Sport Girl

Sport Girl
part 46



Sesampainya Aria dirumah Bagas, cowok tersebut tersentak kaget. Pasalnya banyak itungan cowok tergeletak di gazebo milik sang empunya. Berbagai macam gaya terekspos oleh mereka. Bagas dan Damar selonjoran sambil bermain game online. Sedangkan Ryan, Riko dan Reni bermain kartu seperti biasa. Namun yang membuat lucu adalah posisi Riko. Cowok tersebut berbaring telungkup dengan kaki disandarkan ditiang gazebo.


"Ren."


Semua aktivitas yang ada didalam gazebo terhenti. Reni, Bagas, Riko, Damar dan juga Ryan mendangkal menatap si sumber suara. Kartu yang tadi dipegang Riko reflek jatuh berserakan.


"Katanya cuma ada Bagas dan lo?" Tanya Aria sedikit kecewa. Sepertinya dari raut wajah Aria tampak tidak nyaman akan kehadiran lainnya.


Reni bergegas menghampiri Aria. "Maaf Ar. Gue gak bermaksud bohongin lo kok. Beneran sumpah," kedua jari Reni membentuk huruf V.


Aria masih terdiam tak ada suara.


Damar turun dari gazebo, langkahnya mendekat ke Aria. "Gini bro. Reni ngomong kaya gitu waktu di telepon itu gua yang nyuruh. Jadi kalo mau marah, sama gua aja."


"Kalo misal Reni bilang disini ada kita-kita, pasti Lo kagak bakal kesini. Gua apal sifat Lo yang suka nyembunyiin masalah. Gua pengen lo tau kalau kita-kita ini juga teman lo. Sahabat lo. Lo punya kita-kita semua. Jadi pliss lah seandainya lo ada masalah, ungkapin ke kita semua. Sahabat lo bukan cuma Reni doang. Gua, sama yang lain pun sahabat Lo juga Ar."


Penjelasan Damar benar-benar mengenai hati sekali. Ucapan laki-laki itu dewasa dari pada yang lain. Mereka semua terdiam meresapi apa yang Damar katakan tadi.


Aria terdiam. Dirinya kalah telak oleh ucapan Damar. Namun ada benarnya juga Damar, mereka sudah sama-sama sejak kelas 10.


Tangan Damar terangkat menepuk punggung Aria pelan. "Kita sahabat lo bung. Ceritain aja, siapa tau kita-kita bisa bantu."


"Benar Ar. Lo gak usah sungkan sama yang lain. Kita sahabat kan? Teman kan?" Sambung Reni. Ia meyakinkan cowok berparas tampan itu.


Ryan kemudian turun dari gazebo, kakinya melangkah mendekati Aria, Damar dan Reni disana. Disusul oleh lainnya.


"Sahabat dong kita." Ryan merangkul pundak Aria dan Damar. Yang lainnya ikut menyambar pundak disebelahnya hingga membentuk lingkaran.


Perlahan-lahan bibir Aria terangkat keatas. Rasa senang kini melandanya. Mereka adalah orang-orang yang baik.


Sahabat sesungguhnya, mau mendengar keluh kesah secara suka rela. Memberi nasihat dan solusi kala ada hambatan masalah.


Definisi sahabat bukan melulu soal hang out, hura-hura, dan senang-senang bersama. Namun sahabat itu mampu meminjamkan pundak disaat kesedihan, kesuraman melanda. Mampu menghibur dan meringankan beban. Paling tidak mendengar keluh kesah diantara mereka


Terbaik lah untuk mereka. Semoga Tuhan mempertemukan satu sama lain di surganya. Aamiin...


"Eh udah sengak. Napas gua sesek dodol!" Riko memberontak melepas rangkulan. Namun dicegah oleh Damar, cowok berotot mempererat rangkulannya di pundak Riko.


"Ahahaha rasakan tuh kampret gua yang bacin itu." Ujar Damar sambil tertawa.


"Aaakkhhh pengak!!kagak mulut kagakt kampret. Sama-sama bau dah!" Riko mendesah kesal.


..."Ahahahahhahaha." Yang lainnya tertawa keras akan tingkah Riko yang absurd bin aneh....


📌📌📌


Disinilah mereka berenam berada. Berlokasi sama yaitu didalam gazebo rumahnya Bagas. Kini Aria tampak lebih baik dari awal kedatangan nya.


"Ar. Katanya lo mau cerita." Kata Reni meminta tujuan utama Aria datang kesitu.


"Iye. Ada apa sih emang?" Celetuk Ryan seraya memakan sate ayam.


Aria menatap wajah teman-temannya satu persatu. Entah, wajah Aria langsung berubah seperti sedih.


