
"Iyah nih, puncak ternyata enak juga yah." Kata Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan.
"Reyhan, gue udah pacaran nih, Lo kapan?" Sindir Mauren dengan menggandeng tangan Rizky yang sedang tersenyum kepadanya.
"Semua butuh proses, gak semudah membalik telapak tangan." Jelas Reyhan kepada mereka berdua.
"Lama Lo, mau sampe kapan pdkt terus? tapi gak jadian?" Ledek Rizky dengan melirik ke arah Nikita yang sedang menikmati pemandangan.
"Gue juga dulu hampir dua tahun pdkt sama Lo, masa gak inget sih?" Ucap Reyhan dengan melihat ke arah Mauren.
"Bener juga, tapi apa Lo mau menyia-nyiakan kesempatan ini? Ini di puncak, suasana yang cocok untuk Lo nembak dia, Reyhan." Jelas Mauren dengan Tersenyum kepada Reyhan.
"Bener juga tuh yang dibilang Mauren, kapan Lo mau nembak di?" Ledek Rizky dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Udah deh, biar gue aja yang ngatur semua ini, gue lagi pengen temenan aja dulu sama dia." Jelas Reyhan kepada mereka berdua.
"Kalo lu cuma temenan sama dia, kenapa Lo kayak ngasih dia kesempatan buat deketin Lo?" Jelas Mauren dengan kesal kepada Reyhan.
"Gue ngasih kesempatan? Gue gak pernah memberikan dia kesempatan." Jelas Reyhan dengan kebingungan.
"Yaudah, semua ini terserah Lo, karena hidup ini Lo yang jalanin." Jelas Rizky dengan Tersenyum kepada Reyhan.
"Gue berharap di liburan kali ini adalah dimana liburan yang paling tidak bisa gue lupakan." Teriak Nikita dengan menikmati pemandangan.
"Tuh kan, padahal dia udah kode, masa Lo gak paham sih?" Kata Rizky dengan Tersenyum kepada Reyhan.
"Percayalah, gue ada sebuah rencana untuk membuat dia tidak bisa melupakan liburan kali ini." Jelas Reyhan dengan tersenyum kepada mereka berdua.
"Percaya sama gue Reyhan, Lo dan Nikita itu cocok." Jelas Mauren dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Tenanglah Mauren, gue bakal nembak dia pada saatnya, bukan sekarang." Jelas Reyhan dengan menghampiri Nikita, dan berdiri di sampingnya.
"Sejuk juga yah puncak, jadi pengen di puncak terus." Kata Nikita dengan menyenderkan kepalanya di bahu Reyhan.
"Gue tinggal dulu ya, silahkan menikmati waktu berdua." Teriak Rizky dengan pergi bersama Mauren meninggalkan mereka berduaan.
"Kalo Lo disini terus, Lo sekolah gimana?" Gurau Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.
"Yaudah, gue pindah aja sekolahnya disini, hahaha." Tawa Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Nikita, sebenernya ada hal yang pengen gue omongin sama Lo." Kata Reyhan dengan menatap Nikita sangat serius.
"Ada apa Reyhan?" Tanya Nikita dengan Tersenyum.
"Gue rasa kita harus bantu Roy untuk nembak Aulia, soalnya kan Roy belum pernah pacaran dari lahir sampe sekarang." Jelas Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.
"Yah, gue kira tadinya dia mau menyatakan perasaan dia ke gue, ternyata bukan." Batin Nikita dengan menundukkan Kepalanya.
"Kenapa Lo? Kok nunduk? Sakit leher yah?" Tanya Reyhan dengan melihat wajah Nikita secara jelas.
"Nggak kok, gamungkin gue sakit leher." Kata Nikita dengan terkekeh.
"Gue ragu buat nembak Lo, dari sikap Lo memberitahukan bahwa Lo menganggap gue hanya sebatas teman aja, gue tau dari sikap Lo ke gue." Batin Reyhan dengan terus memperhatikan Nikita.
"Woi! Bengong aja Lo berdua, kesambet aja." Kata Galang yang tiba-tiba berada di belakang mereka dengan naik sepeda bersama Lauren.
"Jangan berduaan gini, nanti khilaf aja Lo." Kata Lauren dengan tersenyum kepada Galang.
