
Hari yang dinantikan oleh para siswa pecinta olahraga telah tiba. Peserta lomba diharapkan berangkat pagi-pagi untuk menyiapkan peralatan.
Reni dan tim nya sudah siap sejak satu jam yang lalu. Jaket berlambang bola basket tertempel di punggung. Mereka brifing sejenak mengenai strategi ulang penyerangan.
Tim futsal kekurangan anggota. Dialah Aria. Cowok itu tak jadi ikut dalam pertandingan karena akan menemani ibu nya operasi hari itu juga. Damaresh, ketua futsal dadakan. Selain humoris ternyata cowok itu memiliki sikap kepemimpinan yang bagus juga.
Tim Bulu tangkis dan voli pun juga sama siap nya dengan yang lain. Sekolah dibebaskan lebih awal. Guru-guru mengijinkan peserta didik yang lain untuk menjadi supporter di GOR kota.
Reni, Tiana, Liana, Rish dan Adinda sudah diberangkatkan ke tempat penyelenggaraan. Hari ini adalah pertandingan basket terlebih dahulu. Hari pertama mereka memperjuangkan piala kejuaraan yang terpasang elegan diΒ lapisi kaca.
Reni memegangi wristband nya. Meraba dan mengelus serat halus benda itu. Bibirnya tersenyum kala mengingat cowok yang telah menemukan benda merah itu. Alfa.
Dipasanglah benda itu ke tangan. Dalam hatinya bertekad kalau ia harus membanggakan sekolahnya. Membanggakan tim dan teman-teman yang selama ini mendukungnya.
'Gue bakal raih piala itu. Buat Alfa, gue perjuangin kejuaraan itu untuk diri lo.' Batin Reni mengatakan seperti itu. Cewek itu menyeringai ngeri.
"PG mana PG?" Teriak salah satu orang ke gerombolan tim nya Reni.
"Noh si Dinda." Jawab Reni seraya menunjuk Adinda diseberang nya menggunakan dagu.
"Aish bukan PG yang itu. Poto Grafer maksud gue."
"Ouh." Reni bergumam oh panjang. Lalu ia menggidikkan bahunya tak tahu.
Pemuda itu mendesis kesal. Ia segera cabut dari situ mencari poto Grafer.
"Lian! Gue minjem iket rambutnya sini. Gue lupa bawa." Teriak Liana pada Rish disampingnya. Cewek itu berambut panjang sepunggung makanya suka ribet menata rambut.
"Rambut panjang amat sih! Potong napa. Ngerepotin orang mulu!"Β Ucapan Rish sangat ketus. Begitu-begitu ia tetap menyerahkan ikat rambut pada Liana dengan sedikit kesal. Cowok tomboy mah bebas. Hehe
"Idup lo nge gas an amat deh. Yang kalem napa. Bawaanya kesel mulu. Kudu diruqyah nih bocah, siapa tau kerusakan jin GOR. Hahahaha." Liana sambil menguncir rambutnya ala ekor kuda.
Rish melotot tajam ke arah Liana. "Sini balikin kuncirannya. Gak tau terimakasih lo!" Tangannya sekelebat menarik ikat rambut nya dikepala Liana. Sehingga rambut panjang cewek itu tergerai lagi.
Liana memekik kecil. "Iihhh apa-apaan sih! Udah di kasih malah di ambil lagi. Jilat ludah sendiri namanya."
"Bodoamat. Ludah gue sendiri juga."
"Yeee ludah ke buang terus di jilat. Jijik oiyy!!!" Liana berteriak tepat di hadapan Rish.
Rish tetap acuh tak acuh. "Bodoamat." Lalu ia berdiri meninggalkan Liana disana. Bosan berdebat dengan orang yang rempong.
"Yaahh Rish! Sini kunciran nya setaaann!" Teriak Liana kencang memanggil Rish agar mau berbelas kasih memberikan kuncirannya.
"Din, ada iket rambut gak?" Tanya Liana pasrah pada Adinda yang sedang bermain ponsel.
