Sport Girl

Sport Girl
Part 21



*Smash and block. Love and patient*


 


 


Sekumpulan anak laki-laki menggerombol membentuk lingkaran dengan satu orang ditengah nya. Pak Handoko selaku pembina futsal sedang memberi wejangan mengenai lomba Minggu depan. Diantara mereka ada Aria, Bagas, Ryan dan lainnya. Tim futsal Stix namanya. Tim yang terdiri dari kelas X dan XI. Beberapa kejuaraan sering mereka dapatkan di tingkat kabupaten bahkan provinsi.


Bulan depan ada event besar di kota. Tentu saja pihak sekolah tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memperoleh piala-piala kejuaraan. Banyak perusahaan yang mensponsori nya. Tentu saja hadiahnya tak main-main. Event tersebut adalah event olahraga untuk kalangan SMA/SMK. Cabang event nya terdiri atas pertandingan futsal, bulu tangkis, voli dan basket. Baik putra maupun putri bisa mengikutinya kecuali pada event pertandingan futsal.


"Penyelenggaraan nya itu bertahap. Untuk Minggu pertama adalah pertandingan futsal. Minggu kedua untuk bulutangkis. Dan begitu seterusnya." Ujar pak Handoko memberitahu. Semua siswa mengangguk paham. Guru itu bertampang serius jika mengenai pertandingan.


"Aria. Saya pilih kamu secara langsung untuk menjadi ketua tim ini. Jangan kecewakan saya. Kamu siap Aria?!" Pak Handoko menatap Aria secara tajam.


Pemuda bermata elang itu berdiri tegap. "Saya siap pak. Saya akan berusaha agar tim ini memasuki babak final." Jawab Aria penuh kesungguhan tanpa keraguan kedikitpun.


Pak Handoko mengangguk seraya mengelus janggutnya. "Bagus. Lakukan yang terbaik untuk sekolah kita."


Aria kembali duduk. Tatapan teman-temannya begitu mengaguminya. Tak salah jika guru olahraga itu memilih pemuda yang satu ini. Aria dikenal karena kegigihannya dan kerja kerasnya. Ia tak banyak bicara. Santai dan cerdas di bidang akademik. Sikapnya yang dewasa membuat dirinya dikelilingi banyak teman.


"Itu saja yang saya sampaikan. Setelah pulang sekolah kita adakan latihan rutin di lapangan biasa. Selamat siang." Pak Handoko pergi meninggalkan gazebo besar.


"SELAMAT SIANG PAK." Teriak Damar kencang hingga membuat guru itu menoleh sinis.


"Eh gila! Yang sopan lo sama guru. Entar gak dimasukin ke inti lah baru tau rasa." Kata Ryan mengingatkan sahabatnya ini yang kurang asupan tata krama.


"Hehe. Iya yah baru nyadar gua. Mati lah kalo gak ikut inti. Niatnya mau instastory pas hari H nya pake Jersey. Kan keren noh."  Damar menaikan kedua alisnya bangga. Membenarkan kerah seragamnya keatas.


"Lah bodoamad. Mau instastory kek, apa kek. I don't care." Ryan cabut dari hadapan Damar. Lama-lama bisa naik darah kalau terus-terusan diladenin.


Gazebo masih dipenuhi anak-anak futsal. Entah itu merokok, bercanda ria tauapun tidur dibawah rindangnya pohon dan angin semilir. Jam 12 siang adalah jam-jam rawan. Perut yang mulai menyeruak minta diisikan. Mata yang terkantuk-kantuk minta dipejam. Dan otak yang kadar konsentrasi nya mulai menurun. Mereka sengaja tak kembali ke kelas untuk melanjutkan mata pelajaran. Dengan satu alasan yaitu MALAS.


Pelajar jaman sekarang memang kelakuannya sulit dimengerti. Mintanya yang enak-enak dan gak mau ribet. Padahal sekolah sudah memfasilitasi dan aturan KBM dengan jam istirahat yang cukup. Namun mereka masih saja protes persoalan jam istirahat dan jumlah tugas.


Namun tak semua pelajar pun tidak begitu sepenuhnya. Adapula yang rajin sekali sampai-sampai mengisi jam istirahatnya guna membaca buku atau mengahafal rumus.


Kembali ke area gazebo, biasanya setelah pembinaan dari guru ekskul Aria segera kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Ia tak mau rugi satu mapel pun. Namun kali ini pemuda itu bersandar dengan mata terpejam. Entah itu tidur apa. Memang hawa disini cocok sekali untuk tidur siang sehingga membuat siswa-siswa lain betah dan nyaman.


"Ar. Tidur lo?" Bagas menepuk punggung Aria pelan. Mungkin saja Aria terbawa suasana sampai-sampai terlelap.


"Ha? Gak kok." Aria membuka matanya.


"Terus? Ngapain kalo bukan tidur?"


"Merem."


Bagas merengut jengkel. Ditanya benar-benar malah mendapat respon yang mengesalkan.


Aria melirik arloji hitam ditangan kiri. Menunjukan pukul 12 lewat. Ia bangkit dari duduknya berencana kembali ke kelas. "E-eh mau kemana lo? Aish disini aja lah Ar." Bagas menahan tangan Aria.


"Ada ulangan matematika abis ini. Gua mau belajar biar nilainya gak kaya lo. 60 mulu." Ucapan Aria memang tajam. Menusuk ke relung hati terdalam.


Bagas tertawa."Yah dah gapapa lo hina gua. Asal ntar pas ulangan gua nyontek ke lo. Biar gak 60 mulu. Oke pak bos?"


"Idih ogah."