Reyhan

Reyhan
ep 33



"Reyhan? Lo kenapa? Kok luka luka gitu?" Tanya Roy kebingungan dengan melihat wajah Reyhan yang penuh luka.


"Eh nggak kok, gua kemaren abis lawan geng Halilintar." Jelas Reyhan dengan mengelus pipi yang nampak memar.


"Hah? Kok bisa?" Kata verrel yang tiba tiba berada di samping Reyhan.


"Yah, pokoknya kita jangan ngomongin dia lagi, atau kita akan celaka." Jelas Reyhan dengan nada pelan.


"Gua tau, tapi kenapa Lo bisa babak belur gini?" Tanya Roy dengan mengamati wajah Reyhan yang nampak babak belur.


"Udah, gausah bahas lagi, mendingan Lo sekarang ikut gue ke kelas, kita Mabar!!" Teriak Reyhan dengan mengeluarkan handphone miliknya dan tersenyum kepada mereka semua.


Mereka berdua pun langsung ke kelas, dan duduk bersama dengan Reyhan, saat hendak membuka handphone miliknya, tiba tiba saja datang Nikita dengan senyuman manisnya, tetapi masih dalam keadaan rambut yang acak acakan seperti baru bangun tidur dan belum mandi.


Reyhan kebingungan melihat dia seperti itu, Reyhan pun langsung menanyakan keadaan Nikita apakah dia baik baik saja atau tidak.


"Kenapa Lo? Kok acak acakan gini?" Tanya Reyhan dengan tersenyum kepada nikita.


"Gua capek tau gak, masih ngantuk anjir." Ucap Nikita dengan duduk di belakang Reyhan dan membenamkam kepalanya di meja.


"Astaga, ngantuk kenapa Lo? Emangnya Lo gak tidur?" Tanya Roy kebingungan dengan melihat ke arah Nikita.


"Iyah nih, kagak tidur gue semaleman tadi, gara gara kepikiran Lo." Kata Nikita dengan nada lemas.


"Kepikiran gue? Gue kan gak kenapa kenapa coy." Ucap Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita yang masih membenamkan kepalanya di meja.


"Ciee ada yang khawatir nih." Ledek Roy dengan Tersenyum.


"Iyah, kan kemaren Lo kepalanya dipukul, takutnya nanti lo Gagar otak gimana?" Jelas Nikita dengan sedikit tersenyum walau masih membenamkan kepalanya di meja.


"Lo serius? Kok Lo bisa tahu kalo Reyhan dipukul?" Tanya Willy kebingungan.


"Ya tau lah, kemaren kan pas geng Halilintar nyerang dia gue lagi sama dia, dia abis anterin gue beli buku eh terus--" ucapan Nikita terhenti ketika Reyhan membekap mulutnya dan menyuruhnya agar diam


"Cukup Nikita, Lo gak inget kata dia apa? Nanti kita malah celaka lagi." Bisik Reyhan kepada Nikita dan melirik ke arah mereka yang sedang dilanda kebingungan.


"Hmm, gajadi, kalian kepo banget sih! Udah sana balik ke kelas lagi!" Kata Nikita dengan ketus dan mengusir mereka.


"Apaan sih? Orang pengen Mabar malah diusir." Ketus verrel dan kesal kepada Nikita.


"Udah, lanjut aja mainnya!" Cegah Willy agar tidak terjadi keributan.


Sementara itu dengan Anto, dia sudah masuk ke sekolah dengan memakai sebuah gips di tangannya, dan dia berjalan menuju ke kelasnya, dia pun duduk di samping Rizky dan berbisik kepada Rizky.


"Gue ada informasi terbaru nih, ayo kita ke gazebo sekarang juga." Bisik Anto dengan melirik sekitar yang masih sepi.


"Informasi apa? Di kelas aja apa salahnya?" Kata Rizky dengan Sedikit kesal.


"Lo kenapa sih? Kayaknya kesel amat Lo?" Tanya Anto dengan kebingungan.


"Lo Gatau yah kalo gua beberapa hari yang lalu, ribut sama Michael?" Tanya Rizky dengan heran kepada Anto.


"Ribut? Kok bisa sih?" Tanya anto dengan kebingungan.


"Yakin Lo doang yang ribut sama Michael? Gua gimana?" Tanya Andre yang baru saja masuk dan nampak di wajahnya ada luka memar.


