satu lagi menghantam wajahnya. Hingga membekas biru di sekitar pipi. Kedua tangannya di cekal kuat oleh dua orang itu. Sedangkan yang satunya sibuk memukuli.


“Bego! Gara-gara lo tugas gue jadi dapet nol! *****!” Umpat lelaki yang memukuli itu. Ia nampak kesetanan tak terkendali. Wajahnya merah padam. Sorot matanya tajam mengisyaratkan betapa marahnya dia.


Bughhh


Satu pukulan keras melayang di hidungnya hingga keluarlah cairan merah kental. Cowok tersebut tak bisa melawan. Jangankan melawan, meronta atau berontak saja ia tak bisa. Bukannya takut, melainkan aksi bela dirinya itu minim. Tak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan mereka. Ia memilih mengalah dan rela digebukin dan pulang dengan keadaan babak belur.


Dua orang itu melepas cekalannya. Orang itu terkujur lemah. Masih sadar, namun tenaganya habis. Ia mendongak ke atas perlahan.


“Minggir.”


Cowok bengis itu mengangkat dagu cowok yang terkapar diaspal.


“Kalo sampe lo ngerjain tugas gue asal-asalan. Setelah itu jangan harap lo bisa napas. Gue tau lo ngerjain tugas gue ngasal.”


Cowok bengis itu menendang perut seorang cowok yang terkapar dengan keras. Benar-benar keras.


“ARGHHAANGHHHHH” Cowok itu mengerang kesakitan. Ingin rasanya makanan yang ada didalam lambung dimuntahkan. Perutnya dua kali lipat sakitnya operasi bedah. Cowok bengis itu anggota preman bengis yang suka menyiksa orang.


“WOE ADA APA NIHH. JANGAN MAIN KROYOKAN LO BANCI!!!”


Tiga cowok itu menoleh kaget. Mendapati seorang perempuan yang sesuai dengannya. Bajunya pun ternyata mirip. Seragam sekolah.


“Kabur woi *******!” Titah cowok bengis itu.


“WOI JANGAN KABUR LO SIALAN!!!”