"Gua.."


"Gua mengundurkan diri jadi ketua tim futsal buat tanding nanti."


"HAH?!!!"


"Lo gila Ar? Tandingnya beberapa hari lagi. Dan lo gampang banget bilang mau ngundurkan diri. Ngotak dikit dong." Reni terserang emosi yang menggebu-gebu. Aria ini aneh, ingatannya kembali ketika hari dimana Aria mulai berubah menjadi lebih banyak diam.


Reni memilih pergi meninggalkan bangkunya dan menuju tempat duduk Aria. Sepertinya pemuda itu sedang ada masalah namun enggan bercerita dengan siapapun. Sebagai sahabat yang baik Reni berencana menghibur agar suasana hatinya agak membaik.


"Aria."


Pemuda yang disapa nya tak menoleh ataupun bergeming. Fokusnya kini pada sebuah buku catatan matematika.


"Kenapa dadakan gini sih? Pasti lo ada problem kan? Cerita sama kita Ar."  Hingga Reni terbawa suasana. Matanya berkaca-kaca seperti ingin tumpah luapan air matanya.


Aria menghembuskan napas beratnya. Pandangan cowok itu tertuju ke atas. "Gua emang ada masalah. Dan kalian gak perlu tau." Katanya. "Intinya gua mau cabut dari tim."


Bughhh


Damar memukul wajah Aria geram. Emosinya naik ke ubun-ubun. Napasnya tersengal. Cowok itu sempat menahan gejolak emosi tadi, namun mendengar ucapan terakhir dari Aria, lolos sudah tinjuan mengenai wajah tampan Aria.


"LO WARAS HAH?!! Ninggalin tim tanpa alasan yang cukup jelas. Egois itu namanya.." Bentakan Damar sukses membuat lainnya bungkam.


Aria mendangak. Kepalan tangannya ancang-ancang bersiap melayangkan tinjuan balik di wajah Damar.


Bugh


Satu tinjuan mendarat pula di Muka Damar. Hingga cowok berotot itu tersungkur ke bawah.


Reni menutup mulutnya tak percaya. Ia segera menghampiri Aria. "Ar udah. Lo jangan gitu dong." Reni tak tahu harus bilang apa.


"Enak banget lo bilang kalo gua egois. Lo gak tau apa-apa. Jangan asal bicara mulut lo." Tukas Aria tajam menatap damar penuh amarah. Wajahnya merah padam, kemarahannya mencapai titik teratas.


Damar menyeka mulutnya yang berdarah. Mantap juga pukulan Aria, hingga mulutnya mengeluarkan darah.


"MAKANYA CERITA SINI! LO NYA AJA DIEM-DIEM GITU. MANA TAU GUA MASALAHNYA APA." Damar berteriak keras. Susah berhubungan dengan cowok batu cem Aria.


Ryan membantu damar bangkit. "Udah Mar. Lo jangan emosi juga dong. Yang satu emosi, yang satu nya lagi juga emosi. Kapan kelarnya coba."


Cowok itu tak menjawab.


Reni mencengkram erat lengan Aria. Takut bila nanti tinjuan mendarat lagi ke wajah Damar. "Tenang dulu oke. Kita bicarain baik-baik. Gak usah adu fisik deh, gak suka gue liatnya."


"Duduk gih. Yang alus ngomong nye. Jangan pake tangan, kasian ntar pada bonyok. Gak ganteng lagi dah." Ucap Bagas sedikit bercanda. Suasananya abis tegang, sedikit gurauan lah.


"Nih minum es kelapa nya mumpung masih dingin. Biar segeran dikit, hehe." Cengiran tercetak indah di bibir Bagas.


"Biar adem ayem macem di pantai. Setannya masih ngrubeng nih diantara kalian. Panas dah jadinya." Timpal Riko lebih nyleneh.


Aria bangkit guna menggaplok mulut bar bar milik Riko. Namun langsung ditahan oleh Reni. "Eh eh udaah. Jangan didengerin Ar. Riko emang setan bener dah."


Tangan Riko dijadikan satu. "Hehe selo Ar. Kasihanilah muka ganteng gua. Bisa berantakan nanti kalo tinjuan lo melayang kena muka gua."


"Lo yang setan nyet!" Ketus Aria tajam. Matanya menyorot aura-aura murka.


Seketika nyali Riko menciut. "Iya iya gua setannya. Apa kata lo aja dah ah."


Bagas bangkit menuju dalam rumahnya mengambil kotak p3k. Begitu-begitu Damar babak belur karena tinjuan maut milik Aria.


Suasana kembali hening.