Reyhan

Reyhan
ep 48



Roy yang masih kedinginan pun hanya tidur di dalam kamarnya dan memakai selimut yang cukup hangat di bagian dalam, Aulia yang sedang membawa makanan untuk Roy pun langsung masuk ke kamar Roy tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dikarenakan dia membawa beberapa makanan dengan nampan.


"Roy, bangun Roy, makan dulu nih." Suruh Aulia dengan menaruh makanan tersebut di meja.


"Makasih ya udah mau ngasih gue makanan." Kata Roy dengan menggenggam tangan Aulia secara lembut


"Iyah Roy, Lo makan dulu nih masih hangat." Kata Aulia dengan memberikan satu suapan kepada Roy.


"Udah deh, gue cuma kedinginan doang, nggak sakit kok." Ucap Roy dengan duduk di samping Aulia dan makan di depan Aulia.


"Gimana? Enak kagak?" Tanya Aulia dengan Tersenyum kepada Roy.


"Enak dong, apalagi kalo disuapin." Ucap Roy dengan memberikan kode kepada Aulia.


"Ah Lo Roy, manja banget, sini deh gue suapin." Ucap Aulia dengan mengambil piring tersebut dan menyuapi Roy.


Roy pun menikmati makanan tersebut pada malam itu, dan hubungan dia bersama dengan Aulia semakin berjalan dengan baik dan harmonis, sementara itu dengan Reyhan dan juga Nikita dia sedang duduk di teras belakang rumah, dan menikmati malam yang cukup dingin dengan teh manis.


"Dingin banget dong, gue gak kuat nih." Kata Reyhan dengan menggigil kedinginan.


"Yaelah, gini aja gak kuat, lemah Lo!" Remeh Nikita dengan melihat ke arah Reyhan.


"Namanya juga puncak, gue gak biasa dengan cuaca kayak gini." Kata Reyhan dengan memakai jaketnya.


"Gue mau nanya sesuatu sama Lo Rey, gue mau Lo jujur sama gue." Ucap Nikita dengan menatap Reyhan sangat serius.


"Kenapa? Gue bakal jujur kok." Ucap Reyhan dengan melihat ke arah Nikita.


"Lo sebenernya udah bisa move on dari Mauren apa belom?" Tanya Nikita dengan tegas, yang membuat Reyhan terkejut.


"Ya jelas, gue udah bisa move on kok, kenapa Lo nanya itu?" Tanya Reyhan dengan kebingungan kepada Nikita.


"Sikap Lo Sama dia soalnya beda Daripada sikap Lo ke gue." jelas Nikita kepada Reyhan.


"Beda apanya? Gue memperlakukan semua orang sama kok, ga ada yang gue beda-bedain." Jelas Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.


"Terserah Lo deh, udah jam sebelas, gue ngantuk pengen tidur." Kata Nikita dengan menguap dan masuk ke dalam rumah.


"Gue juga pengen tidur, udah ngantuk." Kata Reyhan dengan beranjak masuk ke dalam rumah mengikuti Nikita.


"Sebentar, sebelum itu gue mau membicarakan satu hal lagi sama Lo." Jelas Nikita dengan berbalik ke arah Reyhan dan mulai serius.


"Nanya apalagi nih?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Kenapa Lo sikapnya biasa aja sama gue? Kenapa gak kayak yang lainnya?" Tanya Nikita dengan serius.


"Maksud Lo?" Ucap Reyhan kebingungan.


"Iyah, dari awal gue masuk ke kelas Lo, sampe sekarang, Lo sikapnya gak terlalu heboh kayak yang lain, padahal kan gue selebgram, biasanya orang-orang pada heboh kalo udah temenan sama selebgram." Jelas Nikita kepada Reyhan.


"Yah, gue biasa aja sama Lo, gue gak terlalu mementingkan siapa orang itu, mau dia ganteng, mau dia Kaya raya, dan sebagainya, gue cukup kenal mereka dan menganggap mereka sebagai teman, itu aja sih." Kata Reyhan dengan mengangkat kedua bahunya dan Tersenyum.


