
Dewa pun mulai kesal karena ayah tirinya yang setiap hari selalu saja begitu dan tidak pernah menganggapnya sebagai anak, dewa adalah anak broken home, ayah kandungnya meninggal karena ulah geng halilintar, geng paling berbahaya di Indonesia, semenjak ayah kandung dewa meninggal kehidupannya berubah menjadi sangat berantakan, ibunya menikah lagi dengan preman yang hanya bisa memukul dan tidak bisa menghidupi keluarganya,.
Dewa sudah terbiasa dengan situasi seperti ini setiap harinya, dia tidak ingin orang lain menjadi sedih, dia mau orang lain selalu tertawa dan bahagia, maka dari itu dia selalu bahagia di depan orang lain tetapi di belakang orang lain dia selalu menangis akan nasibnya, tertawa adalah cara terbaik untuk melupakan kesedihan, dan dibalik kesenangan orang lain pasti ada kesedihan juga.
Keesokan harinya, tepatnya hari Selasa, masih di rumah dewa, pukul 06:00, dewa terbangun dari tidurnya yang nyenyak, dewa langsung bergegas mandi, selesai mandi dia pun mulai berpakaian seragam sekolah, setelah selesai dewa pun mulai beranjak ke ruang makan bersama mamanya yang baru saja selesai membuatkan dewa nasi goreng.
"Selamat pagi mama!" sapa dewa dengan tersenyum kepada mamanya.
"Eh sayang, udah selesai pake bajunya?" tanya mama dewa dengan menaruh sepiring nasi goreng di meja.
"Udah dong ma! Dewa makan dulu yah!" ucap dewa dengan tersenyum bahagia, lalu makan dengan lahapnya bersama dengan mamanya.
Pada saat sedang asyik sarapan, sanji yang doyan sekali mabuk mabukan dia baru saja bangun dari tidurnya dan sedang berjalan ke dapur untuk meminta makanan yang ada.
"Mana makanan! Gua laper!" ucap sanji dengan membuka tudung saji, dan hanya ada nasi goreng.
"Tuh, makan aja yang ada!" ucap Rahel dengan kesal.
"Apa apaan Lo!! Kenapa nasi goreng Mulu tiap hari? Hah!!" kata sanji dengan nada marah dan menggebrak meja, yang membuat dewa kesal.
"Eh brengsek! Gue lagi makan! Maksud Lo apa gebrak gebrak meja!!" Teriak dewa yang mulai menarik kerah ayah tirinya dengan berteriak.
"sialan Lo! Dasar anak kurang ajar!!" Bentak sanji dengan menonjok wajah dewa dengan sangat keras.
"sialan Lo! Bajingan!! Dasar orangtua gaguna!!" Geram dewa dengan kembali melawan sanji yang kini jatuh tersungkur.
"cukup dewa! Lebih baik kamu berangkat sekolah aja sana!" ucap Rahel dengan melerai mereka.
"Yaudah ma! Aku pergi dulu!" Kesal Dewa yang beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
"Heh anak sialan!! Mau kemana Lo Dewa! Urusan kita belom selesai yah! Dasar anak haram!!" Kata sanji dengan berteriak dan bangkit berdiri secara perlahan.
"Nih buat Lo!" ucap dewa dengan memberikan jari tengah kepada sanji.
Dewa pun sekarang sudah berada di luar rumah dan siap kesekolah menggunakan motor yang diberikan oleh Roy, dari luar terdengar kembali suara mereka bertengkar dengan hebohnya dari dalam rumah, dewa yang sudah muak dengan pertengkaran mereka berdua pun mulai menyetel musik dan memasang headset di telinganya dengan sangat kencang, lalu pergi ke sekolah sambil tersenyum bahagia untuk menyembunyikan kesedihannya.
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, kini dewa sudah berada di sekolah dan sedang berjalan menuju ke kelasz tetapi secara tiba tiba dia mencium bau melati di sekitarnya, dan secara tiba tiba Galang muncul disampingnya dewa.
