
Ruangan serba putih itu nampak damai. Desiran udara AC menusuk kulit. Lelaki putih itu berbaring menutup matanya. Bukan tidur bukan. Sekedar memejamkan mata saja, pikirannya pun masih sadar.
Sudah 2 hari tak ada yang menjenguknya. Benar-benar bosan dan sepi. Untuk masalah registrasi ternyata telah dilunasi oleh Gibran. Itupun Alfa baru tau dari suster. Ia berhutang Budi padanya.
Gadis olahraga itu yang sangat famous disekolah ternyata baik juga. Alfa suka memperhatikannya ketika pulang sekolah dilapangan. Biasanya Reni latihan rutin olahraga baik itu voli, basket atau futsal. Jiwa olahraga nya patut diacungi jempol.
Sedikit rasa iri dibagi Alfa. Ia menjadi laki-laki seperti tak ada gunanya. Lemah, kesepian dan kurang kasih sayang dari orang tua. Tak usah mengharapkan kasih sayang orang tua, kakaknya saja yang satu rumah dengannya saja enggan untuk memberikan kasih sayang. Ironisnya dia.
Nasibnya tak seberuntung itu. Tak seperti Reni yang mewarisi bakat olahraga nya, kakaknya yang mewarisi ahli wirausaha sukses, teman sekelasnya yang memiliki kepintaran nya diatas rata-rata dan sering mengikuti lomba.
Alfa sebenarnya pintar kok. Namun ia tak menunjukkannya. Buat apa? Menarik perhatian orang? Ah basi. Gak ada gunanya.
Ia dikelas benar-benar seperti debu jalanan.
Kemarin lusa, Alfa dihajar oleh teman sekelas nya. Gegara masala biasa lah anak muda. Memalaki uang. Alfa tak mau dan sempat menolak. Namun mereka dengan cepat menghabisinya.
Sehabis dihajar parah, Alfa tak langsung pulang. Ia mendekam dirinya dalam kelas. Menangis tak bersuara. Hidupnya kacau balau. Tak ada seseorang yang peduli.
BRAAAKKKKKKKK
Alfa tersentak, matanya membuka.
Mendapati sosok kakaknya yang tak ada belas kasih. Dari mukanya terlihat ia seperti marah. “LO KENAPA LAGI?!!”
kakaknya membentak keras. Alfa hanya bisa menunduk tak berani melawan.
“LO LEMAH BANGET SIH!!! APA-APA PASTI LANGSUNG KE RUMAH SAKIT. LO LAKI BUKAN?!!”
Kakaknya maju mendekati Alfa. Tangannya terangkat menepuk dada kiri Alfa keras hingga Alfa sedikit terdorong. “LO ITU BANCI HAH?!”
“BISA BAWA MOTOR GAK SIH LO? LETOY BANGET SAMPAI KECELAKAAN.”
Bisalah. Masalahnya ini dia udah 2 hari tidak pulang. Kakaknya kemudian melacak keberadaan Alfa memakai GPS.
“Madep ke gue.” Ucap kakaknya melembut.
Perlahan Alfa mendongak, matanya berkaca-kaca.
“Lo mulai besok, motor Lo gue jual!” Ucapnya serius sungguh-sungguh.
kakaknya tak langsung pulang ya malah mendekati jendela kamar rumah sakit, pandangannya pun tertuju ke luar jendela. Mata Alfa menangkap sesuatu yang ada di tangan kakaknya yaitu kresek hitam entah itu apa di dalamnya.
Kakaknya kembali berbalik. Mendekati Alfa. “Luka lo udah diobatin belum tadi pagi?”
Tumben kakaknya menanyakan sesuatu.
Alfa menggeleng. Susternya kemari hanya mengantarkan makanan dan memeriksa infus.
“Lepas perbannya.”
“Gak kak. Sakit.”
“Lemah banget sih Lo! Gue aja yang sering babak belur juga biasa aja tuh!”
Alfa menghela napasnya. Kakaknya tak tau perasaannya yang dialami Alfa. Pengalaman pertama kalinya kecelakaan bukannya disayang malah diomelin.
“Lambat! Sini!!”
Kakaknya menarik siku Alfa keras. Membuka perbannya tak hati-hati membuat lelaki itu meringis menahan perih. Sisa sakitnya pas kecelakaan membuatnya bergidik akan sakitnya itu.
Inikah cara lo ngungkapin rasa peduli nya ke gue?cara kasar dan bengis hmm? Dasar Alfian Mahendra.