Reyhan

Reyhan
ep 25



"Namanya juga haters, dan gue yakin dia ada disini." kata Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.


"Hah? Emang Iyah? Siapa orangnya?" tanya Nikita dengan penasaran.


"Sst! Sebaiknya gausah ngomongin dia, kalo ngomongin dia, gue yakin bakal ada korban selanjutnya." kata Reyhan dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir manis Nikita.


"Bau bawang sial! Tangan lo abis megang apaan sih!" Geram Nikita dengan menepis tangan Reyhan.


"Hahaha! Tadi abis motong bawang, gue lupa cuci tangan." kata Reyhan dengan tertawa.


"Sono cuci tangan! Bau banget sih!" Kesal Nikita dengan menyuruh Reyhan agar mencuci tangannya.


"Yaudah, gue cuci tangan dulu deh." kata Reyhan dengan beranjak pergi menuju wastafel yang ada di toilet.


Reyhan pun mulai mencuci tangan dengan sabun,tetapi dia merasa ada orang yang memperhatikannya dari kejauhan, Reyhan yang mulai parno pun mulai melihat sekeliling toilet yang tidak ada siapa siapa di toilet tersebut, setelah selesai mencuci tangan Reyhan pun keluar toilet, tetapi pada saat di depan pintu dia dikagetkan oleh Willy yang sedang jongkok.


"Wa!!! Reyhan!!" teriak Willy dengan mengagetkan Reyhan.


"Sialan Lo! Bikin kaget aja!" Kesal Reyhan dengan menjitak kepala Willy.


"Hahaha! Maaf Reyhan, gua bercanda doang kok." kata Willy dengan tersenyum kepada Reyhan dan menepuk pundak Reyhan.


"Gimana keadaan Lo Wil? Udah agak baikan belom?" tanya Reyhan dengan merangkul Willy dan berjalan menuju kelasnya.


"Gua udah agak baikan sih, cuma paha gw doang nih! Perih banget dah sumpah!" kata Willy dengan menunjukkan pahanya yang nampak memar dan baret.


"Kenapa anjir? Kok pada luka begitu sih?" tanya Reyhan dengan melihat kedua paha Willy yang nampak luka serius.


"Jangan lama-lama liat paha gue, nanti ketagihan, hahaha!" kata Willy dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Idih!! Najis Lo kampret!!" kata Reyhan dengan kesal lalu menjitak Willy dengan sangat keras.


"Menurut Lo siapa orangnya?" tanya Willy dengan serius sambil berbisik kepada Reyhan dan melihat sekeliling.


"Gua rasa kita semua harus berhati hati!" kata Reyhan dengan berbisik kepada Willy.


"Berhati hati? Maksud Lo apa?" tanya Willy yang kebingungan.


"Nanti juga kita akan tahu, udah gausah bahas yang kemarin lagi." kata Reyhan dengan mengalihkan pembicaraan.


"Eh, Roy sama yang lainnya mana yah?" tanya Willy dengan melihat sekeliling yang masih sepi.


"Gatau nih, padahal udah jam enam empat puluh menit nih, tapi kok Roy dan yang lainnya belum Dateng ya?" kata Reyhan dengan melihat jam tangannya.


"Gua rasa mereka kecapean deh, nanti kita jenguk coba di rumahnya masing masing!" kata Willy dengan tersenyum kepada Reyhan.


Bel masuk pun berbunyi dengan sangat keras, mereka berdua pun masuk ke kelasnya masing masing dan memulai pelajaran seperti biasanya.


Sepulang sekolah....


Ternyata Roy Dan yang lainnya datang terlambat, sementara itu Reyhan sedang berjalan bersama teman temannya menuju ke parkiran, dan berniat untuk menjenguk Dewa di rumah sakit, tiba tiba saja ada Mauren dan juga Nikita yang menghampiri Reyhan secara bersamaan.


"Reyhan, gue ikut dong!" kata Mauren


"Mau ikut kemana?" tanya Willy singkat dengan kebingungan.


"Ikut jenguk Dewa dong! Gue mau liat kondisi Dewa seperti apa." Ucap Mauren yang datang bersama dengan Lita.


"Cuma segini doang?" tanya Reyhan singkat dengan melihat mereka berdua.


"Eh Reyhan, Lo pikir di rumah sakit boleh jenguk rame rame? Apalagi lebih dari tiga orang, ya jelas gaboleh dong." kata Willy yang sudah bersiap dengan helmnya.


"Yaudah, ayo kita langsung berangkat aja, Lo sama Reyhan, Lita sama gua naik mobil." kata Roy dengan mengajak Lita untuk naik mobil bersama dengan Roy.


