
"Jelas, kita adalah keturunan Jepang, dan kita sudah menguasai beberapa teknik yang diajarkan oleh nenek moyang kita, walau belum semuanya." Jelas Tristan kepada Lauren.
"Kalo gitu, apa Galang bisa menjadi manusia normal?" Tanya Lauren dengan nada serius.
"Gak bisa, dia udah terhubung dengan keluarga ini." Kata Tristan dengan serius.
"Gue mau Galang jadi manusia normal, biar dia gak sakit terus." Kata Lauren dengan kesal.
"Kenapa Lo mau jadikan dia manusia normal?" Tanya Tristan dengan serius.
"Karena gue gamau liat Galang sakit-sakitan terus, dan selalu dimanfaatkan oleh teman-temannya untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya." Jelas Lauren dengan menangis.
"Kenapa Lo nangis?" Tanya Galang dengan mengusap rambut Lauren.
"Gue mau Lo baik-baik aja, gamau Lo sakit terus, gue gamau Lo kenapa-napa...... hiks." Kata Lauren dengan memeluk Galang.
"Sudahlah Lauren, gue emang gabisa menjadi manusia normal, tapi gue bakalan menjadi manusia normal hanya untuk Lo." Kata Galang dengan berusaha menenangkan Lauren.
"Gamau! Gue pokoknya mau Lo menjadi manusia normal kayak gue." Teriak Lauren dan nampak marah.
"Tenang, ada satu cara untuk menjadikan dia manusia normal, dengan mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia punya." Kata Tristan dengan Tersenyum kepada Galang.
"Bukannya teknik itu gak dibolehin sama nenek?" Tanya Galang dengan terkejut.
"Kalo emang dia mau Lo menjadi manusia normal, ya kita gunakan teknik itu." Jelas Tristan dengan melihat Galang dan lauren.
"Teknik apa? Gue mau dia segera menjadi manusia normal." Seru Lauren dengan Tersenyum.
"Om pernah melakukan teknik itu, dan setelah beberapa saat dia langsung meninggal karena daya tahan tubuhnya melemah." Kata Galang dengan melihat Lauren serius.
"Memang, apa motif Lo mau membuat Galang menjadi manusia normal?" Tanya Tristan dengan melihat Lauren.
"Karena gue gamau dia selalu ngilang secara tiba-tiba, mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, dan mempunyai daya tahan tubuh yang kuat." Jelas Lauren dengan Tersenyum.
"Hanya itu? Bukannya Lo suka sama Galang?" Goda Tristan dengan melihat Galang.
"Iyah, gue suka sama Galang, tapi entah kapan dia mau nembak gue." Sindir Lauren dengan kesal.
"Nanti kalo udah saatnya, gue bakal menyatakan semuanya ke Lo." Jelas Galang dengan Tersenyum.
"Kalo gitu, secepatnya lakukan teknik itu." Suruh Lauren dengan tegas.
"Maaf Lauren, gue gabisa menjadi manusia normal, tapi gue bakal berusaha untuk jadi yang terbaik buat Lo." Kata Galang dengan memegang pundak Lauren dan Tersenyum.
"Janji sama gue, jangan gunakan kemampuan Lo di depan gue?" Kata Lauren dengan mengacungkan jari kelingking.
"Iyah, gue janji kok." Kata Galang dengan mencium pipi Lauren sekilas, dan itu membuat wajah lauren memerah layaknya tomat.
"Ga-galang, gue pulang duluan yah." Kata Lauren dengan beranjak pergi, tetapi di tahan oleh Galang.
"Biar gue anterin Lo pulang, sekalian ketemu sama orangtua Lo." Kata Galang dengan Tersenyum.
"Yaudah, tapi naik motor kan? Jangan ngilang lagi, gue gamau Lo sakit." Kata Lauren dengan khawatir kepada Galang.
"Segitu sayangnya sama gue, sampe gamau gue kenapa-napa ya, cupcupcup." Ledek Galang dengan mengacak acak rambut Lauren.
Galang dan lauren pun pulang berdua dengan menggunakan motor milik Tristan, Lauren merasa sangat senang karena cowok yang dia sayang, walau hanya teman biasa, bisa menjadi manusia normal, walau belum sepenuhnya, tetapi Lauren merasakan kebahagiaan itu.
Beberapa Minggu kemudian, berita tentang Reyhan pacaran dengan Nikita sudah tersebar luas dimana-mana dan itu membuat Nikita menjadi sangat terkenal pada saat itu, sekarang Reyhan sudah berada di halaman depan rumah Nikita, dia memanggil Nikita dari depan rumahnya dengan sedikit berteriak karena akan berangkat bareng ke sekolah dengan menggunakan motor Reyhan.
"Nikita, Nikita, ayo berangkat!" Teriak Reyhan dengan memanggil Nikita.
"Kamu siapa? Mau apa kamu kenari?" Tanya papa Nikita yang sedang berjalan menuju ke arah Reyhan.
"Saya pacarnya Nikita, bisa tolong panggilin non Nikita?" Kata Reyhan dengan santainya.
"Non? Maksud kamu apa?" Tanya papa Nikita dengan kebingungan.
