
"Lo kenapa? Kenapa Lo nangis?" Tanya Roy kebingungan.
"Gue takut, gue ada trauma dengan labirin, huaaa." Kata Aulia dengan memeluk Roy semakin erat dan menangis semakin besar.
"Eh Aulia, Lo kenapa?" Tanya Jessica dengan menghampiri Aulia yang sedang menangis dalam pelukan Roy.
"Gue takut, gue gamau ke labirin." Kata Aulia dengan memeluk Roy sangat erat.
"Udah Aulia, Lo tenang aja, gausah takut, kan ada gue yang selalu ada di samping lo." Kata Roy dengan berusaha menenangkan Aulia yang masih menangis dan mengelus rambutnya secara halus.
"Janji yah Roy, kalo ke labirin jangan tinggalin gue?" Tanya Aulia dengan Tersenyum kepada Roy.
"Iyah, tenang aja, gue akan selalu ada di samping Lo." Jelas Roy dengan Tersenyum dan mengelus rambut Aulia secara lembut.
"Yaudah, kalo begitu gue mau asalkan Lo selalu berada di samping gue." Kata Aulia dengan Tersenyum kepada Roy.
"Lepas dong pelukannya, ada ingus lo nih di baju gue." Kata Roy dengan rasa jijik.
"Yaudah, Lo ganti baju dulu sana." Jelas Aulia dengan Tersenyum kepada Roy.
"Lo pikir ruangan ini cuma lo berdua doang yang pake? Pacaran kok gak liat situasi!" Geram Milea kepada mereka berdua.
"Ciee Milea iri nih." Ledek Andre dengan terkekeh.
"Diam Lo! Gausah ngurusin hidup orang!!" Bentak Milea dengan kesal.
"Kan tadi kata Aulia dia mau ke labirin, sekarang aja gimana." teriak Roy dari lantai dua yang sedang berganti baju.
"Boleh juga tuh, kita saatnya bantu Roy buat nembak Aulia." Bisik Willy kepada mereka semua.
"Iyah nih, Roy sering ngasih gue uang, dia selalu bantu gue, mungkin gue hanya bisa membantunya dengan cara ini walau tidak seberapa." Jelas Verrel dengan Tersenyum.
"Yaudah, yuk berangkat sekarang, gimana?" Ajak Roy yang sudah siap dengan tas Selempangnya dan berpakaian rapi.
"Mau kemana Lo Roy?" Tanya Bobi yang baru saja datang dari pintu masuk.
"Di Deket sini ada arena bermain labirin kan? Lo bisa anterin kita semua gak?" Tanya Roy dengan memberikan kode.
"Oh, kalo gak salah ada sih, tiga kilometer dari sini, mau kesana?" Usul Bobi dengan melihat ke arah mereka.
"Aduh, gue rasa gue gak ikut deh, kaki gue masih sakit gara-gara ditabrak Willy!" Sindir angel dengan mengusap dengkulnya yang nampak memar.
"Yang lain pada ikut kagak? Masa gue sama Aulia doang? Gak seru nih!" Kata Roy dengan melihat ke mereka semua.
Reyhan dan yang lainnya pun ikut, Mauren dan kawan-kawan juga, tetapi Shinta, Santi dan Milea tidak ikut, dan juga Shannia dia berniat untuk menjaga Angel yang sedang sakit, beberapa menit mereka menunggu yang lainnya bersiap siap, akhirnya mereka sudah masuk ke mobil dan siap untuk berangkat, tetapi Roy melihat ada keanehan pada Jessica, dia sedang membawa tas ransel yang cukup besar, Roy pun langsung menghampiri Jessica.
"Lo ngapain bawa tas ransel? Kita mau main ke labirin, bukan mau naik gunung." Ledek Roy yang baru saja datang dan Tersenyum.
"Gausah banyak bacot Lo, lebih baik bantuin gue nih, berat banget." Jelas Jessica dengan melirik tas tersebut yang nampak berat.
"Lagian, ngapain sih lo bawa tas ransel gini." Jelas Roy dengan membawa tas ransel tersebut ke bagasi dan memasukkannya.
"Yaudah, ayo semuanya kita berangkat." Kata Reyhan dari dalam mobil.
