Reyhan

Reyhan
ep 16



"Mau bilang apa? Gausah senyum senyum Lo brengsek!" kata Lauren yang mulai mengangkat kembali pemukul baseballnya.


"Jadi, sebenernya gue pengen ngajak Lo nonton, mau nggak?" ajak Galang dengan tersenyum kepada Lauren.


"Hah? Apa? ngajak gue nonton?" Kata Lauren dengan terkejut dan meletakkannya pemukul baseballnya di lantai.


"Iyah, ngajak Lo nonton kebakaran! Hahaha!" ucap Galang dengan tertawa di hadapan Lauren.


"Brengsek Lo! Gausah main main Sama Gue!" kata Lauren seraya memukul kembali kepala Galang sangat keras.


"Aduh, sakit lauren, ampun jangan dipukul lagi." ucap Galang dengan mengusap kepalanya yang kesakitan.


"Siapa suruh Lo daritadi jailin gue terus!! Gue mampusin Lo disini." Teriak Lauren dengan memojokkan Galang ke tembok dan menodongkan lehernya dengan sebuah pulpen.


"Ja-jangan begini juga dong, gue baru pertama kalinya takut begini." ucap Galang dengan grogi karena Lauren yang menodongkan gunting di lehernya.


"Hahaha! Takut juga kan Lo, gue kira Lo gak takut sama apapun, akhirnya takut juga sama gue" ucap Lauren dengan tertawa terbahak bahak lalu Meletakkan kembali gunting tersebut di meja.


"Ternyata ada orang yang bisa buat gue takut, kenapa setiap di dekat Lo gue selalu bergetar hatinya yah?" batin Galang sambil terus memperhatikan langit malam yang indah.


"Tadi Lo ngajakin gue nonton? Yaudah gue mau deh, asalkan...." ucap Lauren dengan tersenyum kepada Galang.


"Asalkan apa?" tanya Galang singkat dan tersenyum.


"Asalkan Lo gak ngilang secara tiba-tiba, Kalo Lo ngilang secara tiba-tiba, bakal gue cari terus gue bunuh lu." Ancam Lauren dengan mendorong Galang ke tembok lalu menodongnya dengan gunting.


"I-iyah, gue janji gabakal hilang secara tiba-tiba!" Kata Galang dengan grogi karena sedang ditodong oleh Lauren.


"Bentar, kok Lo ngajakin gue nonton pas hari Sabtu? Tepat dengan jadwal nonton Mauren?" tanya Lauren dengan kebingungan dan menatap Galang.


"Ya, apa salahnya? Emang Lo ada kegiatan lain?" tanya Galang dengan kebingungan.


"Eh? Nggak ada kok, tenang aja gue bakal tampil semenarik mungkin di hadapan Lo!" ucap Lauren dengan menundukkan kepalanya dan tersipu malu.


"Halah kentut! Gausah dandan pake make up segala, Lo itu cantiknya natural." ucap Galang dengan mengusap rambut Lauren secara halus.


"Ah masa sih?" kata Lauren dengan mengangkat kepalanya dan Galang sudah tidak ada di dalam kamarnya atau pun di balkon.


"Galang!!!!! LIHAT AJA LO BESOK!! GUE BAKAL HABISIN LO!!" Geram Lauren dengan berteriak sangat kencang.


Keesokan harinya, tepatnya hari Rabu, dan pukul 06:20, dan lebih tepatnya lagi sedang di rumah Lauren yang sunyi dan sepi di pagi hari, Lauren yang sedang sarapan bersama dengan keluarganya tiba tiba mendengar ketukan pintu dari luar, semua menengok ke arah luar.


"Siapa tuh? Coba Lauren kamu buka sana." suruh mama Lauren dengan melihat ke arah pintu.


Lauren pun segera berjalan ke arah pintu dan dia seperti menyadari bahwa Galang yang sedang mengetuk pintu, dia pun langsung mengambil pemukul baseball tersebut, Lauren pun membuka pintu dan tidak ada siapa siapa di luar selain Hembusan angin yang kencang di pagi hari.