"Kenapa Lo? Ribut sama Michael sampe segitunya?" Tanya Anto dengan sedikit tersenyum kepada mereka berdua.


"Gua ribut sama Michael wajar kan dia cowok maka dari itu gua dan Rizky sampe luka luka, lah Lo ribut sama Mauren sampe patah tangan, padahal kan Mauren cewek." Ledek Andre dengan sedikit tersenyum kepada Anto.


"Sudah, sebenarnya ada informasi apa?" Tanya Rizky yang kebingungan dengan Anto.


"Kemaren gua lihat dari kejauhan, Reyhan nampak luka-luka karena ulah Michael." kata Anto dengan berbisik kepada Rizky.


"Luka luka kenapa? Apa Michael menyerang Reyhan?" Tanya Rizky dengan melirik ke arah Andre.


"Gua rasa seperti itu, dan mereka seperti menyebut geng Halilintar." Jelas Anto.


"Gawat sih, Michael udah keluar dari rencana yang kita buat, udah gila tuh anak." Kesal Andre dengan menggebrak meja.


"Menurut Lo kita harus apa? Kasih tau kalo Michael yang melakukan ini ke mereka?" Tanya Andre dengan kebingungan.


"Jangan, kalo kita kasih tau yang sebenarnya nanti mereka tahu kalau gua dalang dari peneroran Reyhan." Cegah Rizky dengan nada pelan agar tidak terdengar oleh siapapun.


"Lalu? Kita harus apa nih?" Tanya Andre dengan kebingungan.


"Kita cukup diam saja, dan jangan Bilang hal ini ke siapa siapa."  jelas Rizky dengan melihat sekitar yang masih sepi.


"Baiklah, kita harus tetap bersekolah seperti biasanya." Ucap Anto dengan berjalan keluar kelas dan menuju ke toilet.


Reyhan yang kebelet pada saat itu langsung keluar kelas dengan berlari, tetapi dia menabrak Anto dengan tak sengaja, Reyhan pun membangunkan Anto dengan uluran Tangannya, dan Anto pun bangkit berdiri lalu tersenyum kepada Reyhan.


"Tangan Lo kenapa? Sekian lama gak ngeliat Lo, pas masuk udah di gips aja." Kata Reyhan dengan melihat tangan Anto yang sudah dalam keadaan di gips.


"Gua kemaren ini kecelakaan, dan tangan gua tulangnya ke geser yang sebelah kiri."kata Anto dengan berjalan menuju ke toilet.


Reyhan pun kini berjalan beriringan dengan Anto dan dia merasa curiga bila dia yang meneror pada saat waktu itu, karena pada saat itu Mauren mentahkan tangan seseorang misterius itu, dan pada saat yang bersamaan Anto juga tangannya di gips, setelah beberapa lama tidak masuk sekolah.


"Yakin tangan Lo kecelakaan?" tanya Reyhan berusaha memastikan.


"Ayolah, gua udah kebelet nih!" Kata Anto dengan masuk ke kamar mandi.


"Aneh, mungkin beneran kali ya?" Gumam Reyhan dengan heran kepada Anto.


"Untung gak ketahuan." batin Anto dengan melanjutkan ritualnya.


Sementara itu bel masuk pun sudah berbunyi, dan kini semua murid pun masuk ke dalam kelasnya, lalu memulai pelajaran seperti biasanya.


Beberapa jam kemudian, setelah kegiatan belajar yang cukup membosankan pada pagi hari, kini saatnya istirahat, Reyhan yang sudah berada di kantin bersama dengan teman temannya dan sedang makan, tiba tiba datanglah Mauren bersama dengan teman temannya, lalu bergabung dengan Reyhan.


"Hai Reyhan,makan apa Lo?" Sapa mauren dengan tersenyum manis kepada Reyhan.


"Gua lagi makan mie nih, Lo gak makan?" Tanya Reyhan yang melihat ke arah Mauren.


"Eh temen temen, lihat deh geng Halilintar kembali beraksi lagi." Kata Shinta dengan memberikan. Sebuah artikel dan berita kepada mereka semua.


"Astaga, gua rasa kita memang harus berhati hati dengan geng Halilintar itu."ucap Roy dengan nada khawatir kepada mereka semua.


