Sport Girl

Sport Girl
part 47



Selesai sesi pengobatan yang dilakukan oleh Damar, Aria diminta menceritakan alasan kenapa tiba-tiba mengundurkan diri dari kapten futsal.


"Gua mau nemenin ibu gua yang akan di operasi lusa. Gua gak mau ninggalin dia selama sakit ini." Ucapan Aria terdengar getir sekali. Kepalanya tertunduk lesu.


Yang lain mendengarkan dan memperhatikan Aria penuh serius.


"Dari bulan lalu ibu gua udah divonis kanker paru-paru. Waktu kita mau latihan di GOR itu, gua dapet kabar kalo ibu gua kambuh. Gua..."


"Gua....gak mau ninggalin dia. Gua sayang banget sama dia." Air mata Aria tak lagi terbendung. Cairan bening itu lolos meluncur membasahi pipi. Namun menangis nya seorang pria, tak lah menangis meraung-raung. Cukuplah air mata yang jatuh tanpa suara.


Reni menepuk punggung Aria. "Sabar Ar. Maafin gue yang selama ini gak peka sama keadaan lo. Maafin gue Ar." Sebatu apapun hati Reni, ia tetap merasa iba apa yang Aria alami.


Damar mendekat. "Maafin gua juga bro. Udah salah ambil kesimpulan. Gua sama yang lain bakal rundingan masalah ini dah. Gimana solusinya."


"Nah iya. Lo temenin nyokap aja. Kita nanti bilang sama pak Jaya." Timpal Ryan. Cowok paling waras diantara mereka.


"Gimana kalo malem ini kita kerumah sakit?setuju gak?" Ajak Riko penuh semangat 45.


"SETUJUHH!!!!" Ucap mereka serempak yang tak kalah semangat.


Aria perlahan tersenyum. Moodnya mulai membaik. Mereka yang telah menemani selama satu tahun penuh. Ternyata kesedihan yang selama Aria pikul, terbagi pula ke mereka. Senang. Satu kata itu kini tengah menggambarkan suasana hati Aria.


"Makasih ya. Gua seneng punya temen macem lo semua." Ucap Aria tersenyum senang.


"Wahh! Harus seneng dong Ar. Kita-kita ini limited edition. Cuma ada satu. Apalagi gua, udah ganteng, ramah, baik pinter pula." Ucapan Riko ujung-ujungnya nyeleneh juga. Memuji dirinya sendiri dengan kepedean tingkat dewa.


"Iye pinter. Yang ulangan mat nye dapet 85 mah bebas." Celetuk Bagas agak menyindir. Tatapannya dialihkan ke sisi lain.


"Ah sial lo Gas. Sirik aje lo. Udah lampau juga pake diungkit-ungkit segale." Riko merengut sebal. Bibirnya di monyonkan kedepan.


Damar membalangi kulit kacang ke muka Riko. "Gak usah sok imut gitu dah mukanya. Geli gua. Jan gegayaan moncongin bibir, minta cium lo?" Mata Damar melotot kejam.


"Apaan si Mar. Serah gua dong. Bibir gua ini. Ngapa jadi lo yang sewot." Riko tak mau kalah.


"Ngaca dah Ko ngaca. Bukannya imut malah bikin eneg. Jeleh guaaaa." Ujar Damar yang berlagak ingin muntah.


"Haaaaakhhh Janc*k lo!" Riko mengumpat kasar. Tatapannya kesal ke Damar.


"Ahahahahhahahahahha."


📌📌📌


Waktu petang hari dinikmati oleh seorang pemuda berparas tampan. Kini kacamatanya dilepas. Lagi-lagi balkon adalah tempat paling nyaman dan andalannya selama waktu luang.


Pikiran pemuda itu melayang-layang saat hari-hari sebelumnya diisi oleh perempuan bak malaikat dihidupnya.


Tak sadar senyuman itu terbit di bibir pink itu.


Entah sejak kapan hidup Alfa mulai berasa dan berwarna akan sosok wanita itu. Tak bisa dipungkiri kalau Alfa telah menaruh hati ke Reni.


Renita Faradila. Gadis kuat tak pantang menyerah. Berprestasi dalam hal olahraga, disayang dan dihormati oleh warga sekolah. Kehidupan wanita itu sepertinya tampak bahagia.


Disukai orang sana-sini karena keramahannya.


Ah Alfa. Lelaki itu jadi minder seandainya dibandingkan Reni. Kalah jauh dirinya. Kuat? Tidak. Pintar?lumayan lah. Ramah? Tidak. Banyak teman? Tidak.


Lalu apa yang 'iya' dalam dirinya ini?


Pening Alfa memikirkan kelebihan dirinya.


Teman, keluarga bahkan tetangga nya menganggap bahwa Alfa itu sombong, tak mau bergaul. Menghindar dari orang-orang dan tak mau menggabung. Jangankan bergabung, bertegur sapa saja ia enggan.


Tentu saja dibalik sikap Alfa yang seperti itu, ada alasan yang cukup jelas. Alasan tak mau bersosial dengan siapapun. Alasan itu selalu tersimpan didalam dirinya dan hanya untuk dirinya.