Mereka semua pun mulai menancapkan gas menuju rumah sakit tempat dewa di rawat,sementara itu Nikita yang sedang berjalan sendirian, memikirkan Untuk menjenguk dewa di rumah sakit bersama teman temannya, sayangnya semua temannya sudah pulang duluan, tetapi pada saat Nikita berjalan dia dihampiri oleh Rizky dengan senyum sumringahnya.


"Hai, Nikita mau pulang bareng?" Tawar Rizky dengan tersenyum.


"Nah! Pas banget nih ada Lo! Anterin gua ke rumah sakit yuk!!" Ajak Nikita dengan menepuk pundak Rizky dan tersenyum.


"Rumah sakit? Ngapain?" Ucap Rizky dengan menoleh ke arahnya dan tatapan kebingungan.


"Udah, Lo ke rumah sakit sari murni aja! Dia dirawat disana katanya." Ucap Nikita dengan menarik tangan Rizky menuju ke motornya.


"Yaudah, ayo naik, untungnya gua bawa helm dua." Ucap Rizky dengan menyodorkan sebuah helm kepada Nikita.


"Ayo berangkat! Gausah lama lama! Gua ada pr nih." kata Nikita yang sudah berada di motor Rizky dan menepuk pundaknya.


Rizky pun segera menyalakan motornya dan menuju rumah sakit sari murni yang letaknya cukup jauh dengan sekolah, Kimi Rizky dan Nikita sudah berada di parkiran, Rizky yang sudah turun setelah Nikita langsung menghampiri Nikita yang nampak terburu buru masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


"Buru buru amat, emangnya siapa yang sakit?" tanya Rizky dengan menahan Nikita, dan dia hanya terdiam saja.


"Dewa yang sakit, Lo mau ikut liat gak?" tanya Nikita dengan melirik tajam ke arah Rizky.


"Hah? Sakit? Dia sakit kenapa?" Tanya Rizky dengan terkejut dan melongo.


"Katanya sih ditusuk, udah ayo ikut gua." Ajak Nikita, lalu pergi menuju ke dalam rumah sakit tersebut.


Mereka berdua pun berjalan menuju ruangan dimana dewa dirawat, pada saat sudah sampai di sekitar ruang tersebut, ternyata tempatnya cukup adem untuk sebuah rumah sakit, dimana tepat di ruang dewa di rawat ada sebuah taman kecil, dengan gazebo serta sungai kecil di dalamnya, dan ada Taman bunga yang cukup indah serta juga dapat memanjakan mata.


Nikita dan Rizky berjalan menuju ruangan dewa, pada saat diluar ruangan dia tak sengaja bertemu dengan Verrel, Willy, Roy, dan Galang yang menunggu di luar, dikarenakan hanya diperbolehkan masuk 3 orang dalam 1 ruangan


"Hai, gengs! Mau ngejenguk dewa juga?" Sapa Nikita dengan senyuman manisnya.


"Eh Nikita? Lo tau darimana kalo Dewa dirawat??" tanya Willy dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Gua tau dari Reyhan, dia yang cerita sama gua, gua cukup prihatin sih dengan kondisi Dewa." Jelas Nikita dengan nada agak sedih.


"Sudah, gausah sedih sedihan Mulu, nanti si Roy nangis tuh." bisik Galang dengan melirik Ke arah roy.


"Heh kampret! Apaan Lo! Gua gak nangis tuh." kata Roy dengan nada kesal dan menjitak kepala Galang.


"Oh ya, Rizky? Lo ngapain disini?" tanya Verrel singkat dengan tatapan tajam.


"Gua kesini cuma nganterin dia, eh dia ngajak masuk buat ngejenguk dewa, yaudah gua ikut." jelas Rizky kepada mereka semua.


"Yaudah, tunggu aja dulu, bentar lagi Reyhan keluar kok." kata Galang dengan tersenyum kepada mereka berdua.


Kini Nikita dan Rizky pun duduk di kursi yang tersedia, keadaan rumah sakit yang sepi dan juga tenang, semua menunggu beberapa menit, setelah beberapa menit menunggu akhirnya Reyhan,Lita, dan Mauren pun keluar dari ruangan dewa,


setelah selesai Rizky, Roy dan juga Nikita langsung masuk ke dalam ruangan tersebut untuk menjenguk dewa, Rizky yang melihat kondisi dewa sedang terbaring lemas dan ada luka jahitan di perutnya langsung merasakan kecurigaan terhadap salah satu temannya.


"Lo kenapa? Kok bisa begini?" tanya Rizky dengan mendekati dewa.


