Reyhan

Reyhan
ep 39



"sebentar lagi bel masuk nih, gue duluan yah Roy." Kata Reyhan dengan melihat jam tangan miliknya tersebut, dan Roy menahan tangan Reyhan.


"Lo dapet jam tangan ini darimana? Bukannya jam tangan yang gue kasih itu udah Lo buang?" Tanya Roy dengan melihat jam tangan tersebut secara cermat.


"Ini dari mama gue, entahlah mungkin buat jaga jaga dari dia." Bisik Reyhan kepada Roy lalu pergi ke kelasnya.


"Gue cuma bilangin ke Lo roy, hati hati aja sama Michael dia itu bengis dan kejam." Bisik Rizky dengan tersenyum kepada Roy.


Kring!! Kring!! Kring!! Bel masuk pun sudah berbunyi, tandanya siswa siap mengikuti pelajaran beberapa jam kedepannya.


Setelah beberapa jam kemudian, tepatnya sekarang mereka sedang jam istirahat, Reyhan yang sedang berkumpul bersama teman temannya seperti biasa, datanglah Mauren dengan kawan kawannya dan bergabung dengan Reyhan.


"Akhirnya datang juga Lo semua." Seru willy dengan melihat ke arah Shinta.


"Kenapa Lo liatin gua terus? Resleting gua kebuka?" Tanya Shinta dengan sedikit tersenyum.


"Eh kampret! Lo kan pake rok, ya resleting jelas jelas di belakang lah." Kesal Willy dengan sedikit memberikan sebuah cubitan kecil kepada Shinta.


"Gua mau bilang sesuatu ke kalian!" Seru Roy kepada mereka semua.


"Apaan nih? Kayaknya gua penasaran deh!" Kata Milea dengan tersenyum kepada mereka semua.


"Gua mau kalian bantu gua buat nembak Aulia." Bisik Roy dengan melirik ke arah Aulia.


"Hah?! Apa?!!" Kata Mauren dengan terkejut dan setengah berteriak, dan seisi kantin melihat ke arah mereka.


"Nggak kok, ini dia kakinya gak sengaja keinjek sama Reyhan!" Kata verrel dengan berusaha menenangkan mereka yang melihat ke arahnya.


"Tau Lo Reyhan! Gimana sih?" Kata Galang dengan menjitak kepala Reyhan.


"Sakit kampret! Kenapa jadi gue yang disalahin deh!" Ketus Reyhan dengan mengusap kepalanya.


"Oke, jadi gimana? Lo pengen nembak dia? Seriusan?" Tanya verrel dengan nampak tidak percaya dengan kata kata Roy.


"Iyah nih bantu gue dong, gue bingung cara nembaknya gimana." Jelas Roy dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lo harus pake cara yang beda daripada yang lain, percaya sama gua kalo dia suka suasana puncak." Jelas Galang dengan tersenyum kepada Roy.


"Jadi? Gue ajak dia ke puncak gitu?" Tanya Roy dengan kebingungan.


"Ya jelas, apalagi di puncak berduaan saja, udah makin enak deh." Goda Willy dengan Sedikit menyenggol lengan Roy.


"Idih! Mesum Lo kampret!" Ketus Lauren dengan mencubit lengan Willy.


"Apa gue harus ajak dia ke puncak? Kalo tembak langsung emang gimana?" Tanya Roy dengan penuh rasa kebingungan.


"Tanyakan pada yang profesional." Kata Dewa dengan melirik ke arah Reyhan.


"Lah kok gue sih? Kenapa harus gue?" Tanya Reyhan kebingungan.


"Lo kan nembak Mauren tuh, kasih triknya gimana waktu itu!" Bisik dewa dengan merangkul Reyhan.


"Apaan sih anjir! Jangan bahas yang itu dong!!" Kesal Reyhan dengan risih dan menghindari rangkulan dewa.


"Kasih aja tips Lo waktu nembak Mauren ke Roy, kali aja berhasil." Bisik Willy kepada Reyhan yang sedang meminum air mineral.


"Kenapa Lo liatin gue? Mau gue jotos tuh mata?" Tanya Mauren dengan kesal karena Willy yang terus melihatnya sedari tadi.