"Bapak? Tukang kebun kan? Bisa panggilin non Nikita?" Tanya Reyhan dengan melihat papa Nikita yang nampak seperti tukang kebun.
"Eh papa, kenalin pa, ini Reyhan yang sering aku ceritakan itu loh." Kata Nikita yang baru saja keluar dan memperkenalkan Reyhan.
"Papa? Jadi ini...?" Kata Reyhan dengan terkejut dan melihat papa Nikita dari atas sampai bawah.
"Kenapa? Saya bukan tukang kebun Nikita, tapi saya papanya." Geram papa Nikita dengan kesal.
"Maaf om, saya kira tadi tukang kebun." Kata Reyhan dengan mencium tangan papa Nikita.
"Iyah, saya maklumi, karena pakaian saya memang kayak tukang kebun, soalnya baru bangun tidur." Kata papa Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan.
"Papa gak kerja? Udah jam segini loh pa." Kata Nikita dengan melihat jam tangannya.
"Papa kan bos di kantor, bebas mau masuk ke kantor atau nggak, tinggal ngawasin doang." Kata papa Nikita dengan Tersenyum.
"Om, saya mau berangkat sama Nikita yah om, apa boleh?" Kata Reyhan dengan mendekati papa Nikita.
"Boleh aja, lagipula saya sudah tahu hubungan kalian apa, yang jelas jangan kebut-kebutan di jalan, kalo kamu kebut-kebutan, saya gak akan pernah restuin kalian berdua." Ancam papa Nikita kepada Reyhan.
Glekk
Seketika Reyhan menelan ludahnya sendiri dikarenakan kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh papa Nikita, setelah selesai berpamitan kini Reyhan berangkat bersama dengan Nikita menuju sekolah, di perjalanan menuju sekolah mereka berdua mengobrol.
"Kamu udah makan belom?" Tanya Reyhan kepada Nikita.
"Belom nih, makan dulu yuk sayang." Kata Nikita dengan nada manja.
"Mau makan apa?" Tanya Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.
"Makan nasi uduk kayaknya enak nih, cari tukang nasi uduk yang enak Deket sini." Kata Nikita dengan nada manja.
Reyhan pun langsung mengarahkan motornya menuju tempat tukang nasi uduk yang menurut dia paling enak disekitar situ, Reyhan dan Nikita sekarang sudah berada di pinggir jalan, tempat tukang nasi uduk itu berjualan, Reyhan memakirkan motornya sementara Nikita langsung memesan dua porsi nasi uduk paket komplit.
"Kamu udah pesen?" Tanya Reyhan yang duduk di samping Nikita.
"Udah nih, kamu suka jengkol gak?" Tanya Nikita dengan Tersenyum.
"Nggak usah pake jengkol dong yang punya aku." Kata Reyhan dengan mengelus rambut Nikita.
"Hahaha, masa laki-laki gak doyan jengkol? Aku aja doyan, kalah nih sama aku." Ledek Nikita dengan tertawa.
"Kamu ini, doyannya jengkol, kalo ngomong sama aku jangan Deket banget yah, hahaha." Goda Reyhan dengan tertawa.
"Ih kamu, masa jangan Deket sama kamu? Padahal kan pengen selalu ada di samping kamu." Kata Nikita dengan menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan.
Seketika para pelanggan yang melihat itu langsung melongo sementara dan juga merasa iri, Reyhan pun segera menyingkirkan kepala Nikita.
"Jangan begini dong, lagi di tempat umum tau." Bisik Reyhan dengan melihat sekeliling.
"Oh iya, aku lupa nih sayang, maaf yah." Kata Nikita dengan memerah pipinya karena malu.
"Nasi uduknya udah siap, saatnya makan." Seru Reyhan dengan mengambil dua porsi nasi uduk Tersebut dan langsung memakannya.
Nikita dan Reyhan pun memakan nasi uduk tersebut dengan lahap, tetapi semakin lama tempat jualan nasi uduk Tersebut semakin ramai pengunjung, dan ada beberapa pembeli yang mengetahui bahwa itu adalah Nikita sang selebgram yang sudah lama vakum dari dunia YouTube.
"Eh, itu kan Nikita yang selebgram mukbang itu, masa makannya jengkol sih?" Bisik salah satu pelanggan disana.
"Iyah, udah gitu selera dia kayaknya rendahan banget yah, cowoknya gak ada ganteng- gantengnya." Bisik salah satu dari mereka.
"Katanya pacar dia itu suka jualan di sekolah loh, selera dia rendah banget yah." Kata salah seorang tersebut yang membuat telinga Reyhan cukup panas.
"Kalo orang suka jengkol memangnya kenapa? Apakah seorang yang terkenal tidak diperbolehkan makan jengkol?" Tanya Reyhan dengan sedikit berteriak dan berdiri.
"Reyhan, kamu apaan sih, udah lanjut aja makannya." Kata Nikita dengan berusaha menenangkan Reyhan.
"Cinta itu bukan dari fisik, gapeduli pasangan kalian itu jelek atau cantik, yang penting adalah kesetiaan dan juga kesabaran dari seseorang itu." Jelas Reyhan dengan mengeluarkan uang dua puluh ribu dan menggebrak meja.