"Haha, gimana pertanda gue sebelom muncul? Wangi kan?" tanya Galang yang sedang merangkul dewa.
"Bau melati anjir, Lo ninja apa kuntilanak?" Kata dewa kepada Galang yang sedang merangkulnya.
"Gue ninja, belom ada bau yang khas dari gue jadi ini aja gapapa kali?" Kata Galang dengan tersenyum kepada dewa.
"Seenggaknya dong! Jangan bau melati gini, jadi takut gue kalo yang keluar ternyata bukan Lo, tapi makhluk yang lain." Ujar dewa dengan bergidik ketakutan.
"Katanya, dulu sekolah kita itu bekas kuburan loh!" Ledek Galang dengan nada menyeramkan ke dewa.
"Apaan sih Lo kampret! Bikin orang parno ajah!" Bentak dewa dengan memalingkan pandangannya dari Galang.
"Eh, pipi Lo kenapa? Kok biru biru? Abis mangkal dimana Lo?" tanya Galang dengan memperhatikan pipi dewa yang nampak biru seperti habis di tonjok.
"Anjir mangkal apaan maksud Lo?!! Gue bukan bencong anjir!!" ucap dewa Dewa dengan menoyor kepala Galang.
"Haha! Canda, gue ke kelas duluan yah! Byeee!" Kata Galang dengan beranjak pergi ke kelas sebelas IPS satu.
"Hadeeh, ada ada aja si Galang, dasar aneh!" gumam dewa dengan tersenyum dan berjalan menuju ke kelasnya.
Setelah selesai mengobrol dengan Galang, Dewa pun berjalan menuju ke kelasnya dan disana sudah ada Reyhan yang sedang streaming YouTube, Dewa pun menghampirinya dan tersenyum, lalu duduk di sampingnya.
"Kenapa Lo senyum senyum?" tanya Reyhan yang heran karena Dewa baru saja tersenyum layaknya orang bahagia.
"Yah, gapapa sih, pagi yang cerah yah!" ucap Dewa dengan menghembuskan nafas panjang.
"Dih, kenapa kali? Kesambet apaan Lo?" tanya Reyhan dengan memegang kepala Dewa untuk mengeceknya.
"Apaan sih anjir! Gue ga kesambet sial!!" Geram Dewa yang risih dengan tangan Reyhan yang menempel di dahinya.
"Haha! Gue kira Lo kesambet setan penunggu pohon mangga!" ujar Reyhan dengan tertawa karena dewa yang kesal.
"Eh, Lo kemaren gapapa kan? Ga ada yang luka?" tanya Dewa dengan melihat wajah Reyhan.
"Apaan sih anjir! Gue gapapa kok, emang kenapa sih?" ucap Reyhan yang risih karena Dewa yang memeriksa wajahnya secara paksa.
"Bukannya Lo kemaren di teror lagi?" tanya Dewa dengan melihat serius ke arah Reyhan.
"Hah? Lo tau darimana? Kok bisa tau sih?" tanya Reyhan yang kebingungan karena Dewa bisa tahu kejadian kemarin.
"Yah, siapa lagi kalo bukan Roy, dia kan udah kirim bodyguard disekitar rumah Lo untuk mencari tahu siapa yang neror Lo!" Kata Dewa kepada Reyhan.
"Hah? Lo seriusan? Dia nyampe ngirim bodyguard disekitar rumah gue?" tanya Reyhan yang mulai penasaran dengan apa yang dibahas oleh dewa.
"Iyah, ini semua supaya kita tahu siapa orang yang neror Lo itu." ucap dewa dengan berbisik kepada Reyhan.
"Tapi, Lo tau nggak? Kalo Mauren jadi korban gara gara si peneror itu!" ucap Reyhan dengan melihat ke arah Dewa.
"Hah? Lo serius? Mauren jadi korban? Kok bisa?" tanya Dewa yang terkejut karena Mauren.
"Iyah, jadi kemaren si Mauren itu ngelawan si topeng Ironman!" jelas Reyhan kepada Dewa yang nampak serius.