"Apa Lo menganggap gue sebagai teman?" Tanya Nikita dengan menggenggam tangan Reyhan.


"Ya begitu, gue selalu bersikap baik kepada setiap orang, gapeduli apa status mereka yang penting berteman." Jelas Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.


"Tapi, kenapa Lo bisa kenal sama Mauren? Gue penasaran." Kata Nikita dengan penuh rasa penasaran dan Tersenyum kepada Reyhan.


"Kalo Lo mau tau, sebenernya Mauren itu adalah cewek paling populer di SMP pada saat itu." Jelas Reyhan dengan berjalan ke arah sofa dan mulai duduk di sofa.


"Populer? Kok Lo bisa Deket dan pacaran sama dia?" Tanya Nikita dengan kebingungan.


"Yah jelas, dia yang deketin gue duluan, yaudah gue respon karena gue juga suka sama dia pada saat itu." Jelas Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.


"Lo suka sama dia? Terus gimana respon temen-temen Lo?" Tanya Nikita kepada Reyhan.


"Respon gue sih pada saat itu heboh, karena orang yang biasa aja kayak Reyhan bisa Deket sama orang sepopuler Mauren di SMP." Jelas Dewa yang baru saja turun dari tangga dan menghampiri mereka berdua.


"Lo nguping ya?" Tanya Nikita dengan kesal kepada dewa.


"Gue barusan aja mau ke dapur buat ambil minum, tenang aja gue gak nguping kok." Jelas dewa dengan mengambil sebuah gelas berisikan minum dan kembali ke atas.


"Lo lihat sendiri kan? Entah kenapa gue merasa kalo gue adalah orang beruntung." Jelas Reyhan dengan bangkit berdiri dan Tersenyum kepada Nikita.


"Beruntung maksud Lo?" Tanya Nikita dengan kebingungan.


"Beruntung bisa Deket sama Lo dan mendapatkan hati Lo." Jelas Reyhan dengan mencubit pipi Nikita secara lembut, lalu berjalan ke atas.


"Hah? Gue gapaham apa yang Lo bilang? Coba jelaskan lagi." Teriak Nikita dengan menengok ke lantai dua, tetapi Reyhan sudah tidak ada dan sudah masuk ke kamar untuk tidur.


"Berisik woi! Udah malem bukannya tidur anjir!" Bentak Roy dengan kesal dari dalam kamarnya.


"Yah, saatnya tidur deh." Jelas Nikita dengan meregangkan badannya dan masuk ke dalam kamarnya untuk tidur.


"Haha, Reyhan, Reyhan, ada ada aja deh." Batin Dewa dengan menggelengkan kepalanya.


Keesokan harinya, lebih tepatnya pagi hari dan cukup cerah pada saat itu, pagi yang dingin dan juga membuat mereka lapar, Angel yang sudah memasak bubur untuk mereka semua pun langsung membangunkan mereka satu persatu dengan mengetuk pintu kamarnya.


"Reyhan, Willy, bangun woi." Teriak Angel dengan mengetuk pintu kamar Reyhan.


"Masih pagi dong, gue masih ngantuk banget." Jelas Reyhan dengan membenamkan kepalanya di bantal.


"Semaleman gue capek banget, gue lapar banget, masih ngantuk juga!" Teriak verrel dengan nada malas.


"Bubur udah siap nih, kalo kalian mau makan--" teriak Angel dengan berjalan ke arah bawah, dan kata-kata dia terpotong karena Willy dengan cepat langsung berlari ke bawah dan tak sengaja menabraknya.


"Aduh, maaf ya maaf." Kata Willy dengan berusaha membangunkan Angel.


"Aduh, sakit banget nih lutut gue." Rintih Angel dengan berusaha bangkit berdiri, tetapi kakinya sakit.


"Maaf angel, sini gue bantu Lo bangun." Kata Willy dengan berusaha membantu Angel untuk bangun.


