
"Kok ketawa? Lucu darimananya?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.
"Iya, lucu aja gitu, kenapa setiap selebgram kalo mau pacaran itu harus milih orang yang followernya lebih banyak dari dia." Kata Nikita dengan terkekeh.
"Emangnya kamu begitu waktu sama Rizky?" Tanya Reyhan dengan tersenyum.
"Eh? Kenapa jadi bahas Rizky sih?" Kata Nikita dengan kesal.
"Yaudah, maaf yah sayang, jadi bahas mantan kan." Kata Reyhan dengan mengelus rambut Nikita.
"Kayaknya mau hujan deh?" Kata Nikita dengan membuka tangannya, dan nampak ada tetesan air.
"Hujan? Kotoran burung kali." Goda Reyhan kepada Nikita.
"Kotoran burung apanya sih? Bukan sayang!" Kata Nikita dengan mencium tangannya yang nampak kena tetesan air.
"Idih, jorok banget pacar gue, pake acara dicium anjir." Kata Reyhan dengan bergidik kegelian.
Secara tiba-tiba turunlah hujan sangat deras, yang membuat mereka serta pengunjung lainnya lari kocar-kacir menghindari hujan, beruntung ada supermarket kecil yang dapat digunakan untuk mereka berteduh, kini Reyhan dan Nikita berteduh dalam keadaan basah kuyup.
"Tuh kan, Aku bilang juga apa, hujan kan." Ketus Nikita dengan menggigil.
"Pakai jaket aku, kamu basah banget tuh." Kata Reyhan dengan memberikan jaketnya.
"Jaket kamu kan basah juga, gimana sih kamu?" Kata Nikita dengan kebingungan.
"Baju emang basah, tapi Daleman kamu gimana? Mau keliatan juga emang?" Tanya Reyhan dengan melihat sekeliling.
"Oh ya, aku lupa, makasih ya sayang udah ingetin aku." Kata Nikita dengan memakai jaket Tersebut dan mendekat dengan Reyhan.
"Maaf yah, gara-gara aku kita jadi kehujanan gini." Kata Reyhan dengan menyesal.
"Minta maaf apanya sih, ini bukan salah kamu kok, ini salah hujannya." Kata Nikita dengan Tersenyum.
"Gimana cara berhentiin hujan yah?" Tanya Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.
"Coba aja kamu teriak, pasti dia berhenti." Jelas Nikita dengan Tersenyum.
"Teriak gimana maksud kamu?" Tanya Reyhan kebingungan.
"Woi! Berhenti dong!!" Teriak Nikita di tengah hujan yang cukup deras.
Jederrr, seketika petir menggelar dengan sangat kencang, yang membuat seluruh orang yang berteduh menutup telinga, Nikita yang berada di dekat Reyhan pada saat itu langsung memeluk Reyhan sangat erat dan nampak ketakutan.
"Petirr...... Aku takut petir, hiks." Kata Nikita dengan menangis.
"Hujannya ngambek karna kamu suruh berhenti sih." Kata Reyhan dengan tertawa.
"Ih kamu, aku takut banget tau sama petir." Kata Nikita dengan melihat Reyhan.
"Takut kenapa? Hanya petir kok." Kata Reyhan dengan Tersenyum.
"Setiap manusia ada trauma tersendiri dengan suatu hal, aku takut sama petir sayang." Jelas Nikita dengan melihat Reyhan.
"Udah, gausah takut, kan ada aku." Kata Reyhan dengan berusaha menenangkan Nikita.
"Kapan yah hujannya berhenti?" Tanya Nikita dengan meliha langit gelap.
"Gak mau diberentiin lagi kayak tadi?" Goda Reyhan dengan melihat Nikita.
"Ih kamu, nanti ada petir lagi tau." Kata Nikita dengan memeluk Reyhan lagi.
"Kita tunggu aja dulu, kalo udah berhenti baru kita langsung pulang." Kata Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.
Beberapa jam mereka menunggu, Kini hujan sudah berhenti, Reyhan bersama Nikita pun berjalan menuju ke parkiran dalam keadaan basah kuyup, mereka saling bergandengan tangan membuat para pengunjung yang melihat iri, kini Reyhan sudah berada di parkiran dan siap untuk pulang bersama Nikita.
"Ayo sayang, aku udah basah kuyup gini, nanti masuk angin." Ajak Nikita yang sudah siap di motor Reyhan.
"Tunggu dulu yah sayang, aku nyalain motor aku dulu." Kata Reyhan dengan menyalakan motornya.
Motor Reyhan pun menyala, Nikita dan Reyhan langsung berangkat menuju rumah Nikita, tetapi pada saat diperjalanan pulang turun lagi hujan yang sangat deras, membuat mereka berdua basah kuyup kedua kalinya.
"Hujan nih, mau berhenti nggak?" Tanya Reyhan dengan sedikit berteriak di tengah hujan yang deras itu.
"Gak usah, langsung aja kita ke rumah aku." Teriak Nikita kepada Reyhan.