"Udah Reyhan, gausah peduli sama mereka." Kata Nikita dengan menarik tangan Reyhan.
"Kalo kalian gamau liat dia makan jengkol, gausah diliat, gampang kan?" Kata Reyhan dengan kesal.
"Udah dong, nanti makin ramai." Kata Nikita dengan berdiri dan berusaha menenangkan Reyhan.
"Udah yuk, disini banyak banget tukang gosip, kita langsung ke sekolah aja." Ajak Reyhan dengan menarik tangan Nikita.
Nikita pun hanya pasrah kepada Reyhan, dan mereka berdua langsung naik ke motor lalu mereka berdua pun berangkat menuju sekolah dengan kecepatan sedang, Nikita yang sedari tadi hanya diam saja langsung mengeluarkan suara.
"Kenapa kamu mau membela aku?" Tanya Nikita dengan penuh penasaran.
"Karena kamu pacar aku, mereka gak pantes ngehujat kamu." Ketus Reyhan yang masih fokus di jalan.
"Sudahlah, kita lanjut aja nanti, takut tabrakan." Kata Nikita dengan menutup pembicaraan tersebut.
"Mulut kamu bau jengkol, abis ini beli permen biar gak bau-bau amat." Kata Reyhan dengan nada serius, dan Nikita hanya mengangguk menandakan iya.
Kini mereka berdua sudah berada di parkiran, Nikita ingin berbicara serius dengan Reyhan, dan Nikita pun langsung menarik Reyhan ke gazebo, tempat yang cocok untuk mengobrol berduaan.
"Kenapa kita kesini sayang?" Tanya Reyhan kebingungan.
"Aku mau ngomong serius sama kamu Reyhan." Kata Nikita dengan menatap Reyhan.
"Ngo-ngo-ngomong apaan sih? Jangan buat aku grogi dong." Kata Reyhan dengan gugup karena terus dilihat oleh Nikita.
"Kenapa kamu membela aku tadi? Harusnya kamu gak udah membela aku di tempat umum." Kata Nikita dengan serius.
"Karena aku gamau kamu di-bully habis-habisan, aku udah tau tentang gosip itu." Jelas Reyhan dengan menunjukkan sebuah artikel.
"Kamu lihat sendiri kan? Aku udah vakum dari YouTube, tapi masih aja di permasalahkan, kalo aku pacaran sama cowok biasa aja kayak kamu." Jelas Reyhan dengan penuh amarah yang membara.
"Udah sayang, jangan marah-marah terus, nanti aku yang kena juga." Kata Reyhan dengan memeluk Nikita sangat erat dan berusaha menenangkan Nikita.
"Tapi sayang, aku gak tau harus apalagi, aku selalu saja diomongin di artikel sana, berita sana, dimana-mana diomongin.....hiks...hiks..." Kata Nikita dengan penuh emosi dan langsung menangis dalam pelukan Reyhan.
"Udah ya sayang, gausah dipikirin, biarkan mereka menghujat, asalkan kita gak ganggu hidup mereka." Kata Reyhan dengan berusaha menenangkan Nikita.
"Makasih ya sayang, udah membuat aku tenang, kamu emang yang terbaik." Kata Nikita dengan Tersenyum, lalu mencium pipi Reyhan.
"A-a-aku mau makan dulu." Kata Reyhan dengan gugup.
"Makan? Bukannya tadi udah makan?" Tanya Nikita dengan kebingungan.
"Emm, bener juga yah, kan tadi udah makan, hahaha." Kata Reyhan dengan tertawa.
"Masih gugup yah, kalo Deket aku? Hahaha!" Ledek Nikita dengan mencubit gemas pipi Reyhan.
"Haha, Iyah nih sayang, kadang aku suka grogi aja." Kata Reyhan dengan tertawa.
"Sekali lagi makasih ya udah membuat aku tenang, berkat kamu aku bisa merasakan apa rasanya dihujat, dan apa rasanya harus sabar menghadapi itu semua, semua itu berkat kamu yang selalu mengajarkan aku harus bersabar ketika menghadapi suatu permasalahan." Jelas Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Iyah sayang, aku beruntung dapetin kamu, aku sayang banget sama kamu." Kata Reyhan. Dengan memeluk Nikita sangat erat.
"I love you Reyhan, aku sayang banget sama kamu." Kata Nikita dengan memeluk erat Reyhan.
"I love you too Nikita, semoga kita selalu bersama dan bisa menghadapi semua cobaan dengan bersabar." Kata Reyhan dengan mengusap rambut Nikita.
Mereka berdua menikmati pagi hari yang cerah, walau terkadang banyak ujian dan cobaan di setiap hubungan, tetapi Reyhan dan Nikita dapat menghadapi itu semua, walau pada awalnya mereka berdua tidak saling kenal, terkadang Reyhan memiliki banyak halangan untuk mendekati Nikita, hingga akhirnya mereka berdua dipersatukan di biang Lala yang mati karena kesalahan teknis, dan mereka pun akhirnya berbahagia dengan hubungan tersebut.
TAMAT