"Joging? gue itu lemah asal lo tau Ren." Gumam Alfa menatap jalanan dari atas.


Laki-laki itu sebenarnya malu harus jujur, namun demi orang terkasih, ia rela raga nya terpontang-panting nanti.


Hendak nolak ajakan Reni, lagi-lagi hati dan otak tak pernah satu tujuan. Di hati berkata ini, di otak berkata itu. Ah susah.


Alfa memutuskan untuk duduk. Kakinya tak kuat menopang tubuhnya untuk berdiri terlalu lama. Rasanya kelu dan lemas.


Teh hangat dimeja itu di seruput nya perlahan. Besok nanti apa yang harus ia lakukan agar tak terlihat lemah.


"Gue benci keadaan tubuh gue sendiri. Kenapa harus gue Tuhan?"


Hatinya sesak. Ingin rasanya menangis meluapkan apa yang dirasanya sekarang.


Ting


Ada notifikasi masuk ke dalam ponsel Alfa. Awalnya laki-laki itu tak menghiraukan. Pikirnya mungkin itu pesan dari operator. Kemudian nada dering yang sama dari pesan awal berbunyi lagi, lantaran penasaran Alfa membuka ponselnya.


Hatinya menggebu-gebu tak karuan. Dahsyat sekali pengaruh pesan itu terhadap organ tubuh Alfa, terutama jantung.


Reni F.


Hei Al!


Reni F.


Cuma mau ngingetin. Jangan lupa besok joging bareng di GOR. Gue tunggu. See u👋


"Astaga. Kenapa sama jantung gue? Ini efek penyakit atau cinta?" Kata Alfa senang. Tangan kanannya memegang dada kiri yang berdegup sangat kencang. Oh no!


Tak lupa dirinya membalas pesan itu. Tangannya sampai grogi gemetaran terlampau senangnya. Beberapa kali salah memencet huruf. Aduh Alfa.


^^^Alfa^^^


^^^Iya. Mana lupa gue. ^^^


^^^See u too^^^


"Sialan. Deg-degan banget gilaaa." Alfa tersenyum lebar. Napasnya tiba-tiba seperti orang baru lari.


Senangnya bukan main. Seumur hidup baru pertama kali merasakan cinta dari seorang perempuan yang sama sekali tak ada hubungan darah dengannya.


Wanita idola yang diimpikan sejak menjadi siswa SMA tersebut.


Alfa tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan menuju lemari. Dibongkar-bongkar lah isinya guna mencari stelan baju olahraga.


"Mana sih seragamnya?"


Tangannya mengobrak-abrik seluruh kolom lemari. Tak ditemukan juga stelan olahraga.


"Gue punya stelan olahraga gak sih?selama ini kan gue ngurung diri, kayaknya gak punya deh." Gumam Alfa mengingat-ingat.


Alfa menepuk jidatnya. "Ah iya. Mana punya gue. Jangankan olahraga, kaos Jersey aja gak punya."


"Minjem di bang Fian boleh gak ya?"


"Tapi takut nanti dimarahin. Ahhh bodoamat dah. Masalah dimarahin urusan belakangan." Alfa keluar kamar mencari sosok kakaknya yang garang macem singa itu.


Tepat di depan televisi, laki-laki garang itu sedang berkutik di laptop. Entah apa yang sedang dilakukannya.


Alfa mendekat dengan perasaan takut. Perlahan-lahan namun pasti. Sampailah dibelakang kakaknya itu. Alfa mulai memanggil.


"Bang."


Fian tak menoleh sama sekali.


"Bang, gue mau minjem Jersey boleh nggak?"


Fian berhenti sejenak. Ia mendengar, lalu kepalanya di tolehkan ke belakang. Tatapannya selalu tajam, bak elang siap menerjang mangsa.


"Buat paan?"


"Gu–gue mau olahraga. Tapi gak punya Jersey, makanya minjem sama Abang." Ujar Alfa sedikit gugup.


"Gaya banget pake sok-sokan olahraga! Udah dasarnya lemah ya lemah. Mau diapain juga gak bakal berubah." Ucapan Fian benar-benar mengenai hati. Sindiran pedas darinya memang deg sekali, kalau tak kuat mentalnya udah auto depresi. Untung saja Fian sudah kebal akan sindiran itu.


"Boleh bang?gue minjemnya gak lama-lama kok. Nanti gue cuci deh."


"Sana ambil sendiri! Awas kalo gak di cuci. Mati lo!!" Ketus Fian. Akhirnya cowok itu mau memberikan pinjaman Jersey.


Alfa bernapas lega. Ia berbalik badan pergi menuju kamar Fian.


"Eh bentar."


Langkah Alfa tiba-tiba berhenti. Aura ketegangannya kembali lagi. Ada apa ini Fian memanggil lagi?


"Lo mau olahraga sama siapa?"


"Temen bang."


"Cewek?"


'Kenapa dia tau?' batin Alfa.


"I–iya."