"Tunggu sebentar! Ada sesuatu yang pengen gue kasih ke Lo semua." Teriak Shinta dengan membawa sebuah plastik hitam.
"Apaan nih? Lo mau ngasih kita apa?" Tanya Roy verrel dengan kebingungan.
"Nih, Bros buat kalian pakai, satu orang satu ya." Jelas Shinta dengan memberikan Bros tersebut kepada mereka.
"Buat apaan anjir? Kenapa gue yang pink gini sih? Gak ada yang lain?" Tanya Willy dengan kesal.
"Udah, pake aja sih." Kata Reyhan dengan terpaksa.
Semua pun memakai Bros tersebut di baju masing-masing, setelah selesai dan sudah siap mereka pun langsung berangkat menuju arena bermain labirin yang direkomendasikan oleh Bobi, sepanjang perjalanan mereka bersenang senang dan bercerita satu sama lain, walau terkadang yang diceritakan garing atau pun tidak nyambung.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di parkiran yang luas tersebut, Bobi dan Siti langsung menurunkan mereka semua di parkiran, mereka berdua pun keluar dari mobil dan saling berpandangan satu sama lain.
"Gue rasa tempatnya udah di renovasi nih." Kata Bobi dengan melihat sekeliling.
"Iyah sayang, waktu kita pertama kali kenal gak sebagus ini." Kata Siti Dengan Tersenyum.
"Gak sebagus ini? Maksudnya?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.
"Iyah, dulu hanyalah ada labirin saja, tetapi sekarang udah banyak arena bermain yang seru banget." Kata Aulia dengan Tersenyum bahagia kepada mereka.
"Gimana? Apa Lo siap untuk masuk Ke labirin?" Tanya Roy dengan tersenyum kepada Aulia.
"Gue siap, asalkan Lo ada di samping gue." Jelas Aulia dengan nada manja kepada Roy.
"Tenang aja Aulia, gue akan selalu berada di samping Lo." Jelas Roy dengan berpandangan satu sama lain.
"Tempat umum woi, jangan lakuin itu disini." Sindir Reyhan dengan tersenyum.
"Ya nggak anjir, gue Gak ngapa ngapain." Kata Roy dengan nada kesal.
"Mau coba yang mana dulu nih?" Tanya Galang dengan Melihat sekeliling yang banyak sekali arena bermain.
"Gue rasa kita coba cari yang enteng aja dulu." Jelas Verrel dengan melihat sekeliling.
"Kalo kata gue sih yang enteng itu, yang lempar bola aja dulu." Kata Zoey dengan menunjuk ke arah permainan lempar bola.
"Waaah, boneka yang warna pink itu lucu banget! Gue jadi mau!!" Seru Aulia dengan menggoyangkan badan Roy.
"Badan gue jangan digoyangin Napa, emangnya lagi dangdutan." Geram Roy kepada Aulia.
"Dapetin boneka itu buat gue Roy, pliss." Kata Aulia dengan Tersenyum manja.
"Yaudah yuk, kita beli tiket masuk dulu baru nikmatin permainan di tempat ini." Jelas Dewa dengan mengarah ke pembelian tiket masuk.
Roy pun langsung berjalan dan langsung membeli tiket masuk untuk mereka semua, setelah selesai melakukan transaksi, mereka pun masuk ke dalam arena tersebut, disana ada banyak sekali permainan, mulai dari rollercoaster, bianglala, kora-kora, rumah hantu, labirin, dan masih banyak lagi.
"Okeh, gimana kalo kita mencar, dan jam lima sore kita balik lagi kesini." Usul Roy dengan melihat jam tangannya yang nampak mahal Tersebut.
"Widih, jam baru nih Roy?" Tanya Andre dengan melihat jam Roy yang dilapisi emas.
"Udah lama, baru gue pake tapinya." Kata Roy dengan Tersenyum.
"Bagus juga ide Lo, yaudah terserah kita berpencar kemana." Jelas Reyhan dengan Tersenyum kepada Roy.
"Baiklah, jam lima sore udah disini, dan lakukan rencana itu." Jelas Roy dengan memberikan kode kepada mereka semua.