"Lo lagian, kenapa sih cepet banget kalo soal makan?!!" Bentak Angel yang kini sudah berdiri walau kakinya masih sakit.


"Namanya juga manusia, ya jelas lapar lah gue." Kata Willy dengan Tersenyum.


"Gausah Lo senyum-senyum sama gue! Bantu gue turun ke bawah, kaki gue sakit banget nih." Geram Nikita dengan menyuruh Willy untuk membantunya turun ke bawah.


Willy pun seketika langsung jongkok di hadapan angel dan dalam posisi membelakangi Angel, Willy pun tersenyum kepada Angel.


"Cepetan naik, sebelom gue berubah pikiran." Kata Willy dengan tersenyum.


"Gue? Lo gendong nih? Serius?" Tanya Angel dengan kebingungan.


"Udah, tenang aja badan Lo kan kurus, jadi mungkin akan ringan." Jelas Willy dengan memberikan kode kepada Angel.


"Yaudah, hati-hati ya kita turun tangga loh, takutnya jatuh berdua." Jelas Angel yang kini sudah digendong oleh Willy.


Willy pun langsung berjalan ke arah bawah, dan dia merasa kalau angel sangatlah enteng baginya, dan Willy sudah mengantarkan dia ke meja makan, sudah tersedia sepanci bubur ayam di meja, untuk mereka semua sarapan.


"Gara-gara Lo kaki gue sakit, jadi Lo harus bantu gue ngebangunin yang lain." Jelas Angel dengan menunjuk ke arah Willy.


"Aduh, kok kepala gue tiba-tiba pusing yah?" Kata Willy dengan Memegangi kepalanya.


"Gausah banyak alasan, bangunin mereka cepetan!" Bentak angel dengan kesal dan menyuruh Willy.


Willy pun hanya bisa pasrah dan menuruti perkataan Angel, dia pun mulai membangunkan semua teman-temannya untuk sarapan bersama, beberapa menit kemudian dia sudah selesai membangunkan mereka semua, dan mereka sudah berkumpul di meja makan, tetapi hanya Jessica saja yang belum ada di kursi tersebut.


"Gue tidur sama Jessica, dia dari jam enam udah bangun dan pergi entah kemana." Jelas zoey dengan kebingungan.


"Gue rasa gue tau dia ada dimana." Jelas Roy dengan bangkit berdiri dan hendak memanggil Jessica.


"Kemana Lo Roy? Bukannya makan." Tanya Reyhan dengan sedikit berteriak.


"Kalian duluan aja, nanti gue nyusul kok." Jelas Roy dengan pergi ke belakang rumah dan kembali ke tempat kemarin.


Roy pun berjalan ke taman yang dimana biasanya Jessica membuat senjata modifikasi dan rancangannya di tempat tersebut, benar saja ketika Roy datang, Jessica sedang sibuk membuat sesuatu, Roy pun langsung duduk di kursi yang tersedia.


"Lo mau sampe kapan membuat senjata setiap hari?" Tanya Roy dengan duduk dan melipat kedua tangannya.


"Ini adalah persiapan gue, karena gue tahu kita bakalan diserang." Jelas Jessica dengan fokus dan tidak melihat ke Roy sama sekali.


"Diserang? Kita gak akan diserang lagi Jessica, karena Michael sudah dipenjara." Jelas Roy dengan bangkit berdiri dan melihat Jessica sangat serius.


"Lo pikir Michael bakalan nyerah gitu aja? Lo pikir dia bodoh? Nggak Roy, nggak!" Bentak Jessica dan kini dia mendekati Roy.


"Emangnya apa yang sedang dia rencanakan?" Tanya Roy dengan serius.


"Lo gak tahu, jadi gausah ikut campur!" Bentak Jessica dengan mendorong Roy.


"Maksud Lo apa sih? Lo kenapa jadi berubah gini?" Tanya Roy kebingungan dengan mendekati Jessica.