"Eh, ada Rizky, gua ditusuk nih." kata Dewa dengan tersenyum kepada Rizky.


"Kok bisa ditusuk? Siapa yang nusuk Lo?" tanya Rizky kebingungan.


"Gatau nih, dia orang yang suka sama Lita, dan gua disuruh menjauh dari lita, tapi malah begini deh." kata dewa dengan menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Hmm, apa mungkin Michael yang melakukan ini?" Batin Rizky mengatakan hal itu sambil melihat ke arah luar jendela.


"Woi! bengong aja! Nanti kesambet setan di rumah sakit ini loh." Kata Nikita dengan menggoyangkan tubuh Rizky.


"Oh ya dewa, yang nyerang Lo itu ciri-cirinya seperti apa?" tanya Rizky dengan wajah serius kepada dewa.


"Dia ada dua orang, yang satu pake Hoodie Hitam dengan topeng badut, yang satu lagi Hoodie orange dengan topeng badut juga, dia nyerang Dewa secara bersamaan." jelas Roy secara rinci dan jelas, Rizky hanya mengangguk menandakan mengerti.


"Lalu? Apa Lo ngeliat mukanya?" tanya Nikita dengan tersenyum kepada dewa.


"Lah, kan ditutupin topeng badut, ya jelas gak keliatan lah!" ucap Roy dengan kesal kepada Nikita.


"Yah, kali ajah keliatan gitu." ucap Nikita dengan terkekeh geli.


"Okeh fix sih ini mah, harus gua kumpulin mereka." batin Rizky dengan memainkan handphone miliknya.


Sementara itu, Reyhan yang penasaran kenapa dia bisa bareng sama Rizky, langsung menghampiri Galang, dan menanyakan hal tersebut kepada galang.


"Wey, Nikita kenapa bisa bareng sama Rizky?" Bisik Reyhan dengan mendekati Galang.


"Gua juga gatau, mungkin dia cuma butuh tumpangan doang kali." kata Galang singkat yang nampak masih lemas.


"Bisa lu terawang gak? Coba terawang." Ucap Reyhan yang nampak penasaran.


"Maaf, untuk begitu gua udah gabisa lagi, kondisi gua lagi lemes banget." jelas Galang singkat dengan berjalan ke arah kursi.


"Yaudah, maaf ya gua terlalu memaksa." kata Reyhan yang kini duduk di samping Galang.


"Kenapa Lo? Lo sakit?" tanya Mauren dengan melihat kondisi Galang yang nampak lemas.


"Gua gapapa kok, cuma lemes aja." kata Galang dengan tersenyum kepada Mauren.


"Gua tau kok, kekuatan Lo hilang, lebih baik Lo pulang sekarang dan pulihkan kekuatan Lo, jangan dipaksain untuk jalan dulu." kata verrel dengan mendekatinya dan tersenyum.


"Mau gua anterin gak? Boleh kali nih, kalo dapet dua puluh ribu." Kata Willy dengan memberikan candaan.


"Yaudah, ayo nanti gua bayar dah, Tenang aja." kata Galang yang nampak lemas, dan berjalan ke arah Willy untuk mengantarnya pulang.


Mereka semua pun menunggu Roy dan yang lainnya keluar, setelah beberapa lama menunggu akhirnya Roy bersama yang lainnya pun keluar, dan Reyhan tersenyum kepada Nikita yang baru saja keluar.


"Nikita, gua kira Lo gak Dateng." Sapa Reyhan dengan tersenyum.


"Eh Reyhan, Iyah nih gua dapet tumpangan mangkanya gua Dateng, ya kan?" Ucap Nikita dengan menyenggol lengan Rizky dan Rizky pun hanya mengangguk mengerti.


"Reyhan, temenin gua beli eskrim yuk?" kata Mauren dengan memegang tangan Reyhan secara halus.


"Temenin gua beli novel yuk, Reyhan?" ajak Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Waduh, Reyhan diperebutkan dua cewek nih, asik juga yah!" ledek Roy dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Gua kan ada, kenapa gak sama gua ajah sih?" tanya Rizky dengan nada kesal.


"Iyah, Lo sama dia ajah tuh, biar gua nemenin Mauren." Ucap Reyhan dengan menunjuk ke arah Rizky yang sedang kesal.


"Tapi gw maunya Sama Lo, plis Reyhan anterin gua." ucap Nikita dengan sedikit memaksa.


"Reyhan, gua lapar! Temenin makan dulu!" kata Mauren dengan menarik tangan Reyhan.