"Hmm, gue kira Galang, ternyata orang jahil doang." kata Lauren dengan melihat kanan kiri dan tidak ada siapa siapa.


"Cieee! Nyariin gue." ucap Galang yang tiba tiba ada di belakang Lauren dan sangat dekat, spontan Lauren langsung memukul Galang dengan pemukul baseball tersebut.


"Aduh!! Kepala gue sakit banget!" ucap Galang dengan berteriak dan memegangi kepalanya yang nampak benjol.


"Waduh, Galang! Lo gapapa?" tanya Lauren dengan memeriksa kondisi Galang yang kesakitan.


"Duh, pusing nih kepala gue, Lo kenapa sih mukul gue terus?" ucap Galang dengan mengusap kepalanya yang nampak benjol.


"Ayo duduk dulu, sini gue obatin dulu, gue rasa lukanya cukup parah." ucap Lauren dengan membopong Galang ke kursi dan mendudukkannya lalu Lauren pun mengambil kotak p3k.


Lauren pun segera mengobati luka Galang yang ada di kepala dengan kapas dan juga alkohol, mereka berdua pun saling tatap tatapan yang membuat Lauren salah tingkah.


"Gimana? Udah mendingan belom?" tanya Lauren dengan tersenyum kepada Galang.


"Makasih yah udah ngobatin gue." ucap galang dengan tersenyum kepada Lauren.


"Iyah, maaf yah gue udah mukul Lo tadi." kata Lauren Dnegan meminta maaf kepada Galang dan tersenyum.


"Gue juga minta maaf karena selalu membuat Lo takut dan panik." ucap Galang dengan tersenyum kepada Lauren.


"Lo udah makan belom? Mau makan bareng gak?" tanya Lauren dengan tersenyum kepada Galang.


"Ah nggak ah, gue udah makan tadi." ucap Galang menolak ajakan Lauren untuk makan bersama.


"Yaudah, tunggu disini dulu yah, gue mau makan dulu." ucap Lauren dengan tersenyum kepada Galang lalu berjalan menuju ke dalam rumah, tetapi Lauren ditahan oleh Galang yang memegang tangannya.


"Jangan lama lama, nanti terlambat!" ucap Galang dengan tersenyum kepada Lauren, lalu menggenggam tangan Lauren secara halus.


"Lo megang tangan gue? Gur gorok Lo besok." Ancam Lauren dengan melihat tangannya yang dipegang oleh Galang, Galang pun langsung melepaskan genggamannya pada Lauren.


"Hehe, maaf deh maaf." ucap Galang dengan tersenyum kepada Lauren.


Beberapa menit kemudian Lauren sudah selesai sarapan pagi, dan kini dia sudah berada di hadapan Galang dengan wajah yang cantik.


"Gimana? Gue ada yang beda gak?" tanya Lauren dengan tersenyum kepada Galang.


"Apanya yang beda? Nggak ada kok." ucap Galang dengan melihat dari atas sampai bawah.


"Nah, tuh tau kalo gak ada yang beda dari gue." ucap Lauren Dengan tersenyum kepada Galang.


"Lo mau gue anterin ke sekolah pake apa nih?" tanya Galang singkat dengan menatap Lauren.


"Motor? Ada gak? "tanya Lauren singkat dan melihat sekeliling.


"Gue kesekolah gapernah lake motor, gue selalu ngilang." ucap Galang dengan tersenyum kepada lauren.


"Anjir? Jurus ninja dong ngilang ngilang gitu?" ucap Lauren terkejut mendengar perkataan Galang.


"Yaudah, kalo Lo mau ikut gue pake jurus itu, Lo harus tutup mata dulu." ucap Galang dengan memberikan sebuah kain hitam.


"Tapi aman kan? Kalo gue kenapa Napa, Lo gue matiin nih." Bentak Lauren dengan mencengkeram erat kerah Galang.


"A-a-aaman kok! Tenang aja sih." ucap Galang dengan grogi karena Lauren yang mulai ganas.


