Sport Girl

Sport Girl
part 28



...Orang seperti aku ini bisa apa. Lemah tak berdaya. Sakit yang terus aku rasakan setiap hari. Entah suatu saat nanti aku masih bisa merasakan sakit ini atau tidak. Alfa.,.,.,...


"Lo salah Je. Mau cupu kek udik kek, kan itu bukan urusan lo. Lo juga gak berhak ngatur-ngatur gue deket sama siapa. Itu hak gue dong." Reni menasehati Jeje habis-habisan ditengah KBM. Bisa-bisanya Jeje menjudge seseorang secara sembarangan, dia pikir oke..


Ketika baru dimulai pelajaran, Jeje menceritakan kejadian tadi ketika Reni keluar menemui Alfa. Reni sedikit tak percaya bahwa Jeje bisa menilai seseorang begitu buruk. Reni kenal betul bahwa Jeje bukan orang seperti itu. Jeje yang ceria, receh akan candaannya dan riang tak mungkin berbicara menjelekkan seseorang. Ya walaupun asal nyeplak tuh orang, gak mungkin sekali dia bicara begitu. Reni kecewa padanya.


Selama Reni menasehati Jeje,cewek itu diam tak banyak bicara, kepalanya di tundukkan. "Maafin gue. Lo jadi kesinggung gini."


"Lo minta maafnya bukan ke gue doang. Ke yang lain juga. Mereka jadi menjauh kan? Gak mau deket-deket lo lagi."Β  Jeje mendongak, matanya berkaca-kaca hampir menangis. Reni jadi tak tega melihatnya.


"Jangan sedih Je, gue kan jadi ikut sedih nih." Reni mengelus punggung Jeje agar merasa tenang itu anak.


"Nanti temenin gue ya. Gue gak berani sendirian." Reni membalasnya dengan senyuman.


πŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“Œ


Bel pulang berdering...


Siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Mereka bersemangat 45 saat menyusuri koridor. Sudah menjadi kebiasaan umum para pelajar, bel pulang adalah masa kebangkitan semangat nomor 1. Yang tadinya sedang tidur dikelas, saat mendengar bel, seketika langsung bangun dan menggendong tas. Memang pendengaran nya sangat tajam akan waktu pulang.


Berhubungan ada turnamen bulan depan, seluruh bidang olahraga mengadakan latihan bersama di lapangan masing-masing. Reni selaku kapten basket akan ikut serta latihan bersama. Namun sebelum itu, ia harus mengantar Jeje bertemu kawan-kawannya untuk meminta maaf atas perihal tadi siang.


"Gue minta maaf ya atas ucapan gue tadi istirahat. Gue bener-bener kelewat batas banget. Maafin gue udah nyinggung perasaan lo." Jeje tertunduk pasrah, matanya mulai berkaca-kaca namun tak mengeluarkan air mata.


Teman-teman Reni yang lain hanya memerhatikan. Kemudian Aria mendekat agar berjajaran dengan Damar. "Gua saranin sih mending lo minta maaf nya ke Alfa. Secara objek yang lo omongin pas tadi siang itu si Alfa."


Jeje mendongak menatap Aria. "Ke A–Aria?


Aria dan Damar mengangguk bersama. Seketika tatapan Jeje berubah. Ia seolah-olah tak mau menghadap Alfa, apa karna ia takut atau apa?


"Gue..gue gak mau ketemu dia." Jeje akhirnya menangis sesenggukan. Tangannya mengelap mata yang membanjir. Karena Reni tak tega, ia mendekat dan mengelus punggung Jeje.


"Udah Je, jangan nangis. Nanti gue temenin oke." Reni berujar supaya Jeje tenang dan reda tangisannya.


"Bukan gitu Ren. Gue masih sakit hati gara-gara dia." Ucap Jeje diiringi tangisan. Dari nada bicaranya ia benar-benar sakit hati atas masa lalu Jeje dan Alfa.


"Ha?!!! maksud lo?" Tanya Riko yang tiba-tiba mendekat. Cowok itu sepertinya kepo akut deh.


"Dulu gue sama Alfa sempet pacaran."


"APA?!!!"