
"Aakkhhhh perih gila." Tangannya mengusap darah yang mengalir. Mengambil kapas dan plester disampingnya. Mengikatkan pada luka agar darah berhenti mengucur.
Saat hendak mengambil handuk kecil, tak sengaja matanya menangkap sosok yang selama ini membuatnya senang terus.
Matanya membulat sempurna. Tangannya mengambang di udara, sedangkan mulutnya menganga tak percaya.
"A–Alfa?!!"
Reni menutup mulutnya menggunakan tangan. Ia segera mengalihkan tatapannya ke arah Lain. Sungguh tak di duga-duga kedatangan cowok itu.
"Beneran Alfa kan?" Tanya Reni pada dirinya sendiri. Tak sadar bibirnya membentuk lengkungan sebuah senyuman.
Ia ingin terpekik namun tertahan. Dirinya senang bukan main.
"Omaygaattt! Oke stay calm Ren, lo harus kelihatan cool dong. Ekhem ekhem." Reni membenarkan gestur tubuhnya menjadi ala-ala wanita cool.
Padahal dalam hatinya jingkrak-jingkrak seperti orang gila.
Reni segera mengobati lukanya cepat-cepat. Gelora semangaat untuk kembali ke area sangat menggebu-gebu. Ia bertekad harus memenangkan kejuaraan itu. Seseorang telah membuatnya bangkit dari rasa menyerah.
'Buat Alfa. Gue balik ke arena karna mau nunjukin kalo gue sanggup.'
Reni kembali memasang sepatu. Dirinya segera meminta wasit agar pemain cadangan di ganti olehnya. Ia tak peduli nanti mau luka nya tambah parah atau tidak.
"Whuaaaa agaknya jawara olahraga kembali lagi ternyata ke pertandingan. Baru saja dia mengalami cidera, sudah bangkit lagi. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Center tim Wisanggeni."
Kegaduhan akan tepuk tangan sangat menggema mengiringi langkah Reni untuk menuju tengah lapangan. Mereka takjub dan salut akan jiwa pantang menyerah dari Renita ini.
"Gilaaa. Baru aja luka, sekarang bangkit lagi dah. Itu kaki atau apa? kuat bener." Kata Riko sambil geleng-geleng. Ia terus memperhatikan dari atas bangku tribune.
"Iya ye. Padahal sakit nih kalo ke injek sepatu. Gua aja waktu itu sakitnya kagak ilang-ilang." Ujar Ryan juga tak kalah tercengangnya.
"Gak tau dah sama jalan pikiran tuh anak. Over banget tenaga nya. Kalo gua mah udah tepar di angkut PMR." Damar tertawa setelahnya.
Reni saling bertos ria dengan pemain lain. "Kita harus kejar point' nya. Semangat semangat!!"
Tiana mengangguk pasti. "Iya, kita harus ekstra berusaha."
"WISANGGENI!!!" Seru Rish paling semangat.
"WISANGGENI!!!" Seru para pemain tim Reni dengan kompak. Lalu mereka kembali ke posisi masing-masing.
Bola di shoot oleh lawan dengan menginjakkan kaki di area Tim Wisanggeni. Dia seperti nya SF dari lawan. Namun Reni melakukan gerakan kilat mengambil bola tersebut. Ia segera mengoper ke Liana.
Cewek berambut panjang itu memasuki area lawan di backing oleh Rish. Hingga saatnya Rish men shoot tepat di depan ring dengan sempurna.
Tepuk tangan kembali terdengar sangat keras dan kompak. Tim Wisanggeni telah meraih point'. Sehingga kedua tim saling imbang kekuatan nya.
"Yess, kita imbang. Satu babak lagi. Jangan patah semangat okee." Reni menepuk punggung Rish.
Rish mengangguk. "Lo juga. Mending lo jangan terlalu over gerak. Luka itu pasti sakit banget kan?"
Deg. Reni tertegun akan ucapan Rish barusan. Ternyata ada juga yang mengerti perasaan nya sekarang.
"Its okay. I Will be alright." Balas Reni sembari tersenyum.
Lagi lagi penonton dari bangku tribune sebelah kiri alias tim supporter Wisanggeni menyanyikan yel-yel sekolahnya agar terkesan meriah.
Alfa tak henti-hentinya memerhatikan Reni. Ia sangat terpukau akan aksi gadis itu. Mampu menyembunyikan kesakitan yang dialami. Padahal rasanya bagi Alfa sangat sakit.
"Lo kuat Ren. Semangat, semoga lo emang bener baik-baik aja." Kata Alfa lirih.
Kembali lah ke pertandingan antara dua tim tersebut. Bola sekarang di kuasai oleh Tiana. Cewek itu hendak menshoot dari jarak jauh, namun gagal.
Pemilihan tempat kurang pas untuk melakukan itu.
Bola dikuasai oleh lawan sekarang. Nampaknya ia hendak menyerang pertahanan, lagi lagi bola tersebut bisa di ambil alih oleh Liana.
Liana dengan sigap mengecoh lawan samping dengan gerakan ala balet, tapi bukan balet. Intinya agak mirip gerakan ballerina itu. Saat lawan terkecoh, Liana tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengoper bola itu ke Reni.
Setelah sampai ke Reni, cewek maniak Olahraga itu melempar bola nya ke Rish. Cewek perawakan tomboy. Peran ia sangat penting sekarang, nasibnya berada di tangan Rish saat ini.
Karena waktu hampir usai, sekitar 30 detik lagi waktu habis. Rish segera menyerang area lawan dengan beringas. Tenaga nya dikeluarkan semaksimal mungkin, lawan mencoba menyenggol tubuh Rish namun gagal.
Hingga sampai nya didepan ring, Rish langsung menshoot bola itu hingga masuk dan yes!
Point mereka bertambah.
Rish reflek bersujud syukur menghadap kiblat. Mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan karena telah memberikan kemenangan ini.
"RISH!!!! Aaaakhhhh gue bangga banget sama lo!!" Liana memeluk Rish histeris.
"Ihhhh gue nge fans sama lo Rish huaaaa. Sayang nya Lo cewek, coba aja kalo cowok udah gue gebet dah."
Rish menepuk punggung Liana agak kasar. "Lepasin d*ngo. Gue pengap nih."
"Hehe. Ampun dah." Liana menyengir tak berdosa.
Reni menatap sekeliling. Aura-aura bahagia tercetak di wajah orang-orang yang telah mendukungnya. Ia sangat bersyukur kali ini.
'Terimakasih semua. Gue sayang banget sama kalian.'
'Sesuai ucapan gue, kemenangan ini buat Alfa. Si cowok yang sangat misterius hidupnya.'