"Yaudah, gue pake nih, ayo kita ke sekolah." ucap Lauren dengan memakai kain hitam tersebut dan memeluk Galang.


"Pegangan yang erat, dan rasakan sensasinya!" bisik Galang kepada Lauren dan mereka berdua pun menggunakan jurus tersebut.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah, yang nampak para murid sedang berjalan memasuki sekolah dengan santainya, Lauren yang kebingungan melihat sekeliling dan tidak ada Galang disampingnya.


"Sial! Kemana tuh anak, main ninggalin gue aja!!" Geram Lauren dengan kesal dan berjalan masuk ke lingkungan sekolah.


"Woi! Bengong aja Lo kayak jomblo!!" sapa Milea dengan menepuk pundak Lauren dan mengajaknya masuk ke kelas.


Sementara itu dengan Reyhan, dia sedang bermain handphone bersama dengan dewa di dalam kelasnya, lalu beberapa menit kemudian datanglah Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan, tetapi Reyhan masih asik bermain game bersama Dewa.


"Hai, selamat pagi!" sapa Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Hmm, lagi seru nih!" ucap Reyhan dengan tidak memperdulikan Nikita.


"Reyhan, gue pengen cerita nih." ucap Nikita dengan terus memperhatikan Reyhan.


"Cerita apa? Jangan ceritain yang aneh aneh, masih pagi nih." ucap Reyhan dengan sedikit tersenyum.


"Gue kemaren pas pulang dari Indoapril, gue dicegat sama preman." ucap Nikita dengan berbisik kepada Reyhan, dan Reyhan serta dewa pun kaget.


"Hah?!! Kenapa?!! Kok bisa!!?" tanya dewa dengan berhenti dan mulai serius.


"Banyak nanya anjir! Udah kayak wartawan infotainment aja Lo." ucap Nikita dengan menggebrak meja.


"Yaudah, cerita aja sih, apa yang sebenernya terjadi." ucap Reyhan dengan menenangkan Nikita.


Lalu Nikita pun menceritakan kembali kejadian sewaktu kemarin sore, dewa dan Reyhan nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Nikita.


"Lo seriusan?" tanya Reyhan singkat dengan menatap Nikita.


"Iyah gue seriusan, untungnya ada Galang yang nolongin gue." ucap Nikita dengan merapikan rambutnya.


"Hah? Galang, kok bisa ada Galang?" tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Gue juga gatau, yang jelas dia ada di atas pohon dan dia nolongin gue deh!" ucap Nikita kepada mereka berdua.


"Pohon? Dia ngapain anjir disitu?" tanya dewa kebingungan.


"Gue mau ambil mangga, eh kebetulan Nikita lewat yaudah gue gajadi deh ambil mangganya." Ucap Galang yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka semua.


"Astaga!! Jangan ngagetin Mulu Napa! Masih pagi ini!!" Gertak Reyhan dengan kesal kepada Galang.


"Hmm, maaf yah maaf." ucap Galang dengan tersenyum kepada mereka semua.


"Lo kok bisa tau kalo Nikita di palak sama preman?" tanya Dewa kebingungan kepada Galang.


"Yah, Lo pada kayak gak tau gue aja, Kan gue itu Galang si stalker! Ya jelas tau lah." ucap galang dengan tersenyum kepada mereka.


"Berarti lu ngestalk orang sampe ngikutin mereka ke rumahnya dong?" tanya Reyhan kepada Galang.


"Ya nggak lah! Itu gue gak sengaja lewat doang kok." jelas Galang kepada mereka semua.


"Hmm, yaudah Galang intinya, makasih yah udah mau bantu gue kemarin!" Ucap Nikita dengan tersenyum kepada Galang.


Pertanda bahwa bel masuk sudah berbunyi, semua murid langsung masuk ke kelasnya masing masing untuk memulai jam pelajaran seperti biasanya, beberapa jam mereka semua belajar, kini sudah jam istirahat dan Reyhan yang tidak membawa dagangannya dikarenakan stok barang sudah habis, mereka semua sedang berkumpul di kantin dan sedang berbincang bincang bersama yang lain.


