
Rumah sakit kota menjadi tujuan Damar dan lain-lain untuk menghampiri Reni.
Diruang tunggu, disana lah Reni berada. Pakaiannya pun masih mengenakan Jersey dan celana training ketat.
Alfa sedang diperiksa oleh dokter. Sampai saat ini dokternya belum keluar dari ruangan tersebut.
Derap kaki mulai terdengar gemuruh. Melewati lorong panjang menuju ruangan yang dimaksud Reni. Mereka adalah Damar, Riko, Ryan dan Bagas.
"Reni!!" Panggil Damar dari arah lorong.
Reni menoleh, sahabat-sahabat telah datang. Kecuali Aria. Cowok itu sedang ada urusan dengan ibunya.
"Lama banget sih datengnya." Ujar Reni sedikit kesal. Dari matanya kelihatan sekali kalau dirinya habis menangis. Kantung mata nya sembab.
"Dih! Macet laah. Kaya gak tau kota aja." Timpal Damar tak mau kalah. Ia duduk disamping Reni.
"Gimana Alfa Ren?" Tanya Ryan. Perasaanya agak sedikit khawatir mengenai cowok itu.
"Belum ada kabar. Dokternya belum keluar." Reni menunduk lesu. Ia merasa tak enak dan bersalah atas apa yang dilakukan tadi pagi.
"Gue nyesel ngajak Alfa joging. Gue takut kalo dia kenapa-kenapa. Gue..." Kata-kata nya tak dapat dilanjutkan lagi keburu air matanya tumpah mengalir di pipi.
"Ssssstttt udah Ren. Jangan nangis. Alfa pasti baik-baik aja oke." Damar menenangi Reni agar sedikit merasa baikan. Tangannya diusap-usap ke punggung cewek itu.
"Iya Ren. Doain aja semoga Alfa gak kenapa-kenapa." Lanjut Bagas ikut menenangi. Tak tega datanya melihat seorang perempuan menangis.
Reni menyeka sudut matanya. Air matanya berkurang, semoga saja yang dikatakan teman-teman nya benar. Bahwa Alfa its okay.
"Makasih ya udah mau dateng." Ucap Reni seraya tersenyum manis. Walaupun bekas air matanya masih terlihat, sebisa mungkin ia menutupi kesedihannya lagi agar teman-teman nya tak ikut sedih juga.
"Kita-kita pasti dateng kok. Apa sih yang enggak buat sayang." Riko mengedipkan salah satu matanya genit.
"Ihhhhhh apaan sih Ko." Reni tertawa kecil melihat aksi Riko yang terlalu bar bar. Tak tau kondisi ini anak.
"Iya apaan sih lo Rik. Gajelas ye." Celetuk Bagas mengatai Riko.
Semuanya tertawa serentak. "****** lo Ko gak ada yang belain." Kata Damar.
"Gapapa. Ayo ledek gua sampe lo semua puas. Ayo!ayo dah." Bibir Riko dimajukan seperti orang kesal.
Ceklek
Pintu ruangan tersebut telah terbuka. Munculah seseorang berjas putih dan tak lupa juga berkacamata bulat. Ia seorang laki-laki. Reni segera berdiri dihadapan dokter itu.
"Gimana temen saya dok?dia gapapa kan?" Pertanyaan Reni berurutan. Dirinya sangat khawatir pada Alfa saat ini.
Dokter itu tersenyum. "Alfa tidak apa-apa kok. Dia hanya kecapekan saja. Dehidrasi."
Reni bernapas lega juga akhirnya. 'syukurlah Alfa gapapa. Gue khawatir banget sama Lo Al.' Batin Reni kesenangan.
"Saya boleh masuk gak dok?"
"Silakan. Saya pergi dulu mas mba nya." Dokter itu berlalu dari hadapan mereka.
Reni antusias sekali masuk ke dalam ruangan. Buru-buru ingin melihat keadaan Alfa saat ini. Teman-temannya mengikuti dari belakang.
"Alfa." Reni memanggil cowok itu. Alfa perlahan membuka matanya. Cowok itu menatap Reni seolah-olah bertanya apa?