"Apa ini ulah dari orang topeng badut itu?" Kata Willy dengan wajah yang nampak sangat serius.


"Mungkin aja? Tapi masa Iyah dia menyuruh para anggotanya untuk membegal?" Sambung Shinta dengan kebingungan.


"Bisa saja, mungkin itu peringatan kepada kita supaya kita gak mencampuri urusan dia lagi." Kata verrel dengan sedikit tersenyum.


"Kalo mereka menyerang salah satu dari kita bagaimana?" Tanya Lauren dengan melirik ke arah mereka semua.


"Mungkin kita memang harus berhati hati dengan geng halilintar tersebut." Kata Lauren dengan tersenyum kepada mereka.


"Roy, katanya lo lagi buat suatu alat? Alat apaan tuh?" Tanya Reyhan secara tiba tiba dan membuat Roy terkejut.


"Alat apaan? Gua gak buat apa apa tuh." Kata Roy yang berusaha menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Kata Lo waktu itu lagi buat senjata buat melawan geng Halilintar? Mana gua mau liat." Ucap Reyhan dengan santainya.


"Gua harap Lo jangan bahas itu, takutnya akan terjadi sesuatu yang lain." Bisik Roy dengan melihat sekeliling kantin yang masih dalam keadaan ramai.


"Kenapa Lo berdua? Bisik bisik apaan nih?" Tanya Verrel dengan melihat ke arah reyhan dan juga Roy


Ucap Reyhan dengan menyembunyikan sesuatu dari mereka semua.


Di tempat lain, yaitu markasnya geng Halilintar, dia sedang membuat sebuah pisau yang biasa dia gunakan semakin tajam untuk membunuh Reyhan serta yang lainnya, pada saat sedang mengasah pisau tersebut, datanglah seseorang itu dan menghampirinya.


"Kamu lagi apa?" tanya orang tersebut dengan singkat, lalu duduk di samping Michael.


"Saya rasa saya memang harus membunuh mereka, supaya gak ada lagi yang menghalangi saya untuk membunuh Dewa." Kata Michael dengan senyuman ingin membunuh.


"Apa kamu yakin? Rencana kamu yang jalankan, apakah sudah sesuai?" Tanya orang tersebut berusaha memastikan.


"Saya yakin pak, karena mereka akan melawan musuh lama dari keluarganya!" Kata Michael dengan tersenyum kepada orang yang sedang duduk tersebut.


"Maksudnya musuh lama?"tanya orang itu kebingungan dengan menyeruput sebuah kopi yang ada.


"Ya, lihat saja nanti, para musuh lama dari keluarga mereka akan kembali melawan teman teman Reyhan!" Kata Michael dengan tersenyum seraya mengambil sebuah pisau dan memainkannya.


"Hmm, memang siapa saja nama teman teman kamu?" Tanya orang tersebut yang kini sudah berada di sampingnya.


Secara cepat dia pun langsung mengambil sebuah kertas karton yang ada foto mereka dengan diberikan tanda silang, dan orang tersebut mengamati wajah dari teman teman Reyhan tersebut, dan dia pun mulai tersenyum ketika mengetahui siapa yang akan dia lawan.


"Kenapa pak? Apa kamu tahu siapa saja musuh dari keluarga mereka?" Tanya Michael dengan menghampiri orang tersebut dengan menepuk pundaknya.


"Saatnya geng yang dulu bubar kembali bangkit, dan membalaskan dendam kepada keturunan pada masa sekarang!" Kata orang tersebut dengan mengusap rambut Michael secara halus.


"Apa kamu kenal? Jangan diam saja!" Kesal Michael dengan menonjol tembok sangat kencang.


"Ya, terlebih lagi dia, anak ketua geng naga api yaitu Heru!" Ucap orang tersebut dengan menunjuk foto dewa dan tersenyum layaknya ingin membunuh.


"Lalu? Bagaimana dengan yang lain?" tanya Michael kebingungan.


"Saya tahu siapa yang pernah saya lawan, dan saya tahu siapa yang harus saya suruh kembali hidup gengnya!" Kata orang tersebut dengan mengambil sebuah laptop.


"Maksudnya? Saya masih tidak paham." Kata Michael dengan menghampiri orang tersebut dan menepuk pundaknya.