"Eh, Roy gimana nih perkembangan percintaan Lo sama Aulia?" tanya dewa dengan tersenyum kepada Roy.


"Waduh, kenapa tiba-tiba nanya itu?" ucap Roy dengan sedikit tersenyum.


"Hahaha! Lo kan suka sama dia katanya! Ya harus kita bahas lah!" ucap Willy dengan menepuk pundak punggung Roy, dan Roy pun tersedak karena sedang makan.


"Gila Lo! Kalo gue mati gimana?!" tanya Roy yang sudah selesai meminum air putih.


"Kalo Lo mati, ya tinggal kubur lah! Hahaha!" ucap verrel dengan tertawa bersama yang lainnya.


"Tapi kalo Roy mati, siapa yang bakal jadi pacar Aulia? Hahaha!" ucap Reyhan dengan menggoda Roy yang nampak sedang malu malu.


"Biar gue ajah yang jadi pacar Aulia, hahaha!" ucap Galang dengan tertawa bersama yang lainnya.


"Yah, Galang Lo kan udah ada Lauren, masa Iyah mau ngambil gebetan orang juga?" ucap Reyhan dengan tersenyum kepada Galang.


"Oh, jadi sekarang Galang sama Lauren? Widih boleh juga nih pilihannya!" puji dewa dengan tersenyum kepada galang.


"Oh, jadi begitu? Apa Lo sanggup dengan sikap dia yang kayak preman begitu?" tanya Willy dengan melihat sekeliling dan dinyatakan aman.


"Yah, gue sanggup aja, justru gue suka sama yang kayak preman gitu!" ucap Galang dengan tersenyum kepada mereka semua.


"Heh! Lo semua ngomongin gue yah?" Bentak Lauren yang tiba tiba ada dibelakang Willy dan sudah memegang sebuah balok kayu.


"Anjir! Itu ngapain megang balok kayu? Lu mau tauran dimana?" tanya Verrel dengan melihat Lauren yang membawa balok kayu.


"Gue pengen pecahin kepala orang yang udah ngomongin gue!" Geram Lauren Dengan memukul balok tersebut di meja.


"Lauren, tenang Lauren, tenanglah!" ucap Galang dengan berusaha menenangkan Lauren.


"Hahaha! Gue bercanda doang Galang, tenang aja sih!" ucap Lauren Dengan tertawa di hadapan mereka.


"Anjir, gue kira beneran, lihat nih muka temen-temen gue pada tegang, hahahaha!" ucap Galang dengan berjalan ke arah Lauren dan tertawa bersama Lauren.


"Lihat nih muka kalian! Ngakak anjir! Udah kayak kedebong pisang! Hahaha!" Ledek Lauren dengan tertawa di hadapan mereka semua.


"Cukup diem aja gue kalo begini mah." ucap Reyhan dalam hati dan melanjutkan makannya.


"Gue pergi dulu yah Galang, sampai jumpa hari Sabtu!" ucap Lauren dengan beranjak pergi dan berkedip kepada Galang.


"Sabtu? Ngapain Lo sama dia?" Tanya Willy kebingungan.


"Ah, biasa lah! Gue mau nonton sama dia." ucap Galang kepada mereka semua.


"Sabtu? Itu kan gue mau nonton juga." ucap Reyhan dan Dewa secara bersamaan.


"Emm, Reyhan kan mau nonton sama Mauren, lah Lo sama siapa?" ucap verrel kebingungan.


"Emm, gue mau nonton sama lita." ucap dewa singkat dan terus melanjutkan makannya.


"Asik!! Kayaknya bakalan ada yang balikan lagi nih!!" ledek Willy kepada dewa.


"Asik!!! Semoga balikan lagi yah." ucap Reyhan dengan memberikan dukungan kepada Dewa.