"Gak ada lah. Lo kan tau rambut gue Bob gini." Pandangan Adinda tanpa menoleh ke Liana. Matanya terfokus pada ponsel.
"Iya juga ya. Kalo Reni ada gak iket rambut?" Tatapannya beralih ke Reni. Cewek maniak olahraga itu sedang memasang sepatu basket.
"Gak ada sih. Cuma..."
"Cuma apa?" Tanya Liana antusias.
"Lo harus beli nasi Padang dulu deh."
"Kenapa nasi Padang?buat makan lo ya?"
"Nih kalo lo beli nasi Padang, dibungkus nya kan ada karet. Nah nanti bisa tuh di pake buat kunciran dodol!"
"Ihh gak mau ya pake karet itu. Nanti rambut gue rusak gimana?"
"Bodoamat." Reni lantas meninggalkan Liana yang masih berharap kunciran rambut. Polos abis itu anak.
πππ
Riuh tepuk tangan para penonton menggema di setiap penjuru ruangan stadion yang teramat besar. Para mereka akan menyaksikan pertandingan sengit antara SMA jawara basket di daerah tersebut.
Bangku tribun terpenuhi oleh ratusan umat manusia. Menyoraki tim masing-masing dan menyemangati para pemain nanti.
Kemudian datanglah pada pemain-pemain hebat dan jago nya dari kedua sekolah tersebut. Reni selaku ketua tim memimpin jalannya dan di ikuti oleh rekan-rekan satu regu. Begitupun pada lawan.
Reni, Tiana, Liana, Rish dan Adinda berbaris bersejajar sekaligus berhadapan langsung dengan tim lawan.
Jagung Reni berpacu sangat kencang. Ia deg degan sekali. Tentu saja ia grogi karena ini menyangkut reputasi sekolah.
Kedua tim saling bersalaman.
Rambut Bob nya dibiarkan saja tanpa dikuncir. Namun kali ini ia sengaja menjepitkan anak rambut disebelah kiri menggunakan jepitan rambut hitam. Badannya pun paling bagus posturnya.
Apalagi Tiana. Cewek itu menunjukkan gaya baru pada penambahan kali ini. Potongan rambut cepak ala laki-laki menjadi sorotan. Pasalnya, Tiana terkenal akan feminisme dalam penampilan. Mungkin karena jenuh pada style itu yang terkesan biasa-biasa saja.
Untuk Liana yang dari tadi mempeributkan ikat rambut, mau tak mau ia menggunakan karet gelang nasi uduk. Demi tanding basket ini, Liana mengorbankan rambut indahnya itu.
Rish, cewek itu tetap tajam tatapannya. Aura beringas selalu menjadi andalan pada diri Rish ini. Ada untungnya juga Rish judes itu, lawannya sampai menciut dalam hal nyali.
Dan yang terakhir Adinda. Rambutnya sama-sama Bob seperti Reni. Ia sengaja memakai kaos Jersey tanpa lengan. Kulit putih pada lengan terekspos mempesona membuat mata laki-laki menjadi jelalatan.
πππ
Detik demi detik telah berlalu. Pertandingan berlangsung secara sengit. Apalagi Reni selaku ketua sangat lincah dalam memainkan bola elastis itu.
"Rish! Back oiyy!" Teriakan Tiana pada Rish selaku Shooting Guard.
Cewek tomboy itu gesit sekali dalam melakukan teknik. Cekatan mengambil alih bola dari tangan lawan.
Reni si center dalam tim sangat bersemangat melakukan operan pada rekan-rekan nya.
Decitan sepatu mereka berbunyi terus menerus meramaikan kondisi pertandingan. Riuh cakap-cakap penonton sangat heboh, mendukung pemain idolanya.
Teman, kerabat dan kenalan Reni ikut serta menjadi supporter. Seperti Willa, Gina dan yang lain. Sahabat-sahabat di kelas, Damar, Riko, Bagas dan Ryan.
Adapula Gibran. Anak kuliahan yang sempat berkenalan dengan Reni ketik insiden di rumah sakit.
