
Sesampainya di kostan Reni merutuki dirinya yang ceroboh. Bisa-bisanya wristband penting nan kebanggaan nya hilang begitu saja. Dipikirannya mungkin benda itu jatuh. Tidak mungkin diambil orang, secara ia terus menaruhnya didalam saku.
"Aaaakhhh! Kenapa bisa ilang sih?" Tangannya menjambak rambutnya kesal. Bagaimana cara menjelaskannya ke pak Jaya nanti.
"Beli lagi gapapa kali yah. Nanti gue pesen terus dikasih tulisan nama tim." Gumam Reni sembari berpikir.
Ting
Ponselnya bergetar pertanda ada pesan masuk. Ia mengecek siapakah pemilik pesan yang masuk itu.
08xxxx
Ini punya lo?
(Send a picture)
Mata Reni sontak membulat sempurna. Ini benda yang selama ini ia cari dan membuatnya uring-uringan. Ah untung saja. "Ah siapa sih nih orang. Bisa pas banget deh." Reni penasaran dengan pemilik no. Asing ini.
Renita F.
Iy itu pny gw. Knp bisa ada di lo? Kirim pk gojek bs gk?
"Semoga aja mau plis plis." Doanya sembari menatap chat tadi. Dalam pikirannya menerka-nerka siapa itu orang. Kenapa bisa mendapatkan nomernya? Darimana kah itu. Reni butuh penjelasan.
08xxxx
Tadi jatuh. Besok gue balikin. See u
Yah pupus sudah harapan Reni. Ia hanya bisa mendengus pasrah. "Gapapa deh. Yang penting gue gak usah repot-repot bikin wristband baru."
📌📌📌
Lalu Alfa keluar rumah menuju halte bus. Sejak Alfa kecelakaan motor ia dilarang mengendarai kendaraan sendirian. Maka dari itu kakaknya menjual kendaraan milik Alfa. Kejam memang. Selain kejam galak pula. Padahal cowok dia. Jam 6 pagi merupakan jam dimana pelajar masih sarapan atau mandi atau bahkan masih ada yang tidur. Sedangkan untuk Alfa sendiri jam 6 adalah jadwal berangkatnya. Waktu sarapan ia gunakan di sekolah. Malas saja jika sarapan sendirian dirumah. Tak lama kemudian bis datang, segera Alfa memasukinya.
Disisi lain, seorang gadis dengan keringat mengucur banjir di pelipis serta tubuhnya. Napasnya masih memburu karena habis lari. Jam 6 Reni belum mandi atau bahkan sarapan. Menurutnya olahraga penting diatas segalanya selain ibadah. Kesehatan tubuh itu nomor satu, kelincahan dan kekuatan ia latih setiap hari agar bisa menandingi musuh se bidangnya.
"Udah mau setengah tujuh. Pulang aja deh." Matanya melihat jam menunjukan pukul 7.15. Ia segera merapikan botol minumnya dan meletakkannya di bawah sepeda. Lalu ia kembali menuju kostan meninggalkan lapangan yang masih sepi.
📌📌📌
"Ar, gua minjem pr pisika dong." Bagas memohon-mohon sambil mukanya di imut-imutin.
"Gak ada. Ngerjain sendiri Sono." Aria tidak mau memberikan.
"Pliss Ar. Ini tuh menyangkut kelangsungan hidup gua. Tolongin ngapa. Kita kan bestpren." Bagas tetap ngotot meminta Aria agar mau memberikan buku pr nya.
Aria menghela napas berat. Sial Bagas ini, kenapa harus membawa ikatan persahabatan nya. Aria kan jadi tak tega. Ah sudahlah. "Nih. 10 menit aja. Langsung kembalikan. Awas aja kalo lebih." Ancam Aria pasrah.
Bagas menyengir. " Hehe iya tenang aja. Gua nulisnya Cepet kok kek kilat. Thanks ye bro." Cowok itu langsung ngacir ke bangku belakang.
"WOI! DAH DAPET NIH JAWABANNYA. SIKAT CUY!!" Bagas berteriak kepada teman-teman nya di belakang.
Kedatangan nya disambut heboh terutama Riko. "Cepetan woi tulis. Rejeki ini Jan disia-siain." Riko langsung menulis dengan gerakan cepat. Tak peduli lah tulisannya macam ceker ayam.
"Pinter juga lu ngrayu si Ar Ar. Hebat hebat." Salut Ryan si maniak game. Ia pun berkecimpung meramaikan penyontekan masal.
Bagas tertawa kencang. " Ahahaha itu juga susah kali."
Aria menatap pasrah saat buku berisi jawaban-jawaban pr berada digerombolan anak-anak sableng. Kepalanya menggeleng-geleng.
Tak kemudian lama Reni datang dengan penampilan seperti biasa. Tanpa polesan make up sedikit pun. Ia berbeda dari gadis SMA kebanyakan. Tidak terlalu peduli akan fashion apalagi riasan wajah.
"Eh rame rame ada paan tuh. Ikut dong." Ia melihat di bangku belakang sedang menggerombol dimeja Ryan.
"Ren! Sini gabung. Pr Fisika udah Lo? Kalo belum sini lah nyontek berjamaah." Kata Ryan melambaikan tangan dibangku sana.
"IKUT DONG!!" Gadis itu langsung lari mengeluarkan buku dan ikut serta menyontek bersama manusia-manusia geblek.
"Jawaban gueee..." Batin Aria menangis.