Sport Girl

Sport Girl
63



" Bagi rendang nya Mar. Masa gua daun daunan gini. GC dah ish!!" Riko merengut kesal, rendang tinggal satu yang ada di piring langsung direbut Damar.


Setelah dari pemakaman, Aria mengajak teman-teman nya untuk makan-makan dulu di rumahnya. Budenya sudah memasakkan beberapa hidangan bagi yang melayat.


Aria dan teman-teman memisahkan diri, mereka makannya di gazebo luar. Katanya canggung jika harus makan satu ruangan dengan keluarga Aria.


"Masih banyak Ko. Gua ambilin lagi nih." Aria bangkit dari duduknya. Masuk ke dalam rumah guna mengambil rendang.


Riko menyengir tak berdosa. "Hehehe. Makasih Ar. Lo emang temen gua yang paling pengertian."


Damar berdecih. Rasanya mual mendengar kata-kata dari Riko barusan. Jurus pujian tersebut sudah biasa keluar dari mulut Riko agar si Aria mau terus-terusan berbaik hati padanya.


"Kalo kaya gitu mah dianggep prend. Dasar kadal luwak lo!" Damar melempar biji jeruk ke muka Riko. Iseng.


"Ngapa dah. Iri bilang sahabat." Ujar Riko tak mau kalah dengan Damar.


"Yailaah. Nggak ada hubungannya Lol sama perkataan gua." Bala Damar. Berbicara dengan Riko membuang tenaga saja.


"Lah emang kagak ada. Kaya lo sama Tiana, nggak ada hubungan apa-apa." Setelahnya Riko tergelak puas. Menertawakan muka Damar yang berubah menjadi asam.


Bagas pun ikut tertawa gara-gara Riko. "Lah iya ya. Kasian amat lu Mar. Nggak dianggep, padahal udah lama ngejar-ngejar. Eh tetep aja nasibnya."


"Dasar lo temen rese!! Liat tuh mukanya tambah asem. Mau gua beliin pewangi Mar biar nggak asem?" Ryan malah sengaja kayaknya membuat suasana hati Damar semakin gundah.


"Lo malah manas-manasin Damar b*blok!!!hahahahhaha." Bagas semakin tergelak tak karuan.


"Sialan lo semua ngecengin gua. Awas aja kalo gua jadian sama Tiana. Ngiri dah pasti yakan." Tantang Damar percaya diri.


"Tapi kaya nya gak mungkin deh Mar. Tiana kan nggak boleh pacaran selama sekolah. Mau lo berhadapan sama bapaknya?" Ujar Reni. Ia tahu alasan itu dari sumbernya langsung yaitu Tiana. Ayah dan ibu nya menolak keras kalau anaknya ketahuan pacaran.


"Nggak ngaruh. Mau bapaknya galak kek, kejem kek. Bakal gua temuin dah." Damar memang tak segan-segan bicara nya. Belum tahu dia galaknya om Galih itu seperti apa.


Riko tersenyum mengejek. "Omdo wuuhh omdo! Buktiin. Jangan bac*t nya aje yang di gedein."


Tak lama Aria datang membawa sepiring penuh berisi rendang. Aromanya terasa sekali hingga perut Riko meronta-ronta ingin diberi asupan rendang.


"Emang." Riko malah berucap seperti itu hingga Reni bergidik jijik.


"Nih. Silakan yang mau nambah tinggal ambil." Kata Aria mempersilahkan.


Riko langsung mencomot rendang itu. Ia mengambil yang paling gede dan berbumbu pekat.


"Wah ambil nya gede. Dasar rakus!!" Bagas menonyor kepala Riko gemes.


"Bodoamat."


Mereka kembali lanjut makan dengan mengambil rendang masing-masing satu.


"Temen lo apakabar?" Tanya Aria tiba-tiba.


Semuanya menoleh ke Aria. Sedangkan pandangan Aria tertuju pada cewek maniak olahraga alias Reni.


Reni mendongak. "Hah? Temen gue?"


Aria mengangguk.


"Siapa?" Reni benar-benar bingung. Teman siapa? Masalahnya ia memiliki teman yang bejibun, tak mungkin harus menjelaskan satu-satu.


"IPA 1. Yang pake kacamata. Dia abis dari RS kan? Kenapa tuh?" Dari nada-nada nya, Aria sedikit tak suka pada Alfa.


Jdeeeerrr.


"EKHEM!!!!" Bagas sok-sokan berdeham keras memberi kode. Anehnya lagi teman-teman nya paham akan kode yang diberikan Bagas kecuali Aria dan Reni.


Tertawa garing. "Iya. Dia abis dari RS gegara dehidrasi sama kecapekan. Btw kok lo tau?"


Aria mengalihkan mukanya arah lain. Ia menunduk hendak menyiapkan nasinya. Namun sebelum itu ia berujar. "Gua liat lo sama yang lain bawa Alfa yang lagi pingsan."