"Ya nggak anjir, gamungkin gue ngelakuin itu." Kata Reyhan kepada mereka berdua.
"Reyhan, ayo ikut gue sebentar." Kata Galang dengan wajah serius, dan Reyhan tau maksud dari wajah Galang.
"Lauren, Lo temenin Nikita sebentar ya." Suruh Reyhan dengan menaiki sepedanya dan mengikuti Galang yang sudah pergi.
"Reyhan, gue boleh ikut gak?" Tanya Nikita dengan lirih.
"Udah Nikita, Lo kalo mau balik ke rumah, balik aja dulu, ada hal serius yang pengen gue omongin sama Galang." Jelas Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.
"Yaudah, Lauren Ayo kita ke rumah aja, disini udah terlalu dingin." Ajak Nikita kepada Lauren, dan Lauren hanya mengangguk saja.
Reyhan pun mengikuti Galang dengan sepedanya, dan tibalah mereka berdua di sebuah taman, dengan sebuah kursi dan juga ayunan, Galang sudah duduk disitu duluan, dan Reyhan menghampiri Galang.
"Ada hal apa yang mau Lo kasih tau ke gue?" Tanya Reyhan dengan duduk di samping Galang.
"Gue dapet info dari Jessica, katanya geng Halilintar sedang merencanakan sesuatu." Jelas Galang dengan serius kepada Reyhan.
"Ayolah Galang, ini liburan kita, kapan lagi kita liburan tanpa ada gangguan geng halilintar? Gue udah males kalo ngomongin soal geng halilintar." Jelas Reyhan dengan beranjak pergi meninggalkan Galang.
"Tapi ini soal Michael, itu yang dibilang Jessica." Jelas Galang dengan bangkit berdiri, dan membuat Reyhan berhenti seketika.
"Kasih tau gue, apa yang Lo lihat." Jelas Reyhan dengan menghampiri Galang.
"Gue udah males buat menerawang lagi, tapi gue dapet informasi ini dari Jessica." Jelas Galang dengan menghampiri Reyhan.
"Jessica? Emang apa yang dia kasih tau ke Lo?" Tanya Reyhan kebingungan.
"Cukup Galang, gue rasa Lo gausah ngasih tau Reyhan." Kata Jessica yang baru saja datang dengan sepedanya.
"Kenapa gue nggak dikasih tau? Apa alasannya?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.
"Kalo Lo dikasih tau, pasti Lo bakalan gegabah buat mencari dimana Michael." Jelas Jessica kepada Reyhan.
"Gue gak akan, tenang aja kok." Kata Reyhan santai seraya tersenyum kepada mereka berdua.
Jessica pun langsung memberitahukan hal tersebut kepada Reyhan, dan Reyhan pun nampak terkejut ketika mendengar cerita dari Jessica.
"Jadi? Apa mungkin kita harus berhati-hati?" Tanya Reyhan dengan penuh kecurigaan.
"Ya, jelas kita harus berhati-hati, intinya Lo jangan pernah buat masalah disini, atau geng Halilintar tau kita ada disini." Jelas Jessica dengan beranjak pergi ke rumah untuk beristirahat.
"Galang, gue minta--" belum sempat Reyhan melanjutkan kata-katanya, Galang sudah tidak ada di tempat tersebut.
Reyhan pun seketika langsung menggoes sepedanya menuju rumah, dan setelah beberapa menit menggoes sepeda dia pun akhirnya sampai di depan teras rumah, Reyhan pun berjalan ke arah dalam Rumah dari dalam rumah tampak teman-temannya sedang membicarakan sesuatu.
"Woy Reyhan, kemana aja Lo? Sini gabung." Ajak Dewa dengan tersenyum kepada Reyhan yang baru saja masuk.
"Pada ngomongin apa nih?" Tanya Reyhan dengan berjalan ke arah mereka dan ikut bergabung.
"Mumpung Aulia nggak ada, kita mending atur rencana." Kata Angel kepada mereka semua.
"Emang Aulia kemana? Kok gak ada?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.
"Dia sama Nikita lagi keliling villa, jadi aman kok tenang aja." Jelas Roy dengan Tersenyum.
"Roy, mental Lo udah kuat belom? Apa lu yakin Aulia bakal Nerima Lo?" Tanya Reyhan dengan melirik ke arah Roy dan Tersenyum.