"Terus? Mauren kenapa?" tanya Dewa dengan nada penasaran.
"Yah, pas dia lagi ngelawan si orang topeng itu, ternyata Mauren takut badut, dan orang topeng itu make topeng badut yang membuat Mauren takut dan shock atas kejadian kemarin." jelas Reyhan dengan menceritakan kembali kejadian kemarin ke dewa
"Hmm, terus keadaan Mauren gimana?"tanya dewa yang penasaran dengan keadaan Mauren.
"Yah, dia udah agak mendingan sih walau masih shock, karena dia trauma sama badut." jelas Reyhan kepada Dewa.
"Waduh, gue rasa kita emang harus terus mencari si topeng badut itu deh!" ucap Dewa kepada Reyhan dengan serius.
"Tapi, tenang aja! Karena Mauren udah ngelawan dia dan membuat tangan dia patah!" ucap Reyhan kepada dewa.
"Waduh? Kok bisa anjir?" Kata Dewa dengan kebingungan.
"Yah! Masa Lo gatau siapa Mauren? Dia udah bisa mengendalikan 3 jenis beladiri sekaligus."jelas Reyhan kepada dewa dan Dewa pun terperangah.
"Astaga! Lo seriusan? Kok gue baru tau yah!" ucap Dewa dengan menepuk jidatnya lalu merapikan rambutnya yang nampak berantakan.
"Nah kalo ga percaya tanya aja sama orangnya langsung, tuh dia mau kesini!" Kata Reyhan dengan melirik ke arah Mauren yang sedang berjalan ke kelasnya, dan Mauren kini sudah ada di hadapan mereka berdua lalu menyapa Reyhan dengan senyuman manisnya.
"Hai Reyhan, selamat pagi!" sapa Mauren dengan tersenyum manis kepada Reyhan.
"Reyhan doang yang disapa? Gue nggak?"tanya dewa dengan tersenyum kepada mereka berdua.
"Mauan lu kayak janda." Gurau Reyhan dengan tertawa kepada dewa.
"Lo gausah disapa Mauren! Lo itu harusnya disapa sama Lita, Hahaha!" ledek Lauren dengan tertawa.
"Hahaha! Parah Lo ren, kasian anak orang!" ucap Reyhan dengan berusaha membela dewa walau sedikit tertawa.
"Lo ngapain kesini?" tanya dewa dengan melihat ke arah Lauren.
"Gue kesini mau nemenin Mauren, dia masih shock atas kejadian kemaren." Jelas Lauren dengan merangkul Mauren.
"Lo udah mendingan?" tanya Reyhan sambil memegang tangan Mauren dengan lemah lembut.
"Gue udah mendingan kok, makasih ya kemaren udah mau nganterin gue sampe rumah." ucap Mauren dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Haduh! Pagi pagi udah bucin! Masih pagi anjir, gue jomblo nih! Hargain Napa." Ucap Lauren dengan menepuk jidatnya karena melihat kelakuan mereka berdua.
"Ah, paling bentar lagi Lo nggak jomblo, karena ada si--" belum sempat Mauren melanjutkan kata katanya, tetapi Lauren sudah menginjak kaki Mauren dengan sangat kencang.
"Diem lo! Gausah bahas yang kemaren!" Bentak Lauren dengan melotot ke arah Mauren.
"Sakit anjir!! Kaki gue malah diinjek!!" Geram Mauren dengan menjitak kepala Lauren sangat keras.
"Ha? Emang kemaren kenapa?" tanya dewa yang nampak penasaran dengan kejadian kemaren.
"Jadi, kemaren itu--" ucapan Reyhan terhenti karena Lauren yang menginjak kaki Reyhan.
"Sialan Lo! Sakit kampret!!" Teriak Reyhan dengan menahan sakit di kakinya.
"Intinya, gue itu gasuka sama dia!" Jelas Lauren dengan sangat jutek kepada mereka semua.