"Lo gak tau siapa Michael, dia sangat licik dan sangat cerdas dalam menyusun sebuah rencana." Jelas Jessica dengan duduk di kursi yang tersedia.


"Apa Lo bisa ceritakan tentang Michael?" Tanya Roy dengan duduk di samping Jessica.


"Gue gabisa ceritakan sekarang, ada saatnya gue akan ceritakan semuanya ke Lo." Jelas Jessica dengan Tersenyum kepada Roy.


"Gue rasa Lo lebih tau tentang geng Halilintar, sebenernya apa yang Lo tahu tentang geng Halilintar?" Tanya Roy dengan melihat Jessica sangat serius.


"Gue cukup tau banyak, yang dikasih tau sama snake dan kawan-kawan itu hanyalah sedikit informasi dari mereka, bukan semua tentang geng Halilintar." Jelas Jessica kepada Roy.


"Lalu? Apa mereka Sedang merencanakan sesuatu?" Tanya Roy dengan kebingungan.


"Ya, yang jelas geng Halilintar itu cukup hebat dalam mengatur sebuah rencana, intinya kita harus berjaga-jaga." Kata Jessica dengan melirik ke arah Roy.


"Yaudah, Lo lapar gak?" Tanya Roy dengan tersenyum kepada Jessica.


"Tenanglah, gue udah makan kok tadi pagi." Jelas Jessica dengan Tersenyum, tetapi perutnya tidak bisa dibohongi, perutnya pun berbunyi dengan sangat keras menandakan bahwa dia sangat lapar pada saat itu.


"Yaelah, Lo pake bohong segala sama gue, udah ayo kita makan bareng-bareng." Jelas Roy dengan menggandeng tangan Jessica.


"Udah Roy, jangan gandeng tangan gue, Lo harus jaga perasaan Aulia." Geram Jessica dengan menepis tangan Roy yang hendak menggenggamnya.


"Yaudah, gue duluan yah." Kata Roy dengan berjalan menuju ke rumah untuk makan bersama yang lainnya.


Sementara itu Jessica mengikut Roy dari belakang, dan mereka masuk secara bersamaan, Roy pun langsung duduk di meja makan untuk ikut bergabung bersama dengan mereka yang baru saja selesai makan dan duduk terlebih dahulu.


"Darimana aja Lo Roy? Lama amat?" Tanya Galang yang nampak Sudah kekenyangan.


"Ini, gue kan tadi manggil si Jessica." Jelas Roy dengan menunjuk Jessica yang berada di belakangnya.


"Yaudah Roy, Lo makan aja dulu situ, daripada dihabisin sama Willy." Suruh Angel agar Roy sarapan terlebih dahulu.


"Yah Lo, gue Mulu yang disalahin!" Geram Willy yang masih dalam posisi duduk dan kekenyangan.


"Kalian darimana? Lama amat?" Tanya Aulia dengan wajah yang mencurigai mereka berdua.


"Lo gaperlu tau, ini urusan gue sama Roy, kalo gue kasih tau sekarang gue yakin kalian akan menghancurkan semua rencana gue." Jelas Jessica Dengan berjalan ke arah Milea dan duduk di samping Milea.


"Maksudnya?" Tanya Aulia kebingungan, dan mereka pun saling menatap satu sama lain dengan penasaran.


"Udah, gue udah lapar nih, makan dulu Napa, nanti aja diobrolinnya." Jelas Roy dengan tersenyum kepada Aulia dan melanjutkan makannya.


Kini Roy dan Jessica pun makan di ruang makan Yang cukup luas tersebut, beberapa menit kemudian mereka semua sudah keluar dari rumah dan beraktivitas seperti biasanya, Aulia yang masih curiga dengan Roy pun menghampiri Roy dan mengajaknya berbicara berdua saja di taman.


"Lo tadi darimana aja sama Jessica?" Tanya Aulia curiga terhadap Roy.


"Gue tadi abis nyamperin dia buat makan bareng kita." jelas Roy dengan duduk di samping Aulia.