"Verrel, Roy, Dewa, Reyhan, Galang, saya tahu siapa musuh lama serta musuh abadi dari keluarga mereka." Kata orang tersebut dengan tersenyum.


"Siapa saja? Sebaiknya kita minta bantuan dia untuk berkumpul disini, dan melawan mereka di satu tempat yang sama!" Kata Michael dengan gegabah dan nampak tidak sabar dengan apa yang akan dia lakukan.


"Baiklah, kalau itu mau kamu, saya akan panggil mereka semua untuk melawan Reyhan dan teman temannya." Ujar orang tersebut dengan memainkan sebuah laptop entah apa yang dia lakukan dengan laptop tersebut.


"Kita akan buat mereka reunian dalam satu tempat, lihat saja nanti!" Ucap Michael dengan tersenyum kepada orang tersebut.


"Kira kira apakah kita mau ajak dia untuk melawan Roy?" Tanya orang tersebut dengan memberikan sebuah foto orang berjas rapi dan juga tampak seperti seorang miliader.


"Bukankah Roy itu ayahnya punya musuh dalam perusahaan miliknya?" Tanya Michael dengan penasaran.


"Ya jelas jelas ini, saya rasa kita harus menata tempat ini lebih bagus lagi deh!" Kata orang tersebut dengan melihat sekeliling.


"Renovasi tempat ini, lalu saya akan memasang beberapa jebakan yang akan membuat mereka semua terbunuh." Ucap Michael dengan beranjak pergi meninggalkan orang tersebut, tetapi orang itu menyuruhnya untuk duduk di kursi lagi.


"Saya rasa mereka akan datang lagi." Kata orang tersebut dengan sedikit memberikan senyuman.


"Kalo ada 6 orang itu, saya rasa akan sangat seru." Kata Michael yang nampak mengerti apa yang dimaksud oleh orang tersebut.


"Saya yakin, ketika anda melakukan rencana itu, mereka akan membantu Reyhan dan teman Temannya." Ucap orang tersebut dengan tersenyum.


"Baiklah, saatnya lakukan renovasi pada tempat ini!" Teriak Michael dengan menyusun mereka semua untuk merenovasi gedung tersebut.


Michael beserta beberapa anak buahnya pun langsung menata gedung tersebut, sementara itu galangan yang menyadari akan terjadi sesuatu langsung berangkat ke rumah Roy dan mengumpulkan mereka, dan pada saat semua sudah berkumpul, Galang pun langsung memberi tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Gua udah tau semuanya, kita pokoknya harus bersiap dengan kemampuan kita masing masing untuk melawan para anggota dari geng Halilintar tersebut." Ucap Galang dengan tersenyum kepada mereka.


"Maksud Lo? Akan ada sesuatu Apa?" Tanya Willy kebingungan.


"Lihat saja nanti, pokoknya kita harus berlatih berladiri, agar bisa dengan mudah melawan geng Halilintar itu!" Jelas Galang dengan melihat mereka sangat serius.


"Baiklah, gua rasa mungkin saatnya gua melatih kembali kekuatan tinju gua" ucap Roy dengan bergaya layaknya seorang petinju handal.


"Intinya kalian berhati hatilah, gua mau pulang duluan yah." Kata Galang singkat dengan menghilang dari hadapan mereka.


"Apa yang dibilang galang itu benar, kita harus bersiap siap!" Ucap Reyhan dengan sedikit tersenyum.


Sementara itu mereka semua berlatih beladiri sekuat tenaga mereka masing masing, dan roy sudah siap dengan alat alat teknologi miliknya yang canggih dan suatu alat yang sudah dia rancang sedemikian rupa, yaitu sebuah topeng dengan teknologi yang cukup canggih di dalamnya.


3 Minggu kemudian, Reyhan dan masyarakat Indonesia sudah tidak dilanda keresahan lagi dikarenakan geng Halilintar yang sudah tidak menyerang dan meneror mereka, bagi Reyhan itu adalah waktu yang cukup lama, dan kini tepatnya hari Sabtu, dimana orangtua dewa harus bekerja pada hari itu dan sekarang Willy sedang menemani dewa di dalam kamarnya dengan bermain game online bersama dengan dewa.


"Gimana keadaan sekolah?" tanya Dewa singkat dengan tersenyum kepada Willy.