"Yakin Lo gasuka sama gue? Gue kan unik, Alias beda dari yang lain!" Kata Galang yang tiba tiba muncul dari kolong meja guru, dan berjalan Menghampiri mereka semua.
"Nggak! Ngapain gue suka sama orang kayak Lo! Yang sifatnya kayak setan! Muncul tiba-tiba." ucap Lauren dengan memalingkan pandangannya dari Galang.
"Asik! Gue suka yang kayak gini, hahaha!" ucap Galang dengan mencolek pipi Lauren, dan itu membuat Lauren sangat marah.
"Ngapain Lo nyolek-nyolek pipi gua? Mau gua tonjok? Hah??!" Ancam Lauren dengan bersiap untuk menonjok Galang.
"Gue ga ikut ikutan dah, kalian ribut diluar aja, jangan di kelas gue." ucap Reyhan dengan mengangkat tangannya dan berusaha tidak ikut campur urusan mereka berdua.
"Percayalah, suatu saat kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka!" Kata Galang dengan berkedip di hadapan Lauren yang membuat Mauren semakin kesal.
"Udah, kalo ribut gini mah pasti bakalan jodoh dah, kayak kit--" ucapan Mauren terhenti ketika dia melihat Reyhan.
"Kayak siapa hayo? Hahaha!" ucap Reyhan dengan meledek Mauren dan tertawa bersama dengan Mauren.
"Aduh, gue jomblo sendirian disini, kemana pujaan hati gue?" Keluh Dewa dengan melihat ke sekeliling dan di dalam kelas seluruhnya pacaran, kecuali Dewa.
"Gua panggilan Lita yah? Mau nggak?" Ledek Mauren yang sudah bersiap untuk memanggil Lita.
"Apaan sih anjir! Ga ada hubungannya sama lita!!" Geram dewa kesal dan melotot kepada Mauren.
"Gue selalu memandang langit di malam hari, tahu gak gue ngeliat apa?" Kata Galang yang tiba tiba menggoda lauren.
"Ngeliat apaan tuh?" tanya Reyhan dengan berkedip ke arah Galang seakan akan memberikan kode.
"Ngeliat lampu! Tau gak kenapa?" tanya Galang dengan melirik ke arah Lauren.
"Nggak! Dan gue gamau tau sama sekali!" Bentak Lauren yang sangat judes di depan Galang.
"Karena yang gue liat itu adalah langit langit kamar gue! Hahaha!" ucap Galang dengan tertawa, dan Reyhan serta yang lainnya juga ikut tertawa, tetapi Lauren hanya tersenyum saja melihat Kelakuan galang.
"Ah bisa aja Lo kampret!" Kata Lauren dengan menjitak kepala Galang dengan sangat kencang.
"Aduh, jadi makin sayang! UPS!!" ucap Galang dengan berteriak, dan menutup mulutnya.
"Hah? Kenapa?" ucap Reyhan yang pura pura tidak mendengar perkataan Galang.
"Ah, nggak kok! Untung Lo semua budek! Hahaha!" ucap Galang dengan mengelak dan dia pun tertawa.
Kringgg!!!
Pertanda bahwa bel masuk sudah berbunyi, semua murid pun masuk ke kelasnya masing masing dan memulai pelajaran seperti biasanya, hingga bel jam istirahat pun berbunyi,semua berkumpul di kantin, sedangkan Reyhan, Roy, dan Dewa berada di gazebo membicarakan masalah yang kemarin.
"Okeh, gimana Reyhan? Apa Lo nemuin sesuatu disekitar rumah Lo?" tanya roy yang nampak serius dengan Reyhan.
"Hmm, maksud Lo? Gue gak nemuin apa-apa tuh." ucap Reyhan dengan mengangkat kedua bahunya.
"Yakin? Udah Lo periksa belom?" tanya Roy dengan melihat serius ke arah Reyhan.
"Belom sih, tapi emang kenapa sih?" tanya Reyhan dengan kebingungan.