"Gue gamau balikan lagi sama dia, gamau!" ucap dewa dengan menggelengkan kepalanya.


"Lah? Kenapa lu anjir? Kok gamau balikan lagi?" tanya Roy yang kebingungan.


"Kalo dia balikan lagi sama Lita, gue yakin dia dalam bahaya yang sangat besar." ucap Galang yang sedang memejamkan matanya.


"Hah? Maksud Lo?" tanya Willy yang kebingungan.


"Lihat aja nanti, pasti lu semua bakal tahu kok yang gue maksud apa." ucap Galang dengan tersenyum kepada mereka semua.


"Ah, kalo gitu gue mendingan ke Zoey aja." ucap verrel dengan beranjak pergi ke meja zoey.


"Dia sebenernya suka sama zoey atau nggak sih? Kan kasian cewek dimainin Mulu hatinya." ucap Reyhan dengan melihat Verrel yang sedang berjalan.


"Verrel dan Zoey saling suka, tapi verrel lagi gamau pacaran dulu, pengen fokus sekolah, katanya sih gitu." ucap Galang dengan sangat serius.


Sementara itu dengan verrel kini dia sedang berada di meja zoey, dan bersama dengan teman temannya, verrel menghampiri zoey lalu tersenyum manis kepada zoey.


"Hai, gue mau ngomong sama lu sebentar, di gazebo mau nggak?" tanya Verrel dengan tersenyum manis kepada zoey.


"Eh? Kayaknya pengen di tembak nih? Hahaha!" ucap Nikita dengan tertawa bersama dengan yang lainnya.


"Ah lama Lo! Ayo ikut gue sekarang!" ucap verrel dengan menarik tangan Zoey secara paksa, dan Zoey hanya mengikuti arah Verrel berjalan.


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di gazebo, dan mereka hanya berdua saja disitu, verrel mulai tersenyum manis kepada zoey dan itu membuat zoey salah tingkah, verrel yang nampak cool di hadapan zoey secara tiba tiba memegang tangan zoey dengan lemah lembut, zoey pun hanya terdiam ketika tangannya dipegang oleh Verrel.


"Zoey, Lo gapapa kan? Kok diam aja?" tanya Verrel dengan melihat kepada zoey.


"A- a- a- aku gapapa kok, cuma grogi aja pas di Deket kamu." ucap zoey dengan grogi dan gemetar.


"Udah, gausah grogi kali, tenang aja sama gue." ucap verrel dengan menenangkan zoey yang sedang grogi.


"Ma- mau ngomongin soal apa nih?" tanya Zoey yang masih grogi karena tangannya dipegang oleh Verrel.


"Gimana mau ngomong, kalo Lo aja masih grogi?" tanya Verrel dengan tersenyum kepada zoey.


"Gimana gue gak grogi, o-orang Lo megangin tangan gue terus udah kayak mau nyebrang jalan aja." ucap zoey dengan melirik ke tangannya yang sedari tadi dipegang oleh Verrel, verrel pun langsung melepaskan genggamannya dan tersenyum kepada zoey.


"Hmm, gue mau ngajakin Lo nonton Sabtu ini, kira-kira Lo bisa nggak?" tanya Verrel dengan tersenyum manis di hadapan Zoey.


"Kalo Lo yang ngajakin ya jelas gue bisa lah." cap Zoey dengan tersenyum kepada verrel.


"Yaudah, jangan grogi lagi kalo di Deket gue." ucap verrel dengan tersenyum kepada zoey.


"Lu serius kan ngajakin gue nonton? Gak ngeprank kan?" tanya zoey yang seperti tidak yakin dengan perkataan verrel.


"Percaya sama gue Gw selalu serius sama Lo, kapan sih gue bercanda!" ucap verrel dengan menatap zoey sangat serius.


"Ja-ja-ja- jangan Deket dekat! Nanti gue serangan jantung karena kegantengan Lo!" ucap Zoey dengan memalingkan wajahnya.


"Hahaha! Yaudah deh yaudah, gausah grogi makanya!" ucap Verrel dengan tertawa di hadapan zoey.