"Rencana apaan sih? Gue bingung loh." Ucap Aulia dengan kebingungan.
"Akhirnya, ayo Reyhan kita ke rumah hantu!" Ajak Nikita dengan menggandeng tangan Reyhan.
"Galang, Lo jangan jadi hantunya juga yah, nanti semua pengunjung pada takut lagi." Canda Reyhan dengan Tersenyum kepada Galang.
"Nggak, paling Nanti gue muncul di samping Lo tiba-tiba." Jelas Galang dengan terkekeh.
"Jangan ganggu waktu kita berduaan, kalo Lo ganggu gue, gue habisin Lo!" Ancam Nikita dengan kesal kepada Galang.
"Hahaha, yaudah sana Lo berduaan aja." Kata Galang dengan terkekeh.
"Galang, gue mau naik rollercoaster!" Ajak Lauren dengan menggandeng Galang.
"Eh? Rollercoaster? Gak ada permainan lain yang lebih serem? Itu mah biasa!" Kata Galang dengan meremehkan.
"Kenapa? Lo takut naik rollercoaster? Hahaha!" Ledek Lauren dengan tertawa.
"Mampus Lo Galang, rahasia Lo akhirnya kebongkar sendiri kan." Ledek Dewa dengan beranjak pergi bersama Lita.
"Sialan Lo! Minta gue hajar kali!" Kata Galang yang berusaha menghindari Lauren.
"Eitsss mau kemana Lo kampret! Ayo ikut gue!" Teriak Lauren dengan menarik baju Galang menuju permainan rollercoaster.
Sementara itu dengan yang lainnya, mereka menikmati arena bermain yang cukup banyak di tempat tersebut dan juga menikmati jajanan yang ada, sementara itu dengan Roy, dia sedang bersiap untuk melempar bola menuju kaleng yang terpampang jelas di depan dia.
"Ayo Roy, dapetin boneka itu buat gue." Kata Aulia dengan mendukung Roy.
"Baiklah, ini mudah sekali, tinggal lempar aja." Batin Roy dengan bersiap untuk melempar.
Roy pun melempar bola pertamanya, tetapi tidak mengenai kaleng yang berdiri tersebut, kedua kali Roy melempar dan hampir mengenai tetapi kaleng tersebut hanya bergerak sedikit saja.
"Ayolah Roy, gue mau boneka itu." Kata Aulia dengan memohon kepada Roy.
"Baiklah, semoga berhasil!" Teriak Roy dengan melempar bola Tersebut sangat keras dan membuat kaleng yang tadinya berdiri kokoh menjadi jatuh semua.
"Asik Roy, akhirnya boneka yang imut itu!" Kata Aulia dengan mengambil boneka yang diberikan oleh penjaga permainan tersebut.
"Huh, akhirnya dapet juga nih boneka." Kata Roy dengan. Tersenyum kepada Aulia.
"Mau nyoba permainan yang mana lagi nih?" Tanya Roy dengan melihat sekeliling yang nampak ramai.
"Gue mau nyoba yang itu!" Seru Aulia dengan menunjuk ke arah permainan tembak-menembak yang berhadiah sebuah gantungan kunci.
"Boleh juga, gue kan jago dalam permainan tembak menembak." Seru Roy dengan berjalan ke arah permainan tersebut.
"Apa Lo yakin? Ayo lawan gue sini." Tantang verrel yang datang bersama dengan Zoey.
"Mau taruhan berapa nih? Palingan Lo bakal kalah." Kata Roy dengan meremehkan Verrel.
"Taruhan gantungan kunci itu, yang menang dapat gantungan kunci yang kalah harus beliin burger itu." Tantang verrel dengan menunjuk ke gantungan kunci dan juga tukang burger yang berada di belakang mereka.
"Boleh juga, gue ikutin tantangan Lo." Seru Roy dengan menyalami tangan Verrel, menandakan dia siap untuk mengikuti tantangan dari Verrel.
Mereka berdua pun langsung membayar sepuluh ribu untuk memainkan game tembak tembakan tersebut, dengan mengenai target merah yang bergerak, Aulia hanya melihat dan berharap Roy memenangkan tantangan dari verrel agar dia bisa mendapatkan gantungan kunci tersebut.