"Yaudah, aku ngebut ya?" Goda Reyhan dengan tertawa kecil.
"Jangan! Nanti kalo jatuh gimana!" Bentak Nikita.
"Yaudah, maunya gimana nih?" Tanya Reyhan.
"Bawanya santai aja, aku mau main hujan-hujanan, udah lama gak main hujan-hujanan." Seru Nikita dengan membentangkan Tangannya.
"Yaudah, kalo sakit aku gak tanggung jawab." Ucap Reyhan kepada Nikita.
"Tenang aja sayang, gak akan sakit kok." Bisik Nikita dengan mengalungkan tangannya di leher Reyhan.
"Kamu tau gak kenapa Tangerang sekarang indah?" Tanya Reyhan dengan tersenyum.
"Kenapa? Aku gak tau nih." Kata Nikita dengan kebingungan.
"Karena ada banyak tukang makanan di pinggir jalan, hahaha." Canda Reyhan dengan tertawa.
"Ih kamu, aku pikir kamu bakalan bilang kayak dilan." Ketus Nikita dengan cemberut.
"Jangan cemberut terus, nanti bibir kamu Jontor karena di sengat lebah." Goda Reyhan dengan melihat kaca spionnya.
"Kalo lebah sengat aku gimana?" Tanya Nikita dengan Tersenyum.
"Lebahnya aku kasih risol, biar pergi." Canda Reyhan dengan Tersenyum.
"Coba dong, giliran kamu hujannya suruh berhenti." Goda Nikita dengan melihat langit mendung.
"Hujan berhenti dong, biar kita gak kebasahan." Kata Reyhan dengan nada pelan.
Dan seketika hujan pun berhenti, itu membuat Nikita terperangah dikarenakan dia tidak percaya dengan Reyhan yang bisa memberhentikan hujan dengan cara halus.
"Kok bisa sih?" Ucap Nikita kebingungan.
"Kalo orang dikasih tau itu, pertama-tama harus dengan cara lembut dulu." Jelas Reyhan.
"Tadi kok aku gak bisa sih?" Tanya Nikita kebingungan.
"Karena kamu teriak, dianya marah deh, hahaha." Canda Reyhan dengan tertawa.
"Ih, kenapa hujannya berhenti pas kamu suruh?" Tanya Nikita.
"Karena aku ini pawang hujan waktu SMP, hahaha." Canda Reyhan dengan tertawa.
"Ah kamu, bisa aja deh, selalu membuat aku bahagia." Kata Nikita dengan memeluk Reyhan semakin erat.
"Bahagia kamu, bahagia aku juga." Kata Reyhan dengan tersenyum.
"Udah sampe nih, ayo turun." Kata Reyhan dengan melihat Nikita.
"Udah sampe? Seriusan?" Tanya Nikita kebingungan.
"Iyah, udah, ayo turun mau apalagi? Mau aku anterin sampe kamar pake motor?" Canda Reyhan dengan tertawa.
"Apaan sih, garing banget deh." Ucap Nikita dengan Tersenyum.
"Yaudah, sekarang kamu masuk ke dalam, terus mandi yah." Kata Reyhan dengan mengusap rambut Nikita.
"Iyah sayang, makasih untuk hari ini yah." Kata Nikita dengan mencium pipi Reyhan.
"Waduh, main cium aja nih orang." Batin Reyhan dengan terpaku di tempat.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" Tanya Nikita dengan memegang jidat Reyhan.
"Enggak sayang, udah kamu sana masuk, jangan lupa makan ya." Kata Reyhan dengan sedikit berteriak karena dia sudah berangkat duluan.
"Yaudah deh, aku masuk duluan yah." Kata Nikita dengan masuk ke dalam rumah dan hendak berganti baju.
Pada saat hendak masuk ke kamar, papanya menegur Nikita di depan pintu.
"Kamu tadi sama siapa?" Tanya papa Nikita dengan serius.
"Sama teman kok, kenapa emangnya pa?" Tanya Nikita dengan santai.
"Temen atau pacar? Kok sampe dicium di pipi gitu?" Tanya papa Nikita dengan tegas.
"Emm, pacar deh pa." Kata Nikita dengan grogi.
"Boleh juga pacar kamu yang baru, dia siapa namanya?" Goda papa Nikita dengan Tersenyum.
"Ah papa, namanya Reyhan pa." Kata Nikita dengan Tersenyum.
"Kalo menurut kamu dia baik, pertahanankan, kalo gak baik kayak Rizky kamu lebih baik putusin aja." Ucap papa Nikita dengan nada khas ketika dia nampak serius.
"HM, baiklah pa." Kata Nikita dengan menuruti kata kata papanya.
Sementara itu dengan Reyhan, dia sudah berada di rumah dan sedang berganti baju, tetapi pada saat sedang berganti baju tiba-tiba saja michell masuk dengan mendobrak pintu kamar Reyhan, yang membuat Reyhan kaget seketika.
"Abang, Abang pacaran sama kakak Nikita?" Tanya Michelle dengan penasaran.