"Gimana nih? Pada mau bantu gak?" Tanya Roy dengan sedikit tersenyum.


"Tenang, Reyhan pasti bantu kok, kan dia jagonya kalo mendapatkan hati wanita." Jelas Verrel dengan sedikit menyenggol lengan Reyhan.


"Dih, kenapa harus gue? Galang kan bisa, dia kan stalker tuh!" Kata Reyhan dengan risih.


"Gue cuma stalker, memang sebelumnya gue pernah pacaran, tapi cara nembak gue beda daripada yang lain, di atas Monas tepat di ujungnya." Jelas Galang kepada mereka semua.


"Anjir, kalo aulia Sama Roy begitu, pasti Roy yang pingsan duluan, kan Roy takut ketinggian!" Ledek Mauren dengan tersenyum kepada Roy.


"Waduh, parah bener rahasia gue dibongkar!" Kesal Roy dengan mencubit pipi Mauren secara halus.


"Kalo Lo ikutin cara gue, gue yakin akan berhasil tujuh puluh persen." Kata Reyhan kepada Roy.


"Tapi, apa harus dipuncak?" Tanya Roy dengan kebingungan kepada mereka semua.


"Jelas, karena dia suka suasana yang dingin dan dingin itu puncak paling Deket, kalo mau ke Eropa sih gapapa, kan Lo kaya raya." Jelas Galang dengan sedikit tertawa.


"Nah bener tuh! Berduaan di Eropa." Kata verrel dengan menggebrak meja sangat keras.


"Astaga, nanti meja ibu kantin rusak sama Lo." Jelas Santi dengan tersenyum kepada verrel.


"Yaudah, gue coba ajak dia ke puncak deh." Kata Roy dengan terpaksa.


"Kalo dia gamau berduaan sama Lo, ajak aja kita semua, ya kan?" Goda Willy dengan melirik ke arah mereka semua.


"Nah iyah, kalo Lo mau berduaan sama dia, kita kasih waktu deh!!" Goda dewa dengan sedikit tertawa, dan wajah Roy yang putih pun langsung sedikit memerah.


"Ciee malu, udah tenang aja kita paham kok." Jelas milea kepada Roy.


"Nanti pulang sekolah gua coba ngomong sama dia." Jelas Roy dengan melanjutkan makannya.


"Nah gitu dong Roy! Jadi cowok tuh harus romantis, kayak Reyhan nih." Kata Dewa dengan merangkul Reyhan.


"Apaan sih? Kok gue lagi?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Lo suka kan sama Nikita? Kapan nembak nih?" Goda Willy dengan menyenggol lengan Reyhan.


"Suka? Nggak kok, siapa yang suka sih?" Kata Reyhan berusaha mengelak tetapi dia pun senyum senyum.


"Reyhan, gue rela Lo sama dia, karena gue udah suka sama yang lain." Kata Mauren dengan memberikan senyuman manis kepada Reyhan.


"Asik dah, ternyata Lo udah move on juga nih?" Tanya Lauren dengan sedikit memberikan kode.


"Iyah dong, masa Iyah gue gagal move on dari Reyhan? Kan gak mungkin." Jelas Mauren dengan tersenyum kepada mereka semua.


"Siapa nih cowok yang lu suka? Kasih tau boleh kali." Goda Willy dengan tersenyum kepada Mauren.


"Nanti juga Lo tahu kok." Jelas Mauren dengan tersenyum kepada mereka.


Bel masuk pun sudah berbunyi, mereka yang tadinya sedang asik mengobrol pun kembali ke kelasnya masing masing, setelah itu mereka pun kembali mengikuti pelajaran seperti biasanya.


Setelah beberapa lama mengikuti pelajaran yang cukup membosankan, sekarang mereka sudah keluar kelas dan sudah jam pulang, Reyhan sedang di parkiran bersama yang lainnya, dan dari kejauhan nampak Nikita sedang berjalan bersama teman temannya.


"Wih Roy, orangnya Dateng nih!" Bisik Galang kepada Roy yang berada di sampingnya.


"Nah, pas banget ada Nikita!" Kata dewa dengan sedikit berteriak.


"Kenapa emang kalo ada gue?" Tanya Nikita dengan tersenyum kepada dewa.


"Mau pulang bareng gak?" Tanya Reyhan dengan melihat wajah Nikita yang semakin hari semakin cantik.


"Asik dah, Reyhan langsung to the point, masa Lo gak!" Goda Willy dengan menyenggol lengan Roy.


"Sabar anjir, nanti aja kalo udah sepi!" Kesal Roy kepada mereka semua.


"Kenapa sih Lo semua? Kok gak jelas banget!" Ketus Nikita melihat ke arah teman teman Reyhan.


"Udah, kita lanjut aja pulang bareng, biarkan Roy berduaan dengan Aulia." Bisik Reyhan kepada Nikita, dan memberikan sebuah kode kepada mereka semua, mereka semua pun mengangguk seakan akan mengerti, lalu mereka pun pergi meninggalkan Roy berduaan bersama dengan Aulia, Reyhan juga pergi pulang ke rumah.


"Emm, Lo ada waktu gak?" Tanya Roy dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Ada kok, kenapa emangnya?" Tanya Aulia dengan kebingungan.


"Gue mau ngajak Lo ke puncak, pas liburan akhir tahun." Kata Roy dengan memelankan suaranya dan tersenyum kepada Aulia.


"Hah? Puncak? Lo serius?" Tanya Aulia dengan terkejut.


"Iyah, mau nggak ke puncak sama gue?" Tanya Roy dengan malu malu kucing.


"Dalam rangka apa Lo ngajakin gue?" tanya Aulia dengan kebingungan apa yang dimaksud oleh Roy.


"Dalam rangka liburan akhir tahun, gimana nih?" tanya Roy berusaha meyakinkan Aulia.


"Kalo Lo gamau berduaan sama gue, Lo ajak aja teman teman Lo, gimana?" Usul Roy dengan tersenyum kepada Aulia dan menggenggam tangan Aulia.


"Hmm, gue gatau nih mereka bisa apa nggak, nanti deh gue pikirin dulu yah?" Jelas Aulia kepada Roy dengan memohon.


"Yaudah, tapi jangan lama lama yah, soalnya ini udah bulan November nih." Jelas Roy dengan tersenyum kepada Aulia.


"Gue pulang duluan yah Roy." Kata Aulia dengan tersenyum kepada Roy, tetapi Roy menahannya.


"Pu-pu-pulang bareng aja sama gue, mau nggak?" Kata Roy dengan grogi dan keringat dingin.


"HM? Emang gak keberatan?" Tanya Aulia dengan melihat Roy secara cermat.


"Nggak, karena gua ajak Lo pulang bareng pake mobil, bukan gua gendong." Kata Roy dengan tersenyum kepada Aulia dan tertawa.


"Hahaha! Lucu banget sih Lo!" Jelas Aulia yang Baru saja selesai tertawa.


Roy pun mengantarkan Aulia pulang ke rumahnya dengan mobil yang dia bawa, sementara itu dengan Reyhan dia sudah sampai di rumah dan sedang berlatih beladiri di halaman belakang rumah, pada saat sedang berlatih dia mendengar suara dari dalam rumahnya yang nampak mencurigakan, Reyhan segera berjalan ke dalam untuk mengecek, dan itu adalah mamanya yang sedang membuat sesuatu.


"Mama lagi ngapain?" Tanya Reyhan kepada mamanya yang sibuk membuat sesuatu pada kamar milik adiknya.


"Mama lagi buat sesuatu, kali aja kalo mereka ada lagi, kita bisa berlindung disini." Jelas Judy yang masih sibuk Mengerjakan sesuatu Tersebut.


"Emang mereka akan menyerang lagi? Bukankah udah gak ada?" Tanya Reyhan kebingungan.


"Sudah lah, kamu berlatih saja sana, gausah ngurusin mereka lagi." Jelas Judy dengan nada sedikit meninggi, dan Reyhan pun kembali berlatih di halaman belakang rumahnya.


Pada saat sedang asyik berlatih beladiri taekwondo, tiba tiba saja ada mauren yang memanggilnya dari depan rumah, Judy pun menyuruhnya untuk masuk dan pergi ke belakang rumah, dikarenakan Reyhan sedang Berlatih beladiri disana.


"Reyhan, Lo lagi apa?" Tanya Mauren dengan berjalan ke arah Reyhan yang sedang berlatih.


"Gua lagi latihan nih, biar gue makin kuat lawan mereka." Jelas Reyhan yang masih fokus latihan taekwondo.


"Apa mereka akan menyerang lagi?" tanya mauren dengan nada pelan kepada Reyhan.


"Kalo kata mama gue sih, ya kita siap-siap aja, takutnya mereka kembali beraksi." Jelas Reyhan dengan menendang Sasak yang disediakan.


"Gue mau minta bantuan Lo boleh nggak?" tanya Mauren dengan duduk di sebuah kursi yang tersedia disana.


"Bantuin apa? Gue lagi gak ada uang nih!" Jelas Reyhan dengan menghampiri Mauren dan duduk di sampingnya.


"Bukan itu, bantuin gue supaya Deket sama dia." Jelas Mauren dengan memegang tangan Reyhan.


"Oh ya, katanya Lo suka sama seseorang? Siapa tuh?" tanya Reyhan kepada Mauren.


"Nah, maka dari itu, gue minta bantuan Lo dong." Jelas Mauren dengan memohon kepada Reyhan dam tersenyum.


"Siapa sih orangnya? Liat dong." Kata Reyhan dengan mencubit pipi Mauren.


"Gue gak mau ngasih tau, nanti juga Lo bakalan tahu." Jelas Mauren dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Idih, Bisanya bikin orang penasaran aja." Kata Reyhan dengan kesal dan mencubit pipi Mauren dengan gemas.


"Haha, udah sih nanti juga Lo akan tahu." Jelas Mauren dengan tersenyum kepada Reyhan.


Sementara itu dengan Nikita dan teman temannya, mereka sedang berkumpul di ruang tamu rumah Nikita yang baru saja di perbaiki setelah kejadian pada saat penyerangan tersebut, Aulia yang mendengar perkataan Roy tadi masih kepikiran dan bingung untuk menjawab apa.


"Lo kenapa? Ada masalah apa?" Tanya Jessica yang ada disebelah Aulia, karena Aulia sedari tadi hanya bengong saja.


"Ah, nggak kok, gak ada masalah apa apa." Jelas Aulia dengan menggelengkan kepalanya.


"Udah jujur aja, gue tahu Lo bohong, emang ada apa?" Tanya Jessica dengan sedikit tersenyum kepada Aulia.


"Kalian. Mau bantu gue nggak? Gue harus jawab apa nih, bingung." Jelas Aulia dengan mengacak- acak rambut panjang sebahu miliknya.


"Bingung kenapa? Cerita aja sama kita." ucap Nikita dengan tersenyum kepada mereka semua.


"Gue diajak Roy pergi ke puncak." ucap Aulia dengan nada pelan, dan mereka pun nampak terkejut lalu mulai serius.


"Hah? Kok bisa? Dalam rangka apa dia ngajakin Lo?" tanya Angel dengan penuh penasaran.


"Katanya mau ngajak liburan nih, lumayan gue nanti akhir tahun gak ada yang ngajak kemana mana!" Seru Aulia kepada mereka semua dengan tersenyum.


"Tapi ini serius kan, Lo diajak sama dia?" tanya Shannia dengan berusaha meyakinkan lebih yakin lagi.


"Iyah, gue serius nih, gimana menurut kalian?" Kata Aulia dengan berusaha meyakinkan mereka.


"Lo berduaan sama dia doang?" tanya zoey dengan sedikit memberikan kode kepada Aulia.


"Iiih! Ya nggak juga dong!" kata Aulia dengan menutupi wajahnya karena malu.


"Jadi? Lo ngajak kita buat nemenin lo? Gitu?" Tanya Jessica dengan serius kepada Aulia.


"Iyah, itu maksud gue." Jelas Aulia kepada mereka semua.


"Wah, kalo sama Roy pasti serba mewah nih, gue ikut deh!" Seru Shannia kepada Aulia dan tersenyum.


"Kalo Roy cowok satu satunya gak asik, ajakin aja teman- temannya sekalian." Usul Jessica dengan tersenyum kepada Aulia dan memberikan sebuah kode.


"Yaudah, mungkin dia bakalan ajak teman- temannya juga." Jelas Aulia dengan tersenyum kepada mereka semua.


"Ciee, ada yang bakal jadian nih bentar lagi!" Goda Nikita kepada Aulia dan Aulia pun menunduk karena malu.


"Kenapa Lo? Pipinya merah amat anjir." Kata zoey dengan kebingungan yang melihat pipi Aulia nampa memerah.


"Udah dong, jangan ngeledekin gue terus, Jadi malu!" Kata Aulia dengan menutupi wajahnya.


Keesokan harinya


Lebih tepatnya hari Sabtu, dan di cafe langganan Roy, dia sedang asyik menunggu Aulia dengan mendengarkan musik dia pun merasa bosan karena sudah terlalu lama menunggu, hingga akhirnya dia memesan duluan minuman untuknya, setelah beberapa lama menunggu akhirnya Aulia pun datang dengan tersenyum kepada Roy dan duduk bersama dengan Roy.


"Hai, maaf yah gue baru datang." Jelas Aulia dengan tersenyum kepada Roy.


"Gapapa kok, itu di Pipi Lo ada apa tuh?" Kata Roy seraya mengusap wajah Aulia yang putih bersih dan tidak ada jerawat sama sekali.


"Lo udah makan? Mau makan dulu?" tanya Aulia dengan tersenyum kepada Roy.


"Yaudah, kita makan aja dulu." Jelas Roy dengan memesan dua roti bakar berukuran sedang, dan satu jus jeruk serta juga es teh manis.


Setelah beberapa menit mereka menunggu, akhirnya pesanan datang, mereka pun langsung makan dengan lahapnya, di tengan asik mereka makan, Roy mulai membuka pembicaraan permasalahan kemarin.


"Emm, soal kemarin, kira kira gimana? Pada mau nggak?" Tanya Roy dengan gugup dan agak canggung.


"Mereka sih mau, tapi masa Lo cowok sendirian? Apa gapapa?" Tanya Aulia dengan tersenyum kepada Roy, dan melanjutkan makannya.


"Tenang aja, gue bakalan ajak teman- teman gue, gue yakin mereka akan mau kok." Jelas Roy dengan tersenyum kepada Aulia.


"Yaudah, gue rasa lebih bagus ramai ramai, daripada hanya berduaan aja." Jelas Aulia dengan tersenyum kepada Roy.


"Yaudah, di lanjutkan aja makannya." kata Roy yang sudah kehilangan topik pembicaraan.


"Sebentar deh, emangnya kita ke puncak itu mau ngindep dimana? Villa? Hotel? Rumah sodara Lo?" Tanya Aulia kebingungan dengan melihat ke arah Roy.


"Villa saudara gue aja, tenang aja, gue yakin Lo suka sama tempat itu." Jelas Roy dengan tersenyum kepada Aulia.


"Emangnya kenapa sih, Lo tiba-tiba ngajakin gue buat liburan bareng?" Tanya Aulia dengan penasaran.


"Yah, habisnya gw udah bosan setiap liburan ajah, pergi ke Eropa terus sama keluarga, sesekali gue ajak Lo dan teman teman gue liburan di puncak." Jelas Roy dengan tersenyum kepada Aulia dan menghela napasnya.


"Widih, sesering apa Lo liburan ke Eropa?" Tanya Aulia dengan penasaran.


"Sering banget, saking seringnya gue udah hapal semua jalanan disana dan makanan yang ada disana." Jelas Roy dengan tersenyum kepada Aulia.


"Yaudah, kita lanjut lagi aja makannya yuk?" ajak Aulia dengan melanjutkan makanannya.


beberapa hari kemudian, lebih tepatnya hari Selasa, tepatnya jam istirahat, Roy pun langsung mengumpulkan mereka semua di kantin untuk makan bersama, Roy nampak serius dan nampak gugup untuk bilang ke mereka semua.


"Bilang aja sih, sebenernya dia Nerima ajakan Lo atau nggak?" Tanya Verrel dengan penuh penasaran.


"Duh, gue masih grogi nih." Kata Roy dengan memegangi dadanya yang sedari tadi berdebar kencang.