"Emm, gue yakin kok Aulia bakal Nerima gue." Jelas Roy dengan sangat yakin.
"Sebelum menyatakan perasaan, Lo harus pastiin orang yang lu suka itu suka sama Lo apa nggak." Jelas Reyhan kepada mereka semua dan berdiri layaknya seorang motivator cinta.
"Kalo Lo mau nembak seseorang, Lo harus persiapkan mental dan fisik Lo, siap untuk ditolak atau pun diterima." Jelas Reyhan kepada mereka semua.
"Kalo udah siap gimana?" Tanya Andre dengan mengangkat tangannya layaknya sedang dalam pelajaran.
"Kalo udah siap, Lo coba pikirkan kembali si wanita itu baik apa nggak buat Lo." Jelas Reyhan dengan Tersenyum.
"Apa mental Lo udah kuat buat nembak Nikita?" Tanya Anto dengan mengangkat tangannya dan Tersenyum, dan itu membuat ruangan tersebut hening beberapa menit.
"Emm, soal itu mental dan fisik gue belom kuat, karena gue belom bisa pastiin dia suka sama gue atau nggak." Jelas Reyhan dengan Tersenyum kepada mereka semua.
"Pantesan aja, tadi Lo berduaan kayak canggung gitu." Jelas Rizky dengan santai.
"Oh, jadi Lo nguping ya? Minta gue hajar Lo." Gurau Reyhan dengan Tersenyum.
"Kalo mental dan fisik udah siap gimana?" Tanya Shannia dengan mengangkat tangannya.
"Kalo memang Lo yakin dia itu terbaik buat Lo, dan seluruh persiapan udah siap, lo nyatakan saja perasaan Lo ke dia, intinya itu Roy." Jelas Reyhan dengan melihat ke arah Roy.
"Gue masih ragu buat nembak dia, takut dia gak Nerima gue." Kata Roy dengan nada pelan.
"Tenanglah! Biar gue yang bantu." Ucap Mauren kepada Roy dengan serius.
"Lo mau bantu apa?" Tanya Roy dengan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Mauren.
"Tinggal tunggu aja jawabannya, saatnya gue beraksi." Jelas Mauren dengan keluar rumah dan menuju taman.
Mauren pun berjalan menuju taman, dimana Aulia dan Nikita sedang bermain ayunan di taman tersebut, Mauren pun menghampiri mereka berdua dan duduk di kursi yang tersedia disitu dengan membawa sebuah roti.
"Aulia, ada hal yang pengen gue omongin sama Lo." Jelas Mauren dengan datang dan berdiri di samping Aulia, dan Mauren memberikan kode kepada Nikita untuk pergi.
"Mau ngomongin apa?" Tanya Aulia singkat.
"Gue pergi dulu yah, kalian ngomong aja berdua dulu." Jelas Nikita dengan bangkit berdiri dan pergi ke rumah.
"Mau ngomongin apa nih?" Tanya Aulia penasaran.
"Ah nggak kok, ini soal geng yang kemarin menyerang Milea dan yang lainnya, apa Lo kenal mereka?" Tanya Mauren dengan tersenyum dan memberikan dia sebuah roti.
"Geng? Geng yang di pasar itu? Gue gak tau mereka siapa, yang jelas katanya itu geng paling berbahaya dan ditakuti oleh masyarakat sekitar." Jelas Aulia kepada Mauren seraya mengambil sebuah roti.
"Oh begitu, dulu lu pernah tinggal disini berapa lama?" Tanya Mauren dengan melihat Aulia.
"Gue disini udah lima tahun, terus gue pindah ke Tangerang karena mama gue dinas disana." Jelas Aulia dengan tersenyum kepada Mauren.
"Oh ya, Lo suka sama siapa nih?" Tanya Mauren dengan tiba-tiba, yang membuat dia tersedak roti.
"Nih minum dulu." Suruh Mauren dengan memberikan sebotol minuman mineral.
"Kenapa Lo tiba-tiba nanyain itu ke gue?" Tanya Aulia curiga dengan mengelap bibirnya yang berantakan akibat tersedak.
"Ah, nggak kok, gue cuma nanya doang, suka sama siapa nih?" Tanya Mauren dengan Tersenyum kepada Aulia.