Kini akhirnya mereka berdua memulai permainan tersebut dan Roy langsung menembakkan tembakannya ke arah target yang bergerak, verrel juga melakukan hal yang sama, dan mereka berdua saling berebutan untuk menembak target tersebut.
"Udah deh Verrel, ngalah aja sama gue." Suruh Roy dengan terus menembaki target yang bergerak semakin cepat.
"Gue bakal dapetin gantungan kunci itu buat Zoey, ini semua demi memenangkan hati Zoey." Jelas verrel yang masih fokus dengan tembakannya.
"Gue juga mau dapetin gantungan kunci itu, ini semua demi Aulia, ayolah Verrel kasih gue kesempatan untuk membuat dia senang." Mohon Roy dengan terus menembak semakin cepat z karena target tersebut bergerak semakin cepat.
"Entahlah Roy, lihat saja nanti skornya apakah kita seri atau beda." Kata verrel dengan Tersenyum dan terus menembak.
"Roy, dapetin gantungan kunci itu buat gue, gue suka gantungan kunci itu." Seru Aulia dengan menunjuk gantungan kunci yang bergambar kucing.
"Percayalah Aulia, gue akan membuat Lo senang satu hari ini, dan mungkin gue akan nembak Lo pada saat malam nanti." Batin Roy dengan fokus menembak.
Tretttt!!!
Pertanda bahwa waktu untuk bermain permainan tembakan tersebut sudah habis, dan verrel serta juga Roy saling senyum satu sama lain, mereka menunggu skor yang sedang berjalan, dan ternyata skor Roy lebih tinggi daripada skor verrel.
"Hahaha! Akhirnya gue bisa menangin gantungan kunci itu." Kata Roy dengan tertawa bangga.
"Nih anak muda, kayaknya lagi pada kasmaran nih." Ledek penjaga permainan tersebut dengan memberikan gantungan kunci yang diinginkan oleh Aulia, dan Roy pun mengambilnya lalu berjalan ke arah mereka berdua yang sedang duduk.
"Lo pantas mendapatkan itu untuk membuat Aulia senang." Bisik verrel dengan menepuk pundak Roy dan Tersenyum.
"Siapa yang menang nih?" Tanya Zoey dengan Tersenyum.
"Ya jelas Roy yang menang, gue gak ada apa-apanya sama dia, sang penembak jitu." Jelas verrel dengan Tersenyum kepada Roy.
"Ah Lo, ini kan cuma permainan doang." Kata Roy dengan tersipu malu.
"Roy, mana gantungan Kuncinya?" Tanya Aulia dengan tersenyum lebar.
"Nih, gue persembahkan buat Lo." Kata Roy dengan memberikan gantungan kunci tersebut kepada Aulia.
"Makasih ya Roy, akhirnya Lo bisa membuat hati gue senang." Seru Aulia dengan memeluk Roy sangat erat.
"Menang banyak tuh dia." Bisik Zoey dengan tersenyum kepada Verrel.
"Eh? Iyah Aulia, tenang aja sama gue." Kata Roy dengan grogi dan Tersenyum kepada Aulia.
"Lanjut permainan yang lain yuk?" Ajak Verrel dengan Tersenyum kepada mereka berdua.
"Kita coba aja dulu yang enteng-enteng, jangan yang ekstrim." Kata Verrel dengan Tersenyum.
"Yah, cupu Lo Roy, gitu aja masa gak berani!" Ejek Verrel dengan meremehkan Roy yang tidak berani naik permainan ekstrim.
"Oke, gue berani, emang mau naik apa?" Tantang Roy dengan Tersenyum kepada Verrel.
"Jangan songong, nanti Lo nyesel pas udah tau." Ledek Verrel dengan Tersenyum kepada Roy.
"Apaan sih emangnya yang mau di naikin?" Tanya Roy dengan. Nada kesal.
"Naik itu aja gimana?" Tanya Aulia dengan menunjuk ke arah wahana kora-kora, dan Roy nampak terkejut.
"Waduh? Gue gamau ah, gue gamau." teriak Roy dengan berusaha melarikan diri, tetapi ditahan oleh Andre dan juga Anto yang memaksanya untuk naik.