Mereka semua bersorak-sorai meneriaki nama tim sekolah. Menyanyikan yel-yel bersama untuk menyemangati peserta tanding. Para guru pun tak kalah heboh, mereka memakai kostum yang seragam berkarakter logo sekolah.
Pertandingan kali ini sangat kuat. Kedua kubu yang termasuk jajaran sekolah peraih medali olahraga terbanyak. Tak heran kalau selama ini mereka habis-habisan memperebutkan point.
Nampaknya lawan hendak menerobos area Tim Reni. Ia sangat ahli ternyata mengecoh dan menghindar dari serangan. Tiana menghalang-halangi seberusaha mungkin agar bola tersebut tidak masuk ring.
Namun nasib berkata lain, bola tersebut masuk ke dalam ring.
"Yess kena!whuuuuuuu!!" Seseorang yang telah memasukkan bola itu berteriak heboh. Ia segera berlari ke area nya sendiri. Bertos ria dengan lainnya. Supporter lawan bertepuk tangan meriah.
Tim Reni telah kebobolan dua point. Kali ini ia tak akan membiarkan bola tersebut masuk lagi ke dalam ring.
"Semangat guys. Jangan nyerah!" Reni menyemangati Tiana agar bangkit lagi.
Keringat Tiana mengucur deras, napasnya ngos-ngosan sekali. Demi sekolah dan keluarga, ia rela tubuh dan tenaganya terkuras habis.
"Semangat oiy! Pake strategi dua. Oke go go go!!" Ucap Tiana sangat profesional. Menepuk pundak teman-temannya agar tidak menyerah. Gadis itu tahu kalau tenaga nya sudah sangat loyo. Namun ini demi prestasi. Apapun dilakukan nya.
'Gue salut sama Tiana. Gak tega gue ngambil gelar ketua dari tim basket ini. Harusnya cewek itu, bukan gue.' Batin Reni sembari menatap Tiana penuh kekaguman.
Pertandingan kembali di suarakan. Langkah dan gerakan lincah yang di lakukan oleh Tim nya Reni sangat hebat. Adinda mengeshoot bola dari kejauhan namun gagal. Disana tiba-tiba lawan mengambil alih bola itu.
Kemudian bola ada ditangan Reni. Gadis itu hendak mengoper ke Liana, tiba-tiba kakinya ke injak kuat oleh lawan. Ia langsung mendesis kesakitan.
"Arrrhhhhh! Sakit nih oiyy!" Mata Reni melotot ke seseorang yang tadi menginjaknya.
Orang tersebut berdecih menyebalkan. "Gitu aja sakit. Lemah!!"
Reni langsung berdiri tak terima. "Awas aja lo! Gue cegat pulangnya."
Disana Bagas, dan Riko terkekeh akan aksi Reni yang mengeluarkan sifat garang-garang nya.
"Gak di kelas gak di area, galak Mulu ye. Heran gua." Kata Riko tertawa.
"Noh liat noh, lawannya langsung kicep. Baru diancem aja udah melempem. Ahahahaha." Bagas tak kuat menahan tawanya.
Disela-sela pertandingan, ada seseorang yang baru saja datang dengan kaos pendek dan celana selutut. Ia berjalan tertatih-tatih serasa seperti menahan sakit. Ia melewati jajaran orang di pintu sana. Langkahnya menuju bangku tribun paling depan. Dirinya ingin melihat bidadari strong yang sedang berjuang meraih kemenangan.
Reni di ijinkan break sebentar. Membuka sepatu nya, dan benar dugaan di dalam hati. Kalau kakinya berdarah akibat injakan yang sangat keras. Ia meringis ngilu.
"Aakkhhhh perih gila." Tangannya mengusap darah yang mengalir. Mengambil kapas dan plester disampingnya. Mengikatkan pada luka agar darah berhenti mengucur.
Saat hendak mengambil handuk kecil, tak sengaja matanya menangkap sosok yang selama ini membuatnya senang terus.
Matanya membulat sempurna. Tangannya mengambang di udara, sedangkan mulutnya menganga tak percaya.
"AβAlfa?!!"