"Kamu kepo banget sih? Gausah kepo jadi orang!" Ketus Reyhan dengan melihat Michelle.
"Jawab dong bang, beneran pacaran nggak?" Tanya Michelle dengan penasaran.
"Kenapa emangnya? Kamu mau apa kalo Abang pacaran?" Tanya Reyhan dengan mencubit pipi Michelle gemas.
"Aku mau tau aja, masa Abang bisa pacaran sama kakak Nikita." Kata Michelle dengan tidak mempercayai abangnya.
"Ya bisa lah, kenapa sih emangnya?" Kata Reyhan dengan kesal.
"Gapapa sih, soalnya di Instagram lagi viral aja kalo kakak Nikita pacaran sama Abang." Kata Michelle dengan menunjukkan sebuah artikel.
"Yaelah, ini hanyalah orang yang iri dengan Abang, gausah dipikirin." Ketus Reyhan ketika melihat berita tersebut.
"Terus? Apa Abang bakal pertahankan hubungan itu sama kakak Nikita?" Tanya Michelle dengan tersenyum.
"Nak Michelle, kamu gausah kepo sama Abang kamu, belajar aja sana." Suruh Judy dengan Tersenyum kepada Michelle.
"Iyah ma, aku belajar deh." Kata Michelle dengan terpaksa.
"Reyhan, kamu habis darimana tadi sama Nikita?" Tanya Judy dengan penasaran.
"Dari taman ma, dia yang mau kesana." Kata Reyhan dengan Tersenyum.
"Kamu sampe hujan-hujanan gitu, emang kehujanan di jalan?" Tanya Judy.
"Iyah ma, pas lagi duduk di taman Langsung hujan, yaudah kita neduh dulu." Jelas Reyhan.
"Kalo neduh bajunya kering dikit lah, kok basah banget pas pulang sekolah?" Tanya Judy kepada Reyhan.
"Pas lagi di jalan hujan lagi, yaudah kita hujan-hujanan." Jelas Reyhan dengan Tersenyum.
"Anak muda ya, dulu mama juga waktu pacaran sama papa kamu begitu." Jelas Judy dengan mengelus rambut anaknya.
"Udah ma, jangan sedih lagi, kalo mama nangis nanti aku ikut nangis nih, haha" Canda Reyhan dengan tertawa.
"Kamu, bisa aja deh, pantesan Nikita betah sama kamu." Jelas judy dengan Tersenyum.
"Tuh kan mama, jadi malu aku." Kata Reyhan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah berhenti nih hujannya, jualan risol gih." Suruh Judy dengan Tersenyum kepada Reyhan.
"Aduh ma, capek nih aku." Kata Reyhan dengan duduk di kursi dan nampak lelah.
"Hahaha, mama cuma becanda doang kok." Canda Judy dengan tertawa lepas.
Sementara itu dengan Galang, dia sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Tristan dan juga Lauren, mereka nampak ingin membicarakan sesuatu dan nampak serius, Lauren yang sudah selesai meminum jus apelnya langsung melihat mereka satu sama lain.
"Kenapa Lo liatin gue?" Tanya Tristan dengan kebingungan.
"Lo nyolong duit dia kali bang." Canda Galang dengan tersenyum.
"Nggak ya, gue gak nyolong, udah tobat gue." Ketus Tristan kepada Galang.
"Gue minta bantuan lo, bisa gak bantuin gue?" Kata lauren dengan nada serius.
"Bantuin apa? Udah gila Lo ya?" Kata Tristan dengan membaca pikiran Lauren.
"Lo udah tau kan, apa yang gue maksud?" Tanya Lauren dengan tersenyum.
"Gabisa, Galang gabisa menjadi manusia seutuhnya, karena dia itu adalah...." Gertak Tristan dengan melihat Galang dan nampak ragu-ragu.
"Adalah apa? Adalah anak ninja? Orang yang selalu ilang? Bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa! Hah!!" Teriak Lauren dengan kesal, dan membuat ruangan bergetar seketika.
"Lo juga punya kekuatan besar dalam diri Lo, apakah mama Lo ketua geng suara nyaring?" Tanya Tristan dengan Tersenyum ketika melihat kaca di belakangnya jatuh.
"Geng suara nyaring? Siapa tuh?" Tanya Galang dengan kebingungan.
"Udah, gausah dibahas, intinya Lo bisa gak membuat Galang menjadi manusia normal." Jelas Lauren dengan kembali duduk.
"Gue gabisa, ini udah menjadi tradisi keluarga kita." Kata Tristan dengan serius.
"Tradisi keluarga? Maksudnya?" Tanya Lauren kebingungan.
"Jelas, kita adalah keturunan Jepang, dan kita sudah menguasai beberapa teknik yang diajarkan oleh nenek moyang kita, walau belum semuanya." Jelas Tristan kepada Lauren.
"Kalo gitu, apa Galang bisa menjadi manusia normal?" Tanya Lauren dengan nada serius.