"Kita harus cari bukti lain yang kuat." ucap Roy dengan serius kepada Reyhan.
"Yaudah, nanti gue coba periksa lagi deh ya, kalo ada sesuatu yang mencurigakan gue bakal hubungin Lo." jelas Reyhan dengan tersenyum kepada Roy.
"Sekarang gimana keadaan Mauren? Apa dia baik baik aja?" tanya Roy yang nampak khawatir dengan keadaan Mauren.
"Yah, dia baik-baik aja kok, buktinya aja tadi dia masih ketawa ketawa sama gue" jelas Dewa dengan tersenyum kepada Roy.
"Dih, kok Lo sih? Galang kali yang membuat Mauren tertawa." Kata Reyhan dengan heran kepada dewa.
"Hahahaha! Tenang aja sih, gue bercanda doang!" ucap dewa dengan tertawa bersama dengan mereka.
"Yaudah, ke kantin yuk, laper nih gue" ajak Roy kepada mereka berdua.
Mereka bertiga pun langsung pergi ke kantin untuk makan, beberapa jam kemudian bel pulang pun berbunyi,semua murid langsung pergi menuju parkiran untuk mengambil motornya masing masing dan pulang ke rumah masing-masing, Reyhan yang sedang berusaha menyalakan motornya tiba tiba saja ada Nikita yang datang menghampirinya.
"Wih, kenapa motor Lo? Mogok?" tanya Nikita dengan melihat ke arah Reyhan.
"Oh, nggak kok, gapapa motor gue" ucap Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Yaudah, gue pulang duluan yah?" ucap Nikita kepada Reyhan, tetapi Reyhan menahan tangan Nikita.
"Rumah kita kan searah, pulang bareng gak?" tanya Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Hmm, Lo kan tau kalo kita berdua lagi di teror, gue takut nanti ada teror selanjutnya dari orang gajelas itu!" ucap Nikita yang berusaha menghindari Reyhan.
"Ah Lo! Gausah ngurusin orang begitu, lagian kita kan cuma teman." Jelas Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Oh, yaudah kalo gitu, tapi gue mau ke mall dulu beli buku, emang Lo mau nganterin?" ucap Nikita kepada Reyhan.
"Haduh, bensin gue takut habis, yaudah gajadi deh." ucap Reyhan dengan melihat meter bensinnya.
"Yaudah, gue duluan yah!" ucap Nikita dengan beranjak pergi, tetapi Reyhan kembali menahannya.
"Sebentar dulu! Gue mau nanya sesuatu ke Lo." ucap Reyhan dengan menarik tangannya.
"Nanya apalagi sih?" ucap Nikita yang mulai kesal.
"Kalo gak salah beberapa hari yang lalu Lo ngobrol sama Rizky, dan kelihatannya akrab banget, emang Rizky siapa Lo?" tanya Reyhan yang nampak serius kepada Nikita.
"Oh, Rizky? Rizky itu mantan gue." ucap Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Oh gitu, tapi? Kok bisa bisanya Lo pacaran sama dia?" tanya Reyhan dengan kebingungan.
"Ya bisa lah! Gue pacaran sama dia 2 Tahun, udah dari SMP." ucap Nikita kepada Reyhan.
"Oh gitu, apa Lo ada niatan balikan lagi sama dia?" tanya Reyhan yang nampak cemburu.
"Ah, nggak kok! Tenang aja, gue sama dia cuma teman." ucap Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan, lalu pergi meninggalkannya.
"Baiklah, kalau hanya teman itu sih wajar wajar ajah." ucap Reyhan sambil menatap langit siang hari yang indah.
"Apanya yang wajar?" tanya Willy yang menepuk pundak Reyhan dari belakang.
"Plis!! Cukup Galang ajah yang buat gue jantungan! Yang lain jangan dong!" ucap Reyhan dengan kesal sambil melirik ke arah Willy yang sedang tersenyum.
"Hahaha! Maaf deh maaf!" ucap Willy kepada Reyhan lalu pergi meninggalkannya.
