
"Eh Reni mana yah? Kok nggak keliatan dari tadi. Kemana sih Je?" Tanya Damar pada Jeje. Cowok itu merasa ada yang hilang karena matanya tak menemukan sosok maniak olahraga.
"Nggak tau juga sih. Tadi bilang nya mau cabut buru-buru." Kata Jeje seadanya.
"Telpon gih. Rik telpon coba!" Perintah Damar ke Riko.
Cowok yang ditunjuk damar tiba-tiba merengut kesal. "Manggil nya jangan 'Rik' bisa? Dikira gua burik apa!"
Bagas reflek menahan mulutnya agar tidak tertawa. "Pftt! Anj*m ngakak."
Damar malah berdecak sebal. Bukan waktunya untuk bercanda. Ia memiliki firasat kurang enak sekarang. "Udah apa. Jangan bercanda dah." Ucapnya serius sekali.
Riko pun langsung membuka layar utama. Dan menelpon nomor Reni. Detik pertama belum ada jawaban.
Semuanya hening memerhatikan telepon Riko.
"Gimana? Dering nggak?" Tanya Ryan was-was. Biasanya Reni akan langsung menjawab telepon. Namun ini tidak.
"Dering kok. Cuma nggak diangkat. Sekali lagi dah." Riko menekan tombol telepon sekali lagi.
Setengah menit terlewati, sambungan telepon belum juga diangkat oleh cewek itu. Tiba-tiba ada suara cewek. Tersambung lah telepon itu.
"Ren. Halo. Lo kemana aja? Dicariin coba. Main cabut aje." Tanya Riko berurutan sangkin keponya.
"Gue di RS."
"Suara lo... Lo nangis ya?!!!" Riko sangat kaget mendengar suara parau Reni seperti orang habis nangis.
"Reni nangis Ko? Tanya kenapa?" Ryan juga sama kaget nya dengan Riko. Baru kali ini seorang cewek strong nangis.
"Iya. Gue abis nangis. Kalian semua kesini deh. Pliss. Hiks hiksss."
"Oke oke. Lo di RS mana sekarang??!!" Desak Riko tak sabaran. Rasa penasaran nya naik tingkat dewa.
"Di RS wisteria Jalan kota. Cepetan!!!"
"Otw dah." Riko menutup sambungan telepon. Ia buru-buru memasukkan teleponnya ke saku.
"Kita harus ke rumah sakit. Temuin Reni, gua denger dia kayak abis nangis. Cepetan GC cuy." Ujar Riko heboh. Ia segera menuju parkiran, menghampiri mobil milik Jeje.
"Selo ngapa kok. Jangan buru-buru amat." Kata Bagas aneh lagi. Situasi gawat begini di minta Selo.
"Mata mu selo. Reni nangis cuyyy, Lo nggak khawatir sama die?" Sahut Riko penuh penekanan.
Jeje memberikan kunci mobilnya pada Riko. Cowok itu pun malah menatap Jeje dengan bingung.
"Kenapa kesih ke gua?" Riko bingung.
"Lo yang nyetir lah."
"Gua mana bisa. Udah Lo aja, ribet amat." Riko segera masuk di jok tengah mobil.
Jeje merengut kesal. Bibirnya di monyonkan ke depan. Pasrah lah ia masuk ke jok depan sebagai kang supir.
"Ayo Mar masuk, malah mejeng aje di luar." Ujar Riko pada Damar. Cowok itu masih berdiri didepan pintu mobil.
Damar melotot ke arah Riko. "Mejeng soak mu!! Ini gua lagi nungguin Ryan masuk. Nggak sabaran amat Nyet!!"
Setelah Ryan masuk kedalam mobil, disusul lah Damar pula. Yang dibelakang Riko, Ryan, dan Damar. Dan yang di depan Jeje dan Bagas.
"Ini ke RS mana nih?" Jeje melirik Riko melalui kaca spion depan.
"RS wisteria Jalan kota Je." Kata Riko sesuai ucapan Reni.
Mobil yang ditumpangi 5 orang itu melesat ke jalanan menuju rumah sakit. Jeje mengendarai dengan sangat lihai, ya secara dia punya mobil dan sering jalan-jalan pake mobil jadinya sudah mahir mengendarai.
Peserta tim futsal malah meninggalkan stadion tanpa pamit terlebih dahulu. Mungkin yang di stadion kebingungan mencari dimana sosok Damar dan kawan-kawan.
Yang mau fotbar terpaksa diurungkan oleh para supporter. Acara makan-makan setelah pertandingan terpaksa sekali di urungkan sebab tidak ada kehadiran 4 orang itu yang ada di mobil Jeje.
"Eh ada pesan dari pak Jeck. Nanyain kita dimana?" Riko membuka ponselnya dan membuka aplikasi chat, disana ada kolom pesan dari guru pembimbing.
"Bilang aje mau ke RS gitu." Kata Damar. Menurutnya lebih baik jujur daripada bohong. Karena berbohong itu ribet. Selain memikirkan alasan, berdosa pula.
"Oke dah." Riko mulai mengetik sesuai apa yang dikatakan Damar.