"Maafin gue Al. Gue gak tau kalo lo dalam kondisi lelah. Harusnya tadi lo duduk aja gak usah ikut lari juga. Maaf..." Ucap Reni sedikit bergetar. Kali ini ia tak mau menangis dihadapan cowok itu. Matanya berusaha menahan genangan air di lupuk mata.
"Reni khawatir banget ye ama Alfa. Kayanya dia suka deh sama tuh cowok." Bisik Riko pada Damar. Suaranya lirih sehingga hanya Damar yang mendengar.
"Iye. Kalo jadi dah, Bisa ngamuk si Aria." Ucap Damar sedikit menahan tawa.
Riko pun kepancing akan suara Damar. Ia juga sama menahan tawanya. "Nah itu. Gua khawatirnya kita-kita yang jadi sasaran nya Aria. Siap-siap aje deh,"
"Siap-siap ape?"
"Siap-siap tali tambang buat ngiket Aria kalo ngamuk nanti." Reflek Damar menabok punggung Riko sangkin ingin tertawa nya. Karena tak mungkin juga harus ketawa-ketawa didalam RS. Makanya ia melampiaskan dengan tabokan ke punggung Riko.
Cowok itu mengaduh kesakitan. "Selo nyet!!ketawa ketawa aje gak usah ditahan. Ini punggung gua jadi sasaran lo mulu."
"Hehh!! Ribut Mulu kalian berdua. Tenang dikit ngape." Kata Bagas yang sejak tadi keusik oleh ulah Riko dan Damar.
"Tau nih. Main gaplok gaplokkan. Sana dah kalo mau gelut di luar aje." Ryan menggelengkan kepalanya heran.
"Maap maap. Cuma mau nabok nyamuk aje di punggung Riko. Ya nggak Ko?" Kata Damar sambil matanya mengode agar menjawab iya.
"I–iya. Hehehe." Terpaksa lah Riko mengatakan itu. Kalau tidak, habis sudah punggung nya nanti di gampar Damar lagi.
"Lo mending pulang aja Ren. Lo capek kan pasti, istirahat aja dirumah. Lagian lo besok mau tanding kan." Kata Alfa. Cowok itu tak mau orang yang disayang ini ikut-ikutan sakit sepertinya.
"Nanti lo disini sama siapa?"
"Ada kok. Abang gue nanti kesini." Alfa tersenyum. Meyakinkan agar Reni mau pulang.
"Yaudah deh. Cepat sembuh Al." Ujar Reni tersenyum. Ia melambaikan tangannya kemudian berbalik badan untuk berjalan menuju pintu.
"Gua balik bro. Sehat-sehat ye." Kata Damar ramah. Mau bagaimanapun Alfa juga manusia yang mau perhatian orang lain. Cowok itu sudah menderita disekolah karena sering digebukin oleh teman satu kelas. Damar tau itu.
"Iya gua cabut ya. Ati-ati." Kata Ryan.
Satu persatu dari mereka keluar dari ruangan itu.
Alfa terbawa suasana jadinya. Ternyata didunia ini masih ada orang-orang yang mau peduli dengannya. Seperti contoh nya Reni dan kawan-kawan nya.
Perlahan air matanya tumpah. Titik titik air mengalir membasahi pipi. Rasa sakitnya ternyata kambuh lagi. Demi bidadari yang ia sayangi, terciptalah sakit mendalam di raga nya. Hanya sebentar ia menghabiskan waktu berdua dengannya, namun takdir masih belum berpihak padanya.
Alfa benci dirinya sendiri. Kenapa ia selemah ini? Bagaimana bisa nanti kalau dirinya melindungi Reni? Aisshhh benci! Alfa benci kelemahan ini!
Besok hari ia harus datang ke pertandingan Akbar yang diselenggarakan pusat. Alfa harus menyemangati bidadarinya disana. Ia tak mau kehilangan momen itu. Berpura baik-baik saja, itulah yang terbaik.
Tangan Alfa memegang perut bagian kiri. Disana sakit sekali. Jahitan baru saja selesai, darah masih menyisakan jejaknya. Ia meringis menahan cabik-cabikan nyeri didalam perut bagian kiri.
Lemah...
Letih...
Tak berdaya...