
"Hai Galang, serius amat sih, jadi makin ganteng deh kalo lagi meditasi gini!" Kata Lauren dengan tersenyum manis kepada Galang, dan itu membuat Galang salah tingkah.
"Ngapain Lo disini?" Tanya Galang dengan salah tingkah di hadapan Lauren.
"Gue disini? Mau liat kondisi Lo kayak gimana, ga masuk seharian sekolah sepi banget!" Ucap Lauren dengan duduk di samping Galang.
"Yakin sepi banget? Emangnya gak ada yang ngehibur Lo?" tanya Galang dengan tersenyum kepada Lauren Dan berusaha menggodanya.
"Gue mau cerita sama Lo soal kejadian tadi pagi di sekolah." Kata Lauren dengan wajah serius.
"Kenapa emang tadi pagi? Ada apa sih? Coba ceritakan." Kata Galang dengan bangkit berdiri lalu memakai bajunya.
"Lo emang belom tau? Gak nerawang?" Tanya lauren dengan tersenyum kepadanya.
"Nggak, gue akan menjalani kehidupan gue seperti biasa, baru kali ini seluruh energi gue kekuras habis karena melawan geng Halilintar yang gajelas itu!" Kata Galang dengan panjang lebar dan meminum air mineral miliknya.
"Apa?!! Geng halilintar?!!" Kata seseorang dari belakang Galang dan menepuk pundaknya, dan itu membuat Galang tersedak, lalu menyemburkan air mineral tersebut.
"Ngagetin aja Lo Tristan! Kalo gue jantungan gimana!" Ketus Galang kepada orang yang ia sebut Tristan tersebut.
"Hahaha! Baru kali ini gue lihat Lo kaget, biasanya juga Lo yang ngagetin orang!" Ledek lauren dengan tertawa seraya tersenyum kepada Galang.
"Widih, siapa Lo? Kenalin gue Tristan, kakaknya Galang." Kata Tristan dengan mengulurkan tangannya dan tersenyum kepada Lauren.
"Jangan lama lama! Nanti Lo kurapan tangannya." Kata Galang kepada Lauren dengan menarik tangan Tristan.
"Sialan Lo! Lo pikir apaan? Kurapan segala!" Geram Tristan dengan kesal.
"Hahaha, kalian berdua lucu yah kalo lagi ribut." Kata Lauren dengan terkekeh.
"Lo juga manis kalo lagi ketawa." ucap Tristan dengan berkedip kepada Lauren dan berusaha menggodanya.
"Diam Lo! Gausah ganggu dia! Pergi masuk ke dalam bang." Kata Galang dengan kesal dan mendorongnya masuk ke dalam.
"Lo gimana keadaannya? Udah mendingan belom?" tanya Lauren yang nampak khawatir kepada galang.
"Gue udah mendingan kok, yang penting kita harus tetap berhati hati terhadap geng Halilintar itu." bisik Galang dengan melihat sekeliling.
"Kenapa emangnya? Apa mereka sangat berbahaya?" Tanya Lauren dengan kebingungan.
"Heh Galang!! Masuk ke rumah, jangan ngomongin dia luar rumah, berbahaya!" Ucap Tristan dengan berteriak dari depan pintu rumah.
"Yaudah, ayo kita masuk ke dalam, omongin hal ini di dalam aja!" Kata Galang dengan mengajak Lauren untuk ke dalam rumah Galang bersama dengan Tristan.
Galang pun mengajak Lauren masuk ke dalam rumahnya dengan bernuansa Jepang, dan ternyata di dalam rumah Galang begitu hangat, Lauren yang tadinya kedinginan di luar langsung merasakan kehangatan di dalam rumah Galang, Lauren pun duduk di sebuah kursi yang tersedia, dan Abang Galang membawa sebuah catatan, Galang duduk di samping Lauren dan mulai tersenyum kepadanya.
"Gausah Lo senyum senyum sama gw! Jijik rasanya!" Kata Lauren dengan mencubit pipi Galang dengan gemas.
"Aduh, sakit Lauren jangan di cubit dong!" Kata Galang dengan nada manja dan tersenyum manis.
"Gue gampar Lo senyum senyum lagi ke gue!" Teriak Lauren dengan menyiapkan tangannya untuk menggampar wajah Galang.
"Udah, gausah ribut terus Lo berdua, nanti jodoh tau rasa aja!" Kata Tristan yang masih asik menyusun sesuatu di sebuah papan.