Reyhan pun mulai menyalakan motornya dan pergi menuju rumahnya dengan motor tersebut, beberapa menit kemudian setelah Melakukan perjalanan, kini Reyhan baru saja sampai di depan rumahnya dan dia pun memakirkan motornya tersebut lalu masuk ke dalam rumah dengan santainya, pada saat sedang berjalan menuju kamarnya tiba tiba saja mamanya memanggil Reyhan dari arah dapur.
"Reyhan sayang! Sini bentar nak!" panggil mama Reyhan dengan sedikit berteriak.
"Iyah ma! Sebentar!" ucap Reyhan yang masih di dalam kamar lalu berganti baju,Setelah selesai berganti baju Reyhan pun pergi menuju dapur.
"Kamu lagi sibuk gak?" tanya Judy dengan sedikit tersenyum.
"Kenapa emang?" tanya Reyhan yang nampak kebingungan.
"Sebelum itu mama mau kasih sesuatu ke kamu, nih tadi mama nemuin ini di tempat sampah depan." ucap Judy dengan memberikan sekaleng pilok berwarna merah dan cap jari di sekitar pilok tersebut.
"Hmm, mungkin ini punya orang yang kemarin?" tanya Reyhan yang mengambil pilok kosong tersebut.
"Kamu kumpulin aja dulu, nah baru kita lihat siapa yang neror kamu sebenernya." ucap Judy dengan kesal karena rumahnya dicoret coret.
"Yaudah, aku ke kamar dulu yah mah." ucap Reyhan dengan beranjak pergi ke kamar untuk bermain game, tetapi di tahan oleh mamanya.
"Sebentar dulu! Kamu kangen jualan di sekitaran komplek gak?" tanya Judy dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Hmm, kangen sih hehe, kenapa emang ma?" tanya Reyhan dengan tersenyum kepada mamanya.
"Nih kalo kangen, kamu jualin dulu sana, risol 30 bungkus." Suruh Judy dengan memberikan sekantong plastik hitam berisi risol.
"Salah jawab gue njir!" Batin Reyhan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa? Kok diem aja?" tanya mama Reyhan dengan melihat Reyhan Yang sedari tadi hanya diam.
"Eh, nggak kok ma, gapapa!" Kata Reyhan dengan tersenyum lalu membawa makanan tersebut.
"Yaudah, jualin yah! Biar laku." ucap mama reyhan Dengan sedikit berteriak.
Reyhan Pun keluar rumah dan menaruh Dagangan tersebut di meja yang ada di teras, dia pun kebingungan untuk menggunakan sepeda atau motor.
"Pake yang mana yah? Dulu gue jualan sih pake sepeda, tapi..." ucap Reyhan dengan ragu sambil melihat sekeliling.
"Pake sepeda aja, Pasti banyak yang beli deh bang!" ucap Michelle yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Yah, yaudah deh, makasih usulnya yah!" Kata Reyhan dengan beranjak pergi menggunakan sepeda.
Reyhan pun mulai berjualan di sekeliling komplek dengan sepeda tersebut, sementara itu di tempat lain, dengan Rizky dan teman temannya, mereka sedang menjenguk Anto di rumah sakit dikarenakan tangannya yang patah oleh Mauren sewaktu kejadian kemaren.
"Tangan Lo kok bisa patah sih?" tanya Michael dengan kebingungan.
"Gue di hajar abis abisan sama Mauren, hampir ketahuan juga." ucap Anto kepada mereka semua.
"Hah? Kok bisa?!!" tanya Rizky kepada Anto.
"Yah, untungnya gue pake topeng badut ini yang membuat Mauren menjadi takut sama gue." ucap Anto dengan menunjukkan topeng badutnya.
"Lo kok bisa ketahuan sih?" tanya Andre dengan melihat ke arah Anto.
"Jadi gini loh..." Anto pun menceritakan semua kejadian kemarin, dan semua nampak terkejut kecuali Michael yang tampak santai saja mendengar cerita dari Anto.