"Janji yah Lo jangan bilang ke yang lain." Kata Aulia dengan mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iyah, gue janji kok, tenang aja." Kata Mauren dengan membalas acungan jari kelingkingnya.
"Gue suka sama Roy, gue suka sama dia udah lama, tapi gak berani buat deketin dia." Kata Aulia dengan menundukkan kepala.
"Yaelah, gitu doang masa gak berani sih?" Tanya Mauren dengan meremehkan Aulia.
"Gue dari dulu sampe sekarang gapernah yang namanya pacaran, jadi gue belom ngerti apa-apa tentang cinta." Jelas Aulia dengan terkekeh.
"Wah, apa Lo serius? Kebetulan banget nih, Roy juga belom pernah pacaran sama sekali dari dulu sampe sekarang." Seru Mauren dengan memegang pundak Aulia.
"Apa Lo serius? Sebenernya Roy suka gak sih sama gue?" Tanya Aulia dengan Tersenyum lebar
"Entahlah, gue belom tanya ke dia, mungkin aja dia suka sama Lo." Jelas Mauren dengan mengangkat kedua bahunya.
"Lo seriusan? Dia suka sama gue?" Kata Aulia dengan terkejut.
"Kan gue bilang mungkin, bukan beneran." Jelas Mauren dengan Tersenyum.
"Yah, gue kira dia suka sama gue, tapi nggak mungkin juga orang sekaya Roy itu suka sama gue." Batin Aulia dengan Tersenyum kepada Mauren.
"Kenapa Lo senyum-senyum sendiri?" Tanya Mauren dengan kebingungan.
"Ah nggak kok, gue gapapa." Kata Aulia dengan tersenyum kepada Mauren.
"Balik ke rumah yuk, bosen di luar terus, lagian gue Juga ngantuk nih, pengen tidur." Ajak Mauren dengan Tersenyum kepada Aulia.
"Biarin gue sendiri dulu, entahlah mood gue lagi ancur." Kata Aulia dengan Tersenyum secara terpaksa.
"Ini udah mau hujan, sebaiknya Lo cepet masuk ke dalam, nanti sakit." Kata Roy dari belakang dan Tersenyum kepada Aulia.
"Yaudah, gue masuk sama Roy yah Mauren, gue duluan." Jelas Aulia dengan menggandeng tangan Roy dan pergi ke rumah.
"Percayalah Roy, kalo Lo senang gue juga senang." Batin Mauren dengan Tersenyum melihat Aulia dan Roy bergandengan tangan dari jauh.
Sementara itu, dengan yang lainnya mereka masih Berkumpul di ruang keluarga yang cukup luas dengan bermain berbagai jenis permainan pada jaman dahulu, serta juga bermain game online.
"Gimana nih rencana kita? Disetujui gak sama Roy?" Tanya Andre dengan melihat ke mereka semua.
"Entahlah, Roy juga belom ngasih tau ke kita." Kata Reyhan dengan mengangkat bahunya.
"Udah, gue setuju sama rencana Lo semua." Teriak Roy yang baru saja datang bersama Aulia.
"Setuju? Rencana? Rencana apaan nih?" Tanya Aulia kebingungan.
"Rencana buat--" jelas Alucard, belum sempat Alucard melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja Dewa menginjak kakinya.
"Rencana buat pergi ke arena bermain labirin." Jelas Dewa dengan memberikan kode untuk tidak memberi tahu rahasia yang sebenarnya kepada Aulia.
"Hah? Arena bermain labirin? Lo seriusan?" Tanya Aulia kebingungan.
"Iyah, gue serius kok, Lo mau nggak?" ajak Roy dengan Tersenyum kepada Aulia.
"Tapi Roy, gue takut, gue takut kejadian sewaktu SD itu terulang." Jelas Aulia dengan menangis secara tiba-tiba dan memeluk Roy.
"Roy menang banyak, tancep gas terus Roy!" Ledek Willy dengan berteriak.
"Bego Lo! Lagi nangis itu dia!" Geram Verrel seraya menjitak kepala Willy.
"Lo kenapa? Kenapa Lo nangis?" Tanya Roy kebingungan.
"Gue takut, gue ada trauma dengan labirin, huaaa." Kata Aulia dengan memeluk Roy semakin erat dan menangis semakin besar.