Mereka berdua pun kaget, dan mulai saling bertatapan satu sama lain, hingga Lauren yang risih dengan tatapan mata Galang langsung menamparnya dengan sangat keras.
"Pindah tempat duduk Lo! Jangan duduk di samping gue." Kesal Lauren dengan memalingkan wajahnya.
"Waduh, adek gue main di tampar ajah, sampe berbekas gitu anjir!" Kata Tristan dengan terkejut ketika melihat Galang ditampar oleh Lauren.
"Udah bang, tenang aja sekarang mending Lo lanjutkan saja." Kata Galang berusaha mencairkan suasana tersebut.
"Galang, Lo udah lawan geng halilintar, tandanya Lo akan berurusan sama geng yang lainnya dan lebih kuat lagi." Jelas singkat Tristan dengan menatap Galang.
"Itu apaan? Kok banyak foto foto orang di silang sih?" Tanya Lauren kebingungan.
"Ini adalah data, dimana pada tahun dua ribu dua terjadinya penyerangan geng Halilintar, dia membunuh seluruh orang yang dia anggap sebagai pembawa masalah." Jelas Tristan dengan menunjukkan sebuah foto foto orang tersebut.
"Hah? Itu kan papanya Dewa kalo gak salah, jadi papanya Dewa dibunuh oleh geng Halilintar?" Ucap Lauren dengan terkejut dan menunjuk foto papa Dewa.
"Ya, dia dibunuh karena dianggap telah menghalangi rencana geng halilintar." Jelas Tristan dengan sangat serius.
"Lalu? Kenapa banyak banget orang yang dibunuh? Penyebabnya apa?" Tanya Galang dengan kebingungan.
"Seperti yang gue bilang, geng Halilintar akan membunuh siapapun yang menghalangi rencananya, dan ikut campur dengan rencananya." Ulang Tristan untuk kedua kalinya.
"Apa kakak Nayla termasuk korban? Kenapa kakak nayla Fotonnya ada disitu?" Ucap Galang dengan menunduk dan mulai mengepalkan tangannya.
"Yah, itulah geng halilintar, tidak kenal laki laki atau perempuan yang penting mereka bisa membunuh orang yang menghalanginya." Jelas Tristan dengan menghela nafas lega.
"Hmm, ini ada abangnya verrel, papanya dewa, masih banyak lagi sih korbannya." Kata Lauren dengan mengamati foto foto tersebut.
"Sudah, sebaiknya kita jangan membicarakan geng halilintar lagi, atau akan celaka." Jelas Tristan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Lauren, gue rasa Lo harus pulang sekarang." Kata Galang dengan menunduk.
"Galang, gawat kalo Lauren habis dari rumah kita, dan habis ngomongin geng Halilintar, terus pulang sendirian akan sangat berbahaya." Jelas Tristan dengan memegang pundaknya.
"Yaudah Lauren, ayo gue antar pulang." Kata Galang dengan beranjak pergi dan menggandeng tangan Lauren.
"Lo mau nganter dia pake apa? Bukannya kekuatan Lo belom pulih?" Tanya Tristan dengan tersenyum.
"Hahaha, Iyah nih pake apa dong gue di anterinnya?" Kata Lauren Dengan terkekeh.
"Nih kunci motor gue, pake aja sana." Kata Tristan dengan melemparkan kunci motornya tersebut dan Galang pun mengambilnya.
Galang pun langsung keluar rumah dan menaiki motor yang ada, lalu mengantarkan Lauren pulang ke rumahnya dengan motor tersebut, Lauren berusaha tidak memikirkan sesuatu tentang geng halilintar, namun dia masih saja kepikiran tentang geng halilintar, hingga di tengah jalan dia dicegat oleh 2 motor, lauren pun langsung merasa takut.
"Galang, gimana nih?" tanya Lauren dengan memeluk tubuh Galang erat.
"Tenang aja, kita harus ngebut nih kayaknya." Kata Galang dengan tersenyum kepada Lauren.
Galang pun mengebut dengan sangat kencang, tetapi para preman Tersebut mengejarnya,hingga posisi mereka sangat dekat, dan para preman tersebut mulai menodongkan sebuah golok kepada Lauren dan juga galang.
"Woi! Turun Lo!!" Teriak salah satu preman dengan menodongkan golok tersebut kepada Galang.
"Diam Lo brengsek!!" Teriak Lauren dengan sangat keras.
"Bego Lo!! Seru apanya! Yang ada kita bakalan mati!!" Kata Lauren dengan menjitak kepala Galang.
"Hahaha, dipikir gue punya kantong celana buat apa? Buat pajangan doang??" Kata Galang dengan tertawa seraya mengambil sesuatu di kantong celana miliknya.
"Maksud Lo? Lo emang bawa apa?" Tanya Lauren kebingungan dengan melihat Galang yang sedang mengeluarkan sesuatu dari kantong kirinya.
"Hahaha, Lo sebar ini ke mereka! Biar jatuh!" Ucap Galang seraya memberikan sebuah paku beton kepada Lauren.
"Yaudah, gue coba sebar." Kata Lauren dengan tersenyum.
Lauren pun secara cepat langsung menyebarkan paku tersebut, dan salah satu motor dari preman tersebut pun langsung terjatuh karena ban yang digunakan oleh preman itu bocor, Galang pun tersenyum bahagia karena hanya tersisa 1 preman saja yang mengejarnya.
Tetapi dia semakin lama semakin pusing, dan pandangan mata Galang mulai kabur secara perlahan, Galang pun memperlambat jalannya, dan berhenti di pinggir jalan, Galang berusaha memfokuskan matanya dan semakin tidak fokus, Lauren pun kebingungan apa yang sebenernya terjadi pada Galang.
"Kenapa Lo Galang?" tanya Lauren yang masih duduk di atas motor.
"Kepala gue pusing, mata gue pandangannya kabur, gue gatau kenapa ini." Kata Galang dengan nada lemas.
"Galang! Mereka datang Galang, kita harus apa?" Tanya Lauren dengan panik dengan menepuk pundak Galang.
"Telepon Abang gue, nih cepat telepon!" Kata Galang dengan memberikan handphone miliknya.
Lauren pun menelepon Abang Galang dengan sangat cepat dan terlihat Lauren ketakutan serta juga panik, karena ada beberapa motor lagi yang datang ke arahnya, dengan membawa sebuah golok, setelah selesai menelepon Abang Galang, Lauren pun kebingungan harus apa, karena Galang sudah dalam keadaan pingsan.
"Galang, bangun Galang, tolongin gue." ucap Lauren dengan menggoyangkan tubuh Galang.
"Hahaha! Kita akhirnya ketemu Lauren, dan juga Galang." Kata seseorang dengan menggunakan topeng badut.
"Apa Lo orang yang sama, sewaktu menyerang Dewa?" Kata Lauren dengan turun dari motor dan mulai mengepalkan tangannya.
"Hahaha! Ternyata Lo tahu kalo gue nyerang dewa? Gue rasa Lo harusnya gaperlu tahu itu!" Kata orang tersebut dengan tertawa dan mengeluarkan pisau.
"Gue perlu tahu! Karena dewa adalah sahabat gue juga!" Ketus Lauren dengan bersiap untuk melawan para preman itu.
"Gue rasa Lo gausah ikut campur urusan gue, atau akan terima akibatnya." Jelas orang tersebut dengan nada sangat marah.
"Lo udah nyerang teman gue, dan juga gebetan gue, jadi gue harus ikut campur urusan Lo!" Jelas Lauren dengan sedikit tersenyum.
"Baiklah, serang dia, kalo perlu habiskan sampai mati!" Kata orang topeng tersebut dengan tersenyum, lalu pergi meninggalkan mereka.
Lauren pun sudah bersiap dengan helmnya, dan dia melawan anak buah geng Halilintar tersebut sendirian, Lauren terus melawannya dengan sekuat tenaga, hingga dia jatuh tersungkur di dekat motor Galang, dan mulai bangkit berdiri tapi tidak bisa.
"Lo tuh cuma perempuan, gak akan bisa lawan kita yang punya kekuatan besar ini!" Kata salah seorang preman tersebut dengan meledek Lauren.
"Putri, sebaiknya Lo tidur aja dirumah, gausah lawan kita!" Ledek salah satu preman tersebut dengan meletakkan pisau di leher Lauren.
"Apa! Lo bilang, gue putri? Lo akan terima akibatnya! Gue bukan putri!!" Kata Lauren dengan sangat marah dan langsung mengambil tangan salah satu preman tersebut dan mematahkannya dengan mudah.
Lauren pun langsung melawan mereka penuh dengan amarah dan juga emosi, Lauren terus melawan para preman tersebut dengan sangat mudah, hingga datanglah Abang Galang dengan menggunakan motor, lalu ikut membantu Lauren dan memberikan topeng kepada Lauren, Lauren pun kebingungan apa yang dimaksud oleh Abang Galang.
"Apaan nih? Kok pake topeng segala?" Tanya Lauren kebingungan dengan mengambil topeng tersebut dari tangan Tristan.
"Sebaiknya Lo pake cepetan, sebelum terlambat, nanti gue jelaskan!" Jelas Tristan dengan menyuruh Lauren agar memakai topeng tersebut.
Setelah selesai memakai topengnya Lauren pun melawan para preman itu lagi, dan sampai mereka kelelahan, lalu pergi entah kemana, Tristan pun langsung menghampiri Galang yang sedang pingsan di motornya, dan memeriksa tubuh Galang.
"Astaga, badannya panas banget, bantu gua buat anterin dia." Kata Tristan dengan mengecek tubuh Galang, dan membantunya untuk duduk.
"Kenapa emang? Galang kenapa?" Kata Lauren dengan nada khawatir.
"Dia masih belum pulih kekuatannya, dan dia harus segera dibawa ke rumah sebelum terlambat." Kata Tristan yang sudah berada di atas motor.
"Terus? Gue harus apa?" Tanya lauren dengan kebingungan.
"Lo ikut naik, pegangin Galang biar gak jatuh, ayo cepetan!" Perintah Tristan dengan sangat khawatir.
Lauren pun langsung naik ke atas motor dan Tristan seketika langsung menyalakan motornya dan ngebut ke rumah dengan sangat kencang, lauren hanya berharap galang baik baik saja dan akan cepat sembuh.
Keesokan harinya.
Lebih tepatnya hari Selasa, di sekolah, Reyhan yang sedang berjalan menuju kelasnya tiba tiba saja dia ditepuk pundaknya oleh Andre dan Andre tersenyum kepada Reyhan.
"Hai Reyhan, makasih udah bantu gua kemarin ya!" Kata Andre seraya tersenyum.
"Hmm, tenang aja kok, gimana keadaan Lo, udah mendingan?" Kata Reyhan dengan melihat kaki Andre.
"Iyah dong, makasih atas bantuannya kemarin." Ucap andre dengan tersenyum kepada Reyhan.
Reyhan pun kembali berjalan lagi ke kelasnya, setelah sudah sampai di kelas, Reyhan yang lupa mengerjakan pr matematika langsung mengerjakan pada saat itu juga, namun dia kebingungan pada saat mengerjakan pr, dan secara tiba tiba ada seseorang yang menyodorkan buku kepadanya.
"Nih kalo bingung, lihat saja punya gua." Kata Alucard dengan tersenyum.
"Oh ya! Lo kan jagonya matematika, sini duduk bareng sama gue, ajarin sekalian." Kata Reyhan dengan menyuruh duduk di sampingnya.
"Maaf Reyhan, gue mau ke kantin dulu ngumpul sama yang lain, maaf yah." Tolak Alucard secara halus dan pergi dari hadapan Reyhan, lalu menuju ke kantin.
Reyhan pun mengerjakan soal itu dengan mencontek punya Alucard, setelah beberapa menit, Reyhan pun sudah selesai mengerjakan soal tersebut, dan pada saat sedang memasukkan buku ke dalam tas, ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Pagi Reyhan, udah makan belom? Kantin yuk?" Ajak Mauren yang sudah berada di depan Reyhan dengan tersenyum.
"Nggak ah, lagi males gue ke kantin, pengen belajar gue hari ini ulangan bahasa Indonesia." Tolak Reyhan secara halus dan tersenyum kepada Mauren.
"Yang bener Lo? Nanti bohong lagi." Kata Mauren berusaha meyakinkan Reyhan.
"Iyah anjir, hari ini ulangan bahasa Indonesia." Ucap Reyhan dengan kesal, Karena materi yang diberikan oleh guru cukup banyak.
"Yaudah semangat yah belajarnya, gue mau ke kantin dulu." Kata Mauren dengan tersenyum lalu pergi ke kantin.
Pada saat setelah Mauren pergi, datanglah Nikita, dan Reyhan langsung bersemangat, dia pun langsung tersenyum kepada Nikita dan menyapanya dengan ramah.
"Hai Nikita, selamat pagi, Lo udah belajar bahasa Indonesia?" Kata Reyhan dengan tersenyum, tetapi tidak dijawab oleh Nikita.
Reyhan terus memperhatikan Nikita, dan dia tidak merespon Reyhan dengan tersenyum atau pun yang lainnya, Nikita masih fokus dengan bukunya, dan dia risih sama reyhan yang selalu memperhatikannya.
"Mau apa Lo?" Ketus Nikita dengan terus melihat Reyhan dan nampak kesal.