"Tapi tadi dia bilang rencana, maksudnya rencana apaan?" Tanya Aulia dengan kebingungan.


"Kalo gue ceritain nanti kita dalam bahaya, ini soal Michael." Bisik Roy kepada Aulia, dan Aulia pun terkejut.


"Kenapa dia? Dia kabur dari penjara?" Tanya Aulia dengan terkejut.


"Gue nggak tau, tapi yang pasti kata Jessica, geng Halilintar sedang merencanakan sesuatu." Jelas Roy dengan melirik ke arah Aulia.


"Apa yang mereka rencanakan? Kenapa Lo nggak kasih tau gue?" Tanya Dewa yang datang bersama dengan Galang.


"Gue nggak tau, yang jelas mereka gak akan menyerah gitu aja." Jelas Roy dengan bangkit berdiri dan melihat ke arah mereka.


"Benar kata Roy, mereka sedang membuat rencana untuk membebaskan Michael dari penjara." Ujar Galang dengan memejamkan matanya.


"Tuh kan, jadi kita memang harus berhati-hati, bisa jadi liburan kita kacau seperti kemarin." Jelas Roy dengan menunjuk ke arah Galang.


"Geng yang kemarin itu adalah geng yang cukup kuat di daerah puncak, sama seperti geng Halilintar." Jelas Galang dengan melihat ke arah langit siang hari yang cukup indah.


"Maka dari itu gue udah buat semua senjata untuk kita." jelas Jessica yang baru saja datang.


"Senjata? Senjata apaan Lo?" Tanya Dewa kebingungan.


"Udah, kalian akan pakai senjata itu pada saatnya, gue lagi ngebuat dan mau uji coba dulu." Jelas Jessica dengan Tersenyum kepada mereka.


"Tapi, kenapa Lo bisa tahu kalo geng Halilintar sedang merencanakan sesuatu? Apa Lo punya kekuatan seperti Galang?" Tanya Aulia dengan kebingungan.


"Percayalah, gue ga punya kekuatan kayak Galang, tapi gue punya banyak mata-mata di dalam markas geng Halilintar." Jelas Jessica dengan Tersenyum lebar kepada mereka.


"Jadi? Lo punya orang dalam di geng Halilintar?" Tanya Dewa dengan terkejut.


"Yah, bisa dibilang begitu." Jelas Jessica dengan beranjak pergi ke tempat biasa dia menyusun senjata.


"Galang, gue penasaran sama dia, apa Lo bisa kasih tau apa rahasia yang sebenernya?" Ucap Roy dengan penuh penasaran.


"Maaf, gue gabisa melakukan itu lagi, minimal satu hari sekali gue menerawang, atau kekuatan gue akan habis." Jelas Galang dengan menggelengkan kepala.


"Kalo habis, ya tinggal charger aja sih." Jelas Aulia dengan Tersenyum kepada Galang.


"Lo pikir gue handphone? Pake di charger segala." Kesal Galang dengan melihat Aulia.


"Aduh, kok kayaknya banyak nyamuk yah disini?" Sindir Roy dengan memberikan kode kepada mereka berdua.


"Gue paham kesitunya mah." Jelas Galang dengan mengajak Dewa pergi, dan meninggalkan mereka berdua disana.


Sementara itu dengan Nikita dan Reyhan, mereka berdua sedang berjalan mengelilingi villa yang cukup luas dengan sepeda, bersama dengan Rizky dan juga Mauren, mereka berhenti sejenak pada sebuah rumah yang masih kosong di sekitar villa tersebut, dan menikmati sejenak pemandangan alam yang sejuk di pagi hari.


"Wah, sejuk banget yah." Kata Reyhan dengan membentangkan tangannya.


"Iyah nih, puncak ternyata enak juga yah." Kata Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan.


"Reyhan, gue udah pacaran nih, Lo kapan?" Sindir Mauren dengan menggandeng tangan Rizky yang sedang tersenyum kepadanya.