"Abisnya, Lo ganteng sih makanya gue grogi." ucap zoey dengan tersipu Malu di hadapan Verrel.


"Ah, Lo bisa aja nih!" ucap verrel dengan mencubit pipi zoey.


"Ah, nggh, sakit jangan cubit cubit dong!" Desah zoey dengan nada manjanya.


Mereka berdua pun saling bercanda di gazebo tersebut, zoey yang suka dengan verrel semakin semangat untuk mendapatkan hati verrel walau dia tidak ingin berpacaran pada saat masa masa sekolah, karena bisa menggangu kegiatan sekolahnya, meskipun terjebak friendzone  zoey tetap senang karena bisa selalu dekat dengan verrel.


Sewaktu pulang sekolah......


Roy sedang menunggu seseorang di parkiran, dia terus menunggu hingga Galang yang penasaran pun muncul di samping Roy untuk mengetahui apa yang terjadi pada Roy.


"Kenapa Lo Roy? Tumben belom pulang?" tanya Galang dengan tersenyum kepada Roy.


"Yah, gue lagi nungguin seseorang nih." ucap Roy kepada Galang.


"Nungguin Aulia kan? Lo pengen ngajak dia--" ucapan Galang terhenti karena Roy yang membekap mulutnya.


"Diem anjir! Mentang mentang udah tau! Udah gausah banyak bacot, urusin noh si Lauren." icap Roy dengan membekap mulut Galang.


"Hmmppt! Hueee! Tangan Lo bekas apa sih? Bau sampah anjir!!" ucap Galang dengan membersihkan mulutnya.


"Gue tadi abis buang sampah di kelas, belom cuci tangan! Hahaha." ucap Roy dengan tertawa di hadapan Galang.


"Kurang ajar Lo! Bau banget sial." ucap Galang dengan kesal.


"Galang!! Woi kampret! Berani beraninya Lo ninggalin gue sendirian?! Hah?!!" Bentak Lauren dari kejauhan sambil menghampiri Galang dan tampak marah.


"Waduh, gue gak ikut ikutan loh, urusin dulu tuh ibu negara, daripada dia makin ngamuk!" ucap Roy dengan mengangkat tangannya dan menjauh dari Galang.


"Eh, Lauren, pulang bareng kagak?" tanya Galang dengan tersenyum kepada Lauren.


"Ngapain Lo ninggalin gue di parkiran? Mau gue bunuh Lo? Hah!!" ucap Lauren dengan menjitak kepala Galang dan menyeretnya keluar sekolah.


"Duluan yah Roy! Bye!" ucap Galang dengan tersenyum kepada Roy.


"Yaelah, pdktnya gitu amat dah, gak normal anjir." gumam Roy dengan terus melihat ke arah lapangan.


Beberapa menit Roy menunggu, akhirnya orang yang ditunggu pun datang sambil tersenyum manis kepada Roy, dan hati roy merasa tidak karuan kalau di dekat Aulia, Roy pun tersenyum kepada Aulia yang baru saja datang.


"Hai, Aulia, gimana nih? Jadi pulang bareng?" tanya Roy dengan tersenyum manis kepada Aulia.


"HM, jadi dong, ayo pulang bareng!" ucap Aulia dengan tersenyum kepada Roy.


Roy yang membawa mobil pun membuka pintu mobil tersebut dan Aulia pun masuk ke dalam, dia duduk di kursi bagian depan, Roy yang senang pun langsung masuk ke mobil dan menjalankan mobil tersebut menuju ke restoran yang sudah dia rencanakan, setelah beberapa lama mengendarai mobil, mereka pun kini sudah sampai di sebuah restoran yang cukup mewah, Roy langsung turun dan membukakan pintu untuk Aulia, Aulia pun turun dan tampak kagum dengan melihat restoran mewah tersebut.


"Ini serius? Lo ngajak gue kesini?" tanya Aulia yang kebingungan melihat isi Restoran dan interior yang sangat mewah.