"Yah, begitu deh baik baik aja." Kata Willy dengan seraya tersenyum kepada dewa.


"Ternyata, di saat kita suka sama seseorang ada aja ya orang yang menghalangi gua supaya gak dekat lagi sama orang tersebut." Keluh dewa dengan tersenyum kepada Willy.


"Yah, namanya juga hidup sih, pasti ada aja yang iri." Ketus Willy yang masih asik bermain game.


"Dan sekarang lita malah gak deket lagi sama gua, padahal gua sayang sama dia, tulus sama dia." Kata dewa dengan sedikit menundukkan kepala.


Tiba tiba saja pintu dari luar pun diketuk, dan masuklah seorang dokter dan juga perawat yang hendak memeriksa kondisi dewa, Willy pun segera menyingkir dari ruangan tersebut dan terpaksa menunggu diluar, dokter tersebut pun mengeluarkan jarum suntik dari tempatnya dan nampak tersenyum dari balik masker yang dia pakai.


"Wah, perasaan gua gak enak." Batin Dewa dengan melihat kedua orang tersebut.


"Maaf yah mas, kita mau suntik vitamin dulu yah." Kata dokter tersebut dengan menyuntikkan obat tidur.


Secara tiba tiba dewa pun langsung tertidur dan kedua orang tersebut langsung membuka penyamarannya dan tersenyum ketika melihat dewa yang terbaring lemas.


"Akhirnya berhasil sesuai rencana bos!" Kata dokter gadungan tersebut dengan membawa dewa di bahunya.


Secara tiba tiba Willy pintu pun terbuka, dan itu adalah Willy, dia terkejut ketika melihat dewa yang sudah hendak dibawa oleh mereka berdua, dan dokter gadungan tersebut langsung menyuruh perawat yang satunya untuk melawan Willy.


"Hah?!! Apa apaan ini?!" Kata Willy yang baru saja masuk dan nampak kebingungan dengan situasi tersebut.


"Urus dia, biar gua bawa dia ke markas untuk di urus sama bos." Kata dokter gadungan tersebut dengan melompat keluar jendela dan entah pergi kemana.


"Hahaha, kamu yakinkah pengen melawan saya? Sepertinya kamu lemah dalam bertarung." Kata dokter gadungan yang satu lagi tersebut.


"Ini rumah sakit, gua gamau kalo ada orang yang merasa terganggu di rumah sakit ini." Ucap Willy dengan menutup pintu secara perlahan dan menguncinya.


"Wah, nyali kamu besar juga yah, saya rasa hari ini adalah hari terakhir kamu melihat matahari pagi." Ucap orang tersebut dengan tersenyum lalu melawan Willy.


Willy pun langsung menahan serangan dari orang tersebut, dan setelah itu Willy langsung menonjok wajah orang tersebut lalu melompat dan menendangnya hingga dia terpental.


Brak, brak buk bruk prang, brak,brak, Bukk.


Dari luar ruangan tersebut nampak terdengar sangat keras, dan nampak mereka berdua ribut dengan sangat keras dan juga membuat kekacauan di dalam ruangan tersebut.


Roy yang baru saja datang untuk menjenguk dewa langsung membuka pintu tersebut,tetapi pintu tersebut di kunci dan dia berusaha mengintip lewat kaca yang ada, ternyata Willy sedang ribut bersama dengan preman, Roy langsung mendobrak pintu tersebut dan melihat preman tersebut jatuh tersungkur, Roy langsung menanyakan apa yang terjadi disini dan kemana dewa.


"Apa yang terjadi disini? Dewa kemana?" Tanya Roy yang nampak kebingungan melihat sekeliling.


"Dia diculik gue rasa, kita coba cari diluar rumah sakit ini kali aja masih belum jauh." Jelas Willy dengan berlari menuju keluar rumah sakit tersebut.


Willy dan Roy pun segera keluar dari rumah sakit tersebut dan mencari cari dimana dewa, tetapi entah kenapa setelah mereka mencari dewa tidak ada sama sekali di sekitar rumah sakit, Willy terpaksa meminta bantuan Reyhan dan yang lainnnya, setelah beberapa lama menunggu akhirnya Reyhan dan yang lainnya datang dengan tergesa gesa serta nampak khawatir.


"Ada apa nih?" Tanya Reyhan yang baru saja datang.