"Idih! Kalo gua ditarik tarik gini, tangan gua bisa copot anjir!!" teriak Reyhan dengan melepas kedua tangannya dari tarikan mereka berdua.


"Yaudah, gini aja dah, Lo yang nentuin mau ikut sama siapa?" kata Willy kepada Reyhan dengan memberikan sebuah kode kepada Mauren.


"Gua juga lapar, ayo Mauren ikut sama gua." Ajak Reyhan dengan menarik Mauren menuju keluar rumah sakit tersebut.


"Yaelah, udah Lo kan ada gua, Ikut aja sama gua." Ucap Rizky dengan berusaha menarik tangan Nikita, tetapi Nikita menepis tangannya.


"Biarin gua sendiri dulu!" kata Nikita singkat dengan tatapan sinis.


"Yaudah, kalo gitu gua pulang duluan yah, bye!" ucap Rizky dengan meninggalkan Nikita.


Nikita pun mulai berjalan sendirian keluar dari rumah sakit, namun pada saat di parkiran dia melihat Mauren dan Reyhan bercanda dan sangat akrab, Nikita yang melihat itu merasa dadanya sakit, dia pun langsung memesan ojek online dan kembali ke rumahnya, beberapa menit kemudian.


Nikita sudah sampai di rumah, dan dia langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi, tetapi pada saat dia sedang mandi tak sengaja dia menangis di tengah shower yang sedang mengalir begitu deras di atas kepalanya.


Nikita terus menyalakan shower seraya menangis di kucuran air yang datang, Nikita menatap langit langit kamar mandi miliknya dan mulai berpikir.


"'Mengapa aku menangis melihatnya dengan yang lain? Apa aku menyukainya? Ah, itu tidak mungkin! Lagi pula apa salahnya Reyhan dekat dengan yang lain? Toh diriku bukan siapa siapa. Apa ini hanya perasaanku saja?" Pikir nikita di bawah guyuran air.


Setelah selesai urusannya dengan air, kini ia beranjak menuju lemari dan mulai berpakaian, lalu ia melangkah kan kakinya menuju meja belajarnya dan mulai sibuk dengan buku tebal dan segudang materi yang harus ia pelajari.


Baru saja ia bisa fokus pada ratusan kata di hadapannya, kini nikita teringat lagi  dengan lekukan wajah tegas milik Reyhan. Seketika Nikita terdiam dan menggelengkan kepalanya mengusir wajah itu.


Ia mengutuk dirinya sendiri karna terus memikirkan reyhan, dan yang lebih parahnya lagi kini yang ada di otaknya hanya ada reyhan, reyhan, dan reyhan. Ya tuhan mengapa dari sekian banyak lelaki harus reyhan yang harus ia pikirkan?!


Sebaiknya ia cepat tidur, mungkin otaknya sedang lelah dan malah memikirkan hal yang tidak tidak. Gadis berambut panjang itu bergegas menuju kasurnya.


Sudah kesekian kalinya nikita mencoba tidur tetapi bayang bayang reyhan tetap ada di otaknya.


"Arghhh!! Yatuhan apa yang salah dari otak ku ini?!" Umpat nikita seraya mengacak acak rambutnya pelan.


Tapi mengapa ia harus memikirkan lelaki yang catatannya milik wanita lain? Ah lama lama nikita bisa gila  hanya dengan memikirkan ini!


Sekali lagi nikita mencoba tertidur dan ketika akan terlelap lagi lagi ia teringat dengan perkataan teman temannya.


"Lo suka gak sih sama reyhan?"


Nikita pun akhirnya tertidur dengan keadaan lelah, pada keesokan harinya, lebih tepatnya hari Selasa, Reyhan yang sudah bersemangat untuk sekolah dia pun langsung menaiki motornya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah, namun pada saat hendak berangkat dia dipanggil oleh mamanya dari dalam rumah, Reyhan pun segera menghampiri mamanya dengan semangat.


"Kenapa ma?" tanya Reyhan singkat yang muncul di hadapan mamanya.


"Mama pengen ngomong serius sama kamu." kata Judy dengan muka serius, dan mulai berjalan ke arah Reyhan.


"Ngomong apa ma? Reyhan mau sekolah." kata Reyhan dengan kebingungan.


"Ikut mama sebentar." ucap jduy singkat, lalu menarik Reyhan menuju ke kamarnya, dan menutup seluruh pintu rumah serta juga jendela, Reyhan yang kebingungan masih duduk di kursi yang tersedia.


"Mau ngapain sih ma?" tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Ayo masuk kesini." ucap Judy dengan menunjuk ke arah sebuah lobang kecil